
... Takdir yang Terikat...
Pagi hari dengan sinar mentari yang menyejukkan hati. Mengiringi langkah riang Irene yang mengantar Long An ke sekolah. Senyum menghiasi wajah keduanya. Di depan mereka gerbang AA School terlihat berdiri dengan kokoh. Irene tersenyum sambil menatap putra kesayangannya tersebut.
“An, mama tidak tahu. Apa jadinya mama tanpamu.”
“Aku akan selalu bersama mama. An berjanji.” Long An tersenyum dengan ceria.
Irene membelai rambut Long An penuh kasih sayang. Keduanya merasa sangat bahagia.
“Berhati-hatilah, jika berada di sekolah. Mama memiliki firasat yang tidak baik. Semenjak kamu tiba-tiba terkunci di kamar mandi. Lantas ada botol berisi asap pelemah otot.”
Wajah Irene yang tadinya ceria. Seketika berubah penuh kecemasan. Seolah mendung sedang menggelayut diwajah cantiknya. Long An kecil mengerti. Ia lantas menggenggam tangan ibunya.
“Mama, jangan cemas. Aku akan baik-baik saja. Si kembar dan Bu Meri akan membantuku.” Long An tersenyum lebar. Menunjukkan deretan gigi-giginya yang berjejer rapi dan masih putih bersih.
Tidak lama berselang, Long An berlari masuk ke dalam. Tangannya melambai menatap ibunya dengan ceria. Supaya ibunya tidak khawatir. Irene balas melambaikan tangannya. Berusaha tersenyum. Meski sebenarnya ia begitu khawatir. An dengan langkah riang memasuki sekolahnya. Saat sudah menjauh dari ibunya. Tatapan mata Long An terlihat tajam. Ia mulai waspada dengan sekitarnya.
Untuk beberapa saat lamanya. Irene masih terpaku di tempatnya. Menatap ke dalam AA School. Di sekitarnya banyak anak kecil seusia Long An maupun yang sudah remaja terlihat sedang berlarian. Diantara hingar bingar anak-anak di AA School. Irene memanjatkan doa untuk keselamatan anaknya. Ia juga harus waspada dengan seseorang yang berada di AA School. Seseorang yang hingga kini masih tidak menyukainya.
Di sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak.
Terdengar celoteh riang anak-anak berusia 5 tahunan. Ada yang menggambar dan ada yang menyanyi. Mereka terlihat masih polos dengan wajah penuh keceriaan. Mereka masih suci tanpa cela. Masih belum mengerti bagaimana pekatnya dunia. Di sinilah, tugas seorang guru seperti Irene untuk membimbing mereka. Agar menjadi generasi muda yang berkarakter. Memiliki sifat yang baik. Tidak boleh iri dan dengki pada sesama. Saling menjaga kerukunan meski berbeda.
“Ibu guru yang cantik. Ini bunga untukmu.” Seorang anak lelaki kecil berusia 5 tahunan menyerahkan setangkai bunga dari kertas yang ia buat sendiri.
“Wah, bunganya cantik sekali.” Irene tersenyum sumringah menerima bunga dari salah satu muridnya.
“Bu Guru, jika aku sudah besar nanti. Maukah ibu menjadi pengantinku?” Tanya anak lelaki kecil itu dengan malu-malu.
__ADS_1
“Hah?!” Irene yang mendengar pertanyaan murid kecilnya terkejut setengah mati.
“Tapi bohooong!! Hihi canda Bu Guru.” Balas si murid sambil nyengir kuda. Lalu berlarian bersama teman-temannya.
Seketika wajah Irene memerah karena malu dipermainkan anak kecil. Namun ia kembali tersenyum ketika mengingat wajah ceria muridnya barusan. Dikelilingi anak kecil yang penuh keceriaan membuat hati Irene menghangat. Lantas Irene menatap ke arah luar jendela kaca. Sinar mentari berusaha menerobos melalui celah jendela. Irene beranjak dari duduknya. Kemudian, menatap cahaya mentari yang bersinar terang. Berusaha meraih cahaya yang tak mungkin ia bisa genggam. Irene hanya tersenyum tipis dan meletakkan bunga kertas itu di vas bunga miliknya.
“Menikah…” Irene bergumam pada dirinya sendiri.
