Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 94


__ADS_3

...Kembali Bersama...


 


           Di saat Irene masih bersama Long An. Ravindra sedang menghadapi Liam. Liam terlihat kesal. Ia dikeroyok orang sebanyak ini. Semua ini terjadi karena Rosalind hanya memikirkan keselamatannya sendiri. Liam melihat sekelilingnya. Lalu berusaha melawan anak buah Ravindra. Ia berusaha memukul dan mendorong. Rava menyaksikan dengan tatapan tajam. Bagaimanapun juga, Irene mengalami penderitaan karena ulah Liam. Liam berusaha melawan anak buah Ravindra. Saat berhasil menjatuhkan dua orang. Ia lari tunggang langgang. Ravindra yang menyaksikan Liam kabur bergegas menyusulnya.


           Terjadi kejar-kejaran antara Ravindra dan Liam. Di belakangnya anak buah Rava termasuk Pak Albert juga ikut menyusul. Liam berlari dan melompat ke sana kemari. Melewati halang rintang. Kemarahan sekaligus kekesalan Ravindra sudah berada di ubun-ubun. Rava segera melompat ke depan dan menendang tepat mengenai punggung Liam.


           Duak!


           Seketika Liam tersengkur. Melihat Liam tersungkur, Rava segera menarik baju Liam. Kemudian memberikan bogem mentah tepat mengenai wajah Liam.


           Bak!


           Buk!


           Darah segar terlihat keluar dari mulut Liam. Rava menatap penuh kebencian pada Liam. Begitu juga sebaliknya. Dua bersaudara tersebut saling membenci. Liam berusaha membalas pukulan yang diterimanya dari Ravindra. Tetapi Rava sigap menangkis dan lagi-lagi kembali memberikan tendangan tepat mengenai perut saudara tirinya tersebut. Jelas Liam bukan tandingan Ravindra. Rava juga berlatih karate. Sedangkan Liam jauh berbeda. Ia lebih suka berfoya-foya dan hanya minum-minum saja. Tak tertarik pada latihan fisik semacam karate. Maka mau tak mau Liam jadi bulan-bulanan kemarahan Ravindra.


           Rava yang diselimuti amarah memukul Liam berkali-kali hingga babak belur. Bahkan Rava juga menginjak dada Liam.


           “Apakah ini menyakitkan hah?!” teriak Rava penuh amarah.


           Liam hanya terkekeh dan seolah tetap tak menyadari kesalahannya. Hal itu semakin membuat Rava marah. Ia langsung memukul wajah Liam berkali-kali hingga wajah adik tirinya tersebut banyak mengalami luka. Sedangkan Pak Albert dan anak buah Rava yang lain membiarkan tuannya melampiaskan kemarahan.


           “Apa kamu tetap tidak menyadari kesalahanmu hah?!” tanya Rava sembari mencengkeram kerah leher Liam.


           Liam yang tergeletak tak berdaya hanya tersenyum sinis.


           “Untuk… untuk a… apa… aku menyesalinya? Ka.. kamu dan ayah sama sekali. Ti… tidak perduli padaku uhuk… uhuk…” jawab Liam terbata. Sesekali ia batuk karena dadanya terasa sakit akibat pukulan Ravindra.


           Rava menatap dengan tatapan tajam. Matanya memerah tanda marah. Kemudian memukul Liam dengan keras.


           Buk!


           “Itu pukulan karena dahulu telah mencelakan putraku.”


           Bak!


           “Ini pukulan karena telah melukai ayahmu sendiri.”


           Buk! Bak!


           “Pukulan terakhir ini, karena telah membuat wanita yang aku cintai menderita.” kata Rava diiringi gemretakan gerahamnya yang menahan amarah.

__ADS_1


           “Dasar sialan!!!!” teriak Rava marah hendak memukul Liam. Liam memejamkan mata dan pasrah jika pukulan Rava mengenai wajahnya.


