
...Mencari Jejak Irene...
Di ruangan kerjanya, Ravindra disibukkan dengan masalah mengenai proyek pembangunan wisma untuk para atlet. Beberapa pegawainya sedang menghadap. Melaporkan bahwa beberapa investor sudah menarik dana untuk proyek ini.
“Bagaimana dengan Menteri Olahraga? Apa beliau ada tanda-tanda untuk membatalkan proyek ini?” tanya Ravindra pada pegawainya.
Salah satu pegawainya menjawab, “hingga saat ini masih belum ada kejelasan dari Menteri Olahraga dikarenakan beliau sedang sibuk memfokuskan kegiatan seleksi untuk atlet Nasional.”
“Mintalah salah satu Direksi berbicara dengan Menteri Olahraga. Untuk mengulur waktu. Siapkan dana cadangan perusahaan dan fokuskan pada proyek ini terlebih dahulu. Dekati investor lain yang belum mencabut dana. Untuk jangan terburu-buru menarik investasinya.” perintah Ravindra pada pegawainya.
“Tetapi, bagaimana jika proyek ini gagal? Perusahaan akan menanggung kerugian yang sangat besar. Saya mendengar Nona Rosalind dan ayahnya berusaha keras membatalkan proyek ini.” lapor salah satu pegawai lainnya.
“Aku akan mencari cara untuk menarik minat investor lain. Terus laporkan perkembangannya padaku.” jawab Ravindra.
“Baik Tuan.” jawab pegawainya.
Tidak lama kemudian mereka meninggalkan ruangan. Ravindra sedikit memijat kepalanya. Semua masalah datang bertubi-tubi. Ravindra menatap tangannya yang terluka tempo hari karena memecahkan kaca. Ia memikirkan semua tindakan Irene. Benarkah wanita yang memiliki hati yang hangat seperti itu bisa sejahat ini?
Flashback
Sebelum Irene menghilang. Ravindra sempat menemui di rumahnya. Mereka berbicara di depan rumah.
“Kenapa kamu masih menemuiku? pergilah.” usir Irene dengan dingin. Tanpa menatap Ravindra.
“Sekali saja…. sekali saja jika kamu mengatakan itu tidak benar. Aku akan langsung mempercainya. Jadi, katakanlah semua yang aku lihat tidaklah benar.” kata Ravindra.
“Aku sudah mengatakan dengan jelas.” jawab Irene masih dengan nada dingin. Lantas masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Ravindra sendirian dengan perasaan penuh amarah.
Flashback End
Setelah kejadian itu, Ravindra tidak bertemu Irene lagi. Ia benar-benar dibuat gila dengan keadaan ini. Belum lagi masalah mengenai proyek pembangunan wisma untuk atlet. Sekarang ditambah berita mengenai hilangnya Irene. Disatu sisi Rava tidak perduli mengenai Irene yang sudah mencampakkannya sama seperti ibunya. Tetapi di satu sisi, ia tidak ingin Long An bersedih. Jadi, ia mengesampingkan perasaannya dan mencoba untuk mencari tahu. Disaat Rava sedang memikirkan mengenai Irene. Sebuah ketukan di pintu terdengar perlahan. Tidak lama kemudian Pak Albert datang menghadap.
“Tuan Ravindra.” sapa Pak Albert dengan sopan.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Ravindra dengan tatapan tajam.
“Saya sudah mencari tahu. List daftar penumpang yang berangkat pada penerbangan hari itu. Tidak ada sama sekali nama Nyonya Irene. Bahkan saya juga mengecek di hari sebelumnya. Juga tidak ada sama sekali Nyonya Irene tidak ada di penerbangan manapun.” lapor Pak Albert.
“Itu artinya dia masih di negara ini?” tanya Ravindra.
“Saya rasa begitu.”
“Jika begitu, cari dimana keberadaannya. Ini bukan untukku tetapi untuk putraku. Cari sampai ketemu. Jika memang Irene sengaja melakukan hal buruk seperti ini. Membiarkan anaknya bersedih. Aku sendiri yang akan memberinya pelajaran.” kata Ravindra dengan nada penuh kebencian.
Rasa benci dan amarahnya masih tersisa dalam diri Ravindra. Tatapannya sangat tajam seolah menembus jantung siapa saja. Meski sebenarnya rasa cinta itu masih tertanam di hati Rava. Tetapi apa yang sudah Irene lakukan padanya. Telah meninggalkan rasa luka.