Sebuah kata yang tak pernah terbersit dalam pikirannya. Selama ini, ia tak pernah memikirkan hal tersebut. Irene hanya fokus menjaga dan merawat Long An. Baginya, hal itu sudah cukup untuknya. Irene yang masih asyik dengan pikirannya sendiri. Mendengar suara seseorang memanggilnya.
“Rene! Rene!” Panggil seseorang tersebut.
Irene segera menoleh dan mencari arah sumber suara yang memanggilnya. Seorang guru perempuan bertubuh kurus langsung bergegas menghampiri Irene.
“Hal penting apa?” Irene bertanya tak mengerti.
“Sebentar lagi ada kunjungan mendadak dari orang yang penting. Orang itu adalah donatur di sekolah ini. Kepala Sekolah sedang sakit. Tidak ada yang menyambutnya. Jadi, kami para guru sepakat kamulah yang akan menyambut dan berbicara dengan donatur TK ini.”
“Kenapa harus aku?” Irene merasa heran, karena ia masih tergolong sebagai guru baru di sekolah ini.
“Kamu dari luar negeri. Sedangkan donatur TK ini adalah orang yang berpendidikan tinggi. Ia juga memiliki perusahaan besar. Jadi, kamu lah yang cocok menemaninya.”
Irene menghela nafas dalam.
__ADS_1
“Baiklah… aku mengerti. Aku akan menemani donatur tersebut.”
“Hemm.. Aku akan menyiapkan laporannya. Cepatlah kedepan. Sepertinya donatur kita sudah datang.”
Irene segera bergegas ke depan. Menyambut kedatangan donatur. Tepat di depan pintu gerbang sekolah. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam sudah terparkir di halaman sekolah. Irene tergopoh-gopoh keluar sekolah. Ia tidak mau donatur tersebut menunggunya. Saat Irene hendak melangkah. Ia tak hati-hati, kakinya menyenggol sebuah batu. Irene kehilangan keseimbangan tubuh. Disaat tubuhnya hendak menghantam ke tanah. Seseorang langsung menangkap tubuhnya. Memegangi pinggang Irene dengan erat.
Wanita muda tersebut terengah-engah karena hampir saja jatuh. Untung saja ada seseorang yang berbaik hati memeganginya. Mata Irene mulai melihat ke arah orang yang telah memeganginya. Disaat bersamaan, Irene langsung berteriak.
“Kyaaa!!!” Pekik Irene begitu keras.
Seseorang yang menolongnya tersebut tak lain adalah Ravindra Damariswara. Rava hanya menatap Irene dengan tatapan dingin. Irene buru-buru melepaskan diri dari Ravindra. Rava masih sama seperti biasanya. Terlihat dingin dan acuh tak acuh. Irene yang salah tingkah segera merapikan pakaiannya dan sesekali berdehem tak jelas.
Irene Maxzella yang mengetahui pria yang ada di depannya adalah Rava begitu terkejut. Hingga aroma parfum bunga Verbena menyeruak menusuk hidungnya. Mata Irene kembali terbelalak menatap pria dingin yang ada di depannya. Pria yang seperti robot tanpa ekspresi.
Sebuah kilas balik mengingatkannya pada masa itu. Masa di mana, ia terbangun pagi hari di sebuah kamar tanpa mengenakan sehelai benangpun. Di sampingnya, seorang pria berkulit kuning langsat dan memiliki tato Naga di lengan kirinya tengah tertidur membelakanginya. Malam itulah, malam di mana akan mengubah roda kehidupannya. Setelah kejadian tersebut, ia mengandung dan melahirkan Long An. Sedangkan pria yang bernama Rava tersebut juga memiliki tato Naga yang sama persis dengan pria yang menidurinya malam itu.
Tangan Irene gemetar mengingat itu semua. Mungkinkah pria di hadapannya ini adalah pria malam itu. Pria yang telah menghamilinya? Seribu satu pertanyaan bermunculan di kepala Irene. Membuat ia sedikit memundurkan langkahnya. Jika… jika… ingatannya tentang pria malam itu tak salah. Maka kemungkinan besar, pria bernama Ravindra yang berdiri di hadapannya ini adalah pria yang telah merenggut kesuciannya malam itu. Jika itu benar, maka Rava adalah…. Papanya Long An. Mata Irene menatap Rava dengan tatapan tak percaya. Ravindra hanya menatap Irene dengan tatapan dingin.
