
...Rintihan Hati Irene...
Malam semakin larut, Irene yang sekarang tinggal sendirian di rumahnya hanya bisa menangis terisak. Rasa sakit terus menyayat hatinya. Tempo hari, ia tak menunjukkannya di depan Long An maupun Ravindra. Tetapi yang sebenarnya, hatinya juga terluka. Rumah yang biasanya terdengar tawa riang dari Si kecil Long An, sekarang hanya keheningan yang tertinggal. Rasa sakit sedang dirasakan oleh Irene. Lagi-lagi ia harus terjatuh ke lubang yang sama, lubang penderitaan yang tiada berkesudahan. Semua yang Irene lakukan hanyalah sebuah keterpaksaan. Demi melindungi orang-orang yang ia sayang. Irene tahu, apa yang menjadi pilihannya akan sangat melukai hati Ravindra. Tetapi, inilah yang bisa ia lakukan. Setidaknya, putra kesayangannya akan aman bersama Rava.
Flashback
Tempo hari di villa milik Rosalind. Irene berada di kamar utama. Di sana, sudah ada Rosalind dan juga Liam. Mereka tertawa licik sembari menatap Irene yang tak berdaya. Liam dengan santai meminum wine hingga habis. Rosalind melipat tangannya di dada. Memberikan pengarahan pada Irene.
“Ingatlah ini, kamu harus bermesraan bersama Liam. Supaya ketika Ravindra datang. Ia percaya kamu memang memiliki hubungan dengannya. Kamu harus bisa meyakinkan Ravindra. Bahwa dirimu sedang melakukan hubungan intim dengan Liam. Katakan padanya, bahwa kamu tidak merasa cocok bersama Rava dan yang paling utama adalah balas dendam padanya. Buat dia percaya dengan itu semua. Kamu mengerti?”
Irene menganggukkan kepalanya. Rosalind tersenyum jahat. Lantas memegangi dagu Irene. Menatap dengan tatapan mengejek.
“Lihatlah, siapa kini yang lebih berkuasa? Makanya jangan berani menantang seorang Rosalind Birgita. Sekarang rasakan akibatnya.”
“Memang benar, aku tak berdaya sekarang ini. Mungkin Ravindra dan semua orang akan menganggapku wanita rendahan. Tetapi di mata seorang ibu. Aku akan dikenang sebagai ibu yang melindungi keluarganya. Berbeda denganmu, wanita yang hanya bisa menghancurkan kehidupan orang lain.” Irene tak ingin kalah dan menatap tajam ke arah Rosalind.
Plak!
Seketika sebuah tamparan keras melayang di pipi Irene. Irene hanya bisa tersenyum mengejek Rosalind. Rosalind menatap tajam dan penuh amarah. Liam segera bertindak menengahi keduanya.
__ADS_1
“Hentikanlah ini semua. Mari lakukan bersama. Ros, segeralah temui Ravindra. Kita selesaikan semua rencana ini.” kata Liam dengan santai sembari membuka pakaian dan celananya.
Irene yang melihat Liam melepas pakaiannya. Segera membuang muka. Ia melakukan ini untuk melindungi orang yang ia sayangi.
“Ingatlah, jangan pernah berbuat macam-macam. Keselamatan mereka ada di tanganmu.” ancam Rosalind dengan tatapan tajam.
Flashback End
Irene juga merasakan sesak di dadanya. Saat menatap mata Ravindra. Ia tahu, pasti Rava merasakan sakit melebihi dirinya. Ravindra yang sudah mempercayakan hatinya untuk dijaga. Ternyata dikhianati oleh Irene. Namun, itu semua Irene lakukan hanya untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi. Terutama melindungi Si kecil Long An. Ia harus mengorbankan dirinya. Tak pernah terlintas di benak Irene bahwa ia akan mengkhianati Ravindra. Perasaannya tulus pada pria sebaik Rava. Tidak terbersit sekalipun untuk membalas dendam atas tindakan Ravindra 10 tahun yang lalu. Justru Irene sudah menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Setidaknya kini, Irene mengetahui bahwa kejadian 10 tahun yang lalu itu. Bukanlah kesalahan Ravindra sepenuhnya. Tetapi merupakan bagian rencana licik Rosalind. Di tengah malam tersebut. Irene hanya bisa memeluk fotonya ketika bersama Rava dan Long An. Tangisnya mengalir sejadi-jadinya. Membasahi bantal yang menjadi saksi bisu betapa ia juga merasakan kesedihan yang teramat sangat.
Sembari menangis, Irene melihat pot bunga Verbena yang sudah tumbuh tunas kecil. Sebenarnya ia ingin sekali memberikannya pada Ravindra. Tetapi belum sempat ia berikan karena ada kejadian seperti ini. Apakah kebahagiaan akan terlepas lagi dari genggaman tangannya? Disaat Irene sedang menangis, Tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya panggilan telp tersebut datangnya dari Rosalind.
Irene menyeka air matanya. Tatapan matanya berubah tajam.
“Aku sudah melakukan apa yang menjadi keinginanmu. Jadi jangan pernah mengusik orang-orang yang aku sayangi.”
Rosalind terdengar terkekeh di seberang telp.
Apa itu termasuk ibumu?
__ADS_1
“Meski aku sangat membenci atas semua tindakannya di masa lalu. Bagaimanapun juga, dia adalah ibuku. Jadi, jangan berpikir untuk menyakitinya juga.” Irene menjawab dengan tegas.
Inilah yang sangat aku benci darimu Irene Maxzella. Wanita miskin yang polos dan naif. Begitu mudahnya kamu memaafkan seseorang yang telah membuangmu. Aku juga sangat membencimu karena mengetahui kamu adalah putri kandung dari mama. Aku tidak pernah menyangka akan hal itu. Padahal aku sudah menganggap ibumu adalah mama kandungku sendiri. Aku sangat mempercayainya. Tetapi setelah mengetahui kalian memiliki hubungan ibu dan anak. Semua itu membuatku menjadi membencinya. Rosalind mengatakan dengan nada penuh kebencian.
“Itulah perbedaan antara kita. Kita memiliki kualitas pribadi yang berlawanan. Kamu boleh saja tertawa bahagia. Tetapi ingatlah, bahwa kegelapan tidak akan pernah abadi. Jangan lupakan masih ada cahaya yang akan menyibak gelap.”
Rosalind hanya mendecih mendengar ucapan Irene.
Terserah saja apa katamu. Tetapi ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan.
“Katakan.”
Pergilah sejauh mungkin dari sini. Jangan pernah tampakkan batang hidungmu satu kalipun.
“Apa tempo hari tidak cukup untukmu? Aku sudah menjauhi Ravindra dan terpisah dari anakku?” tanya Irene yang tidak terima.
Jika kamu tetap berada di sini. Anakmu yang genius itu. Pasti tidak akan tinggal diam. Jadi satu-satunya cara supaya bocah itu tidak ikut campur. Pergilah sejauh mungkin dari sini. Aku tidak main-main dengan ucapanku. Jika kamu mengelak atau melanggar perintahku. Aku tidak akan segan melukai anakmu atau Ravindra. Camkan itu!
Seusai Rosalind mengucapakan kalimatnya. Telp mereka pun berakhir. Menyisakan Irene yang terduduk di lantai. Air matanya kembali tumpah. Kesedihan dan rasa sakit mulai merayap di dalam hatinya. Ia harus kembali menelan pil pahit kehidupan. Apakah ia harus ditakdirkan menderita seperti ini? Apakah dia tidak bisa hidup dengan bahagia? Bersama putranya maupun seseorang yang telah memberikannya cinta. Irene hanya bisa menangis tersedu-sedu di tengah pekatnya malam. Menangisi takdir kemalangan hidupnya yang tak pernah berhenti.
Tetapi, Irene ikhlas menerimanya. Jika memang hal ini demi melindungi orang-orang yang ia sayangi. Ia akan pergi sejauh mungkin. Di mana tidak ada orang yang akan menemukannya.
__ADS_1
An, maafkan mama. Mama sangat menyayangimu. Meski mungkin kamu membenci tindakan mama. Tetaplah ingat kenangan kita bersama. Narasi Irene.
Langit terlihat hitam pekat. Sinar tak lagi nampak. Mengiringi kesedihan Irene. Kesedihan yang ia rasakan kembali. Kebahagiaan yang ia rasakan hanya sekejap mata. Kini, kebahagiaan itu juga harus kembali terlepas dari tangannya. Irene hanya bisa pasrah menerima takdirnya.