Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 37


__ADS_3

... Pergi Berlibur...


Perlahan tetapi pasti. Siapa sosok ayah Long An mulai terkuak. Ada beberapa petunjuk yang merujuk pada seseorang. Seseorang itu tak lain adalah Ravindra Damariswara, Sang CEO Berhati Dingin. Namun, itu semua belum cukup. Harus ada bukti secara langsung. Jadi, si kecil Long An merencanakan sesuatu. Dibantu Nyonya Meri dan si kembar.


Di hari sabtu pagi yang cerah. Saat libur sekolah. Long An dan si kembar sudah bersiap mengenakan jaket tebal. Wajah mereka terlihat berseri-seri. Nyonya Meri dan Irene sedang sibuk mempersiapkan beberapa bekal yang dibawa untuk pergi berlibur.


“Bu Meri, apa tidak apa-apa suamimu yang sibuk bekerja. Mengantarkan kita pergi berlibur?” Tanya Irene yang sedang menyiapkan beberapa perbekalan.


Nyonya Meri tersenyum, “Oh, mengenai hal itu. Suamiku ternyata tidak dapat mengantar karena ada urusan pekerjaan.”


“Lalu, siapa nanti yang akan mengantarkan kita?” tanya Irene kebingungan.


“Tenang saja. Seseorang akan mengantarkan kita.” Nyonya Meri mengerlingkan matanya.


Lantas ia membawa beberapa tas untuk disiapkan di depan rumah. Irene mengernyitkan kening karena bingung. Siapa seseorang tersebut. Saat Irene masih berpikir, tiba-tiba terdengar suara klakson yang cukup keras.


Bim! Bim!


“Wow!! Sudah datang! Sudah datang!” Pekik Triple Kancil bersemangat.


Irene segera bergegas membawa perbekalan makanan dan berjalan ke luar. Tepat disaat Irene keluar, ia langsung melongo.


“A… apa-apaan ini?” tanya Irene pada dirinya sendiri. Tatkala melihat sebuah bus mini terpakir di depan rumahnya.


“Mama!!!” Pekik Long An kegirangan sambil melambaikan tangannya.


Bocah genius berusia 10 tahun tersebut tertawa riang. Tepat disaat itu, pintu depan bus terbuka. Keluarlah seorang pria mengenakan pakaian casual keluar dengan gaya cool.


“Wow, Tuan Tampan!” Pekik Si kembar begitu riang.


Sedangkan Long An menatap dalam pada pria yang barusan keluar dari bus. Ia meraba jantungnya yang berdegup. Entah kenapa hatinya merasa hangat. Sedetik kemudian, ia tersenyum dan menyapa pria tersebut.


“Pa.. Pa… Paman rambut landak!” Pekiknya tak kalah riang dengan si kembar.


Irene yang melihat siapa yang datang. Tanpa sengaja membuat tas berisi perbekalan meluncur dari pegangan tangannya. Untung saja Nyonya Meri segera sigap memegangi.


“A… apa-apaan ini? Kenapa? Kenapa dia ada di sini?” Tanya Irene yang menuntut jawaban dari Nyonya Meri.


“Ah, suamiku mendadak tak bisa mengantarkan. Sepertinya Long An menghubungi Tuan Ravindra. Jadi, begitulah…” Jawab Nyonya Meri sambil nyengir kuda.

__ADS_1


Flashback


“Halo Paman rambut landak. Ini aku, Long An.” Long An diam-diam menelepon Ravindra. Tanpa sepengetahuan Irene.


Ada apa? Tanya Ravindra dengan dingin dari seberang telp.


“Paman, mari berlibur bersama.” Ajak Long An.


Kenapa aku harus berlibur bersamamu? Aku sangat sibuk. Ravindra menjawab dengan nada yang tidak ramah.


“Hemm… itu karena… Kenapa hatimu begitu dingin? Lalu kenapa hatimu sangat hangat?” Long An tertawa cekikikan.


Ravindra yang mendengar hal tersebut langsung melotot. Ia ingat, kalimat yang diucapkan Long An adalah pembicaraannya bersama Irene waktu itu.


Hei! Dasar anak kecil. Jadi, waktu itu kamu berpura-pura tidur?


“Hihi… tidak paman. Aku memang tertidur. Tetapi terbangun karena mendengar suaramu dan mama yang sedang berbicara.” Long An menjawab dengan polosnya.


Aku tidak akan terpengaruh. Ravindra lagi-lagi menjawab dengan dingin.


“Paman yakin? Mulutku sangat lebaaar aaaa…. Aku akan berbicara ke sana kemari.”




“Hemm.. begitu ya. Fiuuh sayang sekali. Jika paman tidak bisa. Seseorang yang menyukai mamaku akan mengantarkan kami.” Long An hendak menutup telpnya.



*Tung.. Tunggu!! Kapan kalian berlibur*? Ravindra terdengar panik diseberang telp.



Long An tertawa sambil menutup mulutnya. Agar Rava tidak mendengar.


“Besok hari sabtu. Kami akan menunggumu. Oh ya, Si kembar dan Nyonya Meri akan ikut. See you paman.”


Hei!Hei! Ravindra hendak berbicara. Tetapi terlambat, Long An sudah mematikan telpnya.

__ADS_1


Tanpa Long An ketahui. Seulas senyum tersungging di sudut bibir Rava.


Flashback End


Long An juga melakukan hal yang sama dengan ibunya. Agar mau ikut piknik bersama. Namun dengan cara yang berbeda. Ia hanya mengatakan, ayah si kembar yang akan mengantarkan. Supaya Irene mau ikut berlibur. Namun, kenyataan yang didapatkan Irene berbeda. Kini, yang berada di hadapan Irene adalah Ravindra Damariswara. Irene tak tahu harus berbicara apa. Ketika ia menatap Ravindra. Ia teringat dengan kenangan saat mereka menghabiskan waktu bersama di malam itu. Bagaimana Irene dan Ravindra saling bertatapan begitu dekat.


“Mama!!! Ayo berangkat!!” ajak Long An begitu gembira.


Irene hanya menghela nafas dalam. Mungkin ia tak bisa mengelak dari ini semua. Selain menjalaninya. Rava hanya menatap Irene dengan diam. Tak ada yang tahu arti tatapan mata Ravindra pada wanita yang kecantikannya begitu alami.


Tidak lama kemudian, bus yang dikendarai oleh Pak Albert meluncur menerobos jalanan. Menuju luar kota untuk piknik dan berkemah bersama. Suara tawa Triple Kancil dan Nyonya Meri membuat suasana di dalam bus begitu hidup. Sedangkan Irene dan Ravindra hanya diam di tempatnya masing-masing. Keduanya tenggelam dengan pikiran yang menari-nari dalam benaknya. Di dalam bus mini tersebut masih banyak ruang untuk duduk. Sepertinya Ravindra terlalu berlebihan membawa bus mini.


Nyonya Meri yang melihat Irene diam saja. Segera duduk disampingnya.


“Mama Long An, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak senang?”


“Oh… Ah… bukan begitu. Tentu saja aku senang.”


“Ehm.. aku kasihan pada Tuan Ravindra. Mama Long An temani Tuan Ravindra mengobrol ya.” pinta Nyonya Meri.


“Ta… tapi… kenapa … kenapa harus aku?”


“Kalau aku yang bicara dengan Tuan Ravindra. Ia akan langsung memecatku. Jadi, kamu yang lebih cocok.” Nyonya Meri langsung menarik tangan Irene supaya duduk di samping Ravindra.


“Ta.. tapi…” Irene berusaha menolak. Namun, Nyonya Meri tetap memaksanya.


Long An dan si kembar tertawa cekikikan melihat pergulatan Nyonya Meri dan Irene.


“Jangan berisik.” Tiba-tiba Ravindra menegur dari kursi depan dengan nada dingin.


Seketika Irene diam dan Nyonya Meri menutup mulutnya. Namun, tak menghentikannya mendorong Irene duduk di bangku depan bersama Ravindra. Mau tak mau Irene hanya pasrah dan duduk tepat di samping Ravindra. Nyonya Meri dan Triple Kancil langsung melakukan kode “Yes” bersamaan.


Irene menghela nafas dalam. Sedangkan Rava bersikap dingin. Seolah tak perduli. Ia hanya menopang dagu sembari menatap pemandangan di luar. Pak Albert yang duduk sebagai pengemudi melirik dari kaca spion. Melihat tingkah laku dua orang tersebut. Ia hanya tersenyum-senyum dan menyalakan musik yang romantis.


Long An tersenyum sambil menatap bahagia ke arah di mana mamanya sedang duduk dengan Ravindra.


Jika papaku memang benar adalah paman rambut landak. Aku merasa sangat lega. Aku tak akan meminta apapun lagi. Selain kebahagiaan mama. Narasi Long An kecil.


Lantas ia berjoget riang bersama si kembar dan Nyonya Meri. Kini, tinggal Irene dan Ravindra yang akan meneruskan perjalanan kisah cinta antara pria berhati dingin dengan wanita pemilik hati yang hangat.

__ADS_1


__ADS_2