
...Retaknya Sebuah Kepercayaan...
Kepercayaan memang memiliki harga yang mahal. Ketika semua itu retak, maka sulit untuk menyatukannya kembali. Namun, itulah ujian sebuah hubungan antara pria dan wanita. Begitu juga yang di alami Irene dan Ravindra. Ini adalah ujian untuk saling memperkuat ikatan keduanya. Tetapi, jika keduanya tak sanggup melewati. Maka berakhirlah ikatan itu.
“Rene, bisakah dengarkan aku dahulu.” kata Ravindra sembari memegangi tangan Irene.
Irene yang barusan pulang bekerja langsung menghempaskan tangan Ravindra. Ia hendak masuk rumah karena tidak ingin membahas sesuatu yang sudah jelas. Perdebatan tersebut tak luput dari penglihatan Long An. An sudah pulang sekolah terlebih dahulu diantar Nyonya Meri dan Si kembar. Ia hanya menatap dari balik jendela rumah. Menyaksikan kedua orang tuanya sedang berdebat. Sepertinya ada masalah yang serius. An hanya bisa mengamati dari dalam. Sembari mencari tahu duduk perkara yang sebenarnya.
“Bisakah kamu mendengarkan aku terlebih dahulu.” pinta Ravindra.
“Apa yang harus aku dengarkan? Aku sudah melihatnya dengan jelas.” jawab Irene dan melangkah pergi. Hendak masuk ke rumahnya.
“Apakah kepercayaanmu padaku hanya seujung kuku?” tanya Ravindra sembari menatap punggung Irene.
Irene terpaksa menghentikan langkahnya dan menatap Ravindra dengan tajam.
“Bicaramu seolah semuanya mudah untukku? Apa kamu pikir hatiku baik-baik saja sekarang? Kamu mempercayakan hatimu padaku. Lantas apa yang kamu lakukan tempo hari? Rupanya benar apa yang dikatakan Rosalind. Semua pria sama saja.” jawab Irene dengan tajam.
“Apa kamu lebih percaya pada penglihatanmu?” tanya Ravindra yang juga ikut meninggikan suaranya.
Irene hanya tersenyum getir.
“Apakah kamu tidak melihat bagaimana mataku?” tanya Irene balik.
Mata Irene memang terlihat sembab. Semalaman ia hanya menangis. Untuk sesaat Irene merasakan kebahagiaan yang Ravindra berikan. Tetapi kemudian dalam hitungan detik ia dijatuhkan dengan sangat keras. Ravindra menatap mata Irene dengan dalam. Tatapannya sendu dan merasa bersalah.
“Maafkan aku, tolong percaya padaku. Aku tidak melakukan hal yang tak pantas pada Rosalind.” kata Rava dengan tatapan sedih.
“Mudah bagimu mengatakan hal itu. Tetapi tidak dengan hatiku yang sudah terluka. Sebaiknya kamu pergi. Aku sangat lelah.” Irene menjawab sembari memijat kepalanya yang berdenyut keras.
“Rene, liontin bunga lotus yang kamu kenakan adalah ikatan antara aku, kamu, dan juga Long An. Tolong percayalah pada ikatan kita.” kata Rava perlahan. Berusaha meyakinkan Irene.
Irene tak menjawab dan bergegas masuk ke dalam rumah.
“Aku akan menunggumu hingga kamu mau mendengarkan aku!” teriak Ravindra.
Tetapi Irene acuh tak acuh dan bergegas masuk ke dalam rumah. Ravindra hanya mengepalkan tangannya dan memukul tembok di depannya dengan sangat keras.
Bak!!
__ADS_1
Buk!
Tatapan matanya begitu tajam. Ia sungguh tak ingin, Irene salah paham mengenai kejadian tempo hari. Tetapi kenapa Irene tak mau mendengarkan penjelasannya dan lebih mempercayai penglihatannya?
“Arghhttt!!!” teriak Ravindra dengan keras.
Long An yang sedari tadi memperhatikan. Sepertinya mengerti akar permasalahannya ada pada Wakil Direktur.
“Wakil Direktur, sungguh ingin membuat mama dan papa berpisah. An tidak boleh diam saja.” Long An bergumam sendiri.
An mengintip Irene yang menelungkupkan wajahnya. Terdengar isakan tangis yang lirih keluar dari bibir Irene. Long An belum berani mengganggu ibunya. Ia membiarkan Irene menenangkan diri terlebih dahulu. Lantas An keluar sembari membawa sesuatu.
“Papa...” panggil Long An.
Ravindra menengok ke arah Long An. Menatap dengan tatapan sendu. Lalu keduanya duduk di teras. Long An tak banyak berkata. Tetapi dengan telaten, ia memberikan obat pada tangan Ravindra yang lecet karena telah memukul tembok. Kemudian membalutnya dengan perban.
“Papa harus berhati-hati. Jangan lukai dirimu sendiri.” kata An sembari mengelus tangan Ravindra yang terluka dengan penuh perhatian.
“Maafkan papa. Papa mempercayai kalian untuk menjaga hatiku. Tetapi, papa tidak bisa menjaga hati kalian berdua.” kata Ravindra sambil menundukkan kepalanya.
Long An tersenyum, kemudian memegangi kedua pipi papanya. Menatap penuh kasih sayang. Lantas memberikan senyum lebar.
“Papa, aku mempercayaimu. Mungkin mama, belum begitu mengenal papa.” An berusaha menghibur Ravindra.
“Ehhh.. sejak kapan papa mengucapkan terimakasih? Bukankah papa orang yang dingin?” ledek Long An diiringi tatapan sinis.
“Apa kamu mau papa bersikap dingin lagi?” tanya Ravindra sembari menggelitiki Si kecil Long An.
“Hahaha!! Ampun… ampun papa rambut landak.” kata Long An sambil tertawa.
Ravindra pun ikut tertawa melihat putra yang selama ini tak pernah ia ketahui adanya. Namun, kini malah memberikannya kebahagiaan. Ravindra sedikit demi sedikit bisa tersenyum.
“An, menyayangi papa.” kata An sembari tertawa lebar. Pipi paonya terlihat kemerahan dan menggemaskan.
Saat mendengar perkataan anaknya. Membuat hati Ravindra terasa hangat. Ia kelihatan tercekat. Selama ini, tak pernah ada yang mengatakan hal itu padanya. Membuat hatinya benar-benar merasa sangat hangat. Lantas Ravindra segera memeluk jagoan kecilnya.
“Papa juga menyayangimu, putra kecilku. Papa tidak akan menyerah meluluhkan hati mamamu.”
“Hehehe… tentu saja. Jangan pernah menyerah meluluhkan hati mama. Long An akan membantu.”
__ADS_1
Keduanya saling tertawa dan mengaitkan jemari kelingking satu sama lain.
“Janji sesama pria,” ucap Ravindra dan Long An bersamaan. Keduanya saling tertawa lebar.
Tidak lama kemudian, Long An masuk ke dalam. Sedangkan Ravindra menunggu sembari duduk bersandar di depan kap mobil. Ia berjanji dalam hatinya untuk tidak pernah menyerah. Meluluhkan hati Irene. Sedangkan Long An yang sudah masuk ke dalam rumah. Berjalan mengendap-endap masuk ke dalam kamar ibunya.
“Mama….” Panggil An perlahan.
Irene yang sedang menelungkupkan wajahnya segera mendongak. Ia segera menyeka air matanya. Long An tersenyum dan ikut membantu Irene mengelap air mata.
“Naga kecilku, kenapa belum tidur?” tanya Irene sambil memegangi pipi Long An.
“Bagaimana An bisa tidur? Sedangkan mama dan papa masih bertengkar karena Wakil Direktur Si Penyihir.” jawab Long An cemberut sembari melipat tangannya di dada.
“Hah? Penyihir wanita?” tanya Irene keheranan.
“Ya, Bu Meri dan Si kembar menjuluki Wakil Direktur Si Penyihir.”
“Julukan itu memang cocok untuk Rosalind.” sahut Irene dengan menyunggingkan sedikit senyum.
“Nyonya Meri, apa aku harus mengulangi kata-kataku? Ambilkan aku ini… ambilkan aku itu.” kata Si kecil Long An sambil menirukan gaya Rosalind. An menirukan gaya Rosalind yang suka memerintah Nyonya Meri.
“Hahaha!” Irene langsung tertawa lepas saat melihat Long An menirukan gaya Rosalind. Terlihat lucu dan menggemaskan.
“Hehe… mamaku tertawa.” kata An. Jari telunjuknya menyentuh pipi Irene yang sedang tertawa.
Irene balas tersenyum, “terimakasih sudah menghibur mama.”
Long An menganggukkan kepala dan memeluk mamanya. Irene mendekap Long An dalam pelukannya.
“Mama, tolong percayalah pada papa rambut landak.” kata Long An perlahan.
Irene terlihat diam.
“Ingatlah gambar ini. Gambar An, mama dan juga papa. Jika mama tidak mempercayai papa. Maka gambar ini tidak akan ada artinya lagi.” lanjut Long An sembari menunjukkan gambar yang ia buat waktu itu.
Irene masih saja diam dan menatap dalam ke arah gambar yang ditunjukkan Long An. Lantas, An memeluk ibunya dengan erat. Bocah genius itu terlihat memejamkan mata dan tertidur dalam pelukan Irene. Mengetahui Long An tertidur, Irene dengan perlahan membaringkan di ranjang. Menyelimutinya dan mencium kening buah hati kesayangannya penuh kasih sayang. Tidak lama kemudian Irene beranjak dari tempat tidur. Menatap Si kecil Long An yang tertidur dengan pulas. Irene kemudian membereskan gambar yang tadi dipegang oleh Long An. Ia menatap gambar yang dibuat oleh anaknya tersebut. Gambar yang manis, ada An, Irene dan juga Ravindra.
Malam semakin larut. Langit terlihat hitam pekat. Di luar hanya ada suara derikan binatang malam. Sedangkan Ravindra masih dengan gigih menunggu Irene mau mendengarkan penjelasannya. Pria tampan itu masih bersandar di kap mobilnya. Sembari menatap ke arah rumah Irene. Tanpa Ravindra ketahui, dari balik jendela rumah. Irene menatap Ravindra. Ia menyentuh liontin berbandul bunga lotus pemberian Rava. Hati Irene masih merasakan sakit karena melihat adegan tak senonoh antara Rosalind dan Rava tempo hari.
__ADS_1
“Aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah, pria rambut landak menyebalkan. Aku rasa, kamu tidak akan bertahan berada di luar dengan udara dingin seperti ini.” kata Irene sembari melangkah kembali ke kamarnya.
Malam semakin terlihat pekat. Bintang dan bulan sekalipun tak menampakkan batang hidungnya. Ravindra masih bersandar di kap depan mobilnya. Ia masih menatap ke arah rumah Irene. Kali ini, Rava tidak boleh menyerah. Ia harus memperjuangkan keluarga kecilnya. Ravindra tak ingin kehilangan kehangatan sebuah keluarga. Meski udara dingin menusuk ke dalam tulangnya.