
... Kelicikan Tante dan Keponakan...
Pagi itu, suasana di AA School begitu riuh. Suara suporter saling bersahut-sahutan. Para atlet yang bertanding begitu bersemangat mendapat dukungan yang luar biasa. Di tengah hiruk pikuk penonton. Tanpa seorang pun mengetahui. Rosalind bertemu dengan Liam Damariswara secara rahasia. Di sebuah tangga sekolah yang sepi. Nan jauh dari keramaian.
“Lumpur tetaplah akan kembali menjadi lumpur.” Kata Rosalind dengan senyum licik menghiasi wajahnya.
“Aku suka ini. Kamu tidak pernah berubah sama sekali. Wanita ambisius yang akan menyingkirkan apapun, yang menghalangi jalannya. Luar biasa.” Puji Liam sembari bertepuk tangan.
Kemudian Liam melangkah mendekat ke arah Rosalind.
“Tetapi, apa tidak terlalu kejam. Kita menghancurkan seorang bocah?” Tanya Liam sedikit ragu.
Rosalind menatap tajam pada Liam dan semakin mendekatkan wajahnya pada pria itu. “Sejak kapan, seorang Liam perduli mengenai hal itu?” Rosalind bertanya balik dan kemudian mengambil botol sprei dari tangan Liam.
Lantas ia berjalan hendak menjauhi Liam. Namun, secepat kilat Liam memegangi lengan wanita berambut kecoklatan itu. Ia lalu mendorong Rosalind dan menghimpitnya di dinding.
“Pasti, ada sesuatu yang penting mengenai bocah itu? Katakan padaku yang sebenarnya.” Liam bertanya sembari menatap Rosalind dengan tajam.
“Tenang saja. Setelah rencana ini berhasil. Aku akan memberitahumu semuanya Tuan Liam.” Jawab Rosalind sambil merapikan kerah Liam Damariswara.
Liam terkekeh, kemudian menghimpit kembali tubuh Rosalind ke dinding. Mendekatkan wajahnya pada wanita itu.
“Aku berharap, ini akan menjadi sesuatu yang menarik.” Kata Liam.
Kemudian, bibirnya mulai mendekat ke arah bibir Rosalind. Namun, sebelum bibir Liam mendarat di bibir Rosalind. Wanita berambut kecoklatan itu segera mendorongnya menjauh.
“Jangan melakukan hal ini di sini. Aku tidak ingin ada yang melihat kita.” Kata Rosalind sambil memegangi tubuh Liam. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Memastikan tidak ada yang melihatnya.
Liam menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
“Aku akan menantimu, wanitaku.” Liam berkata sambil berlalu dan menjauh dari Rosalind. Rosalind tersenyum licik sambil menatap botol sprei yang ada di tangannya.
“Irene Maxzella, sepertinya nasib anakmu akan sama seperti dirimu. Sama – sama akan menjadi lumpur.”
Di saat Rosalind sibuk menyusun rencana. Di aula pertandingan karate, terdengar sorai-sorai penonton yang mengelu-elukan nama Long An.
“An! An! An!” Kata penonton bersemangat.
Mereka berdecak kagum dengan kemampuan Long An yang barusan diperlihatkan. Ia mengalahkan lawan tandingnya begitu mudah. dengan begitu Long An akan berlaga di final. Kesempatannya untuk menjadi atlet di negara ini terbuka lebar. Dari bangku penonton, Irene memberikan tanda jempol pada Long An. An begitu ceria dan melambaikan tangan pada ibunya. Kemudian, ia diberi waktu istirahat. Untuk melanjutkan pertandingan selanjutnya, yaitu final.
Di deretan bangku VIP. Tuan Marvin mendapatkan pujian dari Menteri Olahraga karena merekrut karateka genius seperti Long An. Hal ini akan menguntungkan bagi AA School maupun negara ini. Ravindra yang duduk tak jauh dari sana. Hanya menopang dagu dengan tangannya. Tatapan matanya masih saja terlihat dingin. Di saat bersamaan, datanglah Liam dengan senyum sumringah. Duduk tepat di samping Ravindra.
“Bagaimana pertandingannya?” Tanya Liam pada Ravindra.
“Menurutmu?” Ravindra malah bertanya balik pada Liam.
Liam terkekeh dengan sikap Ravindra yang masih saja dingin.
__ADS_1
“Saudaraku, kamu sama seperti biasanya. Sangat tidak mengasyikkan.” Kritik Liam. Tetapi sepertinya, Ravindra tidak begitu perduli dengan Liam.
Long An mendapat tepukan meriah dari teman-temannya, terutama si kembar. Si kembar langsung memeluk si kecil Long An. Kemudian mereka saling berpegangan tangan dan berputar-putar dengan tawa ceria. Si kembar juga barusan meraih hasil baik dengan peragaan seni kata yang mereka tunjukkan.
“Aku akan ke kamar mandi sebentar.” Kata Long An.
“Jangan lama-lama. Sebentar lagi kamu bertanding.” Meichan mengingatkan Long An.
“Itu benar, jangan buang waktumu.” Sahut Chanmei.
Long An mengangguk yakin. Kemudian bocah kecil tersebut berlari menuju kamar mandi. Tepat, di saat Long An masuk ke kamar mandi. Alex mengawasi dan kemudian bergegas mengunci pintunya. Saat ia sudah mengunci pintunya. Rosalind datang membawa botol sprei. Keduanya saling tersenyum jahat. An, yang berada di dalam kamar mandi tak mengetahui bahaya yang mengintainya.
Setelah selesai di kamar mandi, Long An hendak keluar. Namun, naasnya pintu kamar mandi terkunci dari luar. Long An berusaha membukanya. Namun, saat ia berusaha membukanya. Tiba-tiba seseorang memasukkan botol berasap lewat celah bagian bawah pintu. Long An, langsung terbatuk-batuk. Kepulan asap mulai memenuhi seluruh kamar mandi.
Rosalind dan Alex yang mendengar suara batuk-batuk Long An. Saling melempar senyum puas.
“Tosh.” Ajak Alex pada tantenya tersebut.
“Tante, apa Long An akan mati?” Tanya Alex kemudian.
“Jangan bodoh. Anak itu tidak akan mati. Tetapi, ia tidak akan bisa melanjutkan pertandingan. Asap itu berisi obat pelemah otot. Ia akan kehilangan tenaganya beberapa menit lagi. Jika seperti itu, maka dipastikan kamu akan maju bertanding menggantikannya. Buatlah tantemu ini bangga hem…” Kata Rosalind sambil menepuk bahu keponakannya itu.
Alex ikut tersenyum dan kali ini, ia lah yang akan mendapatkan pujian semua orang. Kemudian, keduanya berlalu dari tempat tersebut. Di sisi lain, Meichan dan Chanmei tampak gelisah karena Long An belum juga kembali. Apalagi sebentar lagi pertandingan final akan dimulai.
“Di mana An? Kenapa dia lama sekali?” Tanya Chanmei pada saudari perempuannya.
Dari speaker besar terdengar suara panggilan untuk Long An, karena pertandingan final akan segera dimulai.
“Kenapa Long An belum kembali?” Tanya Chanmei lagi.
Meichan juga mulai cemas. Long An selalu bersemangat menyambut pertandingan ini. Tidak mungkin dia akan melewatkan hal sepