
...Kebersaman...
Tes
Tes
Tes
Tetesan keringat mulai membasahi tubuh Ravindra. Rupanya laga tak resmi antara Ravindra dan Long An masih berlanjut. Terik Sang Raja Surya yang membakar kulit tak mereka indahkan. Ravindra tak bisa meremehkan anak kecil yang ada di hadapannya tersebut. Setidaknya ia tak boleh dipermalukan oleh bocah yang baru berusia 10 tahun ini.
Ravindra mulai menegakkan tubuhnya. Menatap ke arah Long An dengan tatapan tajam. Mata sipitnya menatap dalam ke arah Long An. Ravindra memang tidak seperti ayahnya yang menekuni bela diri karate. Tetapi, Rava panggilan akrab Ravindra juga memiliki kemampuan yang cukup bagus dalam seni bela diri karate. Ia mulai membuka kancing jasnya. Melepaskan perlahan dan meletakkan di tanah.
Nyonya Meri yang melihat hal tersebut segera berlari. Mengambil jas Ravindra. Etika seorang assisten harus membawakan jas milik bosnya. Sambil cengar-cengir, Nyonya Meri mengendus – endus jas milik Ravindra. Jauh dalam hatinya, kapan lagi bisa mencium dan memegang jas bosnya yang super tampan.
Si kembar benar-benar berdecak kagum. Dua anak perempuan berambut sebahu yang dikepang tersebut benar-benar terpukau.
“Mau taruhan?” Tanya Meichan pada saudari kembarnya.
“Taruhan apa?” Tanya balik Chanmei.
“Jika jagoan yang kita unggulkan kalah. Maka kita harus berani menginjak kaki Wakil Direktur.” Jawab Meichan.
“Hemm beratnya. Tetapi menarik. Pasti menyenangkan jika aku melihatmu menginjak kaki Si penyihir wanita itu hihi.” Sahut Chanmei.
“Oh, aku rasa kamulah yang akan menginjak kaki Wakil Direktur yang angkuh hihi.” Balas Meichan.
“Huh!!! Pasti kamu!” Teriak Chanmei.
“Tidak! Kamu yang akan kalah!” Meichan tak kalah keras berteriak.
“Hei!!! Anak-anak hentikan! Jangan bertengkar. Kita harus menyaksikan pertandingan seru ini sampai akhir.” Nyonya Meri berusaha menengahi.
Meichan dan Chanmei seketika diam dengan bibir manyun sesenti. Keduanya saling melipat tangan karena sama-sama kesal.
“Aku bertaruh untuk Long An.” Kata Meichan.
__ADS_1
“Aku bertaruh pada Tuan Tampan.” Balas Chanmei.
“Sepakat.” Kata keduanya bersamaan.
Nyonya Meri hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku putri-putrinya. Tetapi diam-diam, ia juga ikut bertaruh. Dalam hatinya mendukung Long An supaya bocah genius itu menang. Sedangkan dalam pikirannya mendukung bosnya yang tampan. Kemudian, kembali berlanjut pertarungan antara Long An dan Ravindra.
“Paman, ternyata kamu hebat juga. Wuaah ini membuatku bersemangat.” Kata Long An dengan ceria.
Ravindra hanya diam dan menatap Long An dengan tatapan serius. Lantas segera memasang kuda-kuda berat belakang yang dinamakan Ko Kutsu Dachi. Long An tersenyum melihat Ravindra sudah memasang kuda-kuda. Long An kembali memasang wajah serius. Ia bersiap-siap dan memasang kuda-kuda berat tengah, yang dinamakan Sanchin Dachi. Keduanya terlihat serius. Kali ini, Ravindra menyerang terlebih dahulu.
“Hyaa!!!” Teriaknya keras.
Lantas melancarkan serangan ke arah Long An menggunakan teknik Oi Zuki Jodan yaitu pukulan ke arah kepala. Long An waspada dan dengan gesit menangkis dengan teknik Age Uke sebuah tangkisan atas. Long An dengan cepat kemudian menggunakan kaki kanannya untuk menjegal Ravindra. Kali ini, Ravindra waspada. Ia segera meloncat untuk menghindar. Kemudian mundur ke belakang.
Sreet!
Suara langkah kaki Ravindra yang mundur ke belakang. Sebelum Ravindra menyeimbangkan tubuhnya. Long An bergerak layaknya kilat. Memberikan sebuah tendangan memutar dua kali.
“Hya! Hya!” Teriak Long An.
Swing!
Swing!
Anak ini, pasti bukan anak sembarangan. Batin Ravindra.
Tak jauh dari mereka bertanding, suara Meichan dan Chanmei terdengar riuh.
“An!! An! An!!!” Teriak Meichan memberi dukungan.
“Tuan Tampan semangka!!!” Teriak Chanmei tak kalah keras.
“Tarik sis!” Sahut Meichan ceria.
Keduanya seperti Cheerleader yang memberi semangat pada jagoannya masing-masing. Nyonya Meri juga ikut berjoget dengan memutar mutar tangannya.
__ADS_1
“Tuan Ravindra aye aye aye… aku padamu.” Suara Nyonya Meri mendukung Ravindra. Kemudian suaranya kembali keluar sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.
“My Little Karateka Genius dari Timur, berjuanglah!” Kata Nyonya Meri memberi dukungan pada keduanya. Nyonya Meri dan si kembar saling berjoget memberikan dukungan pada keduanya.
Kembali ke Ravindra dan Long An. Nafas Ravindra terdengar naik turun. Sedangkan Long An mengatur irama nafasnya dengan baik. Inilah hasil latihan tekun yang ia lakukan selama ini. Long An bisa mengatur pernafasan dan tenaganya dengan baik. Memang tidak salah jika ia mendapat sebutan Karateka Genius dari Timur. Si Genius yang tak terkalahkan dalam 100 kali pertandingan.
Meski Ravindra tak sejago ayahnya. Tetapi, kemampuan bela diri karatenya juga tak bisa diremehkan begitu saja. Ravindra kembali bersiap dengan kuda-kudanya. Begitu juga dengan Long An. Entah kenapa berlatih tanding dengan paman rambut landak membuatnya bersemangat. Hatinya merasakan kehangatan. Hal yang tak pernah Long An rasakan ketika berlatih tanding dengan yang lainnya. Termasuk bersama Dareen.
“Hya!!” Kali ini Long An yang terlebih dahulu menyerang.
Long An menggunakan teknik Yoko Geri Keange yaitu tendangan dengan kaki bagian samping atau disnap. Ravindra segera menangkis dengan Uchi Ude Uke, tangkisan tengah yang datangnya dari bawah ketiak.
Slap
Serangan Long An berhasil ditangkis. Namun, Long An sudah bisa mengantisipasi hal tersebut. Ia melihat celah diantara dua kaki Ravindra yang terbuka lebar. Long An meluncur dengan cepat melewati celah kedua kaki tersebut. Memanfaatkan tubuh kecilnya. Kemudian dengan cepat menyerang menggunakan teknik Usiro Geri, sebuah tendangan ke belakang.
Duak!
Tendangan tersebut tepat mengenai punggung Ravindra. Seketika Ravindra sedikit oleng mau tak mau ia menyeimbangkan dengan menekuk kakinya. Kaki kiri sebagai tumpuan dan kaki kanannya sebagai penyangga.
“Hya!!!” Teriak Long An mengkhiri jurusnya. Tatapan mata sipitnya masih terlihat serius.
Si kecil Long An masih menunggu Ravindra kembali berdiri. Kemudian, Ravindra berdiri dan menghadap Long An. Ia sedikit membuka lebar kakinya, dengan kedua tangan mengepal sejajar dengan lututnya dan kemudian berkata …. Osh
Long An terkesiap, jika Ravindra membuat gerakan seperti itu. Maka paman dihadapannya ini ingin mengakhiri pertandingan. Sepertinya Rava tak berniat melanjutkan, karena ia lanjutkan sekalipun percuma. Hasilnya ia akan tetap kalah. Long An memang anak genius. Setelah memberikan hormat. Ravindra berjalan hendak pergi. Namun terdengar suara Long An.
“Paman, terimakasih. Latihan kali ini sungguh menyenangkan. Lain kali, mari berlatih bersama hehehe. Paman rambut landak peace…” Kata Long An tersenyum lebar dan menunjukkan tanda V pada tangannya.
Ravindra yang membelakangi Long An hanya diam dan menundukkan kepalanya. Lantas memasukkan kedua tangannya ke saku celana miliknya. Kemudian berjalan perlahan menjauh pergi dari sana. Nyonya Meri dan si kembar sangat puas menyaksikan latihan tanding ini. Mereka bersorai-sorai. Si kembar langsung memeluk Long An dan mengacak-acak rambut kepala bocah itu. Mereka bertiga tertawa bersama. Nyonya Meri segera mengikuti langkah Ravindra. Sebelum pergi Nyonya Meri tersenyum dan memberikan tanda jempol pada Long An. Kemudian mengekor kemana langkah Sang CEO Tampan, Ravindra Damariswara.
Tanpa mereka sadari, sejak beberapa menit yang lalu. Irene sudah berdiri tak jauh dari sana. Irene yang hendak menjemput Long An melihat latihan tanding tersebut. Irene hanya bisa menunduk. Tatapan matanya terlihat sedih. Kali ini, ia benar-benar menyadari bahwa anaknya memang membutuhkan sosok seorang ayah. Melihat putranya tertawa lebar seperti itu. Irene merasa Long An bersemangat. Jika berlatih tanding dengan seorang pria yang mungkin ia berfikir, itu adalah ayahnya.
Saat Irene tengah berdiri di ujung jalan. Ravindra melintas diikuti Nyonya Meri di belakangnya.
“Terimakasih” Kata Irene perlahan saat Ravindra melintas di dekatnya.
__ADS_1
Ravindra sama sekali tak melirik dan terus berjalan perlahan. Angin berhembus menebarkan wewangian khas aroma parfum yang unik. Saat hidung Irene mencium aroma parfum tersebut. Seketika ia tersentak. Secepat kilat ia menoleh. Melihat ke arah Ravindra yang sudah melangkah menjauh. Mata Irene terlihat terperanjat. Lagi… lagi… dan lagi… ia mencium aroma parfum khas. Aroma yang ia kenal…