Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 89


__ADS_3

...Seleksi Atlet Nasional...


            Tes…


            Tes…


            Tes…


            Suara keringat menetes di sebuah lantai Dojo yaitu sebuah tempat latihan karate. Seorang anak kecil berambut berdiri dengan mata sipit dan pipi paonya sedang berlatih keras. Sesekali ia mengusap air matanya yang terus menetes. Ia teringat dengan ibunya. Ibu yang selalu menemani dan mendukungnya hingga mencapai titik seperti ini. Namun, ibunya telah meninggalkannya. Ibu yang memberinya semangat hingga kemampuannya bisa sehandal ini. Anak kecil itu tak lain adalah Long An. Meski Long An masih bersedih. Ia harus tetap fokus menjadi kebanggaan ibunya. Long An ingin menunjukkan pada dunia. Bahwa ibunya adalah wanita yang hebat. Wanita yang telah membesarkannya hingga bisa menjadi karateka seperti ini.


            Mama, aku berjanji akan menjadi kebanggaanmu. Melangkah menuju titik tertinggi. Kemudian membalas perbuatan orang jahat yang membuat mama menderita. kata Long An dalam hati. Ia menyeka air matanya yang menetes. Kemudian dengan tatapan tajam kembali berlatih memperkokoh kuda-kuda maupun teknik dalam karate.


            Di sebuah taman yang bernama Aksara Park. Ravindra terlihat berdiri di tengah kolam yang dipenuhi dengan bunga Lotus berwarna-warni. Tempat kenangannya bersama Irene. Rasanya baru kemarin Rava, Irene dan Long An berlibur bersama. Melewati hari yang indah. Bahkan Rava berencana melamar Irene dan meresmikan hubungannya. Namun, kenyataan tak seindah dalam angan. Semuanya berakhir dengan menyedihkan. Ravindra berusaha menahan air matanya. Memegangi dadanya yang terasa sesak. Begitu terasa sangat menyakitkan harus kehilangan wanita yang ia cintai. Kenapa Ravindra begitu bodoh dan masuk dalam jebakan Rosalind. Jika saja Rava mencari tahu kebenarannya lebih cepat dan mempercayai Irene. Mungkin saja Irene tak akan pergi secepat ini. Tak akan mengalami nasib tragis seperti ini.


            Ravindra berusaha menguatkan dirinya. Ia ingat bahwa masih memiliki Long An. Rava harus mendampingi anaknya. Bagaimanapun juga Long An masih kecil. Tentu anak sekecil itu lebih merasa terpukul atas kepergian ibunya. Jadi, Rava harus menjadi ayah yang kuat. Kemudian, Rava mengambil sebuah kotak berwarna merah. Kotak tersebut berisi cincin pasangan yang sedianya untuk melamar Irene. Rava hanya bisa menatap sedih cincin tersebut.


            Lantas Ravindra menatap pot bunga Verbena pemberian Irene. Saat itulah bayangan Irene yang tersenyum dengan hangat menari di pelupuk mata Rava. Ravindra tak lagi dapat menahan air matanya. Ia menangis sembari terduduk memegangi dadanya yang terasa sesak. Ravindra yang selama bertahun-tahun menjadi pria dingin yang tidak pernah menangis. Kali ini harus merasakan pahitnya kesedihan.


            “Rene… Irene… Arghttttt!!!! Maaf…. Maafkan aku tidak bisa melindungimu.” kata Ravindra berteriak keras karena marah pada dirinya sendiri. Namun yang paling menyayat adalah rasa sakit dan pedih di hatinya.

__ADS_1


 


            Keesokan harinya.


            Di sebuah aula gedung olahraga, Menteri Olahraga sedang membuka acara pertandingan karate untuk seleksi atlet Nasional. Setelah pembukaan dan sambutan dari Menteri Olahraga. Panitia meminta Long An untuk memberikan sepatah dua patah kata. An dianggap sebagai icon karateka cilik genius yang banyak dikenal masyarakat umum. Tentu hal itu akan meningkatkan jumlah penonton dan lebih mengenalkan olahraga karate. Supaya lebih dikenal khalayak ramai. Di acara tersebut juga dihadiri Ravindra dan Tuan Marvin.


