
... Keluarga Kecil Damariswara...
Hari yang begitu indah dilewati Long An dan Irene bersama Ravindra. Menghabiskan waktu bersama di New Caledonia. Tempat yang sangat indah dengan pantainya yang bersih. Menikmati sinar matahari yang begitu cerah. Kali ini, mereka kelihatan bersantai di tepi pantai. Nyonya Meri terlihat melahap semua makanan yang disajikan. Sedangkan suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai ahli IT di sebuah perusahaan eletronik, sedang sibuk meliburkan dirinya dengan berjemur beralaskan pasir pantai.
Triple Kancil sedang asyik berlatih karate di pantai. Si kembar memiliki bakat karate mewarisi dari kakeknya. Triple Kancil terlihat bersemangat. Selain berlibur, Long An juga mengajak Si Kembar berlatih supaya stamina mereka tetap terjaga. Selain itu, mereka berlatih untuk menghadapi seleksi atlet Nasional tingkat junior.
“An, kenapa melatih pukulan harus di dalam air?” tanya Chanmei.
“Benar, kenapa harus di air? Bukankah lebih enak di daratan.” timpal Meichan.
“Jika kita berlatih di dalam air. Tekanan air bisa kita gunakan sebagai media menguji seberapa cepat pukulan kita. Apabila kita melakukannya setiap hari dengan mengandalkan tekanan air. Maka ketika kita memukul di daratan, kecepatannya akan berbeda.” jawab Long An sembari melakukan pukulan.
Meichan dan Chanmei masih tidak memahami maksud Long An.
“Bahasa sederhananya, lihatlah jika kita memukul di dalam air pasti pukulan kita berat bukan? karena tekanan bawah air. Jika kita lakukan hal ini setiap hari. Maka tubuh kita secara otomatis akan memiliki kecepatan saat berada di daratan.” Long An kembali menjelaskan karena melihat Meichan dan Chanmei belum memahami penjelasannya.
“Jadi, itulah sebabnya kamu memiliki kecepatan saat menyerang karena sering latihan dengan memanfaatkan tekanan air?” tanya Meichan yang sedikit lebih pintar dari Chanmei.
“Owwh, jadi begitu. Aku tak paham. Terserah saja, aku mau mempraktekkan langsung.” timpal Chanmei.
“Hya! Hya!” kemudian suara latihan Triple Kancil bergema penuh semangat pagi itu.
Di sisi lain, Irene tersenyum melihat anak- anak begitu bersemangat berlatih. Irene mulai melihat ke sana kemari. Seperti mencari seseorang. Ya.. Irene sedang mencari Ravindra yang pagi itu belum menampakkan batang hidungnya.
*Aneh sekali*. pikir Irene dalam hati.
Si Kembar yang sedang berlatih sepertinya memperhatikan Irene.
“Eh An, mamamu sepertinya sedang mencari – cari sesuatu?” tanya Meichan.
“Hihi… mamamu mencari siapa?” sahut Chanmei.
Long An tersenyum,”pasti sedang mencari papa. Tenang saja, papa sepertinya menyiapkan sesuatu untuk mama.”
“Ooh… apa itu?” tanya Si kembar bersamaan.
“Rahasia hehe…” jawab Long An dengan senyum lebar.
Si kembar kesal dan langsung menyerang Long An dengan jurus karate. An tersenyum dan segera meladeni latih tanding tersebut.
Irene sedang melihat ke sana kemari. Namun, pria rambut landak yang ia cari tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Tiba-tiba ponsel Irene berbunyi, ada pesan masuk dari Ravindra. Irene mengernyitkan keningnya. Lalu segera menghampiri Nyonya Meri.
“Bu Meri, bisakah aku titip Long An sebentar?” tanya Irene.
“Ah, tenang saja. Long An aman bersamaku.” jawab Nyonya Meri yang begitu sibuk melahap semua makanan enak.
__ADS_1
Sedangkan suaminya masih asyik berjemur menikmati matahari yang begitu hangat di tubuh. Irene berterimakasih dan segera berjalan menuju suatu tempat. Rupanya Ravindra sedang menunggunya. Di belakang Ravindra sebuah helikopter terlihat memutar baling-balingnya. Rava segera menghampiri Irene ketika melihatnya datang.
“Ada apa ini?” tanya Irene kebingungan.
“Ikutlah denganku.” jawab Ravindra sembari menggandeng tangan Irene.
“Tu… tunggu… tapi mereka.” kata Irene yang tak enak pada yang lain.
“Tenang saja, pelayan dan pengawal siap melayani serta menjaga mereka.” jawab Ravindra. Kemudian, mengajak Irene naik ke dalam helikopter. Irene pun pasrah dan mengikuti ke mana Ravindra mengajaknya. Setelah mereka masuk ke dalam. Helikopter tersebut segera mengudara. Berkeliling New Caledonia.
Irene berdecak kagum melihat pemandangan di bawahnya. Hamparan laut berwarna biru jernih begitu sangat cantik. Pulau-pulau di sekitarnya terlihat indah. Seperti lukisan alam yang menakjubkan.
“Wah, ini benar-benar indah sekali.” kata Irene ditengah bisingnya suara mesin helikopter.
Rava tersenyum dan bahagia mengetahui Irene menyukainya.
“Lihatlah pemandangan selanjutnya. Kamu akan menyukainya.” kata Ravindra.
Irene mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. Namun, ia tersenyum dan merasa bahagia Ravindra bersikap manis seperti ini. Setelah mengelilingi New Caledonia. Helikopter tersebut menuju suatu tempat.
“Aku harap kamu menyukainya.” kata Ravindra sembari tersenyum dan menunjukkan sesuatu yang berada di luar sana.
Saat Irene menoleh dan melihat ke arah yang ditunjukkan Ravindra. Irene terbelalak tak percaya, nan jauh di sana terlihat sebuah air terjun yang sangat cantik mengalir dengan deras. Ditebingnya terdapat gambar hati. Irene tersenyum melihat apa yang ditunjukkan Ravindra.
“Bukan aku, bentuk hati itu alam yang membuatnya dan aku tinggal menunjukkan padamu. Seperti hatiku yang terbentuk secara alami mempercayai untuk kamu jaga.” jawab Ravindra dengan sebuah senyum manis terlukis di wajahnya.
Irene tersenyum dan tersipu malu. Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuknya. Untuk sejenak Irene melupakan kesedihan mengenai ibunya. Ravindra benar-benar sangat berbeda kali ini. Ia bersikap sangat manis.
“Apa Long An yang mengajarimu bersikap manis seperti ini?” tanya Irene.
“Kali ini tidak, ini berasal dari diriku sendiri.” jawab Ravindra sembari melempar senyum, membuat jantung Irene berdegup dengan sangat kencang.
Mereka saling melempar senyum. Menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan yang terhampar begitu indah. Untuk beberapa saat lamanya, Helikopter tersebut berputar mengelilingi New Caledonia. Membuat hati Irene yang merasa gundah tergantikan dengan rasa indah. Ia tak menyangka akan merasakan kebahagiaan seperti ini. Kebahagiaan memiliki Long An dan kebahagiaan yang diberikan Ravindra.
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sehabis makan malam dan melihat kembang api. Ravindra mengajak Irene jalan-jalan di tepi pantai. Menikmati keindahan pantai di malam hari. Tak jauh dari rumah apung terdapat pantai yang sangat tenang. Irene terbelalak tak percaya ketika melihat lautnya menampakkan cahaya berwarna biru.
“Apa ada Alien datang? Kenapa lautnya seperti menyala berwarna biru di malam hari seperti ini?” tanya Irene heboh.
“Dasar kuno, yang menyebabkan warna laut seperti menyala kebiruan di malam hari karena ada ganggang laut. Mereka berkumpul menjadi satu dan bisa menjadi indah seperti ini.” ejek Ravindra.
Irene hanya cemberut dan memilih duduk di hamparan pasir putih. Ravindra menyusul duduk di samping Irene. Ikut menikmati pemandangan malam yang indah. Disaksikan bintang yang berkelap-kelip.
“Terimakasih, atas kebahagiaan yang kamu berikan.” kata Irene dengan melempar senyum hangat.
__ADS_1
“Aku rasa semua ini belum cukup.” jawab Ravindra sembari menatap lurus ke depan.
“Ini sudah sangat cukup untukku. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini.”
