Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 21


__ADS_3

... Mulai Curiga...


Di sebuah rumah yang sederhana. Terdengar celoteh riang suara anak lelaki berambut seperti duri. Ia terlihat bersemangat ketika menceritakan banyak hal. Anak itu tak lain adalah Long An, Si Karateka Genius dari Timur.


“Mama, wuaah tempo hari aku sangat senang. Bisa berlatih dengan paman rambut landak.” Kata Long An dengan ceria. Sembari menunggu masakan ibunya siap.


“Hah, kamu memanggilnya paman rambut landak?” Tanya Irene terkejut.


Irene mulai khawatir. Jika sampai Ravindra tersinggung.


“Anakku, kenapa kamu memanggilnya seperti itu?”


“Aku mengikuti mama. Mama yang memanggilnya seperti itu. Bukankah itu lucu, paman rambut landak. Aku suka memanggilnya begitu.” Kata An sambil tertawa.


Sepertinya dia suka memberi julukan pada Ravindra.


Irene menjadi dilema. Jika ia melarang An untuk tidak memanggil seperti itu. Anaknya pasti murung. Apalagi Irene tak tega merusak kebahagiaan Long An yang sangat sederhana. Alhasil Irene diam dan bersiap dengan kemungkinan terburuk. Jika Ravindra menuntutnya.


“Mama, An tidak pernah merasa bahagia seperti kemarin. Rasanya sangat menyenangkan berlatih tanding dengan paman rambut landak.” Long An berkata sambil tertawa lebar. Menunjukkan deretan gigi mungilnya yang tersusun rapi.


“Kenapa An, begitu senang berlatih dengan paman itu? Bukankah kamu juga sering berlatih dengan paman Dareen? Apakah perasaan senangnya berbeda?” Tanya Irene heran.


Melihat Long An tak pernah seantusias ini. Menceritakan pengalaman latih tanding dengan seseorang.


“Ehm.. entahlah… di sini, Long An hanya merasa bahagia dan merasa lengkap.” Jawab Long An sambil menunjuk ke hatinya. Jawabannya begitu polos hingga membuat Irene terpaku untuk sesaat.


Memorinya kembali saat tempo hari ia lagi-lagi mencium aroma parfum yang khas. Sewaktu Ravindra melewatinya. Bau parfum yang sama dengan milik pria misterius yang menghamilinya.


Mungkinkah pria itu sama dengan pria yang menghamilinya? Irene hanya termenung memikirkan hal itu. Tidak lama kemudian, Irene memukul-mukul kepalanya.


Long An, yang memperhatikan mamanya memukul-mukul kepalanya. Langsung menepuk jidatnya sendiri. Di dalam hati Long An. Mungkin mamanya sudah kehilangan satu baut di kepala. Hingga seperti orang gila.


“Mama! Mama!! Sayurnya sudah mendidih!” Teriak Long An menunjuk-nunjuk ke kompor.


Sayur yang Irene buat sudah sangat mendidih. Hingga kuahnya bergejolak kemana-mana. Irene yang tersadar langsung berteriak dan segera mematikan kompornya.


“Syukurlah.” Kata Long An dan Irene bersamaan.


Keduanya menghela nafas dalam. Sedangkan Irene merutuki dirinya sendiri yang mulai berfikir macam-macam.


“Mama kenapa?” Tanya An penasaran.


Melihat mamanya seperti sedang melamun memikirkan sesuatu. Long An merasa cemas. Melihat Long An yang begitu perhatian. Irene tersenyum dan menggenggam tangan putra kecilnya.


“Mama, tidak memikirkan apapun. Mama hanya memiliki rencana mengajakmu jalan-jalan ke mall besok. Mama tidak ingin kamu terlalu tegang memikirkan pertandingan antar sekolah.” Irene menjawab dengan senyum hangat.


“Benarkah? Yey, jalan-jalan bersama mama.” Kata Long An bersorak gembira.

__ADS_1


“Tetapi habiskan terlebih dahulu makananmu. Lalu istirahatlah lebih awal.” Pinta Irene lembut.


Long An mengangguk dan segera memasukkan makanan ke mulutnya dengan lahap.


“Pelan-pelan makannya. Mama tidak akan meminta makananmu.” Irene tersenyum sambil membelai kepala Long An lembut.


Long An tersenyum lebar sambil mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya. Bocah berusia 10 tahun itu, entah kenapa merasa bahagia akhir-akhir ini. Semenjak bertemu paman berambut landak dan berlatih tanding dengannya.


Keesokan harinya, saat matahari mulai kembali ke peraduannya. Sinarnya yang tak lagi membakar kulit terlihat berwarna jingga. Begitu indah dan mempesona. Disaat itulah terlihat seorang wanita dengan paras yang menawan terlihat menggandeng jagoan geniusnya. Mereka tak lain adalah Irene dan Long An Si Karateka Genius dari Timur. Long An terlihat menggemaskan dengan rambut durinya. Pipinya sedikit bulat bakpao kemerahan. Ia mengenakan hoodie bergambar superhero Batman dipadukan dengan jeans pendek. Sepatu sport berwarna putih menambah penampilannya menjadi lebih trendy. Mata sipitnya membuat orang gemas jika melihat Long An. Long An kecil terlihat tampan.


Sedangkan Irene yang hidupnya mulai berubah sedikit demi sedikit, tampil sedikit modis. Ia mengenakan pakaian dress selutut. Di bahunya terslempang tas berukuran sedang. Mengenakan highheels yang tak terlalu tinggi. Membuat kakinya terlihat sedikit jenjang. Ditambah kulitnya yang putih bersih, membuat penampilannya memukau. Rambutnya sepunggung tergerai indah. Terkena pantulan cahaya. Setiap kali Irene tersenyum. Senyumnya begitu memikat. Irene benar-benar terlihat seperti mama muda yang menawan.


Keduanya bergandengan tangan dan berjalan-jalan melihat outlet-outlet yang ada di mall. Saat berjalan-jalan itulah Long An melihat si kembar dari kejauhan.


“Hei, ini milikku!” Teriak Chanmei.


“Lepaskan! Ini milikku!” Teriak Meichan tak kalah keras.


Rupanya mereka sedang berebut sepatu berwarna pink yang cantik. Lalu terlihat Nyonya Meri sedang pusing melihat anak-anaknya bertengkar seperti ini. Di tangan kiri dan kanannya banyak sekali menenteng barang belanjaan.


“Mama, itu si kembar dan Bu Meri.” Tunjuk Long An ceria bisa bertemu dengan temannya.


Irene segera melihat ke arah yang Long An tunjukkan. Sebelum Irene sempat berkata-kata. Long An sudah berlari menghampiri temannya itu.


“Halo, si kembar.” Sapa Long An ceria.


“Jangan panggil kami si kembar!” Teriak Meichan dan Chanmei bersamaan.


Long An hanya tertawa. Temannya itu memang lucu. Mereka kembar tetapi tidak mau dipanggil si kembar.


“Wah, ada jagoan kecil genius.” Sapa Nyonya Meri sumringah.


“Selamat sore bu Meri yang semakin cantik.” Balas Long An, kemudian dengan sopan menjabat tangan Nyonya Meri dan menciumnya.


“Ya ampun, kamu selalu sopan. Tidak seperti si kembar yang susah diatur.” Nyonya Meri berkata sambil melirik si kembar.


Si kembar bukannya menyadari dan belajar. Malah menjulurkan lidahnya. Meledek mamanya.


“Astaga, kalian berdua benar-benar membuatku darah tinggi.” Nyonya Meri terlihat kesal.


Si kembar dan Long An tertawa bersama. Melihat tingkah Nyonya Meri. Tidak lama kemudian, Irene datang dan menyapa.


“Halo, aku mamanya Long An.” Sapa Irene ramah.


Saat melihat Irene, mulut Nyonya Meri ternganga. Begitu juga dengan si kembar. Mengagumi kecantikan Irene yang alami. Meski penampilannya sederhana. Tetapi, semua itu justru menonjolkan aura kecantikan alaminya.


“Mama Long An memang cantik.” Nyonya Meri memuji.

__ADS_1


“Tidak juga, anda juga lebih cantik.” Balas Irene.


“Hihi, kalau mama kami cantik. Lalu yang jelek seperti apa tante?” Tanya Meichan sambil tertawa.


“Hihi, mungkin seperti wakil direktur. Si penyihir wanita.” Sahut Chanmei. Lalu si kembar tertawa bersamaan.


“Astaga, dasar anak nakal. Ah, kepalaku berdenyut melihat keusilan kalian.” Nyonya Meri mengeluh sambil memegangi kepalanya yang berat.


Irene dan Long An ikut tersenyum. Melihat tingkah keluarga Nyonya Meri.


“Apa mau jalan-jalan bersama?” Tanya Irene pada Nyonya Meri.


Mendengar tawaran Irene. Nyonya Meri langsung mengangguk pasti. Lantas mereka jalan-jalan bersama. Berkeliling mall dengan tawa ceria. Si kembar mengajak Long An bermain di Timezone. Sedangkan Irene dan Nyonya Meri pergi ke sebuah outlet parfum yang tak jauh dari Timezone. Irene melihat-melihat deretan parfum. Mencoba mencium parfum yang tersusun rapi disebuah rak.


Irene melihat-lihat dan entah kenapa tiba-tiba dia teringat sesuatu. Bau parfum pria tak dikenal. Pria yang telah membuatnya hamil. Meski Irene berusaha keras untuk memilih melupakan kejadian itu. Tetapi hatinya tergelitik juga untuk mencari tahu. Sebenarnya itu bau parfum apa, karena wanginya sungguh khas. Irene tak pernah mencium bau parfum yang seperti itu.


“Apa kamu mencari parfum? Aku bisa membantumu. Aku tahu sedikit-sedikit tentang parfum.” Tanya Nyonya Meri yang berdiri di samping Irene.


“Ah… mengenai itu. Saya sendiri juga tidak tahu. Parfum apa yang saya cari.” Jawab Irene juga tidak bisa mengatakan nama parfum yang ia cari.


“Astaga, jangan berbicara formal padaku. Santai saja, oke.” Kata Nyonya Meri, sambil membentuk tanda ok di tangannya.


Irene tersenyum dan senang, ia kini memiliki teman yang menyenangkan seperti Nyonya Meri.


“Katakan saja bau parfum itu seperti apa?” Tanya Nyonya Meri.


“Bau parfumnya sangat khas. Parfum yang tidak pernah aku cium di manapun. Baunya…. Baunya sepertinya wangi bunga. Ya… benar… seperti bunga. Tetapi bukan aroma bunga yang sering kita jumpai.” Jawab Irene mengingat-ingat aroma parfum tersebut.


Nyonya Meri terlihat berfikir sejenak. Bau parfum seperti wangi bunga. Tetapi bunga yang jarang ditemui. Nyonya Meri terlihat berfikir keras. Memikirkan parfum apa itu. Setelah beberapa saat. Nyonya Meri langsung menjentikkan jarinya.


“Aha!!! Sepertinya aku tahu. Tunggu.” Kata Nyonya Meri sembari berjalan ke arah penjaga outlet parfum. Meminta sebuah parfum.


Irene hanya memandangi dan menunggu Nyonya Meri. Tidak lama kemudian, Nyonya Meri yang bertubuh tambun itu datang membawa sebotol sample parfum.


“Coba cium bau parfum ini.” Pinta Nyonya Meri.


Irene sedikit ragu. Tetapi, kemudian perlahan ia mencium bau parfum yang dibawa Nyonya Meri. Irene mencium dengan hidung mancungnya yang mungil. Tidak lama kemudian, mata Irene terbelalak. Tangannya mulai gemetar. Bau parfum ini… bau yang sama persis dengan bau parfum pria yang telah menghamilinya.


Nyonya Meri tersenyum melihat Irene. Sepertinya parfum yang ia bawa barusan adalah parfum yang Irene cari.


“Ahaa, sudah kuduga. Aku ini memang ahli parfum. Parfum itu adalah parfum dari bunga Verbena. Parfum bunga Verbena yang asli sangat langka. Ini hanya imitasinya saja. Parfum itu sangat mahal. Hanya orang yang sangat kaya yang akan memakainya.” Nyonya Meri menjelaskan panjang lebar.


Irene terlihat diam saja. Memorinya masih mencerna semua hal yang ia dengar.


“Ah, aku ingat. Parfum langka seperti ini selalu dipakai oleh Tuan Ravindra Damariswara.” Lanjut Nyonya Meri sembari tersenyum.


Irene yang mendengar penjelasan dari Nyonya Meri. Seketika matanya terbelalak. Tak percaya dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


Tak mungkin…. pasti ini salah…. Kata Irene dalam hati.


__ADS_2