Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 22


__ADS_3

... Rencana Rosalind...


Rencana manusia memang tak seindah rencana Tuhan. Rosalind yang melakukan segala cara untuk menyingkirkan Irene malah menemui kegagalan. Ia yang memang sudah membenci Irene sejak duduk di bangku sekolah dahulu. Berusaha membuat hidup Irene sengsara. Rosalind Birgita yang terlahir dikeluarga kaya, selalu ingin menjadi nomor 1. Tak boleh ada yang menyainginya. Mulai dari kecantikan dan prestasi. Ia wanita yang ambisius dan tamak. Siapapun yang menghalangi jalannya, akan ia singkirkan. Termasuk Irene Maxzella.


Irene adalah saingannya dahulu kala saat mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas. Saingan dalam cabang olahraga panahan. Keduanya adalah atlet panahan. Irene yang hanya seorang gadis miskin. Menjadi saingan berat bagi Rosalind. Banyak teman-teman sekolah yang membanding-bandingkan mereka. Irene yang masuk ke sekolah tersebut dengan beasiswa prestasi selalu dibandingkan dengan Rosalind. Jelas saja hal tersebut membuat Rosalind merasa gerah.


Rosalind merasa ia dari keluarga kaya yang terhormat. Tidak mau dibandingkan dengan Irene yang berasal dari keluarga miskin yang hanya tinggal di panti asuhan. Keduanya selalu dibandingkan dalam hal kecantikan dan bakat. Irene memiliki kecantikan alami layaknya seorang Dewi. Selalu mendapat pujian, baik kaum adam maupun hawa. Bakatnya sebagai atlet panahan diakui semua orang. Hingga Irene menjuarai turnamen panahan tingkat Nasional. Semua pencapaian Irene yang tinggi, membuat Rosalind begitu iri. Dia yang anak orang kaya hanya berada diposisi kedua. Kalah dengan Irene yang tak jelas dari keluarga mana.


Rasa iri dan dengki tersebut seperti penyakit yang menggerogoti Rosalind. Mendarah daging dalam dirinya. Hingga mengalir dalam setiap aliran darah wanita itu. Hingga melakukan apapun untuk menghancurkan Irene. Bahkan meski keduanya sudah lulus sekolah sekalipun.


Kini, setelah 10 tahun lebih. Irene malah muncul dihadapan Rosalind. Tentu hal tersebut membuat gadis berambut kecoklatan itu semakin geram. Apalagi ketika ia mulai mencari tahu kenapa Irene kembali ke negara ini. Rosalind semakin kesal dibuatnya. Ia mulai berfikir, bahwa anak yang Irene sekolahkan di AA School adalah anak dari pria incarannya selama ini. Mengingat tahun lahir anak kecil yang bernama Long An tersebut, adalah tahun di mana Rosalind hendak mencelakai Irene.


Rosalind hanya mondar-mandir di ruangannya.


Kemudian, ia bergegas mengambil ponsel miliknya. Lantas menghubungi seseorang. Cukup lama seseorang yang dihibungi Rosalind mengangkat telpnya. Setelah beberapa saat menunggu. Akhirnya panggilan telp dari Rosalind tersebut tersambung. Suara seorang pria dengan tawa terkekeh terdengar di telinga Rosalind.


“Di mana kamu?” Tanya Rosalind dengan nafas memburu.


Oh, sayangku. Kamu mencariku? Tanya balik pria di seberang telp.


“Diam kamu! Jangan memanggilku seperti itu. Disaat seperti ini.” Rosalind terdengar kesal.


Haha!!! Tenanglah. Jangan tegang seperti ini. Aku sedang berada di luar kota. Jika ingin bicara padaku. Tunggu aku kembali. Sahut pria di seberang telp.


Rosalind terlihat kesal dan segera mematikan telpnya.


“Pria menyebalkan itu, kenapa disaat seperti ini malah tidak bisa diandalkan.” Gerutu Rosalind.


Kemudian, ia kembali berjalan mondar-mandir. Sesekali melihat dokumen yang berisi data diri Long An. Long An lahir sekitar 10 tahun yang lalu di negara ini. Di dokumen tersebut tak disertakan nama ayah Long An. Hanya disebutkan Irene sebagai ibu tunggal. Itu artinya kemungkinan besar, Long An adalah darah daging Ravindra.


“Arrrght!!!” Teriak Rosalind kesal.


Kemudian ia memikirkan sesuatu. Setelah mondar-mandir ke sana kemari. Ia bergegas mengambil kunci mobilnya. Berjalan meninggalkan ruangan dan bergegas ke suatu tempat. Tempat tujuan Rosalind tak lain dan tak bukan adalah kediaman keluarga Damariswara.


Rosalind bergegas masuk ke dalam rumah yang sangat luas dan mewah tersebut. Pilar-pilar rumah yang didominasi dengan cat berwarna putih tersebut ditopang dengan pilar-pilar besar yang sangat kokoh. Seorang pelayan laki-laki yang bernama Pak Reno menyambut kedatangan Rosalind. Pak Reno adalah kepala pelayan di kediaman Damariswara sekaligus sopir pribadi Tuan Marvin.


“Selamat datang Nona Rosalind. Apa anda mencari Tuan Ravindra?” Tanya Pak Reno dengan ramah.


Rosalind menjawab dengan gaya angkuhnya.


“Aku sedang mencari Tuan Marvin.”


