
...Menemukan Titik Terang...
Di rumah Long An.
Long An, Si Kembar dan juga Pak Ahen sedang mengakses CCTV untuk mencari petunjuk mengenai keberadaan Irene.
“Paman, aku dan Si kembar sudah meminta rekaman CCTV di beberapa tetangga yang memasang.” kata Long An sembari menyerahkan flashdisk pada ayahnya Si kenbar.
Pria kurus berkacamata tersebut segera membuka rekaman dari file CCTV. Long An dan Si kembar mengamati rekaman yang sudah diputar di laptop. Rekaman tersebut menunjukkan sebuah sedan hitam terlihat keluar dari gang perumahan pada pagi hari. Di belakangnya, mobil berwarna putih mengikuti.
“Ah, aku rasa itu adalah mobilnya.” tunjuk Long An pada rekaman tersebut.
“Di belakangnya itu pasti mobil nenekmu.” pekik Meichan.
“Hemm, itu mobil putih.” sahut Chanmei.
“Kalian yakin? Ini mobil yang kalian maksud?” tanya Pak Ahen untuk memastikan.
Long An mengangguk dengan sangat yakin. Di saat file rekaman CCTV tersebut masih berjalan. Long An seperti melihat sesuatu.
“Paman, tolong stop rekamannya di menit yang terakhir.” pinta Long An. Ia seperti melihat sesuatu.
Pak Ahen segera mempause rekaman videonya. Tepat saat rekaman itu dihentikan. Terlihat mobil sport mewah berwarna merah.
“Ahhh!!! Itu!!!” tunjuk Si kembar bersamaan.
“Paman, bisa memperbesar gambarnya? Apakah terlihat plat nomornya?” tanya Long An.
“Serahkan padaku.” kata Pak Ahen.
Lantas dengan keahliannya ia mengotak-atik laptopnya. Memperbesar gambar dan melihat plat nomor yang tertera. Meskipun tidak begitu jelas karena resolusi yang rendah. Setidaknya masih terlihat meski samar. Pak Ahen segera mencatat plat nomor yang ia lihat.
“An, dari bentuk mobilnya. Bukankah itu?” tanya Si kembar bersamaan.
Long An menatap dengan tajam rekaman yang memperlihatkan sebuah mobil mewah yang memiliki warna cat merah.
“Aku rasa pemikiran kita sama. Mobil itu adalah milik Wakil Direktur.” jawab Long An.
“Bagaimana kalian seyakin itu?” tanya Pak Ahen.
“Kami sering melihat mobil itu terpakir di sekolah. Mobil kesayangan Wakil Direktur.” jawab Si kembar bersamaan.
“Jadi, semua sudah jelas. Menghilangnya mama, karena adanya campur tangan dari Wakil Direktur. Tetapi, kita harus bergerak hati-hati. Supaya bisa menemukan mamaku. Paman, tolong kumpulkan semua bukti yang kita dapat. Agar penyihir itu mendapatkan hukuman dari Pak Polisi.” pinta Long An pada Pak Ahen.
Diam-diam Pak Ahen mengakui kecerdasan Long An. Pantas anak kecil di sampingnya ini mendapat julukan anak genius.
“Uhh, dasar penyihir menyebalkan. Aku ingin menjambak rambutnya.” kata Meichan dengan kesal.
__ADS_1
“Hiaah, wanita penyihir jahat. Aku juga ingin mencakar wajahnya yang licik itu.” sahut Chanmei.
Long An berusaha menahan rasa kesal dengan mengepalkan tangannya. Ia harus tetap berpikir jernih untuk menemukan ibunya.
“Paman, sekarang saatnya meretas CCTV milik kepolisian. Aku rasa teman paman Dareen sudah menyiapkan jalan belakang peretasan.” pinta Long An.
“Baiklah, lihat aksiku.” jawab Pak Ahen sembari menggosok-gosokkan tangannya.
Sedetik kemudian, ia mengotak-atik laptopnya. Menyambungkan dengan jaringan milik Kepolian bagian lalu lintas. Kemudian, masuk melalui jalur belakang yang sudah dibuka oleh teman Dareen.
“Paman, cari CCTV yang mengarah ke jalanan di mana nenek Kania ditemukan terluka.” pinta Long An sembari menatap serius layar monitor.
Tidak butuh waktu lama. Pak Ahen menemukan mobil sedan hitam yang diikuti oleh mobil Nyonya Kania. Namun, sayangnya jalanan yang menjadi tempat kejadian perkara tidak terdapat CCTV. Mobil tersebut mengarah ke pinggiran kota yang tidak ada CCTV sama sekali.
“Bagaimana sekarang?” tanya Pak Ahen.
Long An memutar otak untuk mencari cara.
“Setiap penjahat, pasti memiliki tempat persembunyian. Mereka akan memilih tempat yang jauh dari keramain. Jadi, tolong paman lihat data-data rumah, gudang tua, atau semacamnya yang berjarak antara 1 Km sampai 10 Km dari tempat di temukannya nenek Kania terluka. Pasti mama, disembunyikan di sekitar sana.”
“Luar biasa.” Puji Pak Ahen dan Si kembar bersamaan.
Mereka saja tidak berpikir sampai sejauh itu. Tetapi bocah 10 tahun ini bisa berpikir dengan sangat rinci. Disaat Pak Ahen masih mengotak-atik untuk melakukan pencarian. Long An segera menghubungi ayahnya. Pencarian akan lebih cepat. Jika saling bekerjasama. Long An percaya, meskipun ayahnya masih marah pada ibunya. Tetapi, jauh dalam lubuk hati ayahnya. Ia memiliki kepedulian pada Irene.
Di Aksara Enterprise, Pak Albert sedang menghadap Ravindra.
“Apa ini mengenai Irene?” tanya Ravindra dengan wajah serius.
“Benar.”
“Cepat katakan.”
“Saya sudah mengerahkan beberapa anak buah untuk melacak keberadaan Nyonya Irene.”
Seketika Ravindra terhenyak.
“Dari penyelidikan saya dan yang lainnya. Sepertinya Nyonya Irene sedang dalam bahaya. Ada yang menculiknya. Saya juga sudah meminta beberapa keterangan dari tetangga yang tinggal berdekatan dengan rumah Nyonya Irene. Dari keterangan tersebut, ada saksi mata yang menyatakan saat pagi hari ada mobil sedan berwarna hitam yang mencurigakan pergi dari rumah Nyonya Irene.” lapor Pak Albert.
“A… apa?!!!” teriak Ravindra begitu terkejut.
“Saya mendapatkan rekaman CCTV lalu lintas dan beberapa rekaman di pinggir jalan. Rekaman tersebut menunjukkan sedan hitam melaju secara sembrono dan tergesa-gesa. Lebih mengejutkan lagi, di belakangnya mobil Nyonya Kania juga membuntuti.” jawab Pak Albert sembari menunjukkan rekaman CCTV dari ponselnya. Rekaman tersebut ia dapatkan setelah mengerahkan anak buah yang lain.
“Jadi, Nyonya Kania terluka karena mengetahui bahwa Irene dalam bahaya. Jika seperti itu jelas sudah jawabannya.” kata Ravindra dengan raut wajah cemas.
Di saat Ravindra dan Pak Albert sedang berbincang. Dering panggilan telp berbunyi. Suara dering telp tersebut berasal dari ponsel Pak Albert. Ia segera mengangkat panggilan telp itu. Sedetik kemudian, matanya terbelalak. Pak Albert mendapatkan informasi dari anak buahnya.
“Tuan, apa anda masih ingat. Dahulu, anda meminta saya untuk menyelidiki mengenai botol sprei pelemah otot yang pernah membuat celaka Tuan Kecil Long An?” tanya Pak Albert.
“Ya, apa kamu sudah mendapatkan hasilnya?” tanya balik Ravindra sembari beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
“Maafkan saya, baru mendapatkan hasilnya sekarang dikarenakan orang yang membeli botol sprei tersebut sangat lihai. Ia memerintahkan orang lain untuk membeli. Tanpa menggunakan namanya, karena itulah butuh waktu lama untuk menemukan siapa orangnya.”
