
... Liburan yang Menyenangkan...
Pesawat super mewah milik Ravindra tersebut melesat menembus awan menuju New Caledonia. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 11 jam. Akhirnya mereka sampai di New Caledonia. New Caledonia adalah negara yang berdekatan dengan Australia. Tempat yang sangat indah dan dikelilingi pantai yang menawan. Kini, keenam orang tersebut sampai di tempat tujuan. Mereka akan menginap selama beberapa hari. Jadi, Ravindra sudah menyiapkan beberapa pelayan yang siap melayani selama 24 jam penuh.
Kini, mereka sudah sampai di tempat menginap. Tempat menginap mereka bukanlah sebuah hotel mewah bertingkat. Namun, di sebuah rumah apung tepi pantai dengan pemandangan alam yang begitu indah. Long An dan yang lainnya langsung berdecak kagum. Mereka hanya bisa melongo. Sedangkan Rava yang sudah terbiasa melihat hal seperti ini bersikap biasa saja.
“Wow, aku sering ke pantai waktu di Amerika dahulu. Namun, ini sangat berbeda.” kata Long An dengan wajah berbinar.
“Wow, ini luar biasa. Aku sering melihatnya di TV.” sahut Meichan.
“Wew, luar biasa. Aku juga pernah melihatnya di TV.” timpal Chanmei.
Sungguh kasihan, mereka semua belum menyaksikan hal tersebut secara langsung. Sedangkan Irene dan Nyonya Meri hanya berdehem.
“Kalian semua, bergantilah pakaian dan kita akan jalan-jalan.” kata Ravindra.
Lalu Triple Kancil segera berlarian menuju rumah apung tepi pantai tersebut. Ada tiga rumah apung berjajar rapi. Mereka harus melewati jembatan kecil menuju rumah apung tersebut. Di bagian bawah, tercetak jelas bebatuan dan ikan kecil berenang di air. Warna air yang terlihat jernih seolah seperti cermin yang memantulkan langit.
“Mama! Kita pilih rumah apung yang di tengah itu ya!” pekik Long An sembari berlarian menuju rumah apung yang di tengah.
Irene tersenyum dan mengangguk.
“Perhatikan langkahmu.” kata Irene pada Long An. Si kecil Long An mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah apung.
Sedangkan Si kembar dan Nyonya Meri memilih rumah apung di sisi kanan. Mereka tampak ceria sekali. Ravindra sendiri berada di rumah apung sebelah kiri. Sesaat sebelum masuk. Ravindra dan Irene saling berpandangan. Keduanya terlihat malu-malu dengan wajah memerah. Lantas bergegas masuk ke dalam rumah apung sambil memegangi dadanya yang berdegup dengan cepat.
“Mama! wow ini sangat keren!” pekik Long An ceria sambil membuka pintu belakang rumah apung.
Irene yang berusaha menahan detak jantungnya yang berdebar kencang segera mengikuti Long An. Disaat Irene keluar, matanya terbelalak. Ia melihat hamparan laut yang berwarna biru muda bercampur dengan hijau cerah. Begitu bersih dan sangat indah. Irene dan Long An tersenyum. Di sisi kanan rumah apung ada Si kembar dan Nyonya Meri yang ikut melongo tak percaya. Rumah apung yang mereka tempati berada di atas laut. Lautnya begitu tenang dan tak begitu ada ombak.
“Ya Tuhan, sungguh indah ciptaanmu. Aku sangat bersyukur bisa menikmati ini!” teriak Nyonya Meri begitu lantang.
Si kembar ikut berteriak dengan kegirangan. Irene tersenyum melihat tingkah Nyonya Meri dan Si Kembar. Lantas ia menengok ke sisi kirinya. Tepat, di sana Ravindra sudah berdiri dengan gagahnya. Menatap Irene dan melemparkan senyum. Rava tidak pernah tersenyum, tetapi sekali tersenyum menambah ketampanannya. Membuat jantung Irene berdegup kencang. Wajahnya memerah dan tersipu malu. Angin berhembus perlahan, menerpa rambut Irene yang hitam panjang. Ia pun balas tersenyum pada Ravindra.
“Dasar, pria rambut landak. Terimakasih,” ucap Irene tanpa suara ke arah Rava.
Rava sepertinya mengetahui kode dari bibir yang Irene katakan. Ravindra tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Hidungnya yang mancung benar-benar membuat siapa saja akan terpikat akan rupanya yang tampan. Lantas mereka tersenyum dan menikmati hamparan pemandangan laut yang begitu indah. Ditambah dengan hembusan angin pantai yang menenangkan.
Hingga tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan seseorang yang membuat suara kebisingan. Irene dan yang lainnya saling pandang dan segera keluar rumah apung. Melihat ada apa sebenarnya.
__ADS_1
“Hei! lepaskan aku!” teriak seorang pria yang mengenakan kacamata dan bertubuh kurus jangkung.
Pria itu meronta minta dilepaskan oleh dua orang yang mengenakan pakaian jas hitam dan mengenakan kacamata senada dengan warna pakaiannya. Nyonya Meri terkejut melihat siapa yang datang.
“Suamiku!” panggil Nyonya Meri sembari mendekat ke arah pria jangkung tersebut.
“Ho! Istriku!” balas pria itu sambil tergopoh – gopoh mendekati Nyonya Meri.
“Sayang, apa kamu sedang terlilit hutang? Sehingga aku dipaksa kemari?” tanya pria yang bernama Pak Ahen tersebut.
“Jangan bodoh, kita semua di sini diundang berlibur oleh Tuan Ravindra Damariswara.” jawab Nyonya Meri sembari tersenyum ramah pada Ravindra yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.
“Papa!!” teriak Si kembar berhamburan menghampiri papanya.
“Hoho!!! Putri kembarku.” sambut Pak Ahen sembari memeluk kedua anaknya.
“Halo Pak.” sapa Long An ramah sembari menjabat dan mencium tangan Pak Ahen.
“Hoho, halo Long An. Kamu seperti biasanya. Selalu sopan dan menggemaskan. Hei, Putriku contohlah sikap Long An.” kata Pak Ahen pada Si Kembar. Tetapi seperti biasa, Si kembar hanya menjulurkan lidahnya.
“Dasar, kalian ini pasti mengikuti keturunan dari mamamu.” Pak Ahen melirik istrinya dengan sinis.
“Tuan Ravindra, dari dalam lubuk hatiku. Aku sangat berterimakasih, karena kami sekeluarga bisa menikmati liburan yang sangat mewah ini.” kata Pak Ahen dengan senyum ramah.
Tetapi, sama seperti biasanya Rava tampak dingin.
“Bukan masalah.” kata Rava.
Lantas Long An menghampiri Ravindra dengan ceria.
“Paman rambut landak. Ayo kita bermain.” ajak An.
“Baiklah, tetapi kalian gantilah pakaian terlebih dahulu. Semua sudah tersedia di kamar masing-masing.” jawab Ravindra.
“Yayyyy!” sorak Triple Kancil begitu ceria.
Kemudian, semua orang berganti pakaian dengan pakaian khas ketika di pantai. Setelah beberapa saat berganti pakaian. Mereka semua telah berada disebuah pantai yang sangat luas dengan hamparan pasir pantai yang berwarna putih bersih. Di sana tidak ada siapapun selain mereka.
“Kenapa, pantai ini sepi sekali? Padahal begitu indah dan tidak begitu ada ombaknya?” tanya Irene keheranan.
__ADS_1
“Aku menyewa semua tempat ini. Khusus untuk kita semua. Aku tidak ingin liburan ini terganggu oleh orang lain.” jawab Ravindra yang berada di depan Irene.
“Wow!” decak kagum yang lainnya.
Inilah namanya The Real Sultan. Bahkan di luar negeri, Rava bisa menyewa seluruh pantai. Pasti Ravindra begitu kaya raya. Irene hanya menatap haru pada Ravindra. Demi menghiburnya, Rava rela merogoh koceknya sedalam ini.
“Baiklah! Ayo kita berenang!” ajak Pak Ahen dengan ceria yang disambut antusias oleh Triple Kancil.
Irene hanya menatap dalam pada Ravindra merasa tak enak. Ravindra bukannya tak paham dilihat begitu oleh Irene.
“Aku ini sangat kaya. Hartaku tak akan habis hanya karena menyewa semua tempat ini. Jadi, jangan tunjukkan ekspresi seperti itu.” kata Ravindra pada Irene.
“Dasar, pria rambut landak. Kamu masih saja sombong.” gerutu Irene sambil melipat tangannya.
Ravindra kemudian berjalan mendekat ke arah Irene. Irene sedikit memundurkan langkahnya ke belakang.
“Ma.. mau apa?” tanya Irene terbata.
“Pakaian yang kamu pilih sangat cocok. Kamu terlihat sangat cantik. Terimakasih sudah menerima hatiku.” kata Ravindra sembari melempar senyum manis. Ini pertama kalinya dalam hidup Rava mengatakan hal manis pada seorang wanita.
Membuat hati Irene seketika panas dingin karena kata-kata manis Ravindra. Irene memang mengenakan pakaian dress selutut ala fashion pergi ke pantai. Menunjukkan sebagian bahunya yang begitu mulus tertimpa cahaya mentari. Wajah Irene seketika memerah karena dipuji seperti itu oleh Ravindra. Sedangkan Nyonya Meri yang melihat hal tersebut ikut tersenyum malu.
“Uhuk… Uhuk…” goda Nyonya Meri pada Irene.
Irene yang digoda Nyonya Meri merasa malu. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum. Sebuah senyum kebahagiaan yang untuk pertama kalinya ia rasakan kembali. Setelah terbangun dari penderitaan yang mengikatnya selama ini.
“Baiklah, ayo kita berenang! Tunjukkan kejantanan kalian wahai para pria!” teriak Pak Ahen sembari membuka kaosnya.
Memperlihatkan tubuhnya yang kurus berbanding terbalik dengan Nyonya Meri yang penuh daging. Si kembar tertawa ngakak melihat ayahnya yang sangat kurus dan bertingkah konyol. Kemudian, giliran Long An yang tak mau kalah. Ia melepas kaosnya dan menunjukkan bentuk tubuhnya yang bagus. Kulitnya kelihatan bersih seperti Irene.
“Wow, putraku An yang menggemaskan!” pekik Irene dengan ceria.
Nyonya Meri bertepuk tangan melihat Si kecil Long An yang sudah memiliki tubuh bagus, karena latihan karate membuatnya tertempa dengan baik. Si kembar langsung bersiul-siul. Kini, giliran Ravindra. Ia berjalan dengan gaya yang cool. Perlahan, ia membuka kaosnya. Tepat di saat kaosnya terbuka, mata semua orang terbelalak. Mereka melihat bentuk tubuh Rava begitu ideal. Tubuhnya tinggi tegap berbalut dengan warna kulit kuning langsat. Perutnya kelihatan seksi dan memiliki sickpack. Ototnya terbentuk dengan bagus. Tak ada lemak sedikitpun yang menempel kecuali tubuh tegap berotot yang menawan.
Semua orang yang menyaksikan tubuh Rava yang setengah bertelan**jang dada membuat berdecak kagum. Nyonya Meri hanya melongo dan air liurnya menetes tanpa ia sadari. Si Kembar juga ikut melongo. Nyonya Meri yang tersadar segera menutup mata Si Kembar. Tetapi Si kembar hanya cengengesan dan melirik Rava dari celah tangan Nyonya Meri. Nyonya Meri langsung menjitak kepala Si Kembar. Si Kembar hanya meringis kesakitan. Lalu Nyonya Meri melirik ke arah Irene.
Nyonya Meri melihat Irene hanya diam terpaku dengan tatapan kosong. Wajahnya kelihatan memerah. Irene yang menyadari ditatap Nyonya Meri segera berdehem. Irene malu ketahuan terpesona dengan keindahan tubuh Ravindra. Tidak lama berselang Ravindra, Long An dan Pak Ahen lomba berenang. Irene, Si kembar dan Nyonya Meri menjadi supporter mereka. Tawa kebahagiaan menghiasi wajah setiap orang.
__ADS_1