“Aku rasa belum cukup, karena aku juga telah menyebabkan penderitaan di masa lalumu.” kata Ravindra dengan penuh penyesalan.
Irene sepertinya memahami maksud Ravindra.
“Dahulu, aku adalah pria yang sangat menjaga image di depan publik. Banyak rumor jelek mengenai diriku. Apalagi aku bersikap dingin pada wanita. Semua orang menganggapku pria penyuka sesama jenis. Jadi, malam itu ketika Rosalind menghubungiku. Aku bergegas pergi untuk membuktikan bahwa diriku bukan seperti itu. Aku sungguh tak tahu. Jika yang berada di sana adalah dirimu. Sehingga menyebabkan penderitaan untukmu 10 tahun yang lalu.” kata Rava merasa bersalah dengan apa yang pernah ia lakukan dahulu terhadap Irene.
Irene yang berada di samping Ravindra menatap lurus ke depan. Mengingat masa-masa di mana ia harus sendirian melewati masa yang sulit. Masa di mana ia hamil tanpa adanya suami. Alih-alih sebuah ikatan suci yang namanya pernikahan. Cemoohan dan ejekan terus ia dengar seperti makanan sehari-hari.
“Aku minta maaf untuk semua penderitaan dalam hidupmu.” kata Ravindra tulus sembari menatap Irene. Hal yang tak pernah Ravindra lakukan seumur hidupnya adalah mengucapkan kata maaf.
“Penderitaanku tak sebanding dengan permintaan maafmu.” sahut Irene.
“Aku mengerti, jadi aku akan menerima hukumanku.”
“Benar, kamu memang harus dihukum untuk itu.” kata Irene sembari menatap tajam pada Ravindra.
“Jika hukuman itu dapat menghapus dosaku. Aku bersedia menerimanya.” kata Ravindra sembari menatap Irene dengan tatapan sedih.
Ravindra menundukkan kepalanya dan merasa bersalah menjadi salah satu penyebab penderitaan dalam hidup Irene selama 10 tahun ini. Ia tak berani mendongakkan kepalanya. Saat Ravindra sedang menunduk, tak dinyana. Sebuah kecupan lembut mendarat di bibirnya. Mata Ravindra terbelalak tak percaya. Ia merasakan Irene sedang mengecup bibirnya dengan lembut.
Kemudian, secara perlahan Irene melepaskan bibirnya dari bibir Ravindra. Rava masih terbengong dan tidak mengerti maksud Irene.
“Dahulu aku bertanya-tanya pria seperti apa yang telah menghamiliku. Aku sangat marah dan merutuki diriku sendiri. Ingin sekali menghukum pria sepertimu. Tetapi, setelah bersamamu. Aku tahu kamu pria seperti apa.” kata Irene menatap Ravindra penuh arti.
“Kecupan tadi adalah perjanjian hukuman untukmu. Hukumanmu adalah mulai detik ini dan seterusnya kamu harus menjagaku dan juga menjaga Long An.” lanjut Irene dengan senyum merekah.
Ravindra yang mendengar perkataan Irene seolah tak percaya. Irene masih mempercayai dirinya. Setelah semua hal yang pernah Ravindra lakukan pada Irene.
“Mama!!!” panggil Long An tiba-tiba.
“An?!” Irene terkejut tiba-tiba Long An menyusulnya. Bocah kecil tersebut segera berlari menghampiri Irene dan memeluknya erat. Rupanya sejak tadi, Long An mengikuti Irene dan Ravindra. Mendengar percakapan keduanya.
“Akhirnya An menyelesaikan gambar ini.” kata Long An dengan mata berkaca-kaca.
Long An menyelesaikan gambar wajah ayahnya. Lantas ada gambar baru yang menggambarkan Long An bersama Rava dan Irene.
“An, sekarang panggillah aku dengan sebutan papa.” kata Ravindra sembari tersenyum hangat.
Long An menitikkan air mata kebahagiaan.
__ADS_1
“Papa… papa rambut landak!” pekik Long An sembari menghambur di pelukan Ravindra. Rava tertawa mendengar panggilannya tidak berubah. Irene ikut tersenyum meski dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya ketiganya berpelukan dengan penuh kebahagiaan.