
... Apakah Papaku, Paman Rambut Landak?...
Di dalam kehidupan. Teka-teki maupun misteri akan selalu ada. Seolah di depan mata kita berdiri sebuah pintu. Ketika kita membuka pintunya. Maka akan ada pintu lagi. Begitu seterusnya tak pernah berakhir. Diantara semua pintu tersebut, terdapat misteri kehidupan yang harus kita jalani. Sama seperti kehidupan Long An si bocah genius yang sedang mencari ayahnya. Ia masih ingin tahu siapa ayahnya. Jikalau nanti diberi kesempatan bertemu. Long An tidak meminta apa-apa selain bisa melihat wajah ayahnya. Sehingga ia bisa menyelesaikan gambar sketsa wajah seseorang yang mengalirkan darah ditubuhnya.
“Osh.” Suara ketiga anak berusia 10 tahun bersamaan.
Ketiga anak tersebut menamakan dirinya sebagai Triple Kancil. Mereka sedang berlatih karate. Kali ini, mereka berlatih karate di rumah Si kembar. Triple Kancil berlatih dengan semangat. Mereka mempersiapkan diri jika kedepannya ada seleksi untuk atlet Nasional anak umur 10 tahun. Si kembar belajar kumite dari Long An. Mereka tidak cuma ingin menguasai kata. Namun juga ingin seperti Long An. Bisa bertarung dengan memadukan semua teknik dalam karate.
“Mendiang Master Li, yang pernah menjadi guruku. Pernah mengatakan, untuk bisa hebat dalam kumite. Kita harus menyempurnakan kuda-kuda maupun kihon. Jangan terburu-buru memadukan semua teknik ke dalam kumite.” Kata Long An pada si kembar.
Di sini, meski usia mereka sama. Tetapi, Long An lebih unggul karena memiliki banyak pengalaman. Ingatannya tajam sehingga dengan mudah melahap setiap gerakan dalam karate. Jadi, ia yang menjadi guru untuk teman-temannya.
“Aku mengerti.” Kata Meichan.
“Aku juga mengerti.” Sahut Chanmei.
“Tetapi, jangan lupa untuk selalu fokus. Berlatih pernafasan dan mengenal baik seberapa kuat tubuhmu. Jangan pernah takut untuk mengeluarkan seluruh kemampuan.” Kata Long An layaknya seorang guru cilik.
“Sekarang, kalian berdua. Serang aku secara bersamaan.” Lanjut Long An.
Long An bersiap menggunakan kuda-kuda berat belakang yang dinamakan Ko Kutsu Dachi. Sedangkan si kembar menggunakan Zen Kutsu Dachi yaitu kuda-kuda berat depan. Tanpa banyak berkata, kedua saudara kembar langsung menyerang Long An. Long An dapat melihat serangan si kembar yang menggunakan teknik Gyaku Zuki yaitu pukulan ke arah perut. Tetapi kaki tidak melangkah. Long An segera menangkis dengan Soto Ude Uke yaitu tangkisan tengah yang datangnya dari belakang telinga.
“Hya!!” Suara tangan mereka saling beradu.
Si kembar hendak menyerang lagi, karena mengetahui serangan mereka ditangkis oleh Long An dengan mudah. Long An dapat membaca gerakan si kembar. Sebelum itu terjadi Long An, segera menyerang terlebih dahulu dengan pukulan dan dorongan yang dinamakan Morote Zuki.
“Hya!” Teriak Long An.
“Aduh!” Teriak Si kembar, karena serangan Long An tepat mengenai keduanya.
Tetapi, Long An segera menarik tangannya agar tidak melukai si kembar. Ketika melakukan kumite seperti ini. Harus bisa mengontrol kekuatan. Supaya jangan mencederai lawan tanding. Itu perlukan bagi atlet seni bela diri. Memiliki kemampuan bela diri bukan untuk melukai lawan. Tetapi, untuk saling menjaga dan melindungi diri.
Long An yang mengetahui serangannya mengenai si kembar. Buru-buru minta maaf.
“Maafkan aku. Kalian tidak terluka bukan?”
“Tentu saja tidak. Aku tahu, kamu langsung menariknya.” Kata Meichan.
“Itu benar. Aku tak dapat membayangkan, jika kamu benar-benar serius. Uuuh pasti akan sakit.” Timpal Chanmei.
“Tetapi kami sangat senang. Bisa berlatih dengan jagoan sepertimu. Ini membuat kami bersemangat!” Lanjut si kembar bersamaan.
__ADS_1
Long An tertawa lebar dan merasa bahagia memiliki sahabat seperti si kembar. Mereka kemudian melanjutkan latihan. Nyonya Meri yang melihat para Triple Kancil bersemangat berlatih karate. Membuatnya merasa bahagia sekali. Lalu membawakan minuman untuk mereka. Saat melewati kebun bunga miliknya. Nyonya Meri melihat bunga warna-warni. Tiba-tiba otaknya seperti tersetrum. Sekarang ia ingat sesuatu.
“Ya Tuhan! Aku ingat!! Anak-anak aku ingat!!!” Teriak Nyonya Meri menjatuhkan gelas minuman yang sedianya akan ia berikan pada Triple Kancil.
Triple kancil langsung menoleh ke arah Nyonya Meri. Mereka terkejut dan menghentikan latihan. Terutama Long An yang terkejut dengan teriakan Nyonya Meri. Nyonya Meri yang mendekat langsung memegangi tangan Long An.
“An, ibu ingat sesuatu. Tempo hari sewaktu kita bertemu di mall. Mamamu juga mencari bau parfum yang khas. Aish, kenapa aku melupakan hal sepenting ini.” Ucap Nyonya Meri, suaranya masih terengah-engah.
“Be… benarkah itu?!” Long An terbelalak mendengar perkataan Nyonya Meri.
Nyonya Meri mengangguk, “Ya, aku ingat sekarang. Mamamu mencari sebuah bau parfum yang khas. Bau yang ia sendiripun tak tahu. Bau parfum apa itu. Jadi, aku membantunya mencarikan bau parfum yang tepat.”
“Lantas?” Long An kembali bertanya.
“Bau parfum yang mamamu cari seperti wangi bunga yang jarang sekali ditemui. Bau parfum itu adalah parfum bunga Verbena. Parfum bunga Verbena sangat langka. Sehingga hanya orang kaya yang memakai parfum langka tersebut.”
“Lalu, apakah petunjuknya?” Long An bertanya karena masih tak mengerti.
Si kembar mengernyitkan keningnya, karena sama dengan Long An. Mereka tak bisa mengerti, bagaimana bisa bau parfum bunga Verbena bisa dijadikan petunjuk mencari ayah Long An.
“Maksudku, aku tahu betul siapa yang menggunakan parfum bunga Verbena.”
“Siapa?!!” Tanya Triple Kancil bersamaan.
“Orang itu adalah Tuan Ravindra Damariswara.”
“Apa??!!” Pekik Triple Kancil bersamaan, karena terkejut.
“A… apa itu mungkin? Paman rambut landak adalah papaku?” Tanya Long An. Merasa masih ada yang mengganjal.
“Ibu tahu, itu masih sebatas dugaan. Apakah mamamu tidak mengatakan sesuatu lagi?”
“Mama mengatakan mengenai tato Naga di lengan kiri seseorang.” Jawab Long An.
Nyonya Meri terlihat berfikir. Ia kemudian membuka sosial media Instagram miliknya. Mencari – cari sesuatu.
“Mama, kenapa disaat sepenting ini. Malah membuka Instagram?” Tanya Chanmei.
“Mama, kenapa membuka Instagram?” Timpal Meichan.
Nyonya Meri hanya fokus menscroll layar ponselnya. Tak perduli dengan perkataan anaknya. Hingga beberapa menit kemudian. Wajah Nyonya Meri berbinar.
__ADS_1
“Ketemu!” Pekiknya riang.
“Ada apa?” Long An dan si kembar bertanya.
“Mama teringat sesuatu. Ah, untung saja ingatan mama sedang tidak ditenggelamkan oleh lemak. Jadi, mama mencari tahu apakah di lengan kiri Tuan Ravindra memiliki tato Naga.”
Seketika Long An langsung menatap layar ponsel Nyonya Meri.
“An, lihatlah foto ini. Ini adalah gambar yang diambil ketika sekolah sedang meresmikan lapangan basket yang baru. Tuan Marvin dan Tuan Ravindra membuka acara tersebut. Tuan Ravindra mengenakan pakaian ala anak basket tanpa lengan. Jadi, jika kita perbesar fotonya seperti ini. Maka lihatlah.” Nyonya Meri langsung memperbesar bagian Tuan Ravindra.
Sedetik kemudian, mata Long An langsung terbelalak.
“Aku melihatnya! Tato Naga di lengan kiri Paman rambut landak!” Teriak Long An.
Si kembar langsung merebut ponsel mamanya dan melihat langsung. Mata keduanya juga terbelalak.
“Memang benar! Ada tato Naga di lengan kiri Tuan Tampan!” Pekik Si kembar. Sungguh kebetulan yang membingungkan.
Long An terdiam dan wajahnya menunjukkan keseriusan.
“Tetapi, bukti tidak langsung belum cukup. Membuktikan paman rambut landak adalah papaku.”
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Nyonya Meri dan Si kembar.
“Untuk medapatkan bukti secara langsung. Aku membutuhkan bantuan kalian semua.”
“Katakan bantuan apa itu? Kami akan membantumu dengan sangat sukarela.” Kata Nyonya Meri yang didukung dengan anggukan Si kembar.
“Pertama, aku membutuhkan Nyonya Meri untuk menanyakan ke perusahaan parfum penyedia bunga Verbena. Mereka pasti memiliki list nama yang memesan parfum bunga tersebut. Pasti mudah mencari tahu. Jika tidak banyak orang memakai parfum itu. Gunakan saja nama AA School, orang pasti mau membantu.” Jawab Long An.
“Itu ide bagus. Ibu juga akan mencari tahu di mana Tuan Ravindra sering memesan parfum bunga Verbena.” Nyonya Meri menjawab dengan bersemangat.
“Lalu kami membantu apa?” Tanya Si kembar.
Long An tersenyum seolah sudah mendapatkan ide cemerlang di kepalanya.
“Mari piknik bersama.” Jawab Long An dengan tersenyum riang.
Apa yang sebenarnya direncanakan si genius Long An? Untuk membuktikan Paman rambut landak adalah ayahnya? Nantikan di cerita selanjutnya.
...***...
__ADS_1
Terimakasih untuk para pembaca dukungannya. Itu sangat berharga melebihi emas pertama. Semoga kalian sehat selalu.