Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 71


__ADS_3

...Menuju Kehancuran...


         Kebahagiaan terus menyelimuti hati Ravindra. Tidak ada keinginan lain, selain hidup bersama Irene dan Long An. Membangun rumah yang dipenuhi kasih sayang dan cinta dibalut dengan kehangatan sebuah keluarga. Impian yang Ravindra inginkan sejak ia kecil. Ravindra menatap sebuah kotak berbentuk bunga lotus. Di dalamnya terdapat sepasang cincin bertuliskan inisial nama Ravindra dan Irene. Rava tersenyum dan kelihatan berbinar. Ia tak akan ragu lagi. Inilah saatnya, Ravindra menjemput kebahagiaan.


           Ravindra segera mengambil ponsel dan menghubungi Irene. Namun, ponsel Irene tidak aktif. Hanya suara operator telp yang menjawab. Ravindra mencoba menelepon berkali-kali. Tetapi, ponsel Irene tetap tidak aktif. Ia mengernyitkan kening. Kemudian, menghubungi Long An.


           Halo, ya papa. Ada apa? Tanya Long An diseberang telp.


           “Apa kamu bersama mamamu?”


           Mama? An sedang berlatih karate bersama Si Kembar di rumahnya.


           “Oh, begitu rupanya. Ponsel mamamu tidak aktif.”


           Hemm, aneh sekali. An akan coba menghubungi mama.


           “Baiklah, lain waktu papa akan menemanimu berlatih. Sekarang berlatihlah dulu dengan Si Kembar.”


           Baik papa, aku akan menunggumu. kata Long An dengan riang.


           Lantas telp mereka pun usai. Ravindra kemudian menghubungi ponsel Irene kembali. Namun, setelah berkali-kali di coba hasilnya tetap sama. Ponsel Irene sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Ravindra mulai tidak enak dan merasa cemas. Rava yang merasa cemas segera menyahut kunci mobil miliknya yang tergeletak di atas meja. Ia bergegas hendak keluar. Tetapi belum sempat keluar. Rosalind datang menghadang Rava.


           “Mau ke mana kamu?” tanya Rosalind dengan santai.


           “Aku tak ada waktu meladenimu.” jawab Rava ketus.


           Ravindra hendak melangkah pergi. Tetapi lagi-lagi, Rosalind menghalangi langkah Rava dengan mencengkeram tangannya.


           “Apa ada masalah?” tanya Rosalind seolah perhatian pada Rava.


           “Aku sungguh-sungguh sedang sibuk. Jadi, lepaskan aku. Sekarang!” teriak Rava yang mulai kesal. Ia menghempaskan tangan Rosalind dengan kasar.


           “Ravindra! Berlakulah sopan. Jika kamu memiliki masalah dengan kekasihmu itu. Jangan melampiaskan padaku. Aku datang baik-baik.” protes Rosalind sembari mengelus tangannya yang tadi dihempaskan kasar oleh Ravindra.


           “Terserah.” sahut Rava pendek dan dingin.


           Ravindra buru-buru ingin keluar dari kantornya. Mencari keberadaan Irene. Ia takut terjadi sesuatu padanya. Tepat saat Ravindra hendak melangkah. Terdengar suara ponsel Rosalind berdering. Ros segera mengangkatnya.


           “Halo, ada apa?” tanya Rosalind.


           “A.. apa?! apa kamu sudah gila?! Kamu bersama Irene?!” teriak Rosalind. Ia meninggikan volume suaranya supaya Ravindra mendengar nama Irene disebut.


           Benar saja, Ravindra langsung menghentikan langkahnya. Telinganya mendengar dengan seksama suara Rosalind yang berbicara dengan seseorang di seberang telp.


           “Dasar gila! Apa kamu tidak tahu Irene itu siapa?! A… apa? ka… kalian melakukan itu?!” teriak Rosalind dengan keras. Sembari sesekali melirik Ravindra.


           Ravindra yang mendengar hal tersebut. Lantas menghampiri Rosalind dan merebut ponselnya. Rosalind terhenyak dengan sikap Ravindra. Namun, ia membiarkan Rava mengambil ponselnya.


           Ya benar sekali. Aku berdua bersama Irene. Menikmati kecantikannya dari dekat. Sial, Irene benar-benar membuatku panas. kata seseorang di seberang telp.

__ADS_1


           Ravindra, yang mendengar tersebut. Lantas melihat nama yang tertera di layar ponsel Rosalind.


           Liam


           Nama yang tertera di ponsel itu. Entah kenapa Ravindra memiliki pikiran yang buruk dari perkataan Liam. Tidak lama setelah mendengar suara Liam. Ada kiriman video masuk. Ravindra segera membukanya. Rava langsung memutar video tersebut dan dalam hitungan kedipan mata. Mata Ravindra terbelalak. Wajahnya merah padam. Darahnya terasa menggelegak. Tanpa banyak berkata. Ravindra langsung membanting ponsel Rosalind hingga hancur berkeping-keping. Rosalind terkaget sembari menutup mulutnya.


           “Katakan di mana Liam berada!!!” teriak Ravindra dengan wajah penuh amarah.


           “Rav… Rav… tenanglah…” Rosalind berusaha menenangkan Ravindra.


           Ravindra yang sudah tersulut emosi langsung mencengkeram kerah baju Rosalind.


           “Katakan… katakan di mana Liam hah!!! Kamu pasti tahu! Katakan!” teriak Ravindra dipenuhi kemarahan yang luar biasa.


           “Tenang… tenanglah… Liam pasti berada di Villa milik keluargaku. Tempo hari ia ingin meminjamnya. Katanya untuk bersenang-senang dengan seseorang.” kata Rosalind sedikit terbata. Ia kesulitan bernafas karena Ravindra mencengkeram kerahnya dengan erat.


           Mendengar jawaban Rosalind. Seketika Ravindra bergegas menuju Villa milik keluarga Birgita dengan kemarahan tingkat Dewa. Sedangkan Rosalind merapikan kerah bajunya. Ia lantas menyunggingkan senyum licik. Kemudian, berlari kecil menyusul Ravindra. Seolah ia ikut cemas dengan situasinya.


           Tidak lama kemudian Ravindra tiba di Villa milik Rosalind. Ia turun dari mobil dengan wajah merah padam. Lantas menutup pintu mobilnya dengan sangat keras. Sembari setengah berlari, Rava masuk ke dalam villa. Rosalind yang mengendarai mobil miliknya. Tiba belakangan dan bergegas menyusul Ravindra masuk ke dalam.


           Ravindra yang sudah dipenuhi kemarahan segera menuju kamar utama. Mendobrak pintu kamar dengan tendangan kakinya. Saat dia masuk ke dalam. Semakin terkejutlah Ravindra. Ia sungguh tak percaya dengan pemandangan yang ia lihat. Pemandangan yang dapat membuat darahnya menggelegak hingga ke ubun-ubun. Tak berselang lama, suara langkah kaki Rosalind juga masuk ke dalam kamar. Lantas matanya terbelalak dan langsung menutup mulutnya.


      Pemandangan yang mereka lihat sungguh tak pantas. Liam sedang memeluk Irene dan bermesraan. Liam tak mengenakan sehelai benangpun. Sedangkan Irene berada dalam pelukan Liam. Ia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Ravindra yang melihat hal tersebut kontan tak dapat menahan gejolak kemarahan. Liam yang tahu kedatangan Ravindra hanya terkekeh.


           “Ah, kamu datang. Kenapa mengganggu kenikmatan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta?” tanya Liam dengan santainya. Sedangkan Irene hanya diam dalam pelukan Liam.


           Brak!


           Bruk!


           Brak!


           Darah segar mengalir dari mulut maupun hidung Liam. Tetapi ia malah tersenyum seolah mengejek Ravindra.


           “Dasar sialan!!” teriak Ravindra dipenuhi kemarahan. Ia terus memukul Liam hingga babak belur.


           Irene yang sedari tadi hanya diam. Lantas bergegas menghampiri dan memisahkan perkelahian tersebut.


           “Hentikan! Hentikan!” teriak Irene pada Ravindra.


           Rava menatap Irene dengan tatapan tajam. Ia masih ingin menghajar Liam. Liam yang tergeletak di lantai hanya terkekeh melihat Ravindra yang mengamuk seperti orang gila.


           “Arghhttt!!” Ravindra berteriak keras hendak memukul Liam.


           Tetapi, lagi-lagi Irene menghentikannya.


           “Hentikan! Aku bilang hentikan! Jangan melukai… jangan melukai kekasihku…” kata Irene sembari menatap Ravindra.


           Ravindra menatap Irene tak percaya.

__ADS_1


           “A… apa? apa maksudmu? katakan apa maksud ucapanmu hah?!!!” teriak Ravindra begitu keras. Matanya menyiratkan kemarahan yang luar biasa.


           “Kamu tidak dengar hah?! Jangan melukai kekasih ku lagi!” jawab Irene sembari menatap Ravindra dengan tajam.


           “Kekasih?! Sejak kapan kekasih? dan apa yang kalian lakukan ini, kamu melakukannya dengan sukarela?” tanya Ravindra sembari menatap Irene dengan sangat tajam.


           “Benar, aku dan Liam melakukan ini dengan sukarela. Aku menemukan kebahagiaan jika bersamanya. Ia memberiku kehangatan dan rasa nyaman. Aku dan kamu sama sekali tidak cocok. Jadi, akhiri saja hubungan kita.” jawab Irene sembari menatap Ravindra dengan tatapan tajam.


           Mendengar jawaban Irene. Mata Rava terlihat berwarna merah karena kemarahan yang berlipat ganda. Wajahnya merah padam. Telinganya panas mendengar pengakuan Irene barusan. Matanya sedikit melirik ranjang yang terdapat noda kekuningan. Ia tahu apa itu. Perasaannya semakin kacau. Kenapa hal ini bisa terjadi?


           Hati Ravindra merasakan sakit yang teramat sangat. Ia menatap Irene dengan kemarahan yang luar biasa.


           “Pergilah sekarang. Jangan mengganggu kesenanganku bersama kekasihku.” jawab Irene yang sembari menatap Liam. Liam terkekeh melihat hal tersebut.


           Ravindra yang tak terima segera mencekik Irene dan mendorongnya hingga ke dinding. Menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam.


           “Katakan! Katakan! Bahwa ini hanyalah kebohongan! Katakan!” teriak Ravindra sangat keras. Tatapan matanya begitu beringas. Tatapan dingin dibalut dengan kemarahan.


           Irene meronta agar Ravindra melepaskan cekikannya. Irene tidak bisa bernafas. Ravindra seolah tak perduli dan terus mencekik Irene. Liam tak tinggal diam. Ia segera memukul tepat mengenai wajah Ravindra.


           Buk!


           Ravindra terhuyung kebelakang. Ia hendak membalas pukulan Liam. Tetapi, Rosalind segera mencegah Ravindra. Memeganginya dengan kuat.


           “Rav! Hentikan! Sebaiknya kita pergi dari sini.” ucap Rosalind.


           Ravindra yang dipenuhi kemarahan. Tak memperdulikan ucapan Rosalind. Ia hendak membalas pukulannya pada Liam. Tetapi Irene segera menghampirinya dan menampar Ravindra.


           Plak!


           Mata Ravindra terbelalak, karena ia tak menyangka. Irene akan memukulnya seperti ini.


           “Pergilah dari sini. Aku ingin hubungan kita berakhir. Aku merasa kamu pria dingin yang tak bisa memberikan kehangatan pada seorang wanita. Aku tidak membutuhkanmu. Aku mencampakkanmu Ravindra Damariswara. Inilah yang ku sebut balas dendam sempurna atas apa yang pernah kamu lakukan padaku dahulu.” kata Irene dengan tatapan sinis.


           “A… apa?! ti… tidak mungkin. Tidak mungkin kamu…” kata Ravindra yang kelihatan sangat terkejut.


           “Kenapa tidak? Aku sengaja melakukan ini. Untuk membalaskan rasa sakit karena kamu telah menghancurkanku dahulu. Jadi, pergilah dari sini sekarang juga!” usir Irene sambil membalikkan badannya.


           “Rene… Rene… katakan padaku! kamu pasti berbohong. Tatap mataku?!!” teriak Ravindra.


           Tetapi Irene tak bergeming sama sekali. Ia tetap membelakangi Ravindra. Rosalind mengambil kesempatan. Mengajak Ravindra keluar dari sana. Rava menolak, namun Rosalind terus mengajaknya. Rava yang tak berdaya dan merasa kaget dengan pengakuan Irene. Merasakan tubuhnya bergetar hebat. Antara percaya dan tak percaya. Ia benar-benar merasakan tubuhnya tak berdaya.


           Rosalind segera menarik Ravindra keluar dari tempat itu. Liam mendekati Irene dan memeluknya. Namun, pandangan matanya seolah mengejek Ravindra yang tak berdaya. Hati Ravindra benar-benar hancur menyaksikan semua ini. Hal yang tak pernah ia bayangkan masuk dalam hidupnya. Benarkah, semua ini adalah rencana Irene untuk membalas sakit hatinya di masa lalu. Rasanya semua itu tak dapat dipercaya. Tetapi, Ravindra melihat keseriusan dari pancaran mata Irene.


           Rosalind segera membawa Rava ke dalam mobil. Di lantai atas kamar utama. Irene menatap ke luar jendela kaca. Menyaksikan kepergian Ravindra. Di belakangnya Liam menepuk bahu Irene sembari tersenyum licik.


 


 

__ADS_1


__ADS_2