“Tuan Marvin, sedang berlatih karate. Tunggu sebentar, akan saya sampaikan pada Tuan Marvin.” Kata Pak Reno begitu sopan.

__ADS_1


Lantas bergegas ke tempat di mana Tuan Marvin berlatih karate. Meski Tuan Marvin sudah pensiun dari dunia seni bela diri karate. Tetapi, ia masih rutin menjaga kesehatan tubuhnya. Supaya tetap bugar. Tuan Marvin memiliki Dojo atau tempat berlatih karate pribadi di rumahnya. Ia terlihat sedang melatih pukulan dan tendangan.


Mengenakan pakaian khas berwarna putih. Tuan Marvin masih tampak gagah. Pakaian yang dikenakan Tuan Marvin bernama karategi. Karategi adalah pakaian khas seorang karateka berbentuk seperti kimono Jepang. Ditemani anjing kesayangannya yang bernama Amao.


“Maaf Tuan, Nona Rosalind datang ingin menemui anda.” Kata Pak Reno sedikit membungkuk.


Mendengar ada yang mencarinya. Tuan Marvin menghentikan latihan.


“Persilahkan dia masuk.” Perintah Tuan Marvin.


“Baik, Tuan.” Balas Pak Reno membungkukkan badannya.


Kemudian, bergegas kembali ke ruang tamu. Tuan Marvin menunggu sambil bermain dengan Amao. Tidak lama kemudian, Pak Reno datang dan tepat di belakangnya Rosalind mengikuti. Rosalind berpenampilan glamor dengan riasan make up yang cukup tebal. Mengenakan baju hem putih berpadu dengan rok span berwarna krem muda. Kakinya terlihat jenjang berpadu dengan highheels yang tinggi. Rosalind tersenyum ramah pada Tuan Marvin. Namun, senyuman ramah Rosalind malah disambut dengan suara gonggongan Amao.



“Guk!!Guk!! Guk!!!” Amao menyalak dengan keras.



Rosalind sedikit berjingkat karena suara gonggongan Amao yang begitu keras. Amao seolah tidak suka pada Rosalind. Anjing itu, hendak menerkam ke arah gadis pemilik rambut kecoklatan. Tetapi, Tuan Marvin segera menarik Amao dan mengelusnya perlahan.



“Amao, anjing baik. Tenanglah…” Kata Tuan Marvin menenangkan anjingnya. Tangannya mengelus leher Amao perlahan.




Pak Reno mengangguk dan membawa Amao pergi dari tempat itu. Amao masih menatap tajam ke arah Rosalind. Suara gemretak giginya membuat Rosalind bergidik. Wanita itu menatap tidak suka pada Amao.



“Hemm, sepagi ini kamu sudah datang Ros. Apa ada yang ingin kamu sampaikan?” Tanya Tuan Marvin sembari mengelap keringatnya.



“Paman, ini sudah terlalu lama aku menunggu Ravindra. Kenapa paman tidak membujuknya untuk segera menikah denganku?” Tanya Rosalind memburu.



Tuan Marvin menghela nafas dalam. Kemudian, meminum air putih yang sudah disediakan. Lalu menawari Rosalind orange jus.

__ADS_1



“Minumlah dahulu, sepertinya hari ini kamu sangat terburu-buru. Orange jus ini, bagus untuk kesehatanmu.” Kata Tuan Marvin sambil menyerahkan segelas orange jus pada Rosalind.



Rosalind menerimanya dan segera meminum orange jus tersebut. Kebetulan, sejak tadi ia merasa kehausan karena sibuk memikirkan langkah apa yang akan ia ambil. Ia tidak ingin rencananya gagal. Jika sampai keluarga Damariswara mengetahuinya.



“Paman, aku tidak ingin digantung seperti ini? Orang tuaku terus mendesak. Agar aku segera menikah dengan Rava.” Rajuk Rosalind pada Marvin.



Tuan Marvin lagi-lagi menghela nafas dalam.



“Aku mengerti itu. Tetapi, Rava anak yang sulit dikendalikan dan tidak mudah dibujuk.”



“Aku akan membujuknya.” Kata Rosalind penuh percaya diri.



“Tetapi paman harus membantuku juga.” Lanjut Rosalind.



“Mengenai itu, kamu tenang saja. Paman akan mendukungmu. Aku juga akan membujuk Rava untuk segera menikahimu.” Jawab Tuan Marvin.



“Itu bagus paman. Aku yakin, orang tuaku akan senang hati membantu paman melobby para petinggi. Untuk menyetujui pembangunan wisma megah untuk para atlet.” Sebuah senyum licik tersungging disudut bibir Rosalind.



Rosalind yakin, Marvin Damariswara akan tergiur dengan tawarannya. Ia begitu yakin pria tua dihadapannya ini masih memiliki ambisi demi menaikkan nama besarnya.



“Bersulang.” Balas Rosalind sambil mengangkat gelasnya.

__ADS_1



Tuan Marvin balas tersenyum dan bersulang bersama Rosalind. Tanpa Tuan Marvin ketahui, seulas senyum licik lagi-lagi terlukis diwajah Rosalind. Rosalind merasa sedikit tenang, karena Marvin Damariswara mendukungnya. Kini, tinggal membujuk Rava untuk segera menikah dan mengubur rahasia yang tak akan pernah diketahui orang lain. Selain dirinya…


__ADS_2