Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 9


__ADS_3

...Ikatan...


Di sebuah rumah yang tidak terlalu besar dengan halaman kecil yang hanya sepetak. Terdengar suara nyaring teriakan-teriakan kecil yang begitu bersemangat. Suara itu berasal dari seorang anak berusia 10 tahun. Anak itu sedang berlatih jurus-jurus dalam karate. Ia begitu bersemangat. Anak itu memiliki kulit putih dengan pipi bulat bakpao. Rambutnya berdiri seperti duri. Ia tengah berlatih dengan didampingi ibunya. Mereka tidak lain adalah Long An dan juga Irene.


“Osh!!!” Teriak Long An lantang.


Kemudian memasang kuda-kuda untuk berlatih kihon terlebih dahulu. Kihon berarti dasar atau pondasi. Seorang karateka harus menguasai kihon dengan baik sebelum sebelum mempelajari kata dan kumite. Mendiang Master Li, guru pertama Long An. Selalu menekankan bahwa seorang karateka sehebat apapun harus memiliki dasar atau pondasi terlebih dahulu. Sebelum memulai tingkatan yang lebih tinggi.


Sama halnya seperti seseorang yang sedang mengerjakan sesuatu. Jangan terburu-buru ingin mengejar hasilnya. Namun, harus bersedia melalui proses yang panjang. Begitu jugapun dengan belajar karate. Harus memiliki pondasi yang kokoh agar biasa mencapai tingkatan tertinggi. Selain itu agar seorang karateka juga memiliki kesabaran dalam belajar. Long An kecil selalu ingat pesan mendiang Master Li. Meski sekarang, ia telah mencapai tataran tertinggi. Bahkan sudah dikategorikan genius. Namun, harus tetap mempertahankan dasar karate terlebih dahulu.


Long An membuka kakinya sedikit lebar. Lantas mengatakan osh sebagai tanda hormat atau bisa diartikan akan memulai teknik dasar karate. Lalu ia sedikit memajukan kaki kirinya ke depan. Sedikit menekuknya supaya bisa menjadi tumpuan. Ketika kaki kiri maju harus sedikit menyerong agar tidak sejajar dengan kaki kanan. Lantas ia berlatih teknik pukulan yang dinamakan tsuki. Pukulannya harus kokoh. Ke dua bahu tidak boleh goyah. Pukulan harus bertenaga. Long An berlatih memukul dengan tangan mengepal. Memukul dan menarik hingga bergantian tangan kiri dan kanan.


Selanjutnya ia memperagakan teknik tangkisan yang dinamakan uke. Seorang karateka tidak hanya pandai melontarkan serangan. Namun, harus bisa menangkis sebuah serangan. Disusul dengan teknik tendangan atau yang disebut geri. Long An begitu terampil memperagakan setiap pondasi dari karate. Seolah pondasi itu telah menyatu dengannya. Hingga tak terasa Long An telah memperagakan teknik pondasi terakhir yaitu sentakan atau uchi. Setelah siap dengan semuanya. Long An mengambil nafas dalam dan mensejajarkan kedua kakinya kembali.


“Osh.” Kata Long An perlahan.


Jika sudah selesai memperagakan teknik dalam karate. Harus diakhiri juga dengan mengucapkan osh. Tetapi diucapkan dengan perlahan. Irene yang mendampingi Long An tersenyum melihat bagaimana kihon Long An sudah sangat sempurna. Bahkan banyak anak seusianya yang terkadang teknik dasar kihon harus dilatih berkali-kali agar sempurna. Namun, berbeda dengan Long An. Seolah semua itu sudah menyatu dalam dirinya. Irene segera mendekat ke arah Long An. Mengelap keringat putra kesayangannya dan memberikan minum.


“Putra mama sudah berlatih keras. Hari ini, mama akan mengajakmu jalan-jalan ke pusat olahraga. Kita akan membeli beberapa perlengkapan olahraga. Apa anak mama mau jalan-jalan?” Tanya Irene dengan menampilkan senyum hangat.


