
... Long An adalah Anak Ravindra Damariswara...
Skenario Tuhan memang lebih indah dari rancangan manusia manapun. Kebenaran yang tersembunyi perlahan akan diketahui. Begitu juga kebenaran mengenai siapa ayah kandung Long An, Si karateka genius. Pagi itu, Long An dan Si kembar sedang berlatih karate. Mereka harus bersiap menghadapi seleksi atlet Nasional. Seleksi ini tentu sangat penting, karena akan menjadi peluang emas untuk mereka masuk Tim Nasional. Menjadi loncatan yang bagus. Jika ingin berlaga membawa nama negara di tingkat Internasional. Sudah barang tentu hal itu akan menjadi impian setiap atlet.
“Hya!!” Teriak mereka bertiga yang menamakan dirinya Triple Kancil.
Kini, Si kembar mulai berlatih kumite. Sedikit demi sedikit keduanya memahami bagaimana cara menyerang, bertahan, menangkis, dan menyerang balik dengan memadukan semua teknik yang ada dalam karate. Itu semua berkat si kecil Long An yang mau membagi ilmunya. Pantas saja, jika Si kembar berguru pada Long An. An selain menguasai tendangan memutar. Ia juga bisa salto sambil menyerang menggunakan teknik Mawashi Geri yaitu tendangan dengan kaki bagian atas. Teknik yang jarang sekali bisa dikuasai oleh anak berusia 10 tahun.
Disaat Long An sedang sibuk berlatih dengan Si Kembar. Tiba-tiba terdengar suara panggilan nyaring dari seorang wanita yang tak lain adalah Nyonya Meri.
“Anak-anak!!!” panggil Nyonya Meri dengan keras.
Nyonya Meri terlihat tergopoh-gopoh menghampiri Triple Kancil. Nafasnya naik turun. Seolah sudah mendaki Gunung Merapi.
“Mama, ada apa?” tanya Si kembar bersamaan.
“Fiuuh…. Fiiiuuuh….” Nyonya Meri merasa kehabisan nafas.
“Bu Meri, tenanglah. Atur nafasmu perlahan. Ambil nafas… hembuskan…” kata Long An.
Nyonya Meri mulai mengatur nafasnya pelan-pelan. Maklum tubuhnya terlalu tambun untuk diajak menjadi atlet lari jarak dekat. Setelah beberapa saat bisa mengatur nafasnya. Ia mulai berbicara.
“An, barusan ibu dari Rumah Sakit. Tes DNA yang ibu serahkan beberapa minggu lalu. Hasilnya sudah keluar.” kata Nyonya Meri dengan wajah bahagia.
“Benarkah?” tanya Long An dan Si kembar bersamaan.
Nyonya Meri mengangguk, “Tetapi, jangan keras-keras. Hal ini bukankah masih rahasia dan kita belum tahu hasilnya. Jadi, mari ke atap sekolah. Kita cari tempat yang aman.”
Triple Kancil mengerti dan kemudian, keempat orang tersebut bergegas menuju atap sekolah. Tanpa mereka sadari Rosalind menatap dengan tatapan tidak suka ke arah Long An. Mengingat bahwa Long An sejatinya adalah anak Ravindra.
“Tante, kapan kita membuat Long An pergi dari sekolah ini?” tanya seorang anak kecil yang tak lain Si angkuh Alex.
“Secepatnya tante akan menyingkirkan Long An. Sekaligus bersama dengan ibunya.” Jawab Rosalind sambil melipat tangannya didada.
__ADS_1
“Ta… tapi tidak akan ada hantu yang menggangguku lagi bukan?” tanya Alex ketakutan. Teringat dengan peristiwa waktu itu saat di kamar mandi.
“Jangan bicara omong kosong mengenai sesuatu yang tidak masuk akal. Sebaiknya persiapkan dirimu untuk mengikuti seleksi atlet Nasional tingkat junior. Jangan kalah dari bocah itu lagi? Kamu mengerti bukan?”
“Baik tante.” jawab Alex menuruti tantenya.
Rosalind tersenyum licik. Sambil memandangi Long An yang mulai menghilang dari pandangan matanya.
Kini, Long An dan yang lainnya sudah berada di atap sekolah. Menjauh dari keramaian.
“Bu Meri, di mana hasil tesnya? Aku tidak sabar hendak membaca.” kata Long An dengan wajah berbinar.
“Benar mama, cepat berikan pada An.” sahut Meichan.
“Cepat mama, berikan pada An.” timpal Chanmei.
“Baiklah-baiklah, tunggu sebentar. Aku juga tidak sabar membaca hasil tesnya.”
Nyonya Meri menjawab sambil mengeluarkan sebuah dokumen hasil tes tersebut. Kemudian menyerahkannya pada Long An. Si kecil Long An buru-buru membukanya. Si kembar dan Nyonya Meri ikut-ikutan mendekat. Lantas bersama-sama membaca hasil tes DNA Long An dan Ravindra. Long An yang membacanya.