            Tuan Marvin sudah bisa rawat jalan. Meski harus duduk di kursi roda. Ia bersemangat dan ingin memberikan dukungan pada cucu kesayangannya yang akan berlaga. Untuk saat ini, Tuan Marvin menyadari bahwa cucu kecilnya membutuhkan lebih banyak dukungan. Setelah kehilangan ibunya.


            Tidak lama kemudian, nama Long An dipanggil untuk memberikan sambutan. Suara riuh tepukan mengelukan nama Long An sebagai Karateka Genius dari Timur tersebut. Long An pun naik ke podium. Ia menatap orang di sekelilingnya. Sebelum mulai berbicara, Long An mencium liontin bunga Lotus milik ibunya yang sekarang ia kenakan. Kemudian berbicara di hadapan semua orang. Jepretan lensa kamera memotret Long An yang hendak berbicara. Acara ini pun disiarkan melalui berbagai stasiun TV di negeri ini. Sehingga semua orang dapat menyaksikan Si kecil Long An yang hendak memberikan sambutan.


            “Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan pada saya. Saya hanyalah seorang anak kecil. Anak kecil yang masih harus banyak belajar. Bagi saya, acara ini sangatlah penting karena dapat menjadi wadah bagi para atlet muda berbakat di negeri ini. Bakat para bibit-bibit muda tidak boleh di sia-siakan karena merekalah generasi yang akan mengharumkan nama negara ini di masa depan.” Long An terdiam sejenak karena para hadirin bertepuk tangan dan memuji keberanian Long An yang lancar berbicara di depan orang banyak.


            Seusai Long An menutup sambutannya. Para hadirin berdiri dan bertepuk tangan dengan riuh. Tuan Marvin menggenggam tangan Ravindra. Rava yang sejak tadi memperhatikan Long An merasa sangat bangga. Irene telah membesarkan seorang anak yang hebat. Jauh di dalam lubuk hati pria yang tak lagi dingin tersebut. Diam-diam merindukan sosok Irene. Jika saja Irene masih berada di sini. Kebahagiaan ini akan menjadi lengkap. Mereka akan menjadi keluarga utuh yang bahagia. Saat Tuan Marvin menggenggam tangan Ravindra. Rava menoleh dan menatap ayahnya yang duduk di kursi roda. Tuan Marvin melemparkan senyum hangat pada anaknya tersebut.


            “Tetaplah kuat, demi menjaga putramu. Ayah bangga memilikimu. Memiliki cucu kecil seperti Long An. Irene akan merasa bahagia jika kamu bisa menjaga Long An.”


            Mata Ravindra kelihatan berkaca-kaca. Kini, ia merasakan yang namanya kehangatan keluarga berkat kehadiran Long An. Tetapi di sisi lain, kenapa ia harus kehilangan Irene? Rasanya kebahagiaan yang Rava miliki tidak akan sempurna.


 

__ADS_1


            Di tempat lain.


            Rosalind dan Liam tengah menyaksikan siaran yang menayangkan mengenai Long An tersebut. Rosalind hanya mendecih dan tersenyum sinis.


            “Anak itu masih saja ingin berjuang keras seperti ini. Meskipun sudah kehilangan ibunya. Benar-benar mirip dengan Irene.”


            Liam yang duduk di samping Rosalind menatap sembari terkekeh.


            “Menurutmu bocah itu akan melakukan apa? Kita tidak bisa meremehkannya begitu saja. Pengalaman tempo hari. Bocah itu bisa melacak keberadaan kita. Kamu pun harus menyiapkan strategi baru untuk mengelabuinya.”


            “Tenang saja, bocah itu tidak akan menemukan tempat ini. Tempat ini hanya ayahku seorang saja yang mengetahuinya. Setelah ada kesempatan dan situasi aman. Ayah akan menyiapkan jalan agar kita bisa keluar dari negara ini.” jawab Rosalind dengan senyum penuh percaya diri. Bahwa ia akan lolos dari semua kejahatan ini.


            Tetapi Rosalind tidak pernah belajar. Bahwa yang namanya kebusukan akan selalu tercium. Kejahatan yang dilakukan seseorang juga akan mendapatkan balasan yang setimpal. Hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk tangan Tuhan memainkan perannya. Memberikan hukuman yang pantas bagi manusia yang telah melakukan perbuatan keji.


           


           


           

__ADS_1


 


__ADS_2