Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 15


__ADS_3

...Rosalind Si Wanita Angkuh...


Semenjak manusia lahir. Manusia selalu didampingi dua orang malaikat yang selalu mengiringi. Malaikat selalu siap sedia mencatat kebaikan maupun perbuatan buruk kita ketika di dunia. Tetapi banyak manusia yang mengabaikan. Mereka cenderung berpura-pura tak tahu bahwa hal itu ada. Maka, manusia selalu berbuat seenak hatinya. Rosalind adalah salah satunya. Rasa iri dan dengkinya terhadap Irene. Mengabaikan dirinya melihat sesuatu yang namanya kebaikan. Ia adalah contoh manusia yang tunduk pada keburukan.


Rosalind Birgita, dilahirkan dari keluarga kaya raya. Semua yang ia inginkan harus terwujud. Sejak kecil Rosalind selalu dimanja oleh ayahnya. Setiap keinginannya selalu dikabulkan. Rasa sayang orang tua terhadap anak terkadang mengaburkan pandangan si anak. Sehingga rasa sayang itu mengakibatkan si anak tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Rosalind memiliki rambut kecoklatan dengan tinggi 165 cm. Sebenarnya dia adalah wanita yang cantik. Namun, tak pernah puas dengan apa yang ia miliki. Dagunya sedikit terangkat menandakan orang yang sombong atau congkak.


Pagi itu, Rosalind sedang berkeliling bersama Nyonya Meri. Melihat persiapan anak-anak yang akan berlaga dipertandingan antar sekolah. Mulai dari cabang olahraga sepakbola, basket, badminton, panahan hingga karate. Rosalind melihat semua persiapan anak-anak. Sebagai Wakil Direktur AA School, ia juga bertanggung jawab menyiapkan semua itu. Memastikan bahwa AA School akan menjadi juara.


Sekarang, Rosalind berada di tempat latihan karate. Ia melihat Alex, keponakannya terlihat serius berlatih. Ia tersenyum melihat keponakannya yang memiliki gerakan bagus. Ia yakin, Alex akan menjadi juara seperti tahun-tahun yang lalu.


“Wah, Long An memang sangat bagus. Gerakannya begitu lincah. Kuda-kudanya kokoh. Begitu juga dengan kihon yang ia miliki begitu sempurna. Bisa-bisa ia akan mendapatkan gelar juara tahun ini. Pantas saja, jika anak itu mendapatkan julukan Karateka Genius dari Timur.” Tiba-tiba Nyonya Meri yang berdiri di belakang Rosalind bersorak keras. Sembari melihat ke arah Long An yang sedang berlatih.


Secara otomatis, Rosalind yang mendengar suara Nyonya Meri melihat ke arah Long An. Rosalind mengamati dengan seksama. Setiap teknik yang Long An perlihatkan begitu sempurna. Melebihi anak seusianya. Bahkan gerakan tendangan memutar begitu mudah ia lakukan. Anak-anak seusianya masih kesulitan untuk menyempurnakan. Tetapi tidak dengan Long An. Rosalind mendecih melihat hal itu.


“Tahun ini, akan sama seperti tahun sebelumnya. Alex yang akan tetap keluar menjadi juaranya.” Kata Rosalind sinis. Kemudian melenggang pergi meninggalkan tempat itu.


Nyonya Meri yang mendengar perkataan Rosalind. Hanya bisa ngedumel dan mulutnya komat-kamit seolah mengejek Rosalind.


“Dasar, wanita penyihir.” Gumam Nyonya Meri.


“Apa kamu mengatakan sesuatu?” Tanya Rosalind yang mendadak menoleh ke arah Nyonya Meri.


Nyonya Meri terkaget dan langsung tersenyum.

__ADS_1


“Wakil Direktur pasti salah dengar. Mari kita kembali ke ruangan.” Ajak Nyonya Meri dengan senyum ramah.


Rosalind menatap Nyonya Meri dengan sinis. Lalu berjalan kembali ke ruangannya. Nyonya Meri juga ikut mengekor ke mana Rosalind melangkah. Sambil memberikan sumpah serapah pada Rosalind yang diberinya julukan wanita penyihir. Sesaat setelah berkeliling, Rosalind kembali ke ruangannya. Diikuti oleh Nyonya Meri.


“Laporkan secara rutin segala perkembangan untuk persiapan lomba. Jadi, aku bisa melaporkannya pada Direktur.” Perintah Rosalind sembari duduk di meja kerjanya.


“Baik, Wakil Direktur. Saya mengerti.” Jawab Nyonya Meri dengan sopan.


Lalu Nyonya Meri mohon ijin keluar ruangan. Tetapi, sebelum keluar ruangan. Rosalind teringat sesuatu dan memerintahkan Nyonya Meri mengambilkan dokumen yang berisi profil data Long An dan semua pegawai yang bekerja di AA School.


“Maaf, untuk apa anda meminta semua data itu?” Tanya Nyonya Meri tidak mengerti.


“Apa aku perlu memberitahumu, Assisten Meri?” Rosalind balik bertanya dengan menunjukkan raut wajah sinis.


Lalu Nyonya Meri bergegas ke luar ruangan. Setelah menutup pintunya. Ia mulai memukul-mukul ke arah pintu dan memperagakan jurus karate. Wajahnya terlihat kesal dan ngedumel sendirian. Memberikan nyanyian kutukan pada Rosalind yang ia beri gelar wanita penyihir.


“Dasar, penyihir. Aku sungguh tidak menyukaimu. Apa perlu aku memberitahumu blab la bla… huh…” Nyonya Meri menirukan gaya Rosalind barusan dengan bibirnya meliuk-liuk lincah.


Tetapi, tetap saja ia akan tetap menuruti permintaan Wakil Direktur meski merasa dongkol. Nyonya Meri, tidak menyukai gaya Rosalind yang suka memerintah. Wanita yang angkuh dan suka memanjakan keponakannya. Hingga Alex tumbuh menjadi anak yang sama seperti Rosalind. Suka seenaknya sendiri dan menindas teman lainnya.


Rosalind yang sedang duduk di ruangannya. Ia tahu betul Nyonya Meri tidak menyukai dirinya. Tetapi, ia tidak perduli. Baginya, orang semacam Nyonya Meri hanyalah batu kecil yang mudah ia singkirkan kapanpun juga. Rosalind bukan tanpa alasan meminta semua dokumen itu. Ia ingin mencari tahu. Siapa sebenarnya Long An. Bagaimana bisa anak sekecil itu, memiliki teknik karate yang menyamai orang dewasa. Bahkan mungkin, melebihi. Selain itu, yang paling penting adalah wanita bernama Irene Maxzella. Bagaimana bisa, ia datang ke AA School. Apa tujuannya ke sini?


Semua hal itu masih menjadi teka-teki bagi Rosalind. Ia harus tahu segalanya. Jangan sampai siapapun menghalangi langkahnya atau menggeser kedudukannya. Setidaknya, Rosalind merasa tenang karena sepertinya Irene tak mengetahui kelicikan apa yang pernah ia perbuat. Disaat Rosalind sedang memikirkan hal itu. Terdengar suara ketukan di pintu. Tidak lama kemudian, Nyonya Meri datang dan membawakan dokumen yang diminta oleh Rosalind.

__ADS_1


“Wakil Direktur, ini semua adalah dokumen yang anda minta.” Kata Nyonya Meri dengan sopan. Lantas meletakkan dokumen tersebut di meja Rosalind.


“Hemm baiklah. Kamu boleh pergi.” Rosalind berkata dengan sinis. Ia berbicara tanpa menatap Nyonya Meri.


“Baik, Wakil Direktur. Jika anda membutuhkan saya. Maka saya akan datang secepat abang ojek.” Nyonya Meri menjawab dengan nyengir kuda.


Rosalind hanya berdehem dan sibuk membuka dokumen. Nyonya Meri masih diam sembari melihat ke arah Rosalind yang sibuk membolak-balik dokumen.


“Apa aku perlu memanggil security supaya membawamu keluar jauh dari ruangan ini?” Tanya Rosalind sambil menatap tajam Nyonya Meri.


Ditatap tajam seperti itu, Nyonya Meri langsung kalang kabut. Wanita bertubuh tambun tersebut segera melepas sepatunya agar tidak diseret oleh security. Nyonya Meri bergegas meninggalkan ruangan. Rosalind hanya menatap sinis pada Nyonya Meri yang sudah keluar dari ruangannya.


“Siapa yang merekrut wanita gendut itu menjadi assisten? Dia lebih cocok menjadi pelawak.” Gumam Rosalind pada dirinya sendiri. Padahal Rosalind sendiri yang waktu itu meloloskan Nyonya Meri sebagai assisten, karena memiliki pengalaman kerja yang cukup baik. Dasar, sama-sama manusia lawak.


Selepas kepergian Nyonya Meri. Rosalind kembali fokus. Melihat dokumen yang berisi data para pegawai di AA School. Ia berfikir, Irene adalah salah satu pegawai di sini. Namun, setelah membolak-balik dokumen ia tak menemukan nama Irene tertera sebagai pegawai.


“Jika kamu datang ke sini tidak berstatus sebagai pegawai. Lalu… kenapa kamu datang ke AA School tempo hari?” Tanya Rosalind pada dirinya sendiri.


Setelah berfikir sejenak. Ia kembali teringat dengan Long An. Ia penasaran siapa orang tua bocah itu. Dahulu, Marvin Damariswara selaku Direktur Yayasan begitu kekeh merekrut Long An. Pasti anak ini bukan anak sembarangan atau setidaknya berasal dari keluarga yang terhormat. Pikiran itu yang terus menari-nari dibenak Rosalind. Membuatnya ingin segera membaca profil Long An. Sedetik… dua detik… keheningan masih menyelimuti ruangan tersebut. Raut wajah Rosalind masih bersikap biasa saja. Namun, detik berikutnya tak terelakkan lagi. Mata Rosalind terlihat melotot dan ia segera berdiri dari duduknya. Tangannya terlihat gemetar.


“Tidak… Tidak… Tidak mungkin… tidak mungkin. Tidak mungkin anak ini adalah anak Irene Maxzella!!!” Pekik Rosalind memecah keheningan siang itu.


“Seharusnya, anak itu… anak itu… sudah mati!!!” Lagi-lagi Rosalind berteriak keras.

__ADS_1


Seolah tidak menerima kenyataan yang ada. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Rosalind mengatakan hal yang aneh? Apa yang sebenarnya ia perbuat pada Irene?


__ADS_2