Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 25


__ADS_3

... Kebenaran yang Masih Tersembunyi...


Tak terasa, bumi berputar dengan cepat. Hingga malam tak lagi menjadi pekat. Malam yang pekat berganti dengan sinar pagi yang hangat, begitu seterusnya tanpa henti. Sama halnya perputaran bumi. Roda kehidupan manusia juga terus berjalan layaknya jam yang terus berputar. Ravindra Damariswara Sang CEO Berhati Dingin. Merasa dunianya sedikit demi sedikit kembali berputar. Memasuki usianya yang ke 32 tahun, ia bertemu dengan bocah karateka genius. Malam yang tanpa sengaja ia habiskan bermain bersama karateka kecil yang bernama Long An tersebut, membuat ia kembali teringat akan kenangan masa kecilnya.


*Flashback*


Saat itu, usia Rava menginjak 10 tahun. Ia juga sama seperti ayahnya. Menggemari dunia karate. Setiap kali melihat ayahnya berlaga di sebuah pertandingan. Membuat Rava berdecak kagum. Sejak kecil ia sangat mengagumi ayahnya yang terlihat keren saat bertanding karate. Makanya sejak kecil, ia suka berlatih karate.


Hari ini, saat Rava kecil tengah berlatih gerakan yang cukup sulit. Ia berhasil melakukannya dengan baik.



“Yeah, akhirnya aku berhasil melakukan tendangan memutar.” Sorak Rava kecil bersemangat.



Meski keringat membanjiri tubuhnya. Rava sangat senang sekali. Ia akan menunjukkan pencapaiannya tadi pada ayah dan ibunya. Sembari mengenakan pakaian karategi, Ravindra kecil berlari menghampiri ibunya.



“Ibu! Ibu!” Panggilnya dengan riang.



Seorang wanita yang masih kelihatan muda sedang berdiri di kamarnya sambil bertelepon dengan seseorang. Rava langsung masuk dan berlari-lari kecil dengan riang.



“Bu… aku berhasil. Akhirnya aku berhasil melakukan tendangan memutar yang sulit itu. Aku akan menjadi sehebat ayah.” Pekiknya bahagia.



Namun, wanita yang dipanggilnya ibu tadi. Seolah tak mengindahkan Ravindra. Ia sibuk bertelepon dengan seseorang.



“Bu… ayolah bu. Jangan bertelepon. Lihat, aku akan memperagakan gerakan tendangan memutar.” Kata Rava kecil begitu riang. Sambil memegangi tangan ibunya.

__ADS_1



Tetapi wanita yang dipanggil ibu oleh Rava tersebut. Malah melepaskan tangan Ravindra dengan perlahan dan memberikan tatapan dingin ke arah anaknya. Membuat Rava sedikit takut. Tatapan mata dingin ibunya, membuat kegembiraan yang tadi membuncah sirna sudah. Tanpa memperdulikan Rava kecil, Si Ibu keluar dari kamarnya.



“Bu….” Panggil Rava lirih dengan raut wajah sedih.


Perlahan ia mengikuti ibunya yang berjalan ke luar dari rumah. Ia mengikuti dengan perasaan sedih. Ibunya mengabaikan Ravindra.


Saat berada di luar, Rava melihat ibunya dijemput oleh seorang pria. Ibunya tersenyum manis pada pria itu. Begitu juga sebaliknya, Si Pria tersenyum dan mencium bibir ibu Rava. Rava kecil hanya menatap sedih sembari bersembunyi dari balik pilar rumahnya. Sorot mata sipitnya mengisyaratkan kesedihan. Kemudian, ia melihat ibunya pergi bersama pria tak dikenal tersebut. Rava hanya tertunduk sedih. Sembari memanggil ibunya begitu lirih.


“Ibu….” Kata Rava kecil lirih dengan wajah sedih.



Untuk beberapa saat lamanya. Rava hanya berdiri di luar. Ia masih mengenakan pakaian karateginya. Kepalanya tertunduk menandakan kesedihan yang mendalam. Hingga tak lama berselang, sebuah mobil datang. Ravindra tahu betul, itu adalah mobil ayahnya. Ia kembali berbinar ceria dan ingin menunjukkan hasil latihan pada ayahnya.




“Bagus Nak. Teruslah berlatih.” Kata Tuan Marvin sambil menepuk bahu Rava kecil.



Rava tersenyum lebar. Senyumnya mirip dengan Long An. Ravindra kelihatan bersemangat sekali.



“Akan aku tunjukkan di depan ayah sekarang ya.” Ravindra berkata penuh semangat.



“Jangan sekarang, ayah sedang sibuk.” Balas Tuan Marvin.


__ADS_1


“Ta… ta…tapi… ayah…” Rava tak melanjutkan kata-katanya.



Ravindra tak melanjutkan kalimatnya karena melihat seorang wanita berkulit sawo matang turun dari mobil ayahnya. Tuan Marvin tersenyum pada wanita itu. Kemudian, menggandeng si wanita. Mengajak masuk ke dalam rumah. Tak memperdulikan Rava kecil. Ravindra lagi-lagi dibuat kecewa orang tuanya.



