Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 51


__ADS_3

...Pilihan Hati atau Balas Budi...


Hari ini adalah hari libur, jadi Irene dan Long An melakukan kegiatan di rumah. Irene bersemangat menyiram bunga yang ada di depan rumahnya. Tak ketinggalan bunga matahari pemberian Ravindra ia basahi dengan air untuk memperpanjang usianya. Sedangkan si kecil Long An sedang berlatih karate seperti biasa. Ia mencoba melatih tubuhnya. Supaya terbiasa dengan segala kondisi. Pengalaman saat pertandingan antar sekolah tempo hari menjadikan pelajaran yang berharga untuknya. Saat tubuh tak lagi dapat berfungsi dengan baik. Maka harus menggunakan insting. Baik bertahan, menyerang, ataupun menangkis.


Di dalam teknik karate, tidak hanya berpusat pada tendangan saja. Namun, pada pukulan maupun tangkisan. Semua hal itu tak dapat dilakukan dengan mudah. Tetapi bagi si genius Long An, semua itu begitu mudah. Ingatan yang tajam berpadu dengan fisiknya yang kuat, menjadikannya karateka cilik genius melebihi karateka sebayanya.


Long An sedang berlatih tendangan memutar dipadukan dengan teknik pukulan atau tendangan lainnya. An, bersiap dengan kuda-kuda Kiba Dachi dengan menekuk lutut, menjaga tubuh bagian atas tegak lurus ke tanah dan wajah lurus ke depan. Kuda-kuda ini menyerupai seorang pria menunggang kuda. Sikap kaki mengangkang kuat di samping dan digunakan ketika menerapkan teknik ke samping. Misalnya gerakan Emphi Uchi (serangan siku) dan Uraken Uchi (serangan belakang-kepalan tangan).


“Hya! Hya!” teriak Long An dengan semangat.


Irene tersenyum melihat anaknya begitu giat berlatih. Hingga suara deru mobil yang terparkir di depan rumahnya. Membuat ia harus menghentikan aktifitas termasuk Long An. Tidak lama kemudian, seorang pria berpakaian casual dengan postur badan tegap keluar dari mobil sport mewah dua pintu. Pria itu masih saja begitu tampan dengan gaya yang sangat cool. Long An yang mengetahui siapa itu, wajahnya langsung berseri-seri.


Papa!! teriak An, namun itu hanya bisa terucap dalam hatinya.


“Paman rambut landak?!” pekiknya dengan riang.


Ravindra masih tetap sama. Memasang ekspresi dingin. Long An segera berlari dengan senyum yang mengembang. Tanpa diduga, An bukannya memeluk namun menyerang Ravindra dengan teknik tendangan memutar.


“Hya!!” teriak Long An bersemangat.


Duak!


Tepat disaat Long An menyerang, Ravindra sigap dengan menangkis tendangan memutar menggunakan teknik Juji Uke. Sebuah tangkisan dengan kedua tangan di silang. Long An tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia kembali menyerang dengan teknik Uraken Uchi. Berupa pukulan menyamping. Ravindra segera menghindari serangan yang diarahkan padanya. Alhasil pukulan Long An hanya mengenai ruang kosong. Ravindra tertunduk dan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Sedangkan Long An tertawa lebar.


Irene yang melihat hal tersebut, menatap dengan dalam. Ia benar-benar melihat ikatan hati Long An dan Ravindra semakin terkait. Mereka seolah memahami satu sama lain. Ia hanya bisa tersenyum dalam hati.


“Wuah, ini sungguh membuatku bersemangat.” pekik Long An dengan ceria.


Ravindra lantas berdiri tegak dan berjalan ke arah Long An sembari memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana. Ravindra berjalan dengan sangat cool. Saat langkahnya sudah dekat dengan Long An. Ia tiba-tiba mengelus kepala anak itu. Long An terkaget dengan sikap Ravindra. Namun, sedetik kemudian senyum lebar kembali terlukis dari wajah anak genius itu. Pipinya kelihatan memerah. Hatinya begitu hangat sekali. Ketika Ravindra mengelus kepalanya. Ia benar-benar merasakan memiliki seorang ayah. Irene hanya diam terpaku sembari menatap dalam ke arah Ravindra. Keduanya saling bertatapan dan teringat dengan ciuman waktu itu.


