Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 44


__ADS_3

... Memetik Bunga Lotus...


Senja kala saat Sang Surya hendak kembali ke peraduannya. Sebuah mobil limosin mewah berwarna hitam terpakir di depan rumah Irene. Pak Albert terlibat pembicaraan serius dengan Irene.


“Nyonya, anda harus ikut saya sekarang.” pinta Pak Albert.


“Ke.. ke.. kenapa? Kenapa saya harus ikut dengan anda?” tanya Irene yang kebingungan.


Tiba-tiba Pak Albert mendadak datang ke rumahnya seperti ini.


“Saya hanya diutus Tuan Ravindra untuk menjemput anda.” jawab Pak Albert dengan sopan.


“Kenapa pria rambut landak ah maaf… maksud saya Tuan Ravindra menyuruh anda menjemput saya?” lagi-lagi Irene bertanya karena ia tidak mengerti.


“Tuan Ravindra meminta anda datang, karena tuan meminta pertanggungjawaban anda.”


“A… apa? Pertanggungjawaban apa?” Irene semakin tidak mengerti.


“Silahkan ikut saya dahulu. Supaya anda tidak bingung.”


“Ta.. tapi, saya harus menjemput Long An.”


“Mengenai Si kecil Long An. Tuan Ravindra sudah memerintahkan saya untuk menjemputnya. Jadi, Nyonya tenang saja.”


“Silahkan Nyonya.” pinta Pak Albert mempersilahkan Irene masuk ke dalam mobil.


Irene masih kelihatan bingung. Kenapa tiba-tiba dia dijemput seperti ini. Lantas kenapa Ravindra meminta pertanggungjawabannya? Apa ini mengenai yang waktu itu? Irene pernah menendang Ravindra dan mengoloknya dengan panggilan rambut landak? Meski seribu satu pertanyaan berputar di kepala Irene. Irene tetap masuk ke dalam mobil. Kebingungan terlihat jelas dari raut wajah cantiknya. Tidak lama kemudian, limosin tersebut berjalan menuju suatu tempat.


Tanpa Irene sadari, tak jauh dari rumahnya. Sebuah mobil kodok mini berwarna pink yang dikendarai Nyonya Meri sedang mengawasi. Di bangku belakang, Long An dan Si kembar tertawa cekikikan.


“Anak-anak, berpeganganlah. Kita meluncur ke TKP.” kata Nyonya Meri bersemangat.


“Asiap!!!” teriak Triple Kancil tak kalah semangat.


Kemudian mobil VW berwarna Pink tersebut menyusul limosin yang dinaiki Irene. Apakah yang akan mereka lakukan?


Tak terasa senja telah berganti menjadi malam. Malam yang dipenuhi banyak bintang. Bintang yang berpendar begitu indah. Mobil limosin mewah tersebut berhenti disebuah taman. Lantas Pak Albert membukakan pintu dan mempersilahkan Irene turun dari mobil. Irene benar-benar kebingungan. Ia dibawa ke mana.


“Nyonya, saya sebenarnya ingin memanggil anda nona karena anda terlihat lebih muda dari usia anda. Tetapi, anda seorang ibu. Jadi saya memanggil anda nyonya.” kata Pak Albert ramah.


“Oh, tidak masalah anda memanggil saya apa atau panggil saya Irene saja.”


“Baiklah, silahkan masuk ke dalam. Tuan Ravindra sudah menunggu anda.” Pak Albert mempersilahkan Irene.

__ADS_1


Irene kelihatan semakin bingung. Ia berdiri di depan gerbang sebuah taman bertuliskan Aksara Park. Mata Irene memperhatikan sekelilingnya. Tamannya begitu gelap. Benarkah ini tempat yang benar? Irene sedikit ragu. Lantas menoleh ke arah Pak Albert. Pak Albert hanya tersenyum dan mempersilah Irene masuk tanpa ragu.


Meski diliputi perasaan ragu dan bingung. Irene tetap berjalan perlahan. Memasuki jalan setapak yang cukup gelap. Ia sempat ragu. Namun, ia tetap berjalan di tengah gelapnya taman tersebut. Disaat Irene sedang berjalan. Tanpa ia duga, sebuah lampu menyala. Semakin ia berjalan, lampu itu menerangi langkahnya. Irene terperanjat melihat tiba-tiba jalan yang ia lewati terdapat lampu yang menyala.


