
... Sebuah Cincin...
Di sebuah ruang kerja yang terletak di lantai atas Aksara Enterprise. Seorang pria berambut berdiri sedang berdiri sembari melipat tangannya di dada. Ia menatap pemandangan gedung pencakar langit di sekelilingnya. Pria itu tak lain adalah Ravindra Damariswara. Rava panggilan akrabnya tengah memikirkan hal yang ia lakukan semalam bersama Irene. Malam yang ia persiapkan bersama Long An, untuk mengungkapkan perasaannya pada Irene.
Flashback
“Tetapi, sebelum aku menerima hatimu. Aku ingin menanyakan satu hal.”
“Katakanlah.”
“10 tahun yang lalu. Apakah kamu masih ingat? Jika pernah bermalam dengan seorang gadis?” tanya Irene serius pada Ravindra.
Pertanyaan Irene malam itu. Membuat Ravindra berusaha mengingat kejadian 10 tahun yang lalu. Kejadian 10 tahun itu bukanlah kejadian yang mudah diingat karena rentang waktunya begitu lama. Dibenak Ravindra, tertanam kebingungan yang mengelilinginya. Disaat berpikir, Rava teringat sesuatu. Ia segera bergegas mengambil sebuah kotak persegi di laci meja kerjanya. Kotak persegi tersebut sudah lama ia simpan.
Rava segera membuka kotak persegi yang ternyata berisi sebuah cincin. Cincin dengan ukiran bunga lotus dibagian matanya. Seketika pikiran Ravindra melayang-layang. Berusaha mengingat kejadian 10 tahun yang lalu. Namun, sebelum ingatannya kembali ke waktu 10 tahun yang lalu. Tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar ruang kerjanya.
“Nyonya, Tuan Ravindra sedang tidak ingin menerima tamu.” suara Pak Albert terdengar keras.
Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang wanita berusia 45 tahun berdiri di hadapan Ravindra. Menatap dengan tatapan tajam. Ravindra bersikap tenang dan menggenggam cincin bermata bunga lotus di tangannya. Ia menatap wanita yang baru masuk dengan tatapan dingin. Wanita tersebut memiliki potongan rambut sebahu. Mengenakan celana panjang dengan riasan sederhana. Meski riasan wajahnya nampak sederhana. Namun, wanita tersebut kelihatan elegan dari penampilan yang ia tunjukkan.
“Tuan Ravindra, maafkan saya.” kata Pak Albert sambil menunduk, karena merasa gagal menghalangi wanita itu masuk ke ruangan kerja Ravindra.
“Tidak apa-apa. Kamu boleh keluar.” perintah Ravindra.
Pak Albert menundukkan kepalanya dan ijin keluar ruangan. Kini, Ravindra menghadapi wanita yang memasang raut wajah kesal tersebut.
“Apa terhadap orang tua seperti ini perlakuanmu?” tanya wanita tersebut dengan amarah.
__ADS_1
“Saya sedang banyak pekerjaan. Jadi, saya meminta asissten untuk jangan membiarkan siapapun masuk.”
Wanita berusia 45 tahun itu hanya mendecih. Melihat sikap Ravindra yang masih acuh tak acuh.
“Aku sungguh tidak mengerti. Apa yang membuat Rosalind masih bertahan menunggumu setelah sekian tahun lamanya.” sahut wanita itu sinis.
“Anda, pasti baru datang dari luar negeri. Silahkan duduk terlebih dahulu.” pinta Rava.
“Aku datang kesini bukan untuk beramah tamah denganmu.” sahut wanita itu ketus sambil melipat tangannya di dada.
“Jika begitu, apa yang anda inginkan dari saya?” tanya Rava dengan sikap yang tenang.
“Rosalind berasal dari keluarga kaya dan terhormat. Dia juga mantan atlet panahan sekelas Internasional. Demi untuk dekat denganmu. Rosalind memilih mengabdikan dirinya menjadi Wakil Direktur di AA School. Rosalind juga wanita yang cantik. Kenapa sampai detik ini, kamu masih menggantung statusnya. Aku sebagai ibunya. Tidak akan menerima itu.” jawab wanita berusia 45 tahun tersebut yang tak lain adalah ibu dari Rosalind.
“Dari dulu hingga detik ini, saya tidak memiliki perasaan apapun dengan putri anda. Saya sudah mengatakan hal itu berkali-kali padanya. Pertunangan antara kita bukankah kalian yang mengatur? Jadi, jangan menuntut saya untuk menikah dengannya.” Ravindra menjawab dengan tegas sambil menatap mata ibu Rosalind.
Ibu Rosalind terlihat gusar mendengar jawaban Rava yang seolah merendahkan martabat keluarga Birgita.
“Tidak masalah mengenai itu. Saya akan menerima apapun hukuman yang ayah berikan nantinya. Tetapi sungguh, lebih baik kita akhiri pertunangan yang diatur ini. Daripada menyiksa Rosalind.” Ravindra berkata begitu tegas. Seolah ia tak takut dengan segala resikonya.
Ibu Rosalind menampakkan raut wajah amarah. Matanya memerah karena menahan amarah yang mendalam.
“Jangan kamu pikir, kamu orang yang hebat. Aku akan mengatakan pada suamiku, untuk memutuskan kerjasama dengan Aksara Enterprise. Keluarga Birgita juga tidak akan membantu melobby dalam hal pembangunan wisma bagi para atlet.” ancam Ibu Rosalind.
“Jika itu keputusannya. Menurut saya akan lebih baik. Aksara Enterprise juga bukan perusahaan yang bisa anda remehkan. Kami bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan keluarga Birgita. Lagipula jika pertunangan ini terus dipaksakan. Tidak akan lebih baik. Apalagi hanya untuk kepentingan bisnis semata.” jawab Rava tak ingin kalah.
“Kamu???!!!! sungguh pria yang tidak bisa menghargai wanita!” Teriak ibu Rosalind penuh amarah.
__ADS_1
“Saya memang bukan orang baik dan tidak bisa menghargai wanita. Tetapi, saya akan mengambil keputusan untuk hidup saya sendiri. Saya sudah menemukan wanita tambatan hati. Saya ingin hidup bersama wanita pilihan saya. Wanita yang mengajarkan saya artinya sebuah kehangatan kasih sayang. Bukan wanita yang berambisi dengan kekayaan.” Rava menjawab tak kalah kerasnya.
Plak!
Terdengar suara tamparan keras. Pipi Rava terlihat memerah. Ibu Rosalind tak dapat menahan emosinya lagi. Ia menampar dengan keras Ravindra. Hingga jejak tangannya membuat pipi Rava kemerahan. Tanpa terduga sebuah cincin yang tadi Rava genggam, terlepas dan menggelinding tepat di depan kaki ibu Rosalind.
Cincin yang memiliki mata seperti bunga lotus terlihat jelas di mata ibu Rosalind. Ibu Rosalind menatap cincin tersebut. Kemudian, perlahan mengambilnya. Menatap sejenak dengan tatapan yang sulit di artikan. Sedetik kemudian, tubuhnya terhuyung. Tangannya bergetar hebat. Matanya terbelalak tak percaya.
“I… Ini….Ini? Kenapa cincin ini bisa berada di tanganmu?” tanya ibu Rosalind kebingungan menuntut jawaban dari Rava.
Ravindra hanya diam saja.
“Katakan?!!! Darimana kamu mendapatkan cincin lotus ini? Katakan?!!” teriak ibu Rosalind dengan keras.
“Bukankah itu cincin milik Rosalind?” tanya Rava balik.
“Cincin ini adalah milikku yang aku berikan pada putri kandungku. Jadi, katakan?!! Di mana kamu mendapatkan cincin ini???!” teriak ibu Rosalind.
Flashback
10 tahun yang lalu. Seusai Rava menerima telp dari Rosalind. Ia berfikir sejenak. Banyak rumor buruk mengenai dirinya. Semua orang berpendapat, sikap Rava yang dingin pada wanita karena ia seorang pria penyuka sesama jenis. Rava tidak ingin citranya buruk. Hal ini, akan mempengaruhi penilaian orang terhadap dirinya maupun perusahaan yang ia pimpin. Ravindra tidak mau itu terjadi.
Rava dengan gusar mengambil botol wine di meja dan meminumnya sedikit. Tatapan matanya terlihat dingin. Tak lama kemudian, ia bergegas mengemudikan mobilnya menuju villa keluarga Damariswara. Malam itu, adalah malam di mana perputaran roda kehidupan dua orag akan berubah. Garis takdir mereka yang terpisah akan dipersatukan oleh suatu kejadian yang tak terduga.
Malam itu, seorang gadis suci yang tanpa dosa terenggut kesuciannya oleh seorang CEO berhati dingin. Ravindra lah yang telah memetik bunga lotus suci tersebut. Bunga lotus yang cantik tanpa cela telah ternoda. Di malam 10 tahun yang lalu, Ravindra adalah pria yang telah menghamili Irene Maxzella.
Flashback End
__ADS_1
Peristiwa jatuhnya cincin lotus tersebut. Membuka tabir misteri yang telah lama terpendam. Membuat Ravindra mengingat kejadian itu. Kejadian yang membuatnya berfikir bahwa wanita yang sempat bermalam dengannya adalah Rosalind. Semua kejadian ini, menyadarkan Ravindra akan suatu hal. Bahwa gadis yang pernah ia tiduri 10 tahun yang lalu. Bukanlah Rosalind melainkan gadis lain. Mungkinkah gadis yang bermalam dengannya adalah wanita yang tempo hari bertanya mengenai kejadian 10 tahun yang lalu?
Rava langsung terhuyung. Tubuhnya gemetar hebat. Takdir apakah yang sebenarnya sedang ia jalani?