           Tetapi di luar dugaan, Rava hanya memukul bagian samping Liam. Memukul tempat kosong.  Kemudian dengan masih menahan amarah. Rava menghempaskan tubuh Liam hingga tergeletak di aspal. Lalu bangkit berdiri dan menatap Liam dengan tatapan dingin. Hingga tak lama kemudian, terdengar suara polisi berdatangan. Polisi tersebut segera meringkus Liam dan memborgolnya.


           Tidak berselang lama sebuah mobil datang dan terdengar suara yang tidak asing.


           “Papa!!!” panggil seorang anak kecil dengan rambut berdiri. Anak itu tak lain adalah Long An.


           An keluar dari mobil yang dikendarai oleh Dareen. Kemudian berlari dan menghambur ke dalam pelukan Ravindra.


           “An, kamu baik-baik saja?” tanya Rava yang cemas akan keadaan Long An.


           Long An tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. Tanda bahwa ia baik-baik saja. Tidak lama kemudian, Si kembar menyusul.


           “Paman tampan.” panggil Si kembar dengan ceria.


           “Kalian juga baik-baik saja?” tanya Rava.


           Si kembar tersenyum dan mengangguk. Di belakang mereka, Dareen juga ikut menyusul. Ravindra merasa tenang sekarang. Bahwa semuanya baik-baik saja. Kemudian, tanpa Rava duga. Seseorang keluar dari mobil. Orang itu memiliki rambut hitam panjang yang berkilau. Lantas berjalan perlahan menghampiri di mana Rava dan yang lainnya berada. Ravindra yang awalnya tak begitu memperhatikan tanpa sengaja matanya terantuk pada sosok seseorang yang sangat ia rindukan. Mata Rava terbelalak. Ia benar-benar tak percaya. Bahwa yang berada di hadapannya adalah wanita yang sangat ia cintai. Bahkan sangat ia rindukan kehadirannya.


           “Re… Rene?! Irene?!” tegur Rava tak percaya.


           Irene menatap Rava. Kemudian melempar senyum memikat.


           “Pria rambut landak yang menyebalkan.” kata Irene dengan senyum manis.


           “Maaf… Maafkan aku karena tidak mempercayaimu.” kata Rava penuh penyesalan.


           “Akulah yang seharusnya minta maaf, karena tidak jujur dengan keadaan yang sebenarnya.” balas Irene.


           Ravindra dan Irene hanya bisa saling memeluk dengan erat. Melepaskan rasa rindunya. Long An dan Si kembar hanya tertawa cekikikan karena melihat kedua oarng yang saling merindu masih berpelukan cukup lama. Dareen yang menyaksikan hal tersebut juga ikut bahagia. Ia sudah merelakan Irene bahagia dengan pilihannya. Saat mereka sedang berbahagia dengan pertemuan tersebut. Tiba-tiba terdengar kegaduhan dari arah Liam dan polisi. Liam berusaha berontak dan mendorong salah satu polisi menggunakan tubuhnya kemudian bergegas lari.


           “Berhenti!!!” teriak salah satu polisi.


           Tak ayal, Long An dan yang lain menyaksikan kejadian tersebut. Polisi yang bertugas  tak tinggal diam dan dalam hitungan detik terdengar suara letusan.


           Dor!!


           “Arghttt!” teriak Liam kesakitan. Lalu ia langsung roboh.


           Darah segar terlihat mengalir deras dari kakinya. Polisi menembak hanya dibagian kaki. Untuk menghentikan Liam yang hendak kabur. Liam mengaduh kesakitan sambil memegangi kakinya yang terluka. Polisi segera mendekat dan kembali meringkusnya. Ravindra dan yang lainnya segera menghampiri.


           Liam masih meringis kesakitan sembari digelandang oleh polisi. Saat melewati Ravindra, Liam menatap saudaranya tersebut.

__ADS_1


           “Aku benar-benar iri pada hidupmu. Kamu memiliki segalanya. Memiliki wanita yang mencintaimu dengan tulus. Anak yang genius dan ayah yang selalu mendukungmu. Kenapa tidak membunuhku saja hah?! Jangan siksa aku seperti ini?” tanya Liam sambil menahan kesal sekaligus sedihnya.


           Rava menghela nafas dalam.


