Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 31


__ADS_3

... Goresan Tangan Tuhan...


Sebuah goresan tangan Tuhan yang tak terlihat namun dapat dirasakan. Goresan itu, mengiringi takdir dua orang yang dipertemukan tanpa sengaja. Takdir antara Irene Maxzella dan Ravindra Damariswara Sang CEO Berhati Dingin. Mereka mulai sering berjumpa. Meski belum timbul rasa suka. Sang Penguasa Kehidupan, perlahan akan membuat bunga lotus yang layu menjadi mekar. Es yang membeku akan mencair. Membuat hati yang dingin akan menghangat.


Tanpa Irene sangka. Seseorang yang menjadi donatur di sekolah TK tempat ia bekerja adalah si dingin Ravindra.


Sebenarnya, seberapa kaya pria ini? Irene hanya bisa membatin.


Lamunannya buyar ketika teman guru yang berbadan kurus bersuara.


“Tuan Ravindra, silahkan masuk terlebih dahulu. Saya akan membuatkan minuman untuk anda.”


Ravindra hanya diam dan berjalan terlebih dahulu. Teman guru Irene yang bertubuh kurus menyenggol Irene. Meminta Irene untuk menemani Ravindra.


“Temani Tuan Ravindra. Jangan sampai kamu membuatnya tersinggung.” Teman guru itu mendorong-dorong Irene.


Irene berusaha mengelak dan tidak mau menemani Ravindra. Tetapi, temannya terus mendesak dengan ancaman akan melaporkan Irene pada Kepala Sekolah. Tentu saja, Irene tidak mau kehilangan pekerjaan karena hal sepele seperti ini. Ia lantas mengambil nafas perlahan dan bergegas menyusul Ravindra.


“Tu… Tuan Rambut Landak… Eh maksudku Tu.. Tuan Ravindra silahkan duduk.” Kata Irene sambil merutuki dirinya dalam hati. Jangan sampai membuat Rava tersinggung atau menyebutnya rambut landak.


Rava hanya menatap dingin pada Irene.


“Ruangan ini tak lebih besar dari kandang Amao di rumahku.” Celetuk Ravindra.


“Amao? Amao? Bukankah itu nama anjing peliharaan yang waktu itu bersama Long An di Taman? Tu… tunggu… maksudmu ruangan Kepala Sekolah kami, dibandingkan dengan kandang anjingmu?” Irene bertanya sambil melotot.


Rava mengangguk tanpa dosa. Irene seketika menoleh dan menggerutu sendirian.


“Aku rasa, pria rambut landak ini lebih cocok menjadi karakter CEO Mafia seperti yang aku baca di dalam novel. Jika dia bukan donatur di sini, aku pasti sudah memberinya pelajaran.”


“Apa kamu sedang mengataiku?” Tanya Ravindra tiba-tiba.


“Kya!!” Seketika Irene berteriak saking kagetnya.


Apa pria ini memiliki pendengaran super? Batin Irene.


“Hehe… tentu saja bukan seperti itu.” Irene hanya nyengir kuda.


“Aku sudah hafal dengan semua itu. Rata-rata orang akan mengataiku di belakang. Jadi, tidak perlu berpura-pura tidak begitu.” Kata Ravindra sambil berjalan melihat pemandangan di luar dari balik jendela kaca ruang Kepala Sekolah.


Irene menghela nafas dalam. Dia rasa tidak perlu bermanis-manis atau bersikap sopan di depan pria ini. Itu hanya akan membuang energi, karena pria dingin di depannya ini, juga tidak akan menghargai orang. Jadi, Irene memutuskan tidak perlu berbasa-basi lagi.


“Baiklah… Baiklah Tuan Ravindra yang terhormat. Aku akan membawakanmu dokumen laporan dana bulan ini.” Irene berkata dengan sinis.


“Akhirnya kamu menunjukkan sifat aslimu.” Komentar Ravindra pada Irene.


Irene hanya mendengus kesal. Menatap Ravindra dengan tatapan sinis. Kemudian, ia mengambil dokumen pelaporan dan langsung meletakkannya dengan keras di depan Ravindra.


“Sebenarnya mulutku sangat gatal.” Kata Irene dengan kesal.


“Mulutmu gatal? Apa perlu aku garuk?” Tanya Ravindra sembari mendekat ke arah Irene.


Irene mundur selangkah dan menutup mulutnya.

