
... Berkunjung Ke Rumah Tuan Marvin...
Pagi hari yang cerah. Membuat senyum semakin merekah. Long An dan Irene sedang menunggu di depan rumah. An mengenakan kaos berwarna putih. Tak lupa mengenakan sepatu sport miliknya. Long An terlihat sebagai bocah tampan yang menggemaskan dengan pipi bulat bakpao kemerahan. Berbalut dengan kulit putih sama persis dengan Irene. Sedangkan Irene mengenakan baju sweater berwarna biru tua lengan panjang. Sedikit terbuka dibagian atas. Menunjukkan keindahan bahunya yang putih mulus. Ia juga mengenakan celana jeans hitam dengan highheels yang tak terlalu tinggi. Kini, penampilan Irene lebih modis dibanding ia yang dahulu. Dahulu kehidupannya tak bisa seperti ini. Bagi Irene, Long An membawa keberuntungan dalam hidupnya.
Irene dan Long An sedang berdiri di depan rumahnya. Menunggu Pak Reno, assisten Tuan Marvin menjemput mereka. Tuan Marvin secara khusus mengundang mereka berkunjung ke rumahnya. Tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah tepat terparkir di depan Irene dan Long An. Mata Long An berdecak kagum, melihat mobil yang sangat bagus.
“Wow, mobilnya bagus sekali. Mama, ini keren sekali.” Pekik Long An berbinar sambil mengelus mobilnya.
“An… jangan berlebihan begitu.” Irene nyengir kuda karena Pak Reno tersenyum melihat tingkah Long An.
“Silahkan masuk.” Kata Pak Reno membukakan pintu belakang.
Long An segera masuk disusul Irene. Ketika mereka sudah masuk ke dalam. Kini, giliran Irene yang berdecak kagum. Ketika mengetahui bagian dalam mobil begitu mewah. Kursinya sangat empuk. Ada TV di dalam mobil.
“Wah, ini keren sekali. Aku belum pernah melihat mobil sebagus ini. Catnya masih mengkilap.” Irene berbinar sambil mengelus-elus mobil Tuan Marvin.
“Mama… kenapa jadi mama yang bersikap begini. Seperti tidak pernah melihat mobil mewah saja. Si kembar pernah mengatakan, jangan kampungan ketika melihat sesuatu yang mewah. Akan mempermalukan diri kita sendiri.” Long An menatap mamanya dengan sinis.
Irene yang tersadar langsung memerah mukanya. Ia tertawa sambil nyengir-nyengir sendiri. Pak Reno hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Lantas, memacu mobilnya menyusuri jalanan Ibu Kota. Setelah beberapa saat berkendara. Akhirnya mobil tersebut memasuki sebuah rumah yang sangat besar dengan pintu gerbang yang berdiri megah. Long An dan Irene melongo tak percaya. Rumah Tuan Marvin begitu besar seperti sebuah istana.
Pak Reno segera turun dan membukakan pintu untuk Long An dan Irene. Long An turun dari mobil dengan wajah berseri-seri.
“Terimakasih Pak, sudah mengantarkan kami ke sini.” Kata Long An dengan senyum hangat pada Pak Reno, karena sudah dibukakan pintu.
Kemudian menyusul Irene dan ikut berterimakasih pada Pak Reno. Pak Reno tersenyum, mempersilahkan keduanya masuk ke dalam. Long An maupun Irene saling bergandengan tangan. Mata mereka berbinar. Melihat rumah yang seperti istana. Rumahnya lebih besar dari rumah nenek Heera. Pilar-pilarnya berdiri kokoh dan besar. Ruang tamunya begitu luas dengan lampu gantung yang terlihat mewah. Long An dan Irene saling berpandangan. Lantas mereka tertawa sumringah. Tidak lama kemudian, Tuan Marvin menyambut kedatangan kedua ibu dan anak tersebut. Di sampingnya ada anjing kesayangannya yang bernama Amao. Amao yang melihat kedatangan Long An. Langsung menyalak dengan keras.
“Guk! Guk Guk!” Amao menyalak dan kemudian berlari ke arah Long An.
Amao memeluk dan menjilati wajah Long An. Kelihatan senang bertemu dengan si bocah genius.