“Ayah….” Panggil Rava lirih.



Namun, ayahnya seolah tak perduli. Tuan Marvin malah tertawa sambil bercengkerama mesra dengan wanita berkulit sawo matang itu. Keduanya memasuki rumah dengan tawa riang. Rava kecil diam-diam mengikuti ayahnya. Hingga ia melihat, ayahnya dan wanita tadi memasuki sebuah kamar. Menutup pintunya, namun tak begitu rapat. Rava kecil berjalan perlahan dan melihat dari balik celah pintu. Matanya melihat adegan yang tak seharusnya ia lihat. Ravindra kecil melihat ayahnya bercumbu mesra dengan wanita tadi. Melakukan hubungan layaknya suami istri.



Melihat kedua orang tuanya yang sibuk dengan urusan masing-masing. Membuat Rava sedih. Ia hanya duduk dipinggir kolam sendirian. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Kesedihan dan rasa sepi membekukan hati Ravindra kecil hingga ia dewasa. Rava memiliki prinsip bahwa menyayangi seseorang hanya akan membuat hatinya terluka. Jika hatinya berubah menjadi es dan membeku. Maka ia tak akan merasakan sakit dan tak akan terluka.



Kilasan masa kecil Ravindrapun berakhir. Kini, Rava yang sudah menginjak usia 32 tahun hatinya masih sama seperti dahulu, masih membeku dan dingin. Ia memegangi dadanya. Namun, entah kenapa saat teringat kebersamaannya dengan Long An. Melihat anak kecil itu mirip dengan dirinya sewaktu kecil. Membuat hati Ravindra sedikit tergerak. Tanpa ia sadari, hatinya yang seperti gunung es beku akan mencair secara perlahan.



Di tempat lain, di sebuah rumah nan sederhana. Seorang wanita yang memiliki wajah cantik bak Dewi Kecantikan. Tengah menatap ke luar jendela. Di langit, terlihat bintang berkelap-kelip. Cahayanya terlihat temaram. Namun, membuat hati tentram. Berbeda dengan wanita yang sedang menatap Sang Bintang. Ia terlihat risau. Pikirannya sedang kalut. Kembali teringat dengan apa yang ia lihat barusan. Wanita itu melihat sebuah tato Naga tergambar di lengan kiri seseorang. Hal itu membuatnya risau. Ya… wanita yang sedang risau tersebut tak lain adalah Irene Maxzella.



Irene yang tanpa sengaja melihat tato Naga di lengan kiri Ravindra kembali teringat masa lalunya. Masa di mana ia tidur dengan seorang pria tanpa ia sadari. Ia hanya ingat, ketika suatu pagi terbangun dari tidurnya. Irene tak mengenakan sehelai pakaianpun. Ia terkejut bukan kepalang ketika melihat seorang pria asing tengah tertidur sambil membelakanginya. Irene yang ketakutan buru-buru kabur. Namun sebelum kabur, ia melihat sebuah tato Naga di lengan kiri pria yang telah membuatnya hamil. Tato Naga yang ia lihat, begitu khas karena semacam ada inisial huruf dalam tato naga tersebut. Tetapi, Irene tak memperhatikan secara seksama waktu itu. Namun, ia ingat dengan baik tato Naga itu sama persis dengan yang dimiliki pria rambut landak yang bernama Ravindra Damariswara.



Meski pikirannya terus menolak. Bahwa itu hanyalah kebetulan. Ravindra memakai parfum bunga Verbena yang sama dengan bau parfum pria yang tak dikenal oleh Irene malam itu. Namun, tato khas Naga tersebut menjadi bukti kuat yang tak bisa lagi terbantahkan. Bahwa kemungkinan besar, pria yang menidurinya dahulu adalah Ravindra Damariswara. Sekeras apapun, Irene membuang pikiran itu. Tetai bukti mengatakan hal lain. Semua pemikiran itu membuat kepala Irene berdenyut. Ia tak tahu harus bagaimana. Apa Irene harus mengatakan bahwa Long An kemungkinan adalah anak Ravindra?


Jika pria itu Ravindra, kenapa Rava tak mengenali Irene. Irene sungguh pusing dibuatnya. Malam itu, sebenarnya apa yang telah terjadi? Ia tak begitu ingat kejadian lengkapnya. Apakah Ravindra pura-pura tak mengenalinya dan melupakan kejadian malam yang hanya sesaat itu? Entahlah, semua masih samar bagi Irene. Irene hanya bisa menghela nafas begitu dalam. Kini, ia tak tahu harus mengambil langkah apa. Tetap diam dan pura-pura tak tahu atau membicarakannya pada Ravindra?


Semua hal masih menjadi teka-teki rumit. Jawaban yang Irene cari masih tersembunyi di tangan Sang Ilahi. Irene hanya bisa menunggu. Menunggu Sang Waktu yang akan memecahkan setiap kepingan misteri dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2