“Wah, apa kita akan melihat ibu kota ma? Aku sangat ingin jalan-jalan di kota kelahiran mama. Pasti menyenangkan.” Jawab Long An begitu antusias.


Irene mengangguk dengan pasti.


“Tetapi sebelum itu, keringkan keringatmu dahulu. Lantas mandi dan setelah itu mari kita jalan-jalan, karena setelah ini mungkin mama akan sedikit sibuk. Sibuk karena mencari pekerjaan.” Kata Irene pada anaknya.


“Hemm, aku mengerti mama.” Kata Long An ceria.


“Kemari, mama akan memeluk anak mama yang menggemaskan. Coba sini mama cium bau keringatnya.” Irene berkata sembari hendak memeluk Long An.


Tetapi Long An malah menghindar dan berlarian sambil tertawa.


“Coba kejar aku mama ha ha ha.” Long An berlari menghindar dengan ceria.


Keduanya saling tertawa dan berlarian. Kali ini, nasib Irene mungkin akan berubah. Tawa kebahagiaan tak pernah ia rasakan semenjak usianya 12 tahun. Tetapi semua kesedihan itu sirna sudah. Semenjak kehadiran Long An dalam hidup wanita muda itu.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian. Irene dan Long An sudah sampai di pusat olahraga. Di sana begitu banyak perlengkapan olahraga. Mulai dari sepatu, kaos olahraga, hingga alat olahraga lainnya sangat lengkap. Di pusat olahraga tersebut tertulis Aksara Sport Center. Wajah Irene dan Long An terlihat berbinar. Meski ini di Indonesia, namun tidak kalah dengan yang ada di Amerika. Keduanya berdecak kagum.


“Pasti pemiliknya orang yang luar biasa.” Puji Irene.


“Benar mama. Ini benar-benar keren.” Timpal Long An.


“Ayo kita jalan-jalan!!!” Ajak Long An bersemangat. Irene hanya tersenyum melihat tingkah putra kecilnya.


Kemudian, mereka berjalan-jalan. Melihat berbagai macam perlengkapan olahraga. Saking asyiknya keduanya melihat ke sana kemari. Irene tak menyadari, jika ia berbeda jalan dengan Long An. Long An asyik melihat perlengkapan olahraga. Sedangkan Irene asyik melihat sepatu olahraga untuk Long An.


Long An terlihat riang berjalan ke sana kemari. Ini pertama kalinya ia melihat banyak orang Indonesia yang beragam. Memiliki warna kulit yang berbeda-beda. Namun, tetap saling bersama. Suasananya sangat berbeda ketika ia di California dahulu. Long An begitu asyik melihat ke sana kemari. Sampai terpisah dari ibunya. Hingga tak lama kemudian, mata sipitnya melihat seorang pria sedang berjalan. Namun, tanpa sengaja ia menyenggol seorang ibu-ibu hingga jatuh. Tetapi pria itu acuh tak acuh dan hendak melangkah pergi. Long An yang melihat hal tersebut tak tinggal diam.


“Hei paman! Berhenti!” Teriaknya lantang.


Namun, sebelum menegur pria itu lebih lanjut. Long An membantu si ibu yang jatuh untuk berdiri. Membereskan barang belanjaannya. Si ibu berterimakasih pada Long An dan memuji kebaikan hati anak kecil itu. Setelah membantu si ibu. Long An mencari-cari keberadaan orang yang menabrak si ibu barusan. Matanya melihat ke sana kemari. Hingga tidak lama kemudian. Ia menemukan sosok yang ia cari.


“Hei paman berhenti!!!” Teriak Long An dengan keras. Lalu ia berlari menyusul pria itu yang ternyata masih belum begitu pergi jauh.


“Paman!!!” Teriak Long An kembali saat sudah dekat dengan si pria.


Seorang pria yang mengenakan jas formal dan begitu rapi berhenti sejenak. Pria tadi memiliki rambut berwarna hitam dan berdiri seperti duri. Persis dengan rambut yang dimiliki Long An. Kemudian, pria itu berbalik dan melihat ke arah Long An. Matanya sipit namun tajam. Tubuhnya tegap ditunjang dengan tinggi 170 cm. Pria itu menatap Long An dengan dingin.


