Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 17


__ADS_3

...Pria Tampan Si Rambut Duri...


Pagi hari di sebuah taman. Tempat di mana orang-orang mencari hiburan murah meriah. Sembari bercemgkrama mencari udara segar. Hari ini adalah hari minggu. Di pagi seperti ini. Banyak orang berkumpul bersama keluarga. Entah berolahraga atau sekedar bersantai sambil menikmati udara pagi yang belum tersentuh polusi. Taman yang terlihat indah dengan hamparan rumput hijau. Di kelilingi beberapa pepohonan hijau yang tumbuh rindang. Angin berhembus perlahan.


Menggoyang-goyang dedaunan seakan sedang menari-nari. Melantunkan irama kebahagiaan. Menimbulkan suara gemerisik yang menenangkan.


Di tengah taman terdapat kolam dengan ikan-ikan yang asyik berenang. Di kolam juga terdapat bunga teratai yang masih kuncup. Seorang wanita tengah menatap bunga teratai dengan tatapan sayu. Matanya menerawang jauh mengingat masa kecilnya dahulu. Ketika bersama mendiang ayahnya. Ya… wanita itu tak lain adalah Irene Maxzella. Ia sedang berada di taman bersama Long An. Menghabiskan waktu libur untuk bersantai sejenak. Sedangkan Long An, sedang berlatih karate tak jauh dari Irene berada. Ia mengenakan pakaian berwarna putih khas seorang karateka. Pakaian khas itu dinamakan karategi atau dogi.


Si genius Long An terlihat serius melatih kuda-kudanya. Sanshin Dachi adalah kuda-kuda berat tengah. Kuda-kuda seperti ini efektif dilakukan ketika melakukan kumite. Kumite merupakan bagian dari latihan karate yang mengajarkan karateka untuk mempraktekkan teknik menyerang, bertahan, dan menyerang balik dengan sungguh-sungguh. Menyerang balik memang harus dilakukan sungguh-sungguh. Namun, dengan keamanan tinggi. Tetapi dalam sebuah pertandingan, pukulan atau tendangan harus tetap terkontrol. Jangan sampai melukai lawan lebih dalam. Long An, juga sedang belajar mengontrol kekuatannya ketika menyerang lawan. Apalagi dalam sebuah pertandingan. Tidak boleh asal memukul. Ketika memukul lawan dan lawan terkena pukulan kita. Secepatnya kita harus menarik tangan atau tendangan. Supaya lawan bertanding tidak begitu terluka.


Kuda-kuda Long An sudah mantap. Dia memang anak genius yang siap melahap apapun yang diajarkan padanya. Semua teknik dalam karate sudah ia kuasai. Baik menyerang, bertahan, menangkis, atau serangan balik. Pantas saja jika banyak orang memberikannya julukan Karateka Genius dari Timur. Tatkala berada di Amerika dahulu. Kini, Long An berkesempatan berlaga di negara sendiri. Ia akan berusaha membuktikan bahwa julukan itu pantas disematkan padanya. Membuat ibunya bangga dengan pencapaian prestasi diusianya yang masih muda belia.


Irene masih tenggelam dengan pikirannya. Mengingat setiap memori ketika dahulu ia masih muda. Jadi, ia tak begitu memperhatikan Long An. Long An yang sedang sibuk berlatih. Tak menyangka jika ada seekor anjing jenis Malinois Belgia sejenis anjing pelacak. Anjing itu tengah berlari kencang ke arah Long An. Sambil menggonggong dengan keras.


Guk!


Guk!


Guk!


“Rawr!!! Krauk”


“Aw!!!” Teriak Long An tiba-tiba.


Long An merasakan pantatnya yang sedikit berisi digigit sesuatu. Saat ia menoleh, Long An melihat seekor anjing moncong panjang bertubuh cukup besar. Tengah menggigit pantatnya. Tatapan mata si anjing menatap dalam ke arah Long An. Memang tidak begitu sakit gigitan anjingnya. Sepertinya si anjing tidak berniat melukai Long An.


