Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 33


__ADS_3

... Hati yang Menghangat...


Rembulan kembali menunjukkan sinarnya yang begitu memikat. Menyibak pekatnya kegelapan secara perlahan. Waktu terus berjalan mengiringi Sang Rembulan. Rembulan yang tersenyum, menyaksikan roda kehidupan. Dua insan saling menjalin sebuah ikatan.


Seorang wanita muda yang memiliki kecantikan alami. Terlihat duduk di teras depan rumahnya. Ia sedang memandangi rembulan yang nampak cantik dengan lingkaran penuh. Tangannya yang lentik sedang memegangi sebuah vas berisi bunga matahari. Wanita muda itu tak lain adalah Irene Maxzella.


“Pria rambut landak itu, sebenarnya orang yang seperti apa? Bagaimana bisa pria itu memiliki parfum dan tato Naga seperti pria malam itu? Jika itu memang dia. Kenapa dia diam saja dan pura-pura tak tahu atau ada hal yang tak aku ketahui?” Irene lagi-lagi bertanya tanpa mengetahui jawabnya.


Semua pikiran itu terus menari-nari di kepalanya. Jika memang benar Ravindra adalah pria malam itu. Bagaimana Irene akan memulai pembicaraan mengenai semuanya. Entahlah, semua bercampur aduk di kepala wanita muda yang memiliki mental sekeras baja. Tiba-tiba, dari dalam rumah, Long An berlarian dan memeluk Irene dengan manja.”


“Mama!!!” Teriaknya ceria. Sambil memeluk Irene dari belakang dengan riang.


“Ada apa ini? Kenapa anak mama tiba-tiba manja seperti ini?” Tanya Irene sambil memegangi tangan anaknya yang bergelayut di lehernya.


“Ini pertama kalinya, An merasa sangat senang sekali. Bisa berlatih tanding dengan Raja Karate dan juga paman rambut landak. Mereka sama-sama lawan yang hebat.” Teriak Long An dengan ceria. Ia kemudian duduk di samping Irene.


“Terimakasih mama, sudah membawa Long An kembali ke negara ini.” Long An memeluk Irene dengan manja.


“Mama bahagia mendengarnya.” Irene balas memeluk Long An sambil mengelus punggung anaknya.


“Mama, aku berfikir. Jika aku di sini, mungkin akan bertemu papa.” Kata Long An tiba-tiba.


Irene yang mendengar perkataan Long An langsung tersentak. Jika sampai Long An menanyakan tentang papanya. Irene tak tahu harus menjawab apa. Irene memilih untuk diam. Bukan karena keinginannnya untuk diam. Tetapi Irene tak tahu bagaimana menjelaskannya pada Long An.


“An, tidak tahu papa bahagia atau tidak. Tetapi, jika An bahagia pasti papa juga bahagia. Benar bukan?” Tanya Long An polos.


Irene tercekat mendengar kata-kata Long An. Meski ia tahu betul. Long An ingin sekali mencari tahu tentang papanya. Tetapi, anaknya tersebut seolah mengerti perasaan ibunya.


“Anak mama sudah dewasa rupanya.” Puji Irene.


Long An tersenyum di puji seperti itu.


“Mama, aku tidak tahu kenapa. Di sini, di dada Long An merasa bahagia dan hangat. Jika bertemu dengan paman rambut landak.” Long An berkata sambil menunjuk ke dadanya.


Irene lagi-lagi dibuat tercekat dengan ucapan Long An.


“Ke… ke.. kenapa bisa begitu?” Tanya Irene terkejut.


Long An hanya tersenyum lebar dan tak tahu jawabannya. Kenapa hatinya merasa hangat. Jika bersama paman rambut landak. Di saat Irene masih terkejut. Tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi. Irene membaca nama yang tertera di kontak tersebut.

__ADS_1


“Kya!!!” Irene kembali dibuat terkejut. Ponselnya terlepas dari tangannya.