“Apa An, bisa berlatih dengan paman rambut landak lagi?” tanya An dengan mata puppy. Menatap ke arah Ravindra.


“Minta ijinlah pada mamamu terlebih dahulu.” jawab Rava sembari menatap Irene.


Tatapan Rava kali ini sungguh berbeda. Entah kenapa, membuat jantung Irene dipompa begitu cepat. Hingga suara jantungnya mengalahkan detak jarum jam.


Apa, aku sedang mendapatkan serangan jantung? Jantungku sering bermasalah saat pria itu menatapku. batin Irene.


“Mama, bolehkah An berlatih bersama Paman rambut landak? Setiap hari?” tanya Long An dengan senyum lebar.

__ADS_1


Irene menatap Long An dengan tatapan dalam. Ia tak pernah melihat Long An sebahagia ini. Apakah ia akan tega melukai hati anaknya. Seorang ibu, akan memberikan kebahagiaan pada anaknya. Tidak boleh terpengaruh dengan masalah pribadinya. Meski Irene belum mendapatkan jawaban jelas dari Ravindra mengenai kejadian di malam 10 tahun yang lalu. Serta ia juga belum bisa menerima hati Ravindra. Irene tidak boleh egois. Tujuannya hanyalah satu, kebahagiaan Long An. Irene tersenyum dan hendak membuka mulutnya. Namun, sebelum Irene hendak berucap. Tiba-tiba sebuah mobil datang. Tidak lama kemudian, seorang pria bertinggi 165 cm dan seorang nenek turun dari mobil. Keduanya tak lain adalah Dareen dan Nenek Heera.


Flashback


Di sebuah rumah yang cukup mewah. Dareen, seorang ahli beladiri karate sedang makan bersama neneknya. Pria yang juga cukup tampan ini, kelihatan murung. Pemandangan kemurungan Dareen tak luput dari pengamatan Nenek Heera yang sedang menyantap makanan. Nenek yang sudah mengenyam asam garam kehidupan tersebut. Menatap cucunya penuh perhatian.


“Cucuku, apa yang sedang kamu pikirkan?”


Dareen hanya berpangku tangan. Tatapan matanya kosong. Menerawang jauh entah ke mana. Nenek Heera hanya menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah cucunya tersebut.


“Apa ini karena Irene?” tanya Nenek Heera kembali.


Tepat disaat Dareen mendengar nama Irene disebut. Ia langsung tersadar dari lamunannya.


“Irene? Di mana dia?” tanya Dareen balik. Ia mengedarkan pandangan ke sana kemari.


Nenek Heera menggelengkan kepalanya. Cucu kesayangannya sedang merasakan namanya dimabuk ramuan cinta.


“Tentu saja, Irene ada di rumahnya.” sahut Nenek Heera sembari menyendok makanan dan melahapnya perlahan.


“Nenek, aku sedang serius sekarang.” Dareen kelihatan kesal digoda oleh neneknya.


“Cucuku, nenek mengerti perasaanmu. Tetapi, kamu harus bersabar. Mendapatkan wanita seperti Irene yang memiliki hati emas.” nasihat Nenek Heera.


Nenek Heera meletakkan sendok dan garpu dipiring. Memilih fokus memperhatikan cucunya tersebut.


“Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti ini?”


“Semalam, saat aku hendak menemui Irene. Aku melihatnya diantar oleh seorang pria.” jawab Dareen kelihatan murung.


Nenek Heera memegang tangan cucunya.


“Diantar pulang seseorang belum tentu memiliki hubungan khusus.” Nenek Heera mencoba menenangkan.


“Tetapi, aku melihat gerak tubuh mereka terlihat berbeda saat berbicara. Pria itu, pria yang bersama Irene terlihat bukan seperti orang sembarangan.” tatapan Dareen terlihat serius.


Nenek Heera yang melihat cucunya begitu serius, mengambil nafas dalam. Masalah anak muda memang tidak jauh-jauh dari kata cinta. Cinta bisa membawa kehangatan. Namun juga bisa membawa duka.


