
...Keinginan Tuan Marvin...
Kehidupan manusia tak akan pernah ada yang menebak. Begitu juga dengan Ravindra. Ravindra yang tanpa ia sadari telah menghamili Irene hingga mendapatkan buah hati yang menggemaskan merasa sangat bersyukur. Dua orang yang teramat penting telah mengubah jalan hidupnya. Kini, Rava tengah memperjuangkan keluarga kecilnya dihadapan Sang Ayah. Ia berbicara dengan ayahnya di balkon rumah mewah mereka.
Tuan Marvin terlihat sedang membaca sebuah dokumen yang berisi tentang tes DNA antara Long An dan Ravindra. Rava yang diam-diam telah melakukan tes DNA berhasil menemukan jawaban mengapa saat bersama Long An. Seolah ada sesuatu dalam hatinya yang membuat merasa dekat dengan An.
“Jadi benar, Long An adalah putramu?” tanya Tuan Marvin.
“Ya.” jawab Rava dengan serius.
“Tidak ku percaya bisa terjadi hal seperti ini. Kamu yang begitu dingin terhadap orang lain. Ternyata memiliki seorang anak.”
“Aku tidak perduli, ayah mengakui putraku atau tidak. Tetapi aku akan memperjuangkan keluarga kecilku.” tatapan mata Ravindra begitu tajam menatap punggung ayahnya.
“Apa kamu bersama Irene hanya karena merasa bertanggung jawab saja? karena dahulu telah menghamilinya?”
“Tidak sama sekali. Jauh sebelum aku mengetahui kebenaran itu. Hatiku sudah merasakan sesuatu padanya.”
“Kamu tahu, resiko apa yang akan kamu jalani nantinya? Ayah sudah menyetujui perjodohanmu dengan Rosalind. Kita juga memiliki rencana bisnis dengan keluarga Ros. Apa kamu sudah memikirkan semua itu baik-baik?” tanya Tuan Marvin sambil melihat ke arah Ravindra.
“Aku tidak perduli dengan semuanya itu. Apa ayah ingin, aku memiliki kehidupan sama sepertimu? Dijodohkan dan kemudian malah menyakiti orang yang kamu cintai?” tanya Ravindra balik.
Mendengar pertanyaan Ravindra membuat Tuan Marvin tercekat.
“Apa ayah ingin, jika aku membangun sebuah keluarga. Keluargaku tidak memiliki kehangatan? Sama seperti keluarga ini?”
Ravindra diam sejenak sembari menatap ayahnya tajam.
“Aku tidak akan mau seperti itu. Terserah, jika ayah menghalangiku atau aku harus melepaskan semuanya ini. Aku akan tetap memperjuangkan keluargaku.” kata Ravindra penuh ketegasan.
Tanpa menunggu jawaban ayahnya. Rava hendak pergi dari tempat itu.
“Bawalah calon menantu dan cucu ayah kemari. Rumah sebesar ini, saatnya berganti suasana baru dengan suara tawa seorang anak kecil.” kata Tuan Marvin menghentikan langkah Ravindra.
Mendengar ucapan Tuan Marvin. Seketika Rava berbalik dan menatap ayahnya. Mencari kebenaran dari perkataan Sang ayah.
“Aku rasa mulai sekarang, akan tidur dengan nyenyak. Memiliki penerus ahli karateka seperti ayah. Rupanya kamu sudah dewasa anakku.” kata Tuan Marvin sambil berjalan melintasi Ravindra. Kemudian menepuk bahu Rava perlahan.
Ravindra terkejut dengan sikap ayahnya. Matanya terbelalak tak percaya. Ayahnya menyetujui hubungannya dengan Irene. Rava tersenyum simpul. Begitu juga dengan Tuan Marvin, menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Lantas berjalan meninggalkan tempat itu. Tanpa keduanya sadari, seseorang tengah menguping pembicaraan Ravindra dan Tuan Marvin. Orang itu mengepalkan tangannya dengan erat.
__ADS_1
“Dasar sial! Ravindra sialan!. Kenapa ayah begitu menyayangimu?” gerutu orang tersebut yang tak lain adalah Liam.
Apa yang menjadi milikmu. Akan ku rebut semuanya dari sisimu. kata Liam dalam hatinya. Lalu ia menghubungi seseorang dan meminta untuk bertemu.
Di rumah sederhana milik Irene dan Long An.
Irene kelihatan berbinar ceria seusai menerima telp dari Ravindra.
“Hemmm… apakah orang dewasa akan bersikap seperti ini. Ketika ia jatuh cinta?” tanya Long An sembari meledek ibunya.
“Uuu… senangnya diri ini. Punya tambatan hati uuuuu….” Long An lagi-lagi menggoda ibunya sambil bernyanyi.
Irene yang digoda Long An langsung melingkarkan tangannya di leher bocah itu. Lantas mengacak-acak kepala anaknya.
“Ooh, sekarang Naga kecil mama berani menggoda mama ya? Hemmm?” Irene tertawa sambil mengacak rambut Long An.
“Hihihi… aku bahagia melihat mama seperti ini.” kata An dengan senyum lebar.
“Terimakasih, karena berkat dirimu. Mama mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda.” kata Irene sambil memeluknya anaknya dengan erat.
“Aduuuh mama, sesak.”
Tetapi Irene tidak perduli dan tetap memeluk Long An dengan erat. Penuh kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan selama ini.