“Lalu bagaimana mengenai kasus Nyonya Kania?” tanya Rava.
“Saya menemukan seorang saksi mata yang pertama kali menemukan Nyonya Kania. Beliau ditemukan tergeletak di jalan menuju pinggir kota, dengan luka dibagian belakang kepala.”
“Itu saja?”
“Saya akan menanyai tetangga Nyonya Irene. Siapa tahu ada saksi mata yang melihat. Polisi juga sedang mencari pelaku yang memukul Nyonya Kania.”
__ADS_1
“Baiklah, lakukan secepat mungkin.” perintah Ravindra.
“Baik tuan.”
Di tempat lain.
Long An yang ditemani Nyonya Meri, Si kembar dan Amao sedang menyelidiki jejak Irene yang menghilang. Long An sangat khawatir pada ibunya. Ibunya tidak pernah seperti ini. Jadi, pasti ada sesuatu dibalik ini semua. Meski merasa cemas akan keadaan ibunya. Bocah kecil genius itu mencoba bersikap tenang. Tenang akan membuat pikiran jernih untuk berpikir. Kini, Long An sedang berbincang dengan salah satu tetangga yang berdekatan dengan rumahnya.
“Pak, mohon maaf mengganggu waktunya.” kata Long An sangat sopan.
“Ah, bukankah kamu An? yang tinggal di sebelah itu?” tanya bapak paruh baya tersebut.
Long An mengangguk.
“Pak, apa tempo hari. Bapak melihat sesuatu yang mencurigakan di rumah saya? Apapun itu?” tanya Long An. Berharap bahwa bapak ini dapat memberikan petunjuk.
Si bapak itu mencoba berpikir dan mengingat sesuatu.
“Ah, seingat bapak. Waktu itu saat pagi hari. Ada mobil yang melaju cukup kencang meninggalkan rumahmu. Lantas tidak lama kemudian di belakangnya, sebuah mobil juga mengikuti.”
Mendengar keterangan dari bapak tersebut. Long An dan yang lain terlihat bersemangat. Pasti ada petunjuk dari sini.
“Apa bapak masih ingat ciri-ciri mobilnya?” tanya Long An kelihatan bersemangat.
“Ehm… seingatku mobil yang satunya mobil sedan berwarna hitam. Sedangkan mobil yang mengikuti di belakangnya berwarna putih bersih.”
“Apa mobilnya sedan mewah berwarna putih?” sahut Nyonya Meri seusai bapak tadi berbicara.
Nyonya Meri langsung menepuk tangannya. Seolah ingat sesuatu.
“Bu Meri, apa anda mengetahui sesuatu mengenai mobil itu?” tanya Long An penasaran.
“Jika mobil sedan hitam Bu Meri tidak tahu milik siapa. Tetapi jika sedan putih itu, milik Nyonya Kania. Beberapa hari yang lalu Nyonya Kania mengendarai ke AA School menggunakan mobil berwarna putih.”
“Wow, mama memiliki ingatan yang tajam.” puji Meichan.
“Luar biasa, akhirnya mamaku ingatannya tajam.” sahut Chanmei.
“Guk! Guk!” Amao ikut menggonggong.
“Tentu saja, karena mama suka melihat benda yang berkilauan dan mewah termasuk mobil Nyonya Kania huhu…” tawa Nyonya Meri renyah.
“Uhh kami pikir…” Si kembar hanya manyun. Mereka langsung mencabut pujiannya barusan.
Mendengar keterangan Nyonya Meri. Long An terdiam sejenak. Lantas berterimakasih atas keterangan dari tetangganya tersebut. Kemudian mengajak Nyonya Meri dan Si kembar berdiskusi di tempat lain.
“An, ada apa? Apa kamu menemukan petunjuk?” tanya Meichan.
“Benarkah itu? kamu menemukan petunjuk?” timpal Chanmei.
Nyonya Meri dan Amao juga ikut menatap Long An yang wajahnya kelihatan serius.
“Aku rasa, mama menghilang bukan atas kehendaknya sendiri. Ada orang jahat yang ingin mencelakai mama. Menurut dugaanku, nenek Kania tanpa sengaja datang berkunjung ke rumah kami. Entah bagaimana, mungkin dia melihat kejadian tersebut. Pasti naluri seorang ibu akan muncul jika anaknya dalam bahaya. Mungkin nenek mengetahui mama dalam bahaya. Lantas mengikuti mobil hitam yang membawa mama. Hingga nenek Kania terluka seperti itu.” jawab Long An yang berpikir dengan kecerdasannya.