Namun, Long An kecil dengan gerakan sigap. Ia langsung meraih ponsel mamanya sambil mengatur keseimbangan tubuh. Luar biasa memang, gerakan refleks maupun keseimbangan tubuh Long An. Tidak salah jika ia adalah anak genius. Long An heran kenapa ibunya begitu terkejut menerima panggilan telp tersebut. An melihat nama yang tertera di layar ponsel ibunya.


CEO Tampan


Long An mengernyitkan keningnya dan segera menggeser tombol hijau.


“Halo, siapa ini?” Tanya Long An dengan menggemaskan.


“Hah? Paman rambut landak? Apa? Sekarang? Baiklah. Aku akan memberitahu mama.” Jawab Long An terlihat ceria.


Irene yang mengetahui bahwa ternyata yang menelepon adalah Ravindra. Membuat dia menggerutu kesal.


“Dasar, pria aneh. Bisa-bisanya dia menyimpan namanya dengan CEO Tampan. Rupanya, selain orang yang dingin. Dia juga orang yang narsis.”


“Mama, paman rambut landak mengatakan. Ia akan datang ke sini. Katanya mau mengganti rugi sesuatu pada mama.” Kata Long An polos.


“Hah?! Dia mengatakan itu? Astaga!” Pekik Irene. Ia segera membawa Long An masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian. Setidaknya, jika ada tamu harus mengenakan pakaian yang rapi.


Benar saja, tidak lama kemudian. Sebuah mobil sport mewah berwarna hitam terparkir tepat di depan rumah Irene. Seorang pria mengenakan kaos berwarna hitam dengan blazer panjang hingga selutut. Penampilan Rava menunjukkan sisi pria dingin yang cool. Memperlihatkan ketampanannya yang rupawan. Sesaat setelah kedatangan Rava. Irene keluar dari rumahnya bersama Long An. Irene yang terburu-buru, ia hanya mengenakan pakaian yang ia temukan di lemari. Irene mengenakan baju berwarna biru muda bergaris putih. Pakaian yang ia kenakan sedikit turun dibagian bahu. Memperlihatkan bahunya yang jenjang dan putih mulus.


“Paman!!” Pekiknya dengan suara riang.


“Hihi, rambut kita sama. Berdiri seperti landak.” Long An berkata sambil menyentuh rambutnya.


Ravindra memandangi rambut Long An. Ia baru menyadari hal itu. Rambut mereka berdua memang mirip. Irene yang melihat hanya terdiam. Ia baru menyadari, bahwa Long An memang memiliki rambut berdiri seperti Ravindra.


“Jadi, paman akan mengajak kami jalan-jalan?” Tanya Long An dengan senyum lebar.


“Hemm… ini sebagai ganti rugi pada mamamu.” Ravindra menjawab dengan nada dingin.


“Asyik!!!” Teriak Long An. Lagi-lagi tawa riang terlihat menghiasi wajah bulat bakpaonya.


“Tidak perlu seperti ini. Aku tidak serius meminta ganti rugi.” Kata Irene sambil melangkah mendekat ke arah Ravindra.


“Baiklah, kita batalkan saja.” Balas Rava dingin tanpa ekspresi.


“Apa? Kita batal jalan-jalan bersama?” Tanya Long An sedih.

__ADS_1


Raut wajah ceria yang ia tampilkan barusan hilang seketika. Irene yang menyadari hal tersebut merasa tak enak pada anaknya.


“Haha… paman rambut landak hanya bercanda. Benar bukan? Hehe…” Irene tertawa sambil nyengir kuda.


“Paman?” Tanya Long An dengan ekspresi sedih.


Ravindra terlihat berfikir sejenak. Ia mulai membuka mulut. Tetapi, sebelum berbicara. Irene segera membawa Long An masuk ke dalam mobil sport mewah milik Ravindra.


“Ayo jalan!” Perintah Irene. Ia tak mau Long An sedih karena batal jalan-jalan.


Tanpa Irene ketahui. Ravindra tersenyum melihat tingkah Irene yang lucu. Sedangkan Long An yang wajahnya memelas. Langsung tertawa cekikikan dalam hati. Tadi Long An hanya berpura-pura memelas saja. Dasar bocil dan paman rambut landak membuat Irene jadi bertingkah konyol. Tidak lama kemudian, mobil sport mewah dua pintu tersebut menerobos jalanan malam di Ibu Kota. Membawa tiga insan yang sedang mencari kehangatan hati.


Setelah berkendara beberapa saat. Akhirnya sampai di sebuah tempat. Ravindra mengajak Irene dan Long An ke sebuah taman. Taman dengan hiasan lampu berwarna-warni dengan kolam bunga lotus di tengahnya. Beberapa orang terlihat sedang asyik duduk menikmati kolam maupun bintang di langit. Tak jauh dari sana, terdapat beberapa teropong bintang. Long An langsung berbinar ceria. Ia berlarian menuju salah satu teropong bintang.


“An, hati-hati!” Teriak Irene menyusul anaknya.


Di belakangnya, Ravindra menyusul dengan gaya cool. Long An terlihat lompat-lompat ingin melihat bintang dari teropong.


“Mama akan menggendongmu.” Kata Irene bersiap menggendong Long An.


Tetapi, tanpa Irene sangka. Secepat kilat, Ravindra menggendong Long An di punggungnya.


“Wow!!” Pekik Long An gembira sambil berpegangan di leher Ravindra.


Irene hanya menatap dalam ke arah Ravindra. Ia tercekat dengan sikap yang diperlihatkan CEO dingin tersebut. Ravindra tak banyak berkata dan sedikit menekuk kakinya Agar tingginya sejajar dengan teropong bintang dan Long An bisa menyaksikan bintang-bintang di langit yang bertaburan melalui teropong. Irene yang menyaksikan hal tersebut. Diam terpaku di tempatnya. Angin malam berhembus menerbangkan rambutnya yang tergerai. Tanggannya berusaha menyibak rambutnya yang kesana kemari tertiup angin. Hatinya… entah kenapa hatinya merasakan sesuatu ketika Ravindra menggendong Long An. Membuat Long An tertawa lebar seperti ini. Hal yang tak pernah ia saksikan. Irene merasa, seolah memiliki keluarga kecil yang lengkap.


Ia lantas berjalan menuju sebuah kolam yang dipenuhi bunga lotus. Bunga-bunganya terlihat mulai menampakkan kelopak yang indah. Irene menatap ke arah bunga tersebut. Seolah menatap dirinya sendiri. Mungkin keputusannya kembali ke negara ini adalah tepat.


“Mama!! Lihatlah, An bermain kembang api!” Teriak Long An setelah puas melihat bintang.


Rupanya ia berganti bermain kembang api. Ravindra menemani Long An bermain kembang api. Irene tersenyum melihat pemandangan itu. Tanpa ia sadari. Matanya dan mata Ravindra saling beradu. Angin kembali berhembus. Menebarkan aroma wewangian cinta. Disaksikan bintang yang berkelip indah di tengah pekatnya malam. Untuk beberapa saat lamanya mereka bermain kembang api bersama. Long An dan Irene terlihat tertawa dengan riang. Sedangkan Ravindra menatap dengan dalam. Ia menyentuh dadanya. Entah kenapa hatinya merasakan kehangatan.


Tak terasa malam begitu cepat berlalu. Kini, Irene dan Ravindra berjalan beriringan. Long An sedang tertidur dipunggung Rava. Irene dan Rava berjalan beriringan dengan diam. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tanpa Irene sadari, seseorang berjalan sempoyongan hendak menyenggol Irene. Rava yang melihat hal tersebut, refleks tangan kanannya memegang bahu Irene dan menariknya secepat kilat dalam pelukannya. Irene terkaget. Mereka saling bertatapan dengan begitu dekat. Mata Irene menatap dalam ke arah Ravindra. Begitu juga sebaliknya.


“Kenapa kamu begitu dingin?” Tanya Irene sambil menatap mata Ravindra.


“Kamu, kenapa kamu sehangat ini?” Tanya balik Ravindra.


Keduanya saling bertatapan sangat dekat, dengan Long An yang tertidur digendongan punggung Ravindra.

__ADS_1


__ADS_2