__ADS_1


“Hei! Hei! Apa yang mau kamu lakukan? Bu… bukan seperti itu maksudku. Maksudku mulutku gatal karena ingin mengataimu Tuan Rambut Landak.” Jawab Irene dengan wajah memerah. Irene berfikir Ravindra akan menggaruk dengan bibirnya atau entahlah pikiran Irene sudah kemana-mana.


“Maksudku, aku ingin menggaruk bibirmu yang mengataiku dengan tanganku. Kamu lihat tanganku begitu berotot. Bisa saja aku menggaruk bibirmu sampai terkoyak.” Balas Ravindra dengan tatapan dingin sambil menunjukkan kepalan tangannya.


Seketika wajah Irene beruap karena malu. Ia sudah berfikir macam-macam.


“Syu… syukurlah…. Haha” Kata Irene sambil mengelus dadanya. Ia kembali merutuki dirinya yang sudah berfikir macam-macam.


“Aku tidak mau membaca dokumen-dokumen seperti ini. Aku akan terjun ke lapangan langsung untuk meninjaunya.” Kata Ravindra kemudian.


Lantas ia bergegas berjalan ke luar ruangan.


“Pantasnya dia terjun ke neraka sekalian dan merasakan panas siksaan api neraka.” Gerutu Irene kesal.


“Apa kamu menyumpahiku?” Tanya Ravindra yang tiba-tiba berbalik arah.


Membuat Irene terkejut setengah mati.


“Jika sudah tahu kenapa bertanya? Dasar pria rambut landak.” Irene menjawab dengan kesal dan berjalan mendahului Ravindra. Ia tak perduli mau dilaporkan Kepala Sekolah juga tidak masalah. Irene kesal menghadapi sikap Ravindra yang menyebalkan.



“Dasar orang aneh. Lagipula kenapa dia terus memanggilkku begitu?” Ravindra bertanya-tanya tak mengerti sambil memegangi rambutnya. Ia kemudian berjalan mengikuti Irene.



Keduanya berjalan menuju lapangan bermain. Di lapangan, banyak sekali anak-anak bermain dengan riang. Ada yang berkejaran dengan temannya. Ada yang main perosotan. Benar-benar dunia anak yang masih polos dan penuh keceriaan.




Irene hanya melipat dada dan menatap sinis pada Ravindra. Terserah saja pria itu mau berbuat apa.



“Nak, coba hadap ke belakang.” Pinta Ravindra pada anak kecil itu.


“Ya Pak.” Jawab anak kecil itu dengan polosnya.


Ravindra melipat tangan di dada dan mengamati tubuh anak itu dengan intens.


“Sekarang menghadap ke arahku.” Pinta Ravindra lagi.


Irene mengernyitkan keningnya. Pria rambut landak di depannya itu sedang melakukan apa? Kenapa anak kecil perempuan ini diminta menghadap sana sini.


Ravindra terlihat mengamati anak perempuan itu dari dekat dengan tatapan intens. Irene yang melihat hal tersebut langsung timbul pikiran macam-macam.


Jangan-jangan, pria ini adalah pria mesum. Irene pernah membaca novel yang tokoh utama prianya adalah CEO Berhati Dingin, tetapi sebenarnya dia adalah pria mesum. Semua hal ini yang ada di dalam pikiran Irene. Teringat hal itu. Irene bergegas berdiri di depan anak perempuan tadi. Menutupi tubuh bocah kecil itu.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Ravindra dingin.


Irene segera meminta anak perempuan itu pergi ke tempat lain. Lalu ia menghadapi Ravindra sendirian.

__ADS_1


“Dasar, rupanya kedokmu yang sebenarnya sudah ketahuan. Ternyata kamu hanyalah seorang pria mesum yang mencari korban anak-anak kecil yang masih polos. Bisa kamu perdaya dengan mudah. Aku, sebagai guru di TK ini tidak akan membiarkan itu terjadi.” Kata Irene sambil menyingsingkan lengan bajunya.


Ravindra menatap dingin pada Irene. Kemudian, ia sedikit membungkuk agar tingginya bisa menyamai Irene. Lantas, tangannya ia tempelkan di kening Irene.


“A… apa yang kamu lakukan?” Tanya Irene merasa grogi. Tiba-tiba Ravindra sedekat ini dengannya. Menyentuh keningnya pula.


Irene yang melihat wajah Ravindra dari dekat. Wajahnya kelihatan memerah. Pria berambut landak di depannya ini begitu rupawan bak seorang pangeran yang tampan.


“Kamu tidak demam. Apa kamu punya penyakit mental? Kenapa sekolah menerima guru sepertimu? Penyakit mentalmu sepertinya sangat parah. Ku sarankan segera berobat.” Kata Ravindra dengan santainya.


Mendengar perkataan Ravindra. Seketika Irene menghempaskan tangan pria yang berada di keningnya.


“Hei!!!” Teriak Irene kesal.


Ravindra mengibas-ngibaskan tangannya dengan ekspresi dingin dan berkata.


“Aku mengamati anak kecil itu, karena ingin melihat apakah uangku yang aku donasikan disalurkan dengan tepat. Aku sedang mengecek berat badannya. Apakah ada luka di tubuhnya. Aku tidak mau uangku sia-sia begitu saja. Jika menemukan hal – hal yang tidak wajar.”


Irene hendak protes pada Rava. Tetapi ia urungkan karena mendengar suara anak kecil sedang menangis. Irene melihat ada anak kecil yang terjatuh ketika bermain. Ia kaget dan memilih menolong anak itu terlebih dahulu.


“Hiks… huaaa… sakit.” Kata anak kecil di tengah isakan tangisnya.


“Tidak apa-apa. Bu Guru akan mengobatinya. Baiklah, di mana yang terluka? Bu Guru yang akan meniupnya ya agar tidak perih fuuuu… fuuu…” Kata Irene lemah lembut.


Ravindra yang melihat itu hanya diam. Menatap dingin ke arah ke duanya. Seolah tidak perduli. Irene segera menggendong anak kecil tadi dan bergegas membawanya menuju UKS untuk diobati. Ravindra hanya melipat tangan di dada menyaksikan hal tersebut. Hatinya memang dingin. Ia tidak perduli dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Bahkan, ia tak tergerak sama sekali. Melihat seorang anak kecil yang menangis.


“Tuan… Tuan…” Kata seseorang sambil menarik-narik ujung baju Ravindra.


Ravindra melihat siapa orang yang menarik-narik bajunya tersebut. Rupanya orang itu hanyalah anak lelaki kecil. Anak lelaki kecil tersebut yang tadi menjahili Irene.


“Ada apa?” Tanya Ravindra.


“Tuan petiklah bunga matahari itu dan berikan pada Bu Guru yang cantik tadi.” Kata anak kecil tersebut.


“Kenapa aku harus memetik dan memberikan bunga itu padanya?” Tanya Ravindra heran. Ia hendak bergegas pergi dari sana. Tidak mau memperdulikan anak kecil ini. Tetapi anak kecil masih memegangi ujung bajunya.


“Untuk mengobati Ibu Guru Cantik.” Jawab anak kecil itu polos.


“Ibu Guru sepertinya sedang sakit.” Lanjut anak kecil itu lagi.


“Jadi, benar dugaanku. Wanita tadi memang sakit mental.” Ravindra berfikir berbeda dengan anak kecil tadi.


Si anak kecil bermaksud mengatakan bahwa Irene bukan sakit mental. Tetapi Irene, sakit di hatinya. Anak kecil itu merasakan kehidupan Irene belum lengkap. Bahagia tapi masih ada yang hampa. Indah tetapi belum bisa merekah. Alhasil Ravindra memetik bunga matahari tersebut.


“Untukmu.” Kata Ravindra dingin.


Ia menyerahkan bunga itu pada Irene. Ketika keduanya saling berhadapan. Irene yang baru pertama kali diberikan bunga oleh seorang pria seketika wajahnya memerah. Namun, Ravindra tak menjelaskan apapun dan malah masuk ke dalam mobilnya. Irene diliputi tanda tanya. Kenapa tiba-tiba Ravindra memberikannya bunga?


Dari dalam sekolah, salah satu guru berteriak-teriak.


“Siapa yang memetik bunga matahari milik Kepala Sekolah?! Itu bunga tidak boleh dipetik?!”


Irene yang mendengar hal tersebut memandangi bunga matahari yang ada digenggaman tangannya.

__ADS_1


“Matilah aku.” Kata Irene dengan tatapan nanar. Sambil melihat mobil Ravindra yang sudah menjauh.


__ADS_2