“Siapa kamu? Jangan menggangguku.” Jawab pria tadi dengan nada dingin.


“Namaku Long An. Kamu seharusnya meminta maaf. Bukan malah pergi begitu saja paman.” Long An menjawab dengan tegas.


“Aku tidak perduli. Pergilah.” Lagi-lagi si pria menjawab dengan dingin.


“Astaga, paman hanya memiliki wajah yang tampan. Tetapi tidak memiliki etika yang baik. Orang dewasa memang mengerikan.” Sindir Long An.


Pria itu menghela nafas dengan kesal.


“Dimana Albert saat seperti ini. Seharusnya dia menyingkirkan hal tidak berguna seperti bocah ini.” Gerutu si pria sendirian.


“Hei paman. Aku sedang berbicara padamu. Paman seharusnya menjawabku.” Long An kembali menegur.

__ADS_1


“Pergi, aku tidak ada waktu.” Pria tadi lagi-lagi menjawab dengan dingin.


Kemudian ia hendak melangkah pergi. Tetapi Long An segera menghadangnya.


“Tunggu paman. Pria sejati harus bertanggung jawab jika ia melakukan kesalahan.” Kata Long An menatap tajam pada si pria.


Si pria acuh tak acuh dan hendak melangkahkan kakinya. Namun, lagi-lagi Long An menghadangnya.


“Sebenarnya aku tidak ingin pamer. Tetapi paman memaksaku untuk melakukannya. Aku minta maaf untuk ini. Tetapi paman harus diberi hukuman karena tidak bertanggung jawab sebagai orang dewasa.” Kata Long An begitu tegas sembari menatap tajam pada si pria tadi.


Si pria hanya menatap Long An dengan dingin. Anak kecil ini membuang waktunya.


“Osh!” Teriak Long An lantang.


Kemudian, ia segera memberikan tendangan ke arah perut lawan yang dinamakan mae geri.


“Hyaa!!!” Teriak Long An.


Kaki kecilnya segera menendang ke arah perut lawan. Namun, tanpa Long An duga. Si pria dengan sigap menangkis serangan Long An. Long An sedikit terkesiap. Pria ini bisa menangkis serangannya dengan jurus karate juga. Si pria barusan juga terkejut. Melihat anak seusia Long An melakukan teknik mae geri dengan sempurna. Jika ia tidak siap tadi. Maka perutnya mungkin sudah merasakan tendangan bertenaga Long An. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Tatapan mata sipit yang tajam diantara keduanya saling beradu.


“An!!! An!!! Long An!!!” Teriak seseorang yang tak lain adalah Irene.


Irene panik mencari keberadaan Long An yang terpisah darinya. Long An yang mendengar suara panggilan ibunya kembali teringat. Ia tadi tak sadar telah terpisah dengan ibunya.


“Mama!!!” Teriak Long An.


“An?!!!” Irene yang mendengar suara Long An segera mendekat dan memeluk Long An.


“Kamu jangan pergi kemanapun. Mama sangat mengkhawatirkanmu.” Kata Irene begitu cemas.


“Maafkan aku mama. Aku sedang memberikan pelajaran seorang paman yang nakal.” Jawab Long An. Sembari menunjuk pada paman yang ia temui barusan.


Tetapi paman yang ia maksud telah berlalu dari tempat itu.


“Eh, kemana dia?” Long An bertanya-tanya.

__ADS_1


“Jangan berbuat sembarangan lagi. Mama tahu, kamu hebat dalam bela diri. Tetapi tetap saja kamu seorang anak kecil. Harus berhati-hati. Jangan membuat mama cemas.” Kata Irene sambil memeluk anaknya kembali. Long An mengangguk dan memeluk ibunya.


Tanpa mereka sadari, pria yang ditemui Long An barusan. Berdiri dibalik sebuah pilar besar yang tak jauh dari tempat Long An. Menatap tajam ke arah Long An dan Irene. Siapa pria itu sebenarnya?


__ADS_2