Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 13


__ADS_3

...Kenangan...


Ikatan takdir seseorang memang tak pernah bisa ditebak. Seolah semua sudah tersusun rapi dari Sang Ilahi. Manusia hanya menjalani dan melewati apapun yang dinamakan takdir. Begitu juga dengan Irene. Wanita muda pemilik senyum memikat itu hanya bisa menghela nafas dalam. Matanya menerawang jauh ke depan. Menembus pekatnya malam. Irene sedang menatap ke arah luar jendela rumahnya.


Rumah mungil yang ia beli dengan menggabungkan uangnya dan uang yang didapat Long An ketika menjuarai sebuah turnamen. Sebenarnya Irene malu pada dirinya sendiri dan juga pada Long An. Dia seorang ibu, tetapi karena ketidakmampuannya untuk mencari uang lebih. Mau tidak mau, ia menggunakan uang Long An terlebih dahulu. Tetapi, Irene berjanji sedikit demi sedikit ia akan mengembalikan uang Long An. Uang itu bisa untuk biaya pendidikan Long An ke jenjang yang lebih tinggi.


Di dalam benak Irene berkecamuk banyak hal. Belum lagi pertemuannya dengan Rosalind. Membuat dia harus kembali mengingat masa lalunya yang pahit. Irene berusaha tidak membenci Rosalind, karena ia percaya kebencian hanya akan menjatuhkannya ke dalam jurang yang lebih dalam. Irene tidak ingin hidup seperti Rosalind. Hidup yang dipenuhi kebencian. Irene sepertinya juga tidak mengetahui, kelicikan apa yang pernah Rosalind lakukan padanya. Selain pernah mendorongnya jatuh dari tangga.


Disaat Irene sedang bergelut dengan pikirannya. Tiba-tiba sebuah tangan kecil menggenggam tangan Irene.


“Mama, ini sudah malam. Kenapa belum tidur? Apa mama sedang memikirkan sesuatu?” Tanya Long An sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.


Seketika Irene yang sedang bergulat dengan pikirannya segera tersadar.


“Anakku, apa kamu terbangun? Maafkan mama ya.” Jawab Irene sambil membungkuk dan mengelus kepala Long An penuh kasih sayang.


Long An menggelengkan kepalanya.


“Kenapa mama minta maaf? Aku terbangun karena memang bangun. Bukan salah mama. Apa mama ada masalah?” Tanya Long An cemas. Terlihat dari raut mukanya.


Irene tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Mama tidak memiliki masalah apapun. Mama hanya berfikir, besok kamu libur sekolah. Mama akan mengajakmu menemui nenek Heera. Nenek Heera adalah nenek dari paman Dareen.” Jawab Irene diiringi senyum hangat.


Seketika mata Long An berbinar ceria.


“Wuaah, benarkah? Pasti mengasyikkan bertemu dengan nenek. An ingin punya nenek. Akhirnya, An bisa memiliki seorang nenek.” Pekik Long An bahagia sambil menari-nari.

__ADS_1


Irene hanya tersenyum melihat tingkah Long An yang begitu bahagia.


“Baiklah, sekarang naga kecil mama harus tidur awal ya. Besok pagi kita akan berkunjung ke rumah nenek Heera.”


Long An mengangguk dan bergegas kembali ke kamarnya. Sembari tertawa dan menari dengan bahagia karena bisa bertemu dengan nenek. An merasa senang sekali. Irene yang menyaksikan polah tingkah anaknya. Hanya tersenyum-senyum sendiri. Kebahagiaan bagi Irene itu sederhana, yaitu bisa melihat tawa putra kecilnya.


Tak terasa waktu kembali bergulir. Langit yang tertutup awan pekat telah berubah menjadi terang benderang. Sang Surya kembali menunjukkan keperkasaannya. Memberikan sinar yang begitu terang hingga mengikis kegelapan.


Pagi hari, Irene dan Long An tengah bersiap-siap. Menuju kediaman nenek Heera. Sebelum berangkat keduanya menyiapkan oleh-oleh untuk nenek. Long An membawa sebuket bunga daisy. Bunga kesukaan nenek Heera. Sedangkan Irene membawa beberapa kue. Setelah semua siap, Irene dan Long An naik kendaraan umum. Di sepanjang jalan, Long An dan Irene bernyanyi bersama. Tertawa menikmati hiruk pikuk Ibu Kota. Keduanya nampak bahagia. Menikmati kebersamaan satu sama lain. Di sisi kiri kanan mereka tampak gedung-gedung bertingkat berjejer. Layaknya pilar tinggi yang menghujam ke langit. Menembus awan putih yang sedang berarak.