“Wooo… Wooo… Anjing baik. Tenang…. Tenang ya. Apa kamu merindukanku?” Tanya Long An dengan begitu riang, begitu juga dengan Amao.
Tuan Marvin yang melihat keakraban antara Amao dan Long An merasa heran. Bagaimana bisa? Anjingnya tak pernah ramah pada orang lain selain dirinya.
“Bagaimana bisa mereka seakrab ini?” Tanya Tuan Marvin mengernyitkan kening karena heran.
__ADS_1
“Mengenai itu, ceritanya panjang. Kita tidak sengaja bertemu dengan Amao. Sewaktu dia lepas.” Irene yang menjawab.
“Oh, jadi begitu. Ini pertama kalinya, Amao menyukai seseorang, itu bagus.” Tuan Marvin berkata sambil tersenyum senang.
Long An yang mengetahui Tuan Marvin berdiri di sana, segera bergegas menghampiri. Menjabat tangan Tuan Marvin dan menciumnya.
“Selamat pagi Pak.” Sapa Long An dengan sopan. Tawanya begitu renyah.
Tuan Marvin begitu senang. Melihat anak sekecil ini sangat sopan dan memiliki tatakrama pada orang yang lebih tua. Hal kecil yang selalu dilupakan oleh orang tua saat ini. Mengajari anaknya sopan-santun. Tetapi sepertinya berbeda dengan Irene. Dia mendidik anaknya dengan baik.
“Aku sangat senang hari ini. Kedatangan tamu karateka cilik yang genius. Aku jadi bersemangat berlatih tanding. Apa kamu mau berlatih tanding denganku?” Tanya Tuan Marvin.Long An mengangguk yakin dan penuh percaya diri.
“Wuah, ini pasti menyenangkan. Bisa menjadi lawan tanding Raja Karate. Yosh! An sangat… sangat… senang sekali.” Pekiknya riang. Long An tak pernah merasa sebahagia ini.
Tidak lama kemudian, ketiga orang tersebut sudah berada di Dojo pribadi milik Tuan Marvin. Suara Amao menyalak seolah memberi dukungan pada keduanya. Tuan Marvin dan Long An sudah bersiap dengan pakaian karategi mereka. Sedangkan Irene melihat dengan perasaan bahagia bisa menyaksikan pertandingan ini. Hal yang tak akan pernah ia gapai. Jika ia tak memiliki Long An. Bisa melihat bagaimana Sang Legenda Karate berlatih tanding dengan anaknya.
“Osh.” Kata Tuan Marvin dan Long An bersamaan.
Meski ini hanya latihan tanding. Tetapi keduanya terlihat sangat serius. Long An segera memasang kuda-kuda yang bernama Kokutsu Dachi yaitu kuda-kuda berat belakang. Sedangkan Tuan Marvin menggunakan kuda-kuda Zen Kutsu Dachi yaitu kuda-kuda berat depan. Long An segera menyerang dengan Shuto Uchi yaitu teknik serangan berupa tangan pedang. Tuan Marvin tanggap dan menangkisnya dengan tangkisan tengah yang datangnya dari bawah ketiak. Teknik ini dinamakan Uchi Ude Uke.
Tuan Marvin terkesiap. Gerakan anak ini begitu cepat dan sangat bertenaga. Mereka saling serang dan bertahan. Tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Hingga keringat bercucuran diantara keduanya. Kelihatan sama-sama imbang. Tuan Marvin, yang sudah memasuki usia senja. Tetapi kekuatan maupun pengalamannya tak bisa diremehkan. Pertandingan keduanya terlihat sengit. Dua-duanya sama-sama hebat dan tak mau kalah. Irene menyaksikan hal tersebut berdecak kagum. Tuan Marvin masih begitu hebat. Tetapi Long An, juga menunjukkan kehebatannya sebagai anak genius.
“Kenapa tidak masuk saja?” Tanya sumber suara tersebut yang tak lain datangnya dari Irene.