Namun, semuanya masih terdiam. Hingga keheningan menyelimuti mereka.
“Apa ini yang namanya drama kehidupan?” tanya Nyonya Meri tiba-tiba.
“Ini namanya takdir mama.” sahut Meichan.
“Ini takdir mama.” timpal Chanmei.
“Aku rasa, Tuhan sedang membuat skenario untukku dan mama. Ini adalah skenario yang paling indah. Akhirnya aku mengetahui siapa papaku. Aku benar-benar bersyukur, jika papaku adalah paman rambut landak.” kata Long An dengan mata berkaca-kaca.
Kegembiraan terpancar dari wajahnya yang imut. Mendengar perkataan Long An. Si kembar langsung memeluk An sambil tertawa riang. Diikuti Nyonya Meri memeluk ketiganya dengan erat.
“An, selamat ya. Kamu menemukan papamu. Ibu tidak menyangka, papamu adalah seorang CEO berkelas Tuan Ravindra.” Nyonya Meri semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
Long An tersenyum lebar dengan perasaan penuh bahagia. Sedangkan Si kembar wajahnya sudah seperti ikan arwana. Mulutnya terbuka lebar. Mereka kehabisan nafas karena digencet mamanya yang tambun.
“A… aku… tidak bermaksud merusak kebahagiaan An.” kata Meichan tiba-tiba.
“Ugh.. a.. aku … juga.” timpal Chanmei.
“Hehe… ugh aku merasa bahagia. Tetapi kenapa terasa sesak?” Long An yang tadinya bahagia. Jadi tersadar jika dia juga tergencet.
“Mama, kami tidak bisa nafas!” Teriak si kembar bersamaan. Mereka seperti ditindih gajah duduk.
Nyonya Meri segera menyadari dan melepaskan ketiganya. Ia malah nyengir kuda dan mengelus kepala ketiga bocah tadi.
“Lalu, apakah kamu akan menceritakan pada ibumu?” tanya Nyonya Meri.
Mendengar pertanyaan Nyonya Meri. Long An diam sejenak. Namun, tak bertahan lama.
“Setiap kali, aku membicarakan mengenai papa pada mama. Mama terlihat sedih. Seperti ada yang dia sembunyikan. Jika dipikir-pikir, papa juga seolah tidak mengenali kami. Aku tidak tahu ada apa sebenarnya. Pasti ada rahasia yang masih tersembunyi. Jadi, aku akan mencari tahu ada apa sebenarnya. Secara diam-diam dan perlahan. Aku mohon, kalian bisa menjaga rahasia ini. Hanya kalian yang bisa aku percaya.”
“Benar-benar rumit.” sahut Meichan.
“Rumit benar hidupmu.” timpal Chanmei.
“Tenang saja, mulut kita bertiga tertutup rapat. Benar kan?” tanya Nyonya Meri sambil menyenggol si kembar.
Si kembar langsung bergaya mengunci mulutnya rapat-rapat dan mengangguk dengan yakin. Tidak akan sembarangan membuka mulutnya. Mengenai rahasia ini.
“Lalu, selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?” tanya Nyonya Meri penasaran.
Long An tersenyum lebar. Menunjukkan deretan gigi yang berderet rapi. Binar ceria tak dapat disembunyikan dari wajahnya.
“Aku akan menyelesaikan gambarku.” jawab Long An sambil tersenyum.
Nyonya Meri saling berpandangan dengan Si kembar. Jawaban Long An membuat otak mereka mengalami buffering sementara. Tidak mengerti maksud dari Long An. An hanya tersenyum melihat tingkah ketiga orang tersebut.
__ADS_1
Matanya semakin sipit jika ia tersenyum seperti ini. Long An dahulu pernah menggambar sosok seorang pria. Pria itu ia ibaratkan sebagai ayahnya. Namun, An belum dapat menyelesaikan bagian wajah ayahnya karena tak tahu bagaimana rupa Sang Ayah. Tetapi, tidak dengan sekarang. Ia akan menyelesaikan gambar sosok ayahnya. Ayah yang dia cari selama ini.
Disisi lain, ia sudah memiliki rencana untuk menyatukan ayah dan ibunya. Sembari mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Kenapa ibunya hanya diam dan terlihat sedih. Ketika disinggung mengenai ayahnya. Selain itu, hal yang tak kalah anehnya. Kenapa ayahnya, seolah tidak mengenali mereka. Apa yang sebenarnya terjadi? Nantikan terus kisah Long An Si Karateka Genius dari Timur yang mencari kebenaran masa lalu ayah dan ibunya. Menyatukan hati keduanya. Namun, hal itu tak akan mudah. Seperti membalik sebuah halaman buku, karena akan ada halangan dari Rosalind dan Liam Damariswara. Duo Licik yang tamak dan serakah.