“Wuaaah asyik. An mau jalan-jalan bersama mama.” pekik Long An dengan ceria.
“Tetapi kali ini, hanya kita berdua saja. Hanya ibu dan anak. Tidak perlu mengajak papamu.” pinta Irene.
“Ehhh kenapa papa tidak diajak?” tanya An dengan wajah cemberut.
“Karena mama ingin menghabiskan waktu berdua denganmu saja An.” jawab Irene dengan senyum hangat.
Long An mengerti maksud mamanya. Jadi ia mengangguk dan menyetujuinya. Setelah bersiap-siap. Keduanya segera bergegas keluar rumah. Saat di luar, seseorang nampak ragu untuk masuk. Ia segera berbalik. Namun, Long An mengetahui kedatangan seseorang tersebut. Ia langsung memanggil dengan lantang.
“Nenek?!” panggil Long An.
Lantas An bergegas menghampiri orang tersebut. Awalnya Irene menduga jika yang dipanggil nenek oleh Long An adalah nenek Heera. Namun, sepertinya Irene salah. Orang tersebut adalah Nyonya Kania. Ibu kandung Irene. Ekspresi wajah Irene yang tadinya cerah ceria mendadak berubah jadi masam. Ia kelihatan tidak menyukai kedatangan ibunya.
“Halo nenek.” sapa Long An dengan hangat.
Si kecil Long An seperti biasanya, bersikap sopan dengan menjabat dan mencium tangan orang yang lebih tua. Nyonya Kania tersenyum dan mengelus kepala Long An perlahan. Ia tak menyangka memiliki cucu yang memiliki tatakrama dan hormat pada yang lebih tua.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu cucuku?” tanya Nyonya Kania ramah.
Long An yang hendak menjawab didahului oleh Irene.
“An, sebaiknya kita segera pergi.” kata Irene sambil menggandeng tangan Long An.
“Ta.. tapi ma. Nenek sudah datang.”
“Sejak kapan, kamu memanggilnya nenek? Apa mama pernah memintamu untuk memanggilnya nenek?” tanya Irene dengan tatapan tajam.
“I… itu…” jawab An terbata.
“Jangan menyalahkan Long An. Aku lah yang memintanya memanggilku nenek. Bagaimanapun dia adalah cucuku.” Nyonya Kania yang menjawab.
“Sebaiknya anda segera pergi.” kata Irene ketus.
Nyonya Kania menyadari kesalahannya yang telah meninggalkan Irene dahulu. Ia merasa pantas menerimanya. Long An yang mengetahui neneknya kelihatan sedih. Segera menggenggam tangan neneknya.
“Apakah itu buat An?” tanya Long An dengan ceria. Sembari menunjuk sebuah kotak yang dibawa oleh Nyonya Kania.
“Oh, ini adalah pizza.”
“Wooow, itu adalah makanan kesukaan mama. Mama suka pizza. Nenek, ayo makan bersama.” ajak Long An sambil menarik tangan Nyonya Kania.
“Ta… tapi…” Nyonya Kania sedikit melirik ke arah Irene. Merasa tak enak dengan tatapan masam Irene.
“An, bukankah kita akan jalan-jalan?” tanya Irene menghentikan langkah anaknya.
“Mama, jalan-jalannya lain waktu saja. Aku mau makan pizza bersama nenek. Bukankah nenek sudah membawakan makanan kesukaan mama. Jadi, mari makan bersama.” ajak Long An dengan senyum hangat.
Nyonya Kania benar-benar merasa tak enak pada Irene. Wajah Irene benar-benar masam. Tetapi Long An malah tidak perduli dan mengajak Nyonya Kania masuk ke dalam rumah. Meski Irene begitu kesal. Ia mau tak mau mengikuti keduanya masuk ke dalam. Irene tak ingin merampas kebahagiaan Long An hanya karena keegoisannya.
An dengan ceria mempersilahkan Nyonya Kania duduk. Mengambilkan minum dan menyambut neneknya dengan ceria. Sedangkan Irene hanya duduk dengan menampilkan raut wajah kesal. Tetapi Long An tak perduli dan malah duduk dengan sumringah di samping Nyonya Kania.
“Nenek, lihatlah ini album foto Long An sewaktu masih balita.”
“Wah, cucu nenek benar-benar menggemaskan dengan rambut berdiri. Kulitmu bersih seperti mamamu.”
“Tentu saja dan mamaku cantik seperti nenek.” sahut Long An dengan senyum lebar.
Membuat Nyonya Kania dan Irene saling berpandangan. Tetapi, sedetik kemudian Irene membuang muka karena tak ingin menatap ibunya.
__ADS_1
“Nenek bangga memiliki cucu sepertimu. Mamamu telah membesarkanmu dengan sangat baik. Berbeda dengan nenek yang malah meninggalkan tanggung jawab tersebut. Kelak, jangan lupakan kebaikan mamamu. Jagalah mamamu dengan baik. Jangan biarkan dia kesepian seperti yang nenek lakukan padanya.” kata Nyonya Kania penuh penyesalan.
Long An mengangguk dengan pasti. Sedangkan Irene hanya diam dan menatap ke arah lain dengan tatapan nanar. Hatinya entah kenapa merasa seperti ini. Meski di satu sisi ia masih marah pada ibunya. Tetapi di sisi lain, ada kelegaan dalam dirinya. Bahwa ibunya hidup dengan baik selama ini.