Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 26


__ADS_3

... Saatnya Bertanding...


Hari ini adalah hari pertandingan antar sekolah dimulai. Berlokasi di AA School. Pertandingan antar sekolah yang mempertemukan atlet-atlet muda berbakat di seluruh negeri ini akan diselenggarakan. Sekolah dihias dengan meriah. Segala persiapan telah dilakukan. Di halaman sekolah berjajar tenda-tenda yang menjual makanan maupun minuman. Ada juga yang menjual pernak-pernik. Di semua arena maupun lapangan sudah dipenuhi banyak supporter. Para atlet dari berbagai sekolah sudah bersiap-siap. Mereka melakukan pemanasan. Banyak cabang olahraga yang dipertandingkan. Mulai dari cabang olahraga sepakbola, basket, badminton, panahan, maupun karate.


Di antara semua cabang olahraga, yang dinanti-nantikan adalah cabang olahraga karate. Banyak supporter berdatangan karena mendengar bahwa karateka cilik yang diakui kegeniusannya bersekolah di AA School. Mereka ingin melihat secara langsung aksi yang akan dilakukan oleh Karateka Genius dari Timur. Siapa lagi kalau bukan Long An.


Long An sudah berganti pakaian karategi miliknya. Dipunggungnya tertulis nama Long An. Ia tengah melakukan pemanasan. Supaya otot-ototnya tidak tegang. Wajib bagi seorang atlet ketika hendak latihan atau bertanding melakukan pemanasan terlebih dahulu. Supaya ketika saat berlaga nanti tidak mengalami kram otot. Long An sangat bersemangat di pertandingan antar sekolah hari ini. Ia ingin menunjukkan aksinya di negerinya sendiri. Di temani sahabat ciliknya, si kembar Meichan dan Chanmei. Mereka melakukan sedikit pemanasan.


Hari ini, Irene sengaja ijin tidak masuk kerja demi mendukung jagoan kesayangannya. Ia yang sekarang mendapatkan pekerjaan sebagai Guru TK terlihat antusias. Menantikan anaknya akan bertanding. Menunjukkan kebolehan dalam seni bela diri karate. Berlaga di negara sendiri secara resmi. Hari ini Irene tampil casual dengan rambut dikucir kuda. Terlihat manis dengan sepatu kets wanita. Dia benar-benar terlihat lebih muda dari usianya. Cerminan mama muda yang sebenarnya. Ia melangkah dengan riang. Hal yang ketika dewasa tak bisa merasakan atmosfer sebuah pertandingan.


Kini, hari itu tiba. Impiannya dahulu yang terkubur, akan dilanjutkan oleh anaknya. Meski berbeda bidang olahraga. Tetap saja hal ini, akan menjadi kebanggaan untuk Irene. Merasa perjuangan hidupnya dahulu yang begitu berat. Perlahan sirna berkat kehadiran putra geniusnya, Si Naga kecil berjuluk Karateka Genius dari Timur.


Tak jauh dari tempat Irene berada. Sebuah mobil mewah terparkir di depan. Seorang assisten bersiap membukakan pintu. Setelah pintu terbuka. Seorang pria berwajah tampan dengan rambut berdiri keluar dari mobil mewah tersebut. Badannya yang tegap dan gagah menambah nilai ketampanannya. Ia mengenakan pakaian setelan jas formal. Pria itu tak lain Sang CEO Tampan berhati dingin, Ravindra Damariswara.


Kedatangannya disambut seluruh warga sekolah dengan antusias. Ketampanannya yang memikat, membuat kaum hawa berdecak kagum. Namun, Ravindra terlihat dingin dan tak perduli. Meski para wanita mengelu-elukan namanya.


“Tuan Ravindra, lewat sini. Tuan Marvin sudah menunggu anda.” Kata Pak Albert assisten pribadinya. Sambil mempersilahkan Ravindra berjalan lebih dahulu memasuki tempat yang sudah dipersiapkan.


Irene yang sudah berada di dalam. Ia mencari keberadaan Long An. Nyonya Meri yang melihat Irene segera menyambut dengan riang. Keduanya kini telah menjadi teman baik.


“Ah, mamanya Long An. Kemarilah.” Sambut Nyonya Meri dengan gembira dan memeluk Irene dengan hangat. Irene juga tersenyum riang membalas pelukan Nyonya Meri.


“Di mana Long An?” Tanya Irene pada Nyonya Meri.


“Dia ada di ruang ganti bersama si kembar.” Jawab Nyonya Meri.

__ADS_1


“Aku ingin menemuinya terlebih dahulu. Sebelum An bertanding.” Pinta Irene.


“Tentu saja Aku akan mengantarmu.” Nyonya Meri mengantar Irene dengan senang hati.


Mereka langsung bergegas menuju ruang ganti dan mencari Long An.


“Mama!!!” Pekik Long An dengan wajah sumringah. Ketika melihat mamanya datang.


Irene langsung berlari dan memeluk putra kesayangannya itu.


“Putra mama yang hebat. Apa kamu sudah siap?” Tanya Irene dengan wajah sumringah.


Long An mengangguk dengan yakin. Kemudian, Irene menggenggam tangan putranya tersebut.


“Bertandinglah dengan bahagia. Mama akan memberikanmu kekuatan dari hati mama. Jadi, bersemangatlah Naga kecilku.” Irene memberikan semangat.


“An berjanji, akan membuat mama bangga hari ini dan seterusnya. Terimakasih mama, aku akan menerima kekuatan kasih sayangmu. Lihat aku terus ya ma. Mari bertanding bersama.” Kata Long An dengan senyum manis. Matanya yang sipit terlihat makin sipit ketika tersenyum.


“Tentu saja Naga kecilku tersayang.” Irene mengelus pipi anaknya penuh kasih sayang.


“Kemampuanku akan keluar sepenuhnya. Jika mama selalu mendampingiku, karena …”


“Karena kekuatan seorang anak, terletak pada kasih sayang ibunya.” Irene melanjutkan kalimat Long An. Mereka tertawa bersama dengan bahagia.


Pemandangan tersebut tak luput dari pengamatan Rosalind yang menatap penuh kebencian. Tangannya terlipat di dada. Tatapan mata tidak sukanya terhadap Irene kembali bergelora.

__ADS_1


“Tante, kenapa aku harus masuk kompetisi kata? Kenapa bukan kumite?” Tiba-tiba Alex datang dan bertanya sambil memasang wajah kesal.


Rosalind menghela nafas dalam. Keponakannya merengek disaat yang tidak tepat.


“Ini permintaan Tuan Marvin. Agar Long An, mewakili bertanding di kumite.” Jawab Rosalind. Kemudian melanjutkan kata-katanya sambil menepuk bahu Alex.


“Alex, tenanglah. Tante jamin, hal ini hanya akan berlaku hari ini. Untuk selanjutnya bocah itu hanya akan menjadi bocah biasa.” Rosalind menunjukkan senyum liciknya.


Alex juga ikut tersenyum jahat seperti tantenya.


“Jadi, hari ini anak itu akan celaka? Benar bukan tante?”


Rosalind mengangguk dengan penuh keyakinan. Lagi-lagi keduanya menunjukkan senyum licik.


Disaat bersamaan, di lorong sekolah AA School. Seorang pria bertinggi 165 cm dengan kulit sawo matang tengah berjalan dengan angkuhnya. Ia terlihat congkak. Dari lekuk wajahnya menggambarkan ia seorang pria yang licik. Pria itu berpakaian necis. Senyum sesekali mengembang diwajahnya. Pria itu tak lain adalah putra ke dua Marvin Damariswara yang bernama Liam Damariswara. Ia seorang pria yang tubuhnya kurus dan tampak lemah. Sangat berbeda dengan Ravindra yang tegap dan berotot. Liam berjalan menyusuri lorong sekolah dengan wajah angkuhnya. Seolah sekolah itu akan menjadi miliknya suatu hari nanti.


Di aula sekolah, Tuan Marvin sedang memberikan sambutan sekaligus membuka acara pertandingan antar sekolah tersebut. Tuan Marvin tampak masih gagah meski usianya telah memasuki usia yang tak lagi muda. Tuan Marvin begitu bangga, karena hari ini AA School terlihat lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Di bangku VIP terlihat Menteri Olahraga juga menghadiri pertandingan antar sekolah tersebut. Tidak lama kemudian, terdengar suara Tuan Marvin melalui microphone.


“Terimakasih untuk kehadiran kalian semua. Saya sungguh merasa sangat bahagia. Kalian semua datang dengan antusias menyaksikan pertandingan para bibit-bibit muda penerus bangsa. Atlet berbakat dari tiap sekolah yang akan unjuk gigi di acara ini. Kita semua patut bangga dengan generasi penerus bangsa yang memiliki semangat juang tinggi dalam pertandingan ini. Sudah sepatutnya kita mendukung dan memfasilitasi mereka. Agar mengharumkan nama bangsa dan menjadi emas permata di negara kita. Ke depannya, saya berharap para atlet muda berbakat ini dapat mengharumkan nama negara di kancah dunia. Mari kita buka acara ini dengan semangat yang meriah dan untuk para atlet muda berbakat mari bertanding secara sportif!” Tutup Tuan Marvin dengan senyum sumringah.


Suara tepukan para penonton terdengar membahana. Mereka tak sabar lagi menyaksikan pertandingan para atlet muda. Atlet muda yang diharapkan dapat meneruskan tongkat estafet para pendahulunya yang sudah menancapkan panji-panji negara di manca negara.


Setelah sambutan dari Tuan Marvin yang disambut meriah oleh para penonton. Maka acara pertandingan hari itu di mulai. Irene terlihat antusias di deretan penonton. Wajahnya tampak berseri-seri menyaksikan anak kebanggaannya akan bertanding. Inilah saatnya ia mengatakan pada dunia. Bahwa orang jatuh sekalipun akan bisa bangkit kembali. Bangkit, tidak harus pada dirinya sendiri. Melainkan bangkit dengan menunjukkan pada khalayak ramai. Bahwa seorang Irene yang yatim piatu, dapat membesarkan seorang anak genius yang hebat.


Tetapi, tanpa Irene ketahui. Di sebuah tangga sekolah yang sepi. Rosalind bertemu dengan seorang pria yang tak lain adalah Liam Damariswara. Mereka saling tersenyum. Namun, senyuman yang mereka pertontonkan adalah senyum licik. Di tangan Liam ia sedang memegang sebuah botol sprei.

__ADS_1


“Lumpur tetaplah akan kembali menjadi lumpur.” Kata Rosalind dengan senyum licik menghiasi wajahnya.


Apa yang sebenarnya Rosalind dan Liam rencanakan? Kenapa mereka bisa dekat seperti ini?


__ADS_2