“Lalu, apa kamu sudah mendapatkan hasilnya?”
“Saya sudah mendapatkan hasilnya. Orang yang membeli botol sprei pelemah otot tersebut adalah Tuan Liam.” lapor Pak Albert.
“A… apa?!!! un… untuk apa Liam ingin mencelakai Long An?” tanya Rava begitu terkejut. Ia tahu watak Liam seperti apa. Tetapi, kenapa jauh-jauh hari Liam ingin mencelakai anaknya.
“Saya rasa semua ini berkaitan dengan anda, Nyonya Irene, dan Nona Rosalind. Dari penyelidikan yang saya dengar, sudah semenjak duduk di bangku SMA Nona Rosalind sangat membenci Nyonya Irene. Bisa saja, semuanya saling berkaitan.”
Mendengar keterangan Pak Albert. Membuat kemarahan terlihat dari sorot mata Ravindra.
“Jadi maksudmu, Rosalind bekerjasama dengan Liam untuk mencelakai putraku? Begitu?” tanya Rava.
“Saya rasa hal itu masuk akal. Saya juga sudah menyelidiki kembali. Insiden pengeroyokan yang menimpa Tuan Kecil Long An. Pengeroyok itu mengaku diperintah oleh Tuan Liam dan Nona Rosalind.”
Mendengar semua laporan Pak Albert. Tak ayal lagi, membuat darah Ravindra mendidih . Ia tak lagi dapat menahan amarahnya.
“Sialan mereka!!!” teriak Rava penuh amarah.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti orang-orang yang aku sayangi!” teriak Ravindra sangat marah.
“Tuan, apakah anda tidak merasa hilangnya Nyonya Irene berkaitan dengan kedua orang tersebut? Mengingat tindakan yang pernah mereka lakukan.” kata Pak Albert memberi pendapat.
Di tengah kemarahannya yang memuncak. Ravindra berpikir keras. Mungkinkah, Irene melakukan tindakan seperti tempo hari karena ulah licik Rosalind dan Liam? Jika benar seperti itu, maka terjawab sudah. Irene tidak mungkin mendadak ingin balas dendam atau memiliki hubungan dengan Liam.
“Arghhht!!!!” teriak Ravindra sembari melemparkan semua benda-benda yang ada di meja kerjanya.
Rava merasa sangat marah sekaligus menjadi orang yang sangat bodoh. Telah mempercayai rencana busuk Rosalind dan Liam.
“Sialan!!!!” teriak Rava begitu keras, antara marah dan kesal pada dirinya sendiri.
Disaat Ravindra sedang marah dan merutuki kebodohannya dengan tidak mempercayai Irene, terdengar suara ponsel miliknya berbunyi. Rupanya Long An yang menelepon. Rava segera mengangkat telpnya. Untuk beberapa saat Ravindra mendengarkan penjelasan dari anaknya tersebut. Tepat saat telp keduanya selesai. Tatapan mata Ravindra berubah tajam. Sorot kemarahan terpancar dari kedua matanya.
“Kerahkan semua orang untuk mencari keberadaan Irene. Jangan pernah gagal menemukan calon istriku. Apa kamu mengerti?!!!” perintah Ravindra dengan suara keras.
“Baik, akan saya laksanakan.” jawab Pak Albert.
Sepeninggal Pak Albert, Ravindra memukul mejanya dengan begitu keras. Rasa sakit ditangannya tidak ia perdulikan.
“Siapapun yang berani menyentuh atau melukai calon istriku. Aku, Ravindra Damariswara bersumpah, akan menghancurkan siapapun orangnya.” kata Ravindra pada dirinya sendiri.
Tatapannya begitu beringas. Kemarahan sudah memuncak di ubun-ubunnya. Setelah itu, ia bergegas mencari keberadaan Irene. Rava juga akan membalas orang-orang yang telah melakukan ini semua pada Irene maupun pada putranya dahulu.
__ADS_1