“Hei… Hei… lepaskan aku. Apa yang kamu lakukan?!” Teriak Long An sembari mengibaskan anjing itu. Tetapi si anjing tidak bergeming sama sekali. Anjing itu tetap menempel pada Long An.


“Kyaaa!!! Anjing baik… lepaskan aku.” Kata Long An sambil berlari ke sana kemari agar bisa lepas dari gigitan si anjing.


Anjing yang entah dari mana datangnya. Seperti tak ingin melepaskan gigitannya dari pantat Long An. Long An menggoyang-goyangkan pantatnya.


“Hei anjing baik, lepaskan. Kenapa kamu menggigit pantatku. Pantatku bukan daging.” Rajuk Long An.


Si anjing bukannya melepaskan. Tetapi malah menatap Long An dengan tatapan dalam. Entah kenapa anjing bermoncong itu menatap Long An begitu. An yang tadinya berlarian ke sana kemari. Berusaha melepaskan gigitan anjing ini. Menatap sejenak ke arah anjingnya. Tatapan anjing tersebut ke arah Long An terlihat dalam. Long An jadi melunak ketika menatap anjing itu.


“Halo, anjing baik. Apa kamu sedang kesulitan? Jika begitu aku akan membantumu.” Kata Long An tulus. Pipinya yang sedikit bulat bakpao terlihat menggemaskan.


Mendengar perkataan Long An. Anjing tadi seolah mengerti. Lantas perlahan melepaskan gigitannya dipantat Long An. Kemudian, tanpa dinyana anjing tersebut langsung mengendus-endus tubuh Long An. Lantas menjilati tangan dan wajah Long An.

__ADS_1


“Haha apa yang kamu lakukan. Wah ini geli…geli….” Tawa si kecil Long An.


Anjing tersebut sepertinya ingin bermain dengan Long An.


“Anjing baik hahaha!!! kemarilah…” Kata Long An sembari mengelus-elus penuh kasih pada anjing yang tiba-tiba entah dari mana datangnya. Langsung menggigit pantat si kecil Long An.


“Guk!!! Guk!!!” Anjing menggonggong ke arah Long An.


Terlihat jinak ketika An memeluk dan mengelus tubuhnya.


“Tenang….Tenanglah anjing baik. Coba aku lihat siapa namamu hihi.” Kata Long An dengan tawa ceria sembari melihat kalung yang melingkar di leher si anjing. Long An sedang membaca nama yang tertera di kalung tersebut.


“Namamu A….”


“Amao!!!”Teriak seseorang memotong kata-kata Long An.


Seketika Long An menoleh menatap ke arah sumber suara. Tepat di hadapannya ia melihat seorang pria muda yang berwajah tampan mengenakan setelan jas formal. Wangi parfumnya masuk ke hidung Long An. Bau parfumnya berbeda. Bau yang khas.


“Amao!!!” Teriak si pria muda sambil menatap Amao dengan jengkel.


Amao langsung menyalak keras pada pria yang barusan datang. Long An segera memeluk Amao dan mengelusnya.


“Anjing baik… tenang… tenang…” Kata Long An kecil. Tangan mungilnya mengelus leher Amao penuh kasih sayang.


“Eeeh, bukankah paman yang waktu itu? Paman yang tidak memiliki etika?” Tanya Long An.


Ia mengenali pria yang berdiri di hadapannya adalah pria yang An temui tempo hari. Sewaktu di pusat perbelanjaan alat olahraga. Pria muda menatap acuh pada Long An. Ia tak menanggapi anak kecil itu. Pria dengan tubuh tegap itu segera mendekat ke Amao. Hendak menarik Amao. Tetapi Amao menggonggong karena tak ingin ikut dengan pria tadi.


Long An yang melihat anjing tadi, tidak mau dipaksa. Segera bertindak dengan memegangi tangan pria muda. Pria muda melirik tajam ke arah Long An. Long An sudah bersiap melakukan teknik Yoko Geri Kekome yaitu tendangan dengan kaki bagian samping (disodok).


