
... Arti Genius yang Sejati...
Suara sirine ambulans terdengar nyaring. Berhenti di depan rumah sakit. Sebuah ranjang medis diturunkan dari mobil ambulans. Seorang anak kecil yang mengenakan pakaian karategi terlihat memejamkan mata dan tidak bergerak. Bocah kecil itu tak lain adalah Long An. Irene terlihat begitu cemas. Air mata sudah membanjiri wajahnya.
“An!!! An!!!” Panggil Irene dengan cemas.
Tangannya menggenggam tangan kecil Long An. Sedetik pun tak pernah ia lepaskan.
Di belakangnya, Nyonya Meri dan si kembar ikut menemani Irene. Seusai bertanding barusan, Long An roboh dan tak sadarkan diri. An langsung dibawa masuk ke ruang UGD untuk mendapatkan perawatan intensif. Hati Irene merasa sedih. Jika sampai terjadi sesuatu pada putra kecilnya. Irene tak tahu harus bagaimana. Ia mungkin tak akan bisa bertahan hidup.
Nyonya Meri yang mengetahui kecemasan Irene, segera menghampiri wanita muda yang nasibnya tak pernah mujur. Kemudian memeluknya erat. Irene terlihat terisak dalam pelukan Nyonya Meri.
*Flashback*
“An, mama mohon. Jangan memaksakan dirimu. Kita ke rumah sakit sekarang.” Pinta Irene yang begitu cemas.
“Mama, ini kesempatan An. An, ingin mewujudkan mimpi menjadi karateka kelas dunia. An, juga ingin mewujudkan impian mama yang dahulu tak bisa mama raih.” Jawab Long An dengan senyum lebar. Dari pancaran matanya, terlihat semangat berkobar.
Irene yang melihat semangat anaknya begitu besar. Ia berusaha untuk tidak menangis, karena ingat janjinya pada Long An. Irene memegang tangan mungil anaknya, menggenggam dengan erat dan menaruh di dadanya.
“Mama akan selalu di sampingmu dan mendukung setiap mimpimu anakku. Mama akan menyalurkan kekuatan kasih sayang padamu, karena….”
“Karena kekuatan anak, terletak pada kasih sayang ibunya.” Sahut Long An sambil tersenyum lebar.
Irene merasa terharu, memiliki anak seperti Long An. Ia benar-benar bersyukur dalam hidupnya hadir seorang Naga kecil yang sangat tangguh.
“Apa kamu yakin nak?” Tanya Nyonya Meri tampak cemas.
An menganggukkan kepala dengan mantap.
“Baiklah, jika begitu cepatlah bergegas ke arena pertandingan.” Kata Nyonya Meri.
Di arena pertandingan karate, suara juri terdengar keras melalui speaker.
“Jika dalam hitungan ketiga, peserta karate yang bernama Long An tidak hadir. Maka, akan dianggap mengundurkan diri dari pertandingan ini.”
Para penonton yang tadinya bersorak-sorai menyebut nama Long An. Tiba-tiba terdiam dan sibuk berkasak-kusuk. Mereka bertanya-tanya ada apa dengan Si Karateka Genius dari Timur? Kenapa tidak muncul?
“Jika situasinya seperti ini. Aku menyarankan paman, meminta Alex menggantikan Long An. Agar nama AA School tidak dipermalukan.” Bisik Rosalind pada Tuan Marvin.
Rosalind rupanya sudah duduk di samping Tuan Marvin. Pria berumur 50 tahun tersebut harus mengambil keputusan dengan cepat. Di dalam hati Rosalind benar-benar merasa puas karena rencananya berhasil.
“Baiklah, jika memang seperti itu.” Jawab Tuan Marvin.
Mendengar jawaban Tuan Marvin, senyum mengembang di wajah congkak Rosalind. Ia bersiap hendak berdiri dan meminta Alex menggantikan Long An. Namun, wajahnya tiba-tiba berubah merah padam karena ia melihat Irene memapah Long An masuk ke arena pertandingan. Ia menatap tak percaya. Bagaimana bisa?
__ADS_1
Para penonton yang melihat kehadiran Long An. Langsung bersorak-sorai kembali.
“An! An! An! Karateka Genius dari Timur!” Teriak para penonton mengelu-elukan nama Long An.
Wajah Long An kelihatan pucat. Namun, ia yang memiliki tekad kuat terus bertahan. Irene berlutur agar sejajar dengan anaknya tersebut.
“Mama akan selalu mendukungmu. Tetapi ingat, jangan pernah memaksakan dirimu.” Kata Irene mengelus kedua pipi anaknya.
Long An tersenyum lebar dan mengangguk. Kemudian, dengan langkah yakin. An berjalan menuju arena pertandingan. Irene hanya bisa menatap dengan tatapan cemas. Nyonya Meri mendekati Irene dan kemudian mengajaknya duduk. Rosalind yang menyaksikan hal tersebut benar-benar kesal dibuatnya. Alex yang sudah berharap banyak. Kelihatan semakin kesal. Lantas ia pergi dari arena pertandingan itu.
Kini, Long An sedang berhadapan dengan lawan tandingnya. Anak itu berambut cepak dan bola mata lebar. Orang-orang memanggil namanya Bintang Timur, karena berasal dari wilayah Timur negara ini.
“Aku akan mengalahkanmu.” Kata Bintang Timur percaya diri.
Long An tersenyum, “Mari bertanding dengan menyenangkan.”
Bintang Timur balas tersenyum. Lantas kedua anak tersebut mengucapkan osh secara bersamaan.
Kemudian keduanya memasang kuda-kuda. Long An maupun Bintang Timur memasang kuda-kuda *Ko Kutsu Dachi* yaitu kuda-kuda berat belakang. Bintang Timur menatap Long An dengan waspada. Di saat pertandingan akan dimulai, pandangan mata Long An mulai kabur. An berusaha mengerjapkan matanya. Agar bisa melihat lawannya dengan jelas.
Suara peluit di mulainya pertandingan terdengar keras. Penonton ikut bergemuruh menyaksikan pertandingan final. Sedangkan Irene menanti dengan cemas kondisi Long An. Ia tak perduli, hasil dari pertandingan ini baik menang atau kalah. Bagi Irene yang terpenting adalah kondisi putra semata wayangnya tersebut.
Bintang Timur mulai meloncat-loncat di tempat. Ke dua tangannya terkepal di depan dada. Matanya tajam menatap Long An. Sedangkan Long An, masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Ia merasa otot ditubuhnya terasa lemas. Ia hanya diam di tempatnya sambil terus mengerjapkan mata. Bintang Timur melihat kuda-kuda Long An sedikit goyah. Tanpa banyak berkata ia langsung menyerang An dengan pukulan ke arah perut yang dinamakan *Gyaku Zuki*.
“Hya!!!” Kata Bintang Timur sembari memukul ke arah perut.
Long An yang tidak berkonsentrasi, tak ayal menerima pukulan di perutnya.
“Arght!!” Suara erangan kecil keluar dari mulut mungil An. Ia terhuyung ke belakang.
“Point untuk Bintang Timur!” Teriak wasit.
Irene yang melihat kondisi Long An semakin cemas. Ingin sekali rasanya berlari ke tengah arena dan membawa anaknya ke rumah sakit. Tetapi, Irene ingat perkataan Long An yang akan berjuang sampai akhir.
Long An yang menerima pukulan tersebut berusaha bangkit. Sambil memegangi perutnya. Kesimbangan untuk berdiri pun, An merasa kesulitan. Kemudian ia memasang kuda-kudanya kembali. Pertandingan di mulai. Bintang Timur tak ingin membuang waktunya, ia melihat kuda-kuda Long An begitu lemah. Jadi, ia langsung menyerang dengan teknik *Mawashi Geri* yaitu tendangan dengan kaki bagian atas.
__ADS_1
“Hya!!” Teriak Bintang Timur.
*Brak*!
Long An terjatuh akibat tendangan dari Bintang Timur yang mengenai bahunya.
“Ohh!!!” Teriak penonton yang melihat Long An sedikit aneh gerakannya di pertandingan hari ini.
Irene yang melihat kondisi putranya. Tak ayal langsung bangkit berdiri. Ia berusaha masuk ke dalam arena. Tetapi buru-buru Nyonya Meri memegangi tangannya. Nyonya Meri menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah Long An. Irene yang diliputi banyak kecemasan menatap ke arah Long An yang berusaha bangkit berdiri. Anak itu masih belum mau menyerah begitu saja. Meski kesadarannya mulai samar. Irene hanya bisa menutup mulutnya. Buliran bening kembali menetes dari kedua matanya. Rosalind yang menyaksikan hal tersebut tersenyum puas. Meski tak sesempura rencana awal. Tetapi sudah dipastikan Long An akan mengalami kekalahan. Tak jauh dari arena, Ravindra menatap ke arah Long An.
Kembali ke pertandingan Long An. An masih bangkit berdiri. Ia menyeimbangkan kuda-kudanya lagi. An tahu dengan pasti, ia telah tertinggal point. Jika ingin menang, ia harus berusaha lebih keras lagi. Wasit kembali memulai pertandingan.
“Osh!” Teriak Long An dengan lantang. Ia berusaha fokus menatap ke arah lawan.
Meski pandangan matanya begitu samar. Long An berusaha menyerang terlebih dahulu. Ia melakukan tendangan ke arah perut lawan menggunakan teknik *Mae Geri*.
“Hyaa!!” Teriak Long An.
Tetapi karena ototnya mulai sedikit melemah. Serangannya ditangkis dengan mudah oleh Bintang Timur menggunakan tangkisan *Gedan Barai* yaitu tangkisan bawah atau tangkisan *Mae Geri*. Setelah berhasil menangkis serangan Long An. Bintang Timur langsung memberikan serangan balik berupa pukulan dan dorongan yang dinamakan *Morote Zuki*. Lagi-lagi An harus terpental dan jatuh karena serangan Bintang Timur.
“An!!” Teriak Irene semakin panik dari pinggir lapangan.
Long An tergeletak di lantai, matanya terpejam karena merasakan ototnya semakin melemah.
“An!! An! Mama tahu, kamu sangat ingin meraih mimpimu. Mama… mama akan selalu mendukungmu. Jadi, mari bertanding bersama mama. Kekuatan kasih sayang mama akan selalu bersamamu!!!” Teriak Irene dari pinggir lapangan. Irene paham betul, anaknya tengah berjuang. Maka sebagai ibu, ia harus lebih kuat dan mendukung putranya.
Long An yang sempat memejamkan mata, langsung tersadar setelah mendengar suara ibunya. Semangatnya kembali berkobar. Ia ingin mewujudkan mimpinya dan mimpi mamanya. Maka ia harus mengerahkan seluruh kemampuannya. An berusaha bangkit berdiri. Ia tahu kondisi tubuhnya melemah. Maka ia harus menyerang secara efektif. An memejamkan mata, fokus berkonsentrasi mengingat gerakan lawan. Ingatannya yang sangat kuat membantunya untuk mencari tahu kelemahan Bintang Timur. Kemudian, An juga teringat pesan Master Li mendiang gurunya dahulu.
*Jika kamu tidak bisa melihat musuhmu dengan baik. Maka gunakan instingmu. Gunakan kelebihan ingatanmu yang begitu kuat. Untuk mencari tahu kelemahan lawan dan menyerangnya balik*. Pesan Master Li.
“Osh!” Teriak Long An dengan lantang.
Pertandingan pun di mulai. An memejamkan matanya. Ia menggunakan instingnya saja untuk menghadapi lawan. Bintang Timur tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera menyerang dengan tendangan memutar. An mendengarkan dengan telinganya dan fokus.
Mengetahui lawan menggunakan tendangan memutar. An menghindar menggunakan insting tubuhnya. Tepat, di saat ia menghindari lawan. An menyerang Bintang Timur karena lawannya terlalu terbuka ketika menyerang. Ia langsung memukul dibagian perut dan memberikan tendangan Usiro Geri, tendangan ke belakang. Bintang Timur terjerembab oleh serangan Long An.
“Double Point!!” Teriak Wasit.
Pertandingan yang begitu seru dan menegangkan. Hingga peluit panjang dibunyikan sebagai pertanda berakhirnya pertandingan, Long An masih berdiri tegak. Mengerahkan seluruh kemampuannya. Irene yang mengetahui pertandingan usai, segera berlari ke tengah arena. Ia menghambur memeluk anaknya. Long An tersenyum tipis. Kemudian tak sadarkan diri.
__ADS_1
Arti genius yang sejati adalah kemampuan untuk tidak pernah menyerah.