           “Aku tidak akan melakukan itu. Aku hanya ingin kamu belajar atas kesalahanmu. Hidupku juga tak sesempurna kelihatannya. Maafkan aku dan juga ayah yang tidak memperhatikanmu. Jadi kamu merasa diabaikan.” Jawab Ravindra sembari menatap Liam dengan tatapan sedih.


           Ravindra juga menyadari kesalahannya karena selama ini terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Hingga tak memperhatikan, bagaimana perasaan Liam. Sedangkan Liam yang mendengar perkataan Rava seketika terpengarah. Ia tak menduga Ravindra mengatakan hal tersebut. Liam hanya tersenyum getir.


        “Kesalahanku sangat berat.” kata Liam seolah menyesal.


           “Aku juga bersalah padamu. Maafkan aku, bagaimanapun kamu tetaplah saudaraku.” balas Ravindra tulus.


           Lagi-lagi Liam tercekat mendengar perkataan Ravindra. Rasa iri dan kebencian yang selama ini tertanam dalam hati Liam seketika sirna. Ia merasa sangat tersentuh dengan perkataan Ravindra.


           “Paman, bukan hanya papa yang menganggapmu sebagai saudaranya. Tetapi aku juga menganggapmu sebagai pamanku. Mungkin keluarga kita hanya perlu waktu untuk saling memahami satu sama lain.” kata Long An dengan senyum lebar khas senyumnya.


           Kini, giliran Irene yang menatap Liam. Ia ingat betul bagaimana Liam waktu itu hendak menodainya. Tetapi Irene juga tak ingin masalah ini berlarut-larut dan membuat dendam dan kebencian yang tidak akan ada habisnya.


            “Aku juga sudah memaafkanmu. Jadi, mari perbaiki semuanya dari awal.” sahut Irene. Mengatakan dengan tulus.


           Liam yang mendengar semua kebaikan itu terlihat berkaca-kaca. Ia tak menyangka semua orang akan memaafkannya. Kemudian, ia berjalan menunduk dan digelandang oleh polisi masuk ke mobil. Maka dengan tertangkapnya Liam, sebagian masalah bisa diselesaikan.


           “Sekarang tinggal Wakil Direktur Rosalind.” kata Long An saat mobil polisi yang membawa Liam sudah menjauh pergi.


           “Kamu benar An. Mama masih memberinya kesempatan untuk menyadari kesalahannya. Memberikannya pelajaran bagaimana hidup sendiri. Tidak ada yang membantunya. Uang yang Rosalind banggakan pun sudah lenyap dari tangannya.” sahut Irene.


           “Tetapi, kita tidak bisa membiarkannya berkeliaran seenaknya sendiri.” kata Ravindra.


           “Tenang saja, aku sudah meminta anak buahku untuk mengawasinya.” Dareen yang menyahut.


           Saat itu, Irene ingat sesuatu.


           “Tu… Tunggu… lalu bagaimana dengan ibuku?” tanya Irene yang ingat ibunya terluka karena menyelamatkannya.


           “Mama tenang saja. Nenek Kania baik-baik saja dan berada di tempat yang aman.” jawab Long An.


           Irene yang mendengar hal tersebut seketika merasa sangat lega. Bahwa ibunya selamat. Si kembar yang berada di sana tersenyum melihat Irene.


           “Wah, jika semua berjalan lancar. Apakah sebentar lagi ada pesta?” tanya Meichan menggoda Irene.


           “Wow, pesta?!!! Kapan pesta itu paman tampan?” goda Chanmei pada Ravindra.


           Ravindra dan Irene yang mendapatkan pertanyaan tersebut seketika wajahnya memerah. Long An tersenyum melihat kedua orang tuanya malu-malu. Kemudian memeluk ayah dan ibunya penuh kebahagiaan. Irene dan Ravindra ikut tersenyum. Kemudian balas memeluk anak kesayangannya tersebut. Si kembar juga tak mau ketinggalan. Mereka juga ikut berpelukan. Merasakan kebahagiaan yang dirasakan Si kecil Long An. Tetapi masih ada satu masalah yang harus diselesaikan yaitu masalah Rosalind.

__ADS_1


            


 


__ADS_2