Slap


Sebuah tangkisan menggunakan lengan menghadang tendangan yang dilancarkan oleh Long An. Kali ini, meski sedikit terkejut. Long An menyadari. Bahwa yang berada dihadapannya bukan pria sembarangan. Ia pasti juga ahli bela diri. Melihat gerakan refleks yang begitu cepat menahan serangan Long An.


Si pria dengan rambut berdiri layaknya duri. Menatap tajam dengan mata sipitnya. Long An tertawa lebar dan terlihat bersemangat. Ia melebarkan kakinya. Memasang kuda-kuda siap dengan serangan kedua.


“Ayo paman. Aku tahu paman juga sepertiku. Ayo bertanding.” Tantang Long An berani.


Pria muda dengan paras tampan dan berkulit kuning langsat hanya melirik Long An. Ia tak perduli. Tujuannya adalah membawa anjingnya pulang. Pria itu berjalan perlahan hendak mengambil Amao. Tetapi Long An telah bersiap menghadang.

__ADS_1


“Lawan aku paman. Jangan ganggu anjingnya.” Lagi-lagi Long An menantang pria tadi.


Pria tadi tetap tak perduli. Ia terus melangkah maju.


“Jangan salahkan aku ya paman.” Kata Long An tegas.


“Hyaaa!!!” Teriak Long An sembari memberikan tendangan memutar.


Pria tadi waspada dengan serangan Long An. Ia menghindar dengan cepat. Kakinya mundur selangkah dan tatapannya tajam.


“Hehe paman boleh juga. Wuaaa aku bersemangat!!!” Kata Long An kecil. Ia kembali bersiap – siap dengan kuda-kudanya.


Pria tadi hanya menatap dingin pada Long An.


“Menyingkirlah.” Katanya dingin.


“Tidak mau!!! Anjing ini tidak mau pergi!!!” Teriak Long An.


Si anjing ikut menggonggong keras. Tak ayal pemandangan gaduh itu membuat orang di sekitarnya menatap ke arah mereka. Pria tadi menatap sekeliling. Ia tak ingin merusak citranya sendiri di hadapan umum. Ia adalah pria dingin yang terhormat. Bukan pria yang mengganggu anak kecil. Ia bergegas maju dan kembali hendak membawa Amao.


“Amao!! Kemari!!!” Teriaknya keras.


“Kaing-kaing.” Amao terlihat takut dan bersembunyi di belakang Long An.


“Kemari cepat!!!” Perintah pria itu tak sabaran.


Kemudian tangannya telulur hendak meraih Amao. Tetapi Long An bersiaga. Sebelum si pria bisa meraih Amao. Tiba-tiba terdengar suara teriakan keras dari seseorang.


“Dasar penjahat!!! Jangan ganggu anakku!! Hyaaa!!!” Teriak seseorang tadi.


Kemudian ia berlari sekencang mungkin daaaan….. melakukan tendangan. Si pria yang tak siap hanya memelototkan matanya dan sedetik kemudian...


Bruaak!!!


Si pria jatuh terjungkal. Tepat terjerembab ke tanah. Tanah yang dipenuhi kotoran burung dara.


“Awaww awwww…. pasti sakit.” Kata Long An dengan memainkan bibirnya dengan lucu. Amao menutup mata dengan kedua kakinya. Seolah ia tak ingin melihat adegan itu.


Long An ikut merasakan ngilu tendangan keras tadi. Meski ia hanya sebagai penonton. Si pria hendak bangkit berdiri. Tetapi, sebelum berdiri seorang wanita menindihnya dan mencengkeram kerah bajunya.

__ADS_1


“Hei, penjahat!!! Jangan mengganggu putraku!!!” Teriak wanita itu keras.


Wanita itu tak lain adalah Irene Maxzella. Wajah si pria terlihat merah padam. Antara kesal dan malu dilihat orang-orang. Siapa sebenarnya pria itu? Bagaimana kelanjutan kisahnya?


__ADS_2