Di sisi lain, ada yang tak dapat Irene pahami. Jika pria malam itu sama dengan Ravindra. Kenapa ia bersikap biasa saja? Apakah ia pura-pura tidak mengenali Irene? Jika Irene ingat, malam itu suasana di kamar tempat ia bersama pria itu begitu remang-remang. Bahkan sampai detik ini, Irene tak bisa mengingat dengan baik. Kenapa ia bisa di kamar itu dan melakukan hubungan badan dengan seorang pria yang tak dikenalnya.
“Apa kamu akan terus menatapku seperti itu?” Tanya Rava menggugah lamunan Irene.
Irene langsung tergagap dan segera tersadar. Ia berusaha mengendalikan dirinya. Segala kemungkinan yang ia pikirkan belum tentu benar. Siapa tahu, ini hanya kemiripan yang umum terjadi. Irene menghela nafas dalam. Menenangkan dirinya sendiri.
“Apa kamu tidak bisa mendengarku? Apa kamu tidak memiliki telinga?” Tanya Rava sembari mengibaskan tangannya di depan Irene.
Irene yang melihat wajah Rava begitu dekat dengan wajahnya. Membuat Irene seketika terlonjak. Lagi-lagi karena ia kaget, Irene hampir kehilangan keseimbangan. Namun, gerakan refleks Rava begitu cepat. Sehingga ia memegangi pinggang Irene disaat yang tepat. Untuk sesaat, keduanya saling bertatapan. Angin perlahan berhembus sepoi-sepoi. Mengumandangkan lagu cinta yang merasuk dalam dada. Begitu indah.
Rambut Irene yang tergerai, tersibak oleh angin yang berhembus perlahan. Menunjukkan kecantikan wajahnya yang alami. Rava menatap Irene dengan dalam. Wajah Rava dari dekat begitu terlihat sangat tampan. Membuat wajah Irene seketika memerah tanpa ia sadari. Sebelum, Irene sempat mengatakan apapun. Tiba-tiba tangan Rava melepaskan pegangannya di pinggang Irene. Tak ayal, tubuh Irene kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
“Hei!!” Teriak Irene sambil menatap Rava dengan kesal.
Rava hanya memberikan tatapan dingin dan malah berjalan meninggalkan Irene begitu saja. Irene semakin kesal dibuatnya. Ia segera berdiri dan menyusul Rava. Memegangi lengan pria itu.
“Apa kamu tidak bisa bersikap sopan terhadap wanita?” Irene bertanya dengan ketus.
Rava melepaskan pegangan tangan Irene di lengannya. Raut wajahnya masih tanpa ekspresi.
“Kenapa aku harus sopan terhadap wanita? Apa wanita akan memberiku kasih sayang?” Tanya Rava dengan ekspresi dingin.
“Hei! Bukan seperti itu. Kamu ini sebenarnya kenapa? Dasar orang aneh. Lagipula, kenapa orang aneh sepertimu bisa masuk ke sekolah TK yang penuh anak-anak suci nan menggemaskan. Bukan manusia robot sepertimu.” Irene melipat tangannya di dada dan memasang wajah kesal.
“Orang aneh? Siapa yang kamu sebut orang aneh?”
“Kamu orang aneh. Cepat pergi dari sini.” Usir Irene.
“Hah? Tuan Rava. Anda sudah datang?” Sapa seorang guru yang tadi meminta Irene menerima tamu sang donatur.
Guru perempuan tadi menyenggol lengan Irene dan berbisik. Bahwa pria dihadapannya ini adalah Ravindra Damariswara, donatur di TK tersebut.
__ADS_1
Seketika mata Irene langsung terbelalak. Astaga dia membuat ulah lagi. Irene hanya nyengir kuda dan melihat ke sana kemari. Tak berani menatap Ravindra. Takdir apakah yang akan mereka jalani? Nantikan kelanjutan perjalanan kisah si jagoan karate genius. Dibalut kisah cinta manis antara Irene dan Ravindra. Cerita apalagi yang akan menanti mereka?