“Baiklah, nenek akan bicara dengan Irene. Supaya segera menerima lamaranmu.”

__ADS_1


Mendengar ucapan neneknya. Wajah Dareen yang tadinya murung, seketika berbinar ceria.


“Benarkah itu Nek?” tanya Dareen meminta keyakinan dari neneknya. Nenek Heera tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Keduanya lantas menuju rumah Irene. Berharap mendapatkan jawaban pasti dari ibu satu anak tersebut.


Flashback End


Irene terkejut melihat kedatangan dua orang yang telah membantunya itu. Ia ingat, tentang lamaran yang Dareen ajukan tempo hari.


“Nenek!! Paman Dareen!!” pekik Long An dengan ceria. Ia lantas berlari ke arah mereka.


Dareen tertawa renyah sambil mengangkat Long An tinggi-tinggi.


“Woho!!!” teriak Long An dengan gembira.


Dareen tertawa lebar. Disusul dengan Nenek Heera yang menyaksikan si kecil Long An tertawa dengan menggemaskan. Sedangkan Irene hanya diam terpaku, begitu juga dengan Ravindra.


“Rene, kenapa kamu hanya diam? Kemarilah.” kata Nenek Heera tersenyum hangat pada Irene yang sudah dianggap keluarganya sendiri.


Irene segera tersadar dan langsung bergegas menghampiri Nenek Heera. Kemudian keduanya berpelukan. Nenek Heera tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Irene.


“Nenek, kenapa tidak mengabari terlebih dahulu? Aku bisa menyiapkan makanan untuk kalian,” ucap Irene dengan ramah.


“Tidak perlu repot-repot. Aku dan Dareen datang. Untuk mendengar jawabanmu tentang permintaanku waktu itu.” jawab Nenek Heera dengan senyum hangat.


Seketika Irene tercekat mendengar perkataan Nenek Heera. Long An segera turun dari gendongan Dareen dan menatap ke arah mamanya. Sedangkan Dareen melirik tajam pada Ravindra yang sejak tadi juga melihatnya tajam. Ada perang dingin diantara kedua pria tersebut. Terlihat dari pancaran bola mata keduanya. Menatap dengan tatapan tidak suka.


Sedangkan Irene semakin bimbang dibuatnya. Dirinya tak dapat berbohong pada siapa sebenarnya nama yang ia ukir di hatinya. Tetapi di sisi lain, Irene juga tak boleh melupakan kebaikan keluarga Dareen terutama Nenek Heera yang telah mengangkatnya dari keterpurukan. Menjadikan kehidupannya lebih layak.


“A… aku….” ucap Irene perlahan.


“Rene, aku menunggu jawabanmu atas lamaran yang waktu itu. Aku ingin membangun rumah tangga bersamamu dan juga menjadi papa Long An.” Dareen segera menyahut sembari menyunggingkan senyum di bibirnya.


Irene masih tertunduk. Tetapi, ia ingin sekali membalikkan badannya dan menoleh menatap sosok pria yang berdiri di belakang tak jauh darinya. Long An hanya terdiam sambil menatap ibunya. Meski ia masih kecil. An, memahami situasi sulit yang dirasakan ibunya.


“Mama…” kata An sambil menggenggam tangan ibunya.


“A… aku…” Irene masih belum bisa mengucapkan sepatah katapun.


Ravindra yang sedari tadi hanya diam. Langsung berjalan perlahan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam satu. Perlahan ia melintasi tempat di mana Irene dan yang lain berdiri. Ravindra tidak mengucapkan sepatah katapun. Tepat, disaat langkah Ravindra di dekat Irene. Ia hanya bisa menunduk dan melangkah pergi. Wajahnya terlihat lebih murung dari biasanya. Sedangkan mata Irene terus mengikuti ke mana  Ravindra  melangkah. Terus memperhatikan pria yang mungkin telah memetik bunga lotusnya dan yang pasti telah mencuri hatinya yang polos.

__ADS_1


“Rene, kami menunggu jawabanmu.” kata Nenek Heera sambil tersenyum.


Irene hanya bisa terdiam. Ini benar-benar sulit untuknya. Sulit untuk memilih antara hati atau balas budi. Apakah yang Irene pilih?


__ADS_2