Irene tadi pergi ke kamar mandi karena sudah menahan panggilan alam semenjak datang. Ketika ia kembali, malah melihat Ravindra berdiri dekat Dojo dan hanya mengawasi. Saat mengetahui Irene yang menegurnya. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Kemudian berjalan hendak pergi. Tetapi saat dua langkah kakinya terayun, terdengar suara Irene kembali.
“Jika ingin berlatih bersama. Kenapa tidak masuk saja?” Tanya Irene heran.
“Aku tidak tertarik.” Jawab Rava dingin.
“Dasar pembohong. Jika tidak pandai berbohong jangan jadi pembohong.” Ledek Irene.
Mau tak mau Ravindra berbalik dan menatap Irene.
“Sejujurnya, aku melihatmu sedari tadi berdiri di sini. Matamu begitu dalam melihat pertandingan antara Long An dan Tuan Marvin. Seolah hatimu juga menginginkan hal yang sama.” Irene berkata dengan serius.
__ADS_1
“Jangan sok tahu. Sebaiknya kamu urus dirimu sendiri.” Rava membalas dengan ketus. Ia lantas berjalan kembali. Namun, lagi-lagi suara Irene menghentikan langkahnya.
“Terimakasih.” Kata Irene perlahan.
Seketika membuat Rava berbalik dan melihat Irene kembali. Ia terkejut wanita yang ia anggap aneh tiba-tiba berterimakasih padanya.
“Padahal, aku juga ingin mengucapkan terimakasih untuk bunga mataharinya.” Irene melajutkan kalimatnya.
“Aku juga bermaksud meminta ganti rugi padamu juga. Kamu memetik bunga matahari milik Kepala Sekolah yang sangat ia idamkan bisa memetiknya sendiri. Kamu malah memetik seenaknya dan aku yang terkena sialnya.” Protes Irene.
Tanpa Irene duga, senyum tipis terlihat di sudut bibir Rava. Senyum yang bertahun-tahun menghilang dari wajah tampannya.
“Kepala Sekolah melakukan tindakan yang benar.” Balas Rava dengan santai.
“Hei!!!” Protes Irene tak terima.
“Aku hanya mengikuti muridmu itu. Dia bilang kamu sedang sakit. Aku pikir kamu memang benar-benar sakit mental. Jadi, aku mengikuti apa yang dikatakan anak kecil itu dengan memberikanmu bunga matahari.” Rava menjawab tanpa merasa berdosa.
“Hei!! Kenapa kamu menyebalkan sekali Pria Rambut Landak. Aku baik-baik saja dan tidak sedang memiliki penyakit mental.” Kata Irene dengan keras.
Tetapi Rava sepertinya tak mau tahu.
“Berikan ponselmu.” Pinta Rava.
“Untuk apa?” Irene bertanya tak mengerti.
“Berikan saja.”
Irene mengernyitkan kening tanda tak mengerti. Meski begitu, ia memberikannya. Rava menerima ponsel Irene dan mengetik sesuatu.
“Aku sudah menyimpan nomorku diponselmu. Aku juga sudah mendapatkan nomormu. Jika kamu meminta ganti rugi. Aku akan memberikannya. Tinggal menghubungiku.” Kata Rava kelihatan dingin dan kemudian mengembalikan ponsel Irene.
Irene hanya melongo. Tiba-tiba Rava menyimpan nomornya di ponsel milik Irene. Tanpa banyak berkata lagi Ravindra berjalan meninggalkan tempat itu. Sedangkan Irene hanya melongo tak mengerti. Tanpa keduanya sadari, Long An dan Tuan Marvin mengamati mereka. Mendengarkan percakapan Rava dan Irene. Sedetik kemudian, Long An dan Tuan Marvin berpandangan. Senyum lebar terlihat menghiasi wajah keduanya.
Ravindra yang berjalan dengan gaya cool berjalan meninggalkan Dojo tersebut. Setelah berjalan cukup jauh. Ia langsung bersembunyi dibalik tembok sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. Nafasnya naik turun. Wajahnya yang dingin kelihatan berbeda. Pipinya entah kenapa jadi memerah.
__ADS_1
“Wanita aneh itu, apa yang telah ia lakukan padaku?” Tanya Rava pada dirinya sendiri.
Rupanya, ada cara pendekatan baru ala Rava. Kita nantikan kelanjutannya.