__ADS_1
“Itu sangat masuk akal. Mengingat, di tempat terjadinya Nyonya Kania mengalami musibah sama sekali tidak ada barang yang hilang. Berarti itu bukan perampokan.” sahut Nyonya Meri.
“Jadi, menurutmu ada orang jahat yang ingin mencelakai mamamu?” tanya Meichan.
“Menurutmu siapa orang jahat itu?” sahut Chanmei.
Long An menatap ke arah Nyonya Meri dan Si kembar.
“Kalian pasti mengetahui siapa orang itu. Mama tidak memiliki musuh selain….”
“Selain Si penyihir wanita Wakil Direktur!” pekik Nyonya Meri dan Si kembar bersamaan yang disahut dengan gonggongan Amao.
“Aku yakin, ada satu orang lagi yang menjadi musuh.” kata Long An.
Nyonya Meri dan Si kembar saling berpandangan. Mereka tidak tahu siapa lagi yang tidak menyukai ibunya Long An.
“Siapa?” tanya ketiganya pada Long An.
“Paman Liam.” jawab Long An pendek.
Mata Nyonya Meri dan Si kembar langsung terbelalak.
“Bagaimana bisa?” tanya ketiganya bersamaan.
“Beberapa hari yang lalu. Saat makan malam di rumah Kakek Marvin. Paman Liam berbisik padaku sesuatu yang mencurigakan. Sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan seorang paman pada keponakannya. Aku curiga mereka berhubungan dengan semua ini. Jadi, kita harus mencari bukti untuk memastikannya.” jawab Long An serius.
Kelihatannya bocah genius itu sedikit demi sedikit menemukan kaitan satu sama lain.
“Lalu bagaimana langkah kita selanjutnya?” tanya Nyonya Meri yang ditambah anggukan dari Si kembar.
“Aku membutuhkan bantuan papamu dan juga Paman Dareen.” kata Long An.
“Bagaimana caranya papaku bisa membantu?” tanya Si kembar bersamaan.
“Papamu adalah seorang ahli IT. Paman Dareen memiliki teman di Kepolisian. Jadi, aku rasa papamu bisa meretas jaringan CCTV di sekitar sini. Mencari tahu mobil yang keluar dari sini sekitar pagi hari dan jalanan di sekitar tempat kejadian perkara. Di mana nenek Kania ditemukan terluka.”
“Tetapi setahu Ibu, meretas jaringan tidak akan mudah. Jika kita orang luar. Bukan dari kepolisian.”
Long An tersenyum, “karena itulah aku membutuhkan bantuan Paman Dareen yang memiliki teman di Kepolisian. Ia akan membantu membuka jalan peretasan dari dalam. Pak Ahen akan meretas melalui jalur pintu belakang dan berpura-pura sebagai sistem itu sendiri. Maka ketika ia masuk ke dalam jaringan CCTV Kepolisian. Ia tidak akan dicurigai sebagai penyusup yang akan meretas. Pak Ahen akan melalui pintu belakang. Pintu belakang sebuah jaringan bisa diretas asalkan ada yang membuka pintu dari dalam. Maka di sini, gunanya meminta bantuan teman dari Paman Dareen.” jawab Long An dengan tatapan serius.
“Wow, kamu luar biasa. Bagaimana mengetahui cara kerja peretasan?” tanya Nyonya Meri dan Si kembar bersamaan.
“Hehehe, dulu ketika kita berlibur Pak Ahen menceritakan padaku mengenai cara peretasan.” jawab Long An dengan senyum lebar.
“Kita akan membantu.” Nyonya Meri dan Si kembar bersemangat membantu Long An.
“Guk! Guk!” Amao juga ikut menyalak dan akan membantu.
“Baiklah, kita harus bergerak cepat. Tetapi pertama-tama. Bisakah aku meminta bantuan Nyonya Meri?” tanya Long An.
“Apapun itu, akan aku lakukan.” jawab Nyonya Meri.
Long An berbisik pada Nyonya Meri. Tetapi tidak ada yang mengetahui apa yang Long An minta dari Nyonya Meri. Mereka kemudian, segera bergerak untuk menyelamatkan Irene.
__ADS_1