Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 41


__ADS_3

... Tes DNA...


Siang itu, Ravindra sedang memimpin rapat dengan para Direksi Aksara Enterprise mengenai pembangunan wisma untuk para atlet. Ayah Ravindra sangat ingin membangun tempat beristirahat bagi atlet. Mau tidak mau, Aksara Enterprise sebagai perusahaan yang menyokong Yayasan Aksara tentu harus mendukung rencana tersebut.


“Bagaimana perkembangannya?” tanya Ravindra pada jajaran Direksi yang hadir.


“Sepertinya semua kelihatan lancar. Tuan Marvin dan Nona Rosalind berusaha keras melobby Menteri Olahraga. Kita pun harus menyiapkan dana dan memilih perusahaan kontraktor yang tepat.” salah satu Direksi menjawab.


“Lalu bagaimana dengan investor?” tanya Ravindra lagi.


“Mengenai itu, kita belum menemukan investor yang tepat. Harus ada yang menjadi maskot untuk menarik investor berinvestasi dalam proyek ini. Tentu dana yang dibutuhkan tidak main-main.” Direksi lain menjawab.


“Baiklah, aku akan memikirkan hal ini. Kita lanjutkan meeting di lain hari. Jika sudah ada perkembangan terbaru.” Ravindra menutup rapat hari itu.


Kemudian, Rava melangkah keluar ruangan rapat ditemani Pak Albert selaku assistennya. Tiba-tiba saat sedang berjalan, ia mendengar suara memanggilnya.


“Paman! Paman rambut landak!” panggil seorang anak kecil.


“Hei, dasar pria rambut landak!” panggil suara wanita.


Ravindra langsung berhenti. Pak Albert keheranan, kenapa tiba-tiba bosnya berhenti mendadak.


“Ah, bocah itu dan mamanya. Kenapa bisa kemari juga?” kata Ravindra pada dirinya sendiri. Lalu menoleh mencari sumber suara. Tetapi yang ia cari tak kelihatan batang hidungnya.


“Kemana bocah dan mamanya itu? Kenapa tiba-tiba tak ada?” Rava bertanya pada Pak Albert.


Pak Albert semakin kebingungan.


“Tuan, bocah dan wanita siapa yang anda maksud?”


“Barusan, aku mendengar suara bocah itu. Bocah karateka yang memiliki rambut sama sepertiku dan suara mamanya. Suara mereka jelas-jelas memanggilku barusan.” jawab Rava mencari ke sana kemari.


Pak Albert semakin mengerutkan keningnya.


“Bocah karate dan mamanya? Maksud anda Si Kecil Long An dan Nyonya Irene?”


Rava mengangguk, matanya masih mencari ke sana kemari.

__ADS_1


“Tuan, anda pasti salah dengar. Semenjak tadi, tidak ada siapapun yang memanggil anda.”


“Aku jelas mendengarnya. Tidak mungkin itu salah.”


“Tetapi, sungguh tidak ada siapapun selain saya.”


Rava hanya memijat kepalanya.


“Mungkin aku memang salah. Tetapi, kenapa tadi terdengar jelas mereka memanggilku.”


Pak Albert tersenyum seolah dia mengerti.


“Menurut saya, hal itu biasa terjadi. Jika anda merindukan seseorang. Seolah seseorang yang anda rindukan memanggil anda atau selalu berada di sisi anda.”


“Rindu? Apa itu rindu?” Rava bertanya dengan polos.


“Rindu adalah perasaan yang anda rasakan. Ketika jauh dari orang yang anda sayangi.”


Rava langsung terdiam mendengar jawaban Pak Albert. Selama ini, ia tak pernah mengalami perasaan seperti ini. Entah kenapa sejak pertama kali bertemu Long An. Ia merasakan memiliki ikatan dengan anak itu. Semakin hari hati dan pikirannya terasa berbeda. Ia seolah melihat Long An sama seperti dirinya.


Pak Albert sepertinya mengerti perasaan Ravindra.


“Tuan, minggu ini jadwal anda sedang senggang. Apakah bisa saya bantu mengatur pertemuan dengan Long An dan Nyonya Irene?”


“Kenapa aku harus bertemu mereka?” Ravindra balik bertanya dengan wajah memerah.


“Untuk mengungkapkan perasaan rindu anda pada keduanya.” jawab Pak Albert.


“Omong kosong.” sahut Rava dengan salah tingkah.


Pria dingin itu lantas berjalan mendahului Pak Albert. Pak Albert hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bosnya itu.


Namun, ketika Rava baru berjalan beberapa langkah. Tiba-tiba dia berhenti. Pak Albert yang melihat sikap Ravindra kembali bertanya-tanya. Apa bosnya mendengar suara Irene dan Long An lagi?


“Albert, kosongkan semua jadwalku minggu ini.” perintah Rava tiba-tiba. Tanpa menatap wajah assistennya tersebut. Sepertinya Rava malu-malu mengakui perasaannya. Padahal tempo hari, dia sudah mengatakannya pada Irene.


Mendengar perintah bosnya tersebut. Pak Albert langsung tersenyum. Seumur hidupnya, ini adalah perintah yang membahagiakan untuknya. Akhirnya tuan yang ia layani selama ini. Akan membuka hati dan mempercayai seseorang.

__ADS_1


Di tempat lain, sebuah Rumah Sakit yang cukup besar. Seorang wanita berambut kecoklatan mengenakan riasan mencolok sedang menunggu hasil tes miliknya. Ia mondar-mandir ke sana kemari. Seolah tidak tenang karena menunggu sesuatu.


“Nona Rosalind Birgita.” panggil seseorang.


Rosalind langsung menghampiri orang tersebut, yang tak lain adalah seorang laboran. Ia menyerahkan hasil tes yang diminta Rosalind beberapa minggu yang lalu.


“Nona, ini adalah hasil tes yang anda minta antara sample A dan sample B.”


Rosalind yang tak sabar, buru-buru membuka hasil laporan. Membacanya dengan cepat. Satu detik… dua detik… tiga detik… Hingga detik berikutnya. Raut wajah Rosalind berubah. Matanya membelalak membaca hasil laporan yang ia terima.


“Arghtt!!” Teriaknya kemudian.


Rosalind meremas hasil tes barusan. Di kertas laporan tersebut, bertuliskan bahwa hasil sample A dan sample B memiliki kecocokan 99%. Dinyatakan bahwa sample A adalah anak dari sample B.


“Sial! Ini sungguh menyebalkan. Harusnya, aku menyingkirkan wanita dan anaknya waktu itu!” Teriak Rosalind dengan kesal.


Kemudian, Rosalind menghubungi Liam.


“Di mana kamu?” tanya Rosalind dengan kesal.


Ada apa? Apa hasilnya sudah keluar? tanya balik Liam di seberang telp.


“Kita perlu rencana untuk menyingkirkan kedua orang itu. Aku akan menemuimu di tempat biasa.” jawab Rosalind sambil menahan amarahnya.


Beberapa minggu yang lalu. Rosalind berusaha mencari sample DNA Long An. Untuk dicocokkan dengan sample DNA Ravindra. Ia ingin membuktikan kebenarannya sendiri. Kini, setelah melihat hasilnya. Membuat gadis berwatak congkak tersebut seolah merasakan amarah yang membara. Kelicikannya pada Irene dan Ravindra di masa lalu. Malah membawa keberuntungan bagi Irene. Rosalind tak dapat membiarkan itu. Ia harus melakukan sesuatu.


Rosalind sungguh tak ingin. Apa yang sudah berada digenggamannya direbut orang lain. Terutama direbut oleh Irene. Wanita yang ia benci selama ini. Rosalind selalu menganggap Irene adalah saingannya. Wanita miskin yang menurut Rosalind tak pantas bersaing dengannya. Tidak untuk bersaing di masa lalu. Apalagi masa kini.


Wanita berambut kecoklatan tersebut bergegas pergi ke suatu tempat. Tempat ia biasa bertemu secara diam-diam dengan Liam. Selama ini, Rosalind memang mendambakan cinta Rava. Tetapi, Rava pria yang terlalu dingin. Jadi, saat Liam mendekatinya. Rosalind menyambut kehangatan adik tiri Ravindra tersebut. Keduanya menjalin hubungan diam-diam dan sering bertemu di sebuah villa.


Rosalind sebenarnya ingin bersanding dengan Ravindra. Alasannya, karena secara status Rava adalah putra sah keluarga Damariswara. Ia juga mewarisi kekayaan mendiang ibunya dan sudah barang tentu ayahnya suatu hari nanti. Jika Rosalind bersama Rava. Maka Rosalind akan menjadi wanita dengan status kelas sosial tertinggi. Hal itu akan menaikkan pamornya. Namun, ia yang tak tahan menghadapi sikap dingin Ravindra. Memilih menyambut cinta Liam secara diam-diam. Keduanya memiliki sifat yang sama. Terobsesi dengan kekayaan, serakah dan tamak akan harta benda.


Rencana apakah yang akan dilakukan Rosalind dan Liam untuk menyingkirkan Irene beserta Long An? Nantikan kisah selajutnya.


...***...


Terimakasih sekali bagi pembaca yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca dan mendukung cerita ini. Dukungan kalian sangat berharga. Semoga sehat selalu.

__ADS_1


__ADS_2