Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 69


__ADS_3

... Target Utama Duo Licik...


           Di sebuah kamar yang cukup luas, terdengar suara desa*han demi desa*han yang menggema di seluruh ruangan. Dua orang tengah berlaga di tempat tidur. Saling bertukar jurus dan menindih. Merasakan yang namanya nikmat dunia. Keringat membasahi tubuh keduanya. Namun, olah jurus terus berlanjut. Dua orang tersebut tak lain adalah Liam dan Rosalind yang sedang melakukan aktifitas hariannya. Bercocok tanam bersama. Liam yang meski kelihatan sebagai pria lemah. Namun, kehebatannya di ranjang cukup mumpuni. Alhasil membuat Rosalind berkali-kali mengalami *******.


           Lenguhan-lenguhan kecil terdengar dari bibir Rosalind. Ketika bibir Liam bermain dengan buah ceri milik Rosalind. Bibir Liam sangat lihai ketika memainkan buah ceri Rosalind. Hingga Ros merasakan desiran di seluruh tubuhnya. Apalagi di saat Liam bermain dengan serabi lempit milik wanita berambut kecoklatan tersebut, menambah lenguhan nyaring dari bibirnya. Liam kembali menunjukkan keperkasaannya dengan menunggangi Rosalind. Tenaganya cukup hebat hingga membuat seluruh tubuh Rosalind bergetar.


           Liam semakin cepat memainkan batang miliknya di dalam serabi lempit Rosalind. Hingga membuat Rosalind merasakan sesuatu yang luar biasa di bagian serabi lempitnya. Nafas mereka terdengar terngah-engah. Keringat bercucuran membasahi tubuh ke duanya. Meski nafas mereka memburu tak lantas menghentikan aktifitas keduanya. Liam semakin mempercepat memainkan batang di dalam serabi lempit Rosalind. Sampai terdengar lenguhan-lenguhan panjang dari ke duanya. Tepat sebelum batang Liam mengeluarkan air murni. Ia bergegas melepasnya dan menuju kamar mandi.


           Rosalind yang masih berbaring di ranjang. Terdengar mengatur nafas sembari telentang. Menunjukkan sebagian besar lekuk tubuhnya. Seusai melepaskan air murni miliknya. Liam keluar dari kamar mandi. Seperti biasanya, ia menegak wine kesukaannya. Serasa begitu nikmat seusai bercocok tanam. Lantas sebuah senyum tersungging di sudut bibirnya saat menatap Rosalind. Wanita yang telah membuatnya merasakan nikmat dunia. Dari 10 tahun yang lalu. Mereka sudah berkali-kali melakukan hal semacam ini. Liam yang sudah selesai minum, kembali menyusul Rosalind ke tempat tidur.


           “Luar biasa, beberapa hari ini kamu sering mengajakku bermesraan seperti ini.” kata Liam yang sudah berbaring di samping Rosalind.


           Rosalind yang sudah berhasil mengatur nafas, perlahan menarik selimut hingga bagian dadanya. Menutupi tubuhnya yang tak mengenakan sehelai benangpun.


           “Aku sungguh sangat kesal pada wanita yang bernama Irene itu.” jawab Rosalind dengan sorot mata penuh kebencian. Ketika mengucapkan nama Irene.


           “Aku rasa, kita tidak bisa menganggapnya remeh.” sahut Liam.


           “Wanita itu! aku akan membuatnya merasakan sakit yang bertubi-tubi. Bahkan jika perlu, hancur menjadi butiran debu.” Rosalind mengucapkan dengan nada penuh amarah.


           Ros teringat bagaimana Irene telah menjatuhkan harga dirinya dengan menantangnya. Irene yang hanya wanita miskin berani merebut Ravindra dari tangannya. Sejak dahulu, Rosalind sudah menduga bahwa Irene akan menjadi wanita menyebalkan yang akan terus mengusik hidupnya. Itulah alasan kenapa, Ros begitu membenci Irene.


           “Lalu apa rencana selanjutnya? Aku tidak menyangka rencana kemarin gagal begitu saja.” kata Liam sembari melirik Rosalind.


           “Aku memiliki ide yang patut kita coba. Tetapi, itu hanya bisa dilakukan olehmu.” Rosalind balas melirik Liam dengan senyum licik terpampang di wajahnya.


           “Apa itu?” tanya Liam yang penasaran dengan rencana licik Rosalind.


           Rosalind tersenyum dan berbisik di telinga Liam. Beberapa menit kemudian, senyum tersungging di bibir Liam.


           “Wanita macam apa dirimu? Tak pernah kehilangan ide untuk merusak orang lain. Tetapi aku menyukai itu. Wanita yang luar biasa.” puji Liam.


           Seusai berbisik di telinga Liam. Ros tersenyum dengan tatapan jahat. Membayangkan rencananya kali ini akan berhasil dengan mengubah target utama.

__ADS_1


           “Tetapi, kenapa kita tidak menikah saja? siapa tahu kita akan sama seperti Ravindra yang memiliki anak genius.” tawar Liam.


           “Jangan bodoh, jangan menggantungkan rencana pada kata siapa tahu. Itu tak masuk dalam hitungan matematis yang hasilnya masih tak tentu.” sahut Rosalind dengan sinis.


           Liam hanya mendecih.


           “Aku rasa alasan terbesarmu selama ini sering mengelak. Jika aku menawarkan pernikahan adalah karena aku bukan anak sah dari ayah. Benar kan?” tanya Liam sembari menatap Rosalind dengan sinis.


           “Jangan beromong kosong. Ayahku yang akan menentang pernikahan kita. Dia sangat ingin aku menikah dengan Ravindra.”


           “Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu sebenarnya juga ingin menikah dengan Rava?” tanya Liam penuh selidik.


           “Bisakah jangan memperkeruh suasana dengan menanyakan sesuatu yang membuatku kesal? Lakukan saja apa yang aku suruh barusan. Jika kamu mau, semua keinginanmu tercapai.” jawab Rosalind sembari memejamkan matanya.


           “Baiklah, akan aku lakukan sesuai perintahmu Nona Rosalind Birgita.” kata Liam sembari mendaratkan kecupan di pipi Rosalind. Lantas beranjak dari tempat tidur. Membersihkan badannya dan bersiap-siap.


           Sedangkan Rosalind masih asyik berbaring di tempat tidur. Ia menyunggingkan senyum licik dan membayangkan rencananya akan berhasil. Tetapi pertanyaan Liam barusan, membuatnya terusik. Jauh dari dalam lubuk hatinya. Rosalind memang menginginkan Ravindra. Rava yang gagah dan tampan. Cerdas dan sudah pasti memiliki segalanya. Ros teringat kejadian tempo hari saat ia merobek paksa baju Ravindra. Entah kenapa membuatnya berdesir ketika melihat tubuh Rava yang sangat menawan. Tubuh yang tegap dan ideal. Ditunjang dengan perutnya yang memiliki sicpack bagus. Membuat Rosalind menelan ludahnya. Kini, Rosalind tertidur sembari membayangkan bercocok tanam bersama Ravindra.


           Di tempat penjual berbagai macam tanaman.


           “Pak, berapa harga untuk tanaman itu?” tanya Irene pada Si pedagang.


           “Ah, pilihan yang sangat bagus. Itu adalah bunga Verbena yang langka. Harganya sangat mahal sekali. Apa Nona tertarik membelinya?” tanya Si pedagang.


           “Berapa kisaran harganya?” tanya Irene.


           Si pedagang menyebutkan angka nominal yang cukup fantastis. Membuat Irene drop seketika. Harga bunga Verbena senilai hampir setengah harga rumah mungilnya.


           “Tetapi, Nona jangan khawatir. Jika anda membeli yang masih muda seperti ini. Tidak akan semahal itu.” kata Si pedagang yang sepertinya mengetahui keuangan Irene.


           “Benarkah?” tanya Irene tak percaya.


           Si pedagang mengangguk dan mengambilkan sebuah pot berukuran kecil. Pot yang bisa dipegang hanya dengan menggunakan satu tangan saja. Terlihat tunas bunga Verbena yang kelihatan masih mungil. Irene tersenyum dan merasa cocok dengan hadiah yang akan ia berikan pada Ravindra.

__ADS_1


           “Baiklah, aku ambil yang ini Pak.” kata Irene dengan wajah sumringah.


           “Apa anda akan memberikannya pada seseorang yang istimewa?” tanya Si pedagang sembari membungkus pot bunga Verbena tersebut.


           “Ya, orang yang sangat berharga dan istimewa.” jawab Rosalind diiringi senyum bahagia.


           “Wah, apa dia kekasihmu?” tanya Si pedagang yang semakin kepo.


           Irene menganggukkan kepala dan tersenyum malu-malu.


           “Jika begitu, aku akan memberikan potongan harga.” kata Si pedagang dengan ramah.


           Mendengar hal tersebut, Irene langsung kegirangan.


      “Terimakasih… terimakasih banyak.” kata Irene mengucapkan terimakasih berkali-kali.


           Kini, Irene keluar dari tempat penjual tanaman tersebut. Ia berjalan dengan riang sembari menatap pot bunga Verbena yang ia bawa. Saking seriusnya menatap pot bunga tersebut. Membuat Irene tak memperhatikan jalan dan tanpa sengaja menabrak seseorang.


           “Ah, maafkan saya. Maafkan saya.” kata Irene meminta maaf dengan sangat dalam.


           Orang tersebut tersenyum menatap Irene.


           “Kebiasaan memang tidak pernah berubah.” kata orang tersebut.


           “Ya?” tanya Irene kebingungan dengan perkataan orang yang ditabraknya tadi.


           Tepat disaat Irene memperhatikan orang yang ditabraknya. Orang tersebut tersenyum sangat manis dan membuka kacamatanya.


           “Apa kabar, calon kakak iparku?” tanya pria tersebut sembari menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


           “Ka.. kamu?” Irene terkejut melihat orang yang ditabraknya ternyata adalah Liam Damariswara.


           “Pantas saja, Rava memilihmu karena memang kamu begitu cantik.” kata Liam sembari melempar senyum buaya andalannya.

__ADS_1


           Irene menatap Liam. Entah kenapa, jauh sebelum ini ia pernah bertemu Liam di suatu tempat. Tetapi, Irene tak begitu mengingatnya. Untuk beberapa saat lamanya. Kedua orang tadi saling bertatapan. Apa yang akan terjadi selanjutnya?


__ADS_2