Setelah naik kendaraan umum beberapa saat lamanya. Irene dan Long An tiba di sebuah rumah yang cukup besar. Rumah bertingkat dan dicat warna putih. Dikelilingi pepohonan hijau yang rindang. Benar-benar menyejukkan mata. Long An terlihat berbinar menatap rumah yang berdiri kokoh dihadapannya.


“Wow, rumah nenek begitu besar.” Kata Long An berdecak kagum.


Irene tersenyum sembari menatap rumah besar yang berdiri dihadapannya. Rumah yang mengingatkannya pada masa lalunya dahulu.


Flashback


“Nak, aku sudah mencarimu kemana-mana.” Kata nenek Heera dengan raut wajah sedih menyaksikan keadaan Irene.


Irene menatap nanar ke arah nenek Heera.


“Nek, aku sungguh minta maaf datang tiba-tiba seperti ini.” Kata Irene dengan suara lirih.


“Katakan ada apa? Jika ada hal yang bisa aku lakukan untukmu. Aku akan melakukannya.” Jawab nenek Heera dengan tulus.


“A… aku butuh bantuan nenek.” Suara Irene terdengar memelas.

__ADS_1


“Katakan, apa yang bisa aku lakukan untukmu. Aku akan membantumu sekuat tenagaku.”


“A… aku ingin pergi jauh dari kota ini bersama anakku.” Irene mengatakan dengan terbata-bata.


“A… aku ingin meminjam uang nenek. Aku berjanji, sedikit demi sedikit akan aku kembalikan pinjaman itu.” Lanjut Irene dengan suara memelas.


Nenek Heera yang melihat keadaan Irene merasa trenyuh. Menyaksikan seorang gadis muda tanpa orang tua tengah berjuang merawat bayinya.


“Jangan dipikirkan mengenai mengembalikan uang. Apapun yang kamu butuhkan aku akan membantumu. Aku akan memberikan uang itu secara cuma-cuma, sebagai tanda terimakasihku padamu. Waktu itu, kamu telah menyelamatkanku. Sampai mengorbankan pekerjaan bagus yang seharusnya bisa kamu dapatkan.” Nenek Heera mengatakan dengan tulus.


Mendengar perkataan nenek Heera. Irene merasa lega dan segera berlutut dihadapan nenek Heera. Nenek Heera yang melihat Irene berlutut segera menyuruhnya untuk duduk kembali.


“Astaga Nak, jangan berlutut padaku. Jika ingin berlutut, berlututlah pada Tuhan. Tuhan yang pantas mendapatkannya.” Nenek Heera tersenyum dan mengajak Irene duduk kembali di sofa. Lantas menggenggam tangan Irene dengan erat.


“Terimakasih… Terimakasih nek.” Irene mengucapkan terimakasih diantara isak tangisnya yang menggema.


“Menangislah, jika kamu ingin menangis. Aku akan menjadi nenek sekaligus ibumu yang akan menjadi tempat bersandarmu kini.” Nenek Heera berkata sambil memeluk Irene dengan hangat. Sedangkan Irene semakin tenggelam dengan suara tangisnya.


Ia yang dibesarkan di panti asuhan selama delapan tahun. Tak lagi merasakan dekapan hangat seorang ibu. Kini, dalam pelukan nenek Heera. Irene bisa melepaskan beban yang selama ini ia tanggung sendirian. Setidaknya, ia bisa melewati semua beban hidup dengan rasa lega karena masih ada seseorang yang mendukungnya. Meski orang itu tak memiliki ikatan darah sekalipun.


Flashback End


Kini, Nenek Heera berdiri di depan pintu rumahnya. Menyambut kedatangan Irene dan juga putra kecilnya. Nenek Heera tersenyum hangat menatap tepat ke arah mata Irene yang sedang berkaca-kaca. Mereka saling bertatapan dengan dalam. Irene hendak melangkah menghambur kepelukan nenek Heera yang sudah dianggapnya sebagai nenek sekaligus ibunya tersebut. Namun, langkahnya terhenti saat Long An sudah berlari dan menghambur ke arah nenek Heera.


“Nenek!!!” Teriak Long An kecil menghambur kepelukan nenek Heera.


Si kecil Long An memeluk nenek Heera dengan erat. Nenek Heera hampir kewalahan karena Long An memeluknya dengan erat.

__ADS_1


“Hohoho cucu nenek.. oh tidak…. nenek harus memanggilmu cicit.” Kata nenek Heera sambil tertawa lebar.


__ADS_2