Lampu itu terlihat berwarna-warni.


Belum habis rasa terkejutnya. Tiba-tiba sebuah lampion yang tergantung di pepohonan menyala. Disusul lampion lainnya, membuat suasana taman yang tadinya gelap terlihat semarak. Irene hanya bisa membuka mulutnya menatap pemandangan yang ada di sekitarnya. Tanpa ia duga apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba lampu di seluruh taman menyala terang benderang. Lampu berwarna-warni tergantung di pepohonan. Membentuk pola yang indah. Tepat, disaat lampu menyala. Ravindra berdiri di depan Irene. Irene yang tadinya berdecak kagum melihat pemandangan barusan. Ia terdiam sejenak. Menatap ke arah Ravindra. Begitu juga dengan Rava. Ia menatap dalam ke arah Irene. Untuk sesaat mereka saling bertatapan. Menatap melalui sorot mata yang dipenuhi cinta.


Disaat menatap Ravindra, Irene teringat ketika berkemah bersama tempo hari. Ravindra yang kala itu tiba-tiba bersandar di bahu Irene mengatakan sesuatu. Mengatakan hal yang membuat jantung wanita yang memiliki kecantikan alami tersebut berdegup kencang.


“Apakah kamu bersedia, mencairkan es dalam hatiku dan menghangatkannya? Tentu saja bersama si kecil Long An. Aku rasa, akan lengkap jika seperti itu. Jadi, bisakah aku merasakan kehangatan hatimu?” tanya Rava kala itu sambil menatap dalam ke arah Irene.


Kini keduanya saling berhadapan. Tatapan keduanya penuh arti. Irene dan Ravindra saling merasakan degup jantung mereka berdenyut lebih kencang. Tidak lama kemudian, terdengar suara Irene memecah keheningan.


“Hei, pria rambut landak? Apa ini?”


“Dasar wanita aneh. Apa kamu tidak melihat ini semua adalah lampu. Lagipula kenapa kamu dan Long An suka sekali memanggilku rambut landak?” tanya Rava sambil protes.


Irene langsung berjalan mendekat ke arah Rava. Ia menatap dengan mata melotot.


“Kamu tidak suka? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, sesuai fakta. Bahwa rambutmu memang seperti rambut landak.” ledek Irene.


“Lagipula, kenapa kamu memanggilku ke tempat seperti ini? Lalu apa maksudnya meminta pertanggungjawabanku?” tanya Irene melanjutkan ucapannya.


“Hei, pria rambut landak. Apa kamu tidak bisa bicara? Cepat jawablah, apa maksudnya meminta pertanggungjawabanku? Aku sedang buru-buru dan ingin menjemput Long An. Jika kamu tak menjelaskan apapun. Aku akan pergi.” kata Irene sambil berbalik.


Tetapi, sebelum Irene sempat berbalik. Rava segera memegangi tangan Irene. Irene terkejut Rava memegangi tangannya.


“Jangan pergi dulu.” kata Rava dengan nada yang lebih lembut.


Perlahan, Irene kembali menghadap ke arah Rava. Menatap pria yang ada di depannya ini. Wajah Rava terlihat berubah. Ia tak lagi memasang wajah dingin. Rava menatap dalam ke arah Irene. Membuat degup jantung Irene kembali bertalu-talu.


“Aku tidak tahu, cara mengatakan perasaanku. Jadi, aku menyiapkan ini semua.” kata Ravindra dengan nada yang lebih lembut.


Tepat diujung kalimat Ravindra. Lampu berwarna-warni menyala di belakang Ravindra. Menampilkan pemandangan sebuah kolam yang cukup luas dengan bunga lotus yang bermekaran. Sinar lampu membuat bunga lotus yang bermekaran terlihat indah dan menawan. Membuat Irene berdecak kagum menyaksikan sesuatu yang belum pernah ia lihat sama sekali.


“Ikutlah denganku.” kata Ravindra lembut.


“Ikut kemana?” tanya Irene kebingungan dengan ini semua.


Rava hanya menggenggam tangan Irene dan mengajaknya berjalan ke kolam.


“Memetik bunga lotus bersama. Long An mengatakan, kamu menyukai bunga lotus.”

__ADS_1


Lantas Rava mengajak Irene berjalan menuju kolam. Irene terlihat semakin kebingungan kenapa tiba-tiba Rava menjadi manis seperti ini?


“Tu… tunggu… apa kita harus berjalan di atas air?” tanya Irene yang kebingungan, karena melihat Rava berusaha berjalan di atas air.


“Ya, kita akan berjalan di atas air dan memetik bunga lotus.”


“Apa kamu gila? Kita bukan ninja yang bisa berjalan di atas air?”


“Percayalah padaku, seperti hatiku yang ingin mempercayaimu.” jawab Rava sembari menatap Irene dengan tatapan hangat. Tatapan yang tak pernah Rava berikan pada wanita manapun.


Mendengar perkataan Rava membuat Irene terpengarah. Lagi-lagi jantungnya berdegup dengan kencang. Entah kenapa, perlahan kakinya mengikuti langkah Rava yang berjalan di atas air. Rava melangkah lebih dahulu. Kakinya benar-benar berjalan di atas air. Membuat Irene terbelalak tak percaya.


“Apa kamu sedang bermain sulap?” Irene benar-benar kaget dibuatnya.


“Aku sedang meminjam trik pesulap saja.” jawab Rava dengan santai.


Irene berusaha berjalan di atas air mengikuti Rava. Antara takut tetapi ia ingin tetap mencoba. Perlahan kaki Irene menapak di atas air. Irene terkejut dan saking terkejutnya ia hampir terpeleset. Namun, dengan sigap Rava memegangi tangan Irene. Untuk sesaat mereka saling bertatapan lembut. Wajah keduanya terlihat sama-sama memerah.


“Aku akan memegangi tanganmu. Percaya saja padaku.” kata Rava.


Irene yang merasakan Rava begitu lembut. Membuat jantungnya semakin berdegup kencang. Malam ini, Rava begitu manis dan juga tampan. Kemudian, mereka berjalan ke tengah kolam. Berjalan di atas air. Seolah hal ini seperti sihir. Bisa berjalan di atas air. Rava mengajak ke tengah kolam. Keduanya dikelilingi bunga lotus yang sangat cantik.


“Cantik sekali.” Pekik Irene kelihatan bahagia.


Rava kemudian berjongkok dan memetik bunga lotus berwarna merah. Kemudian memberikannya pada Irene.


“Seumur hidupku, aku tidak pernah melakukan ini pada wanita manapun. Aku tidak tahu cara mengatakan perasaanku. Tetapi, beberapa hari ini. Perasaanku yang dingin terasa hangat. Jika berada di dekatmu. Ucapanku tempo hari, benar-benar serius. Apakah kamu mau menerima hatiku yang dingin dan menghangatkannya?” tanya Rava sembari menatap Irene dengan dalam.


Lantas mengeluarkan sebuah kotak. Di dalam kotak tersebut terdapat liontin dengan bandul berbentuk bunga lotus. Terlihat sangat cantik. Membuat Irene terbelalak tak percaya dengan ini semua.


“Maukah kamu menerima hatiku? dan menghangatkannya?” tanya Rava lagi.


Irene sungguh tak percaya. Seumur hidupnya tak pernah ada seseorang yang memperlakukannya semanis ini. Ia terdiam sejenak.


“Tetapi, kamu tahu. Aku sudah memiliki Long An. Apa kamu tidak penasaran dengan masa laluku?” tanya Irene serius.


“Untuk menjalin ikatan dengan seseorang. Tidak perlu menanyakan masa lalunya. Hatiku mempercayaimu. Jadi, aku akan menerima masalalumu.” jawab Rava begitu manis. Hingga membuat Irene terpengarah dan merasa terharu.


“Tetapi, sebelum aku menerima hatimu. Aku ingin menanyakan satu hal.”


“Katakanlah.”


“10 tahun yang lalu. Apakah kamu masih ingat? Jika pernah bermalam dengan seorang gadis?” tanya Irene serius pada Ravindra.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Irene. Membuat Ravindra terkejut. Matanya terbelalak tak percaya. Kenapa Irene tiba-tiba bertanya seperti itu. Jawaban apakah yang akan Ravindra berikan? Apakah Irene akan menerima cinta Rava? Jika Rava adalah pria tak dikenal yang pernah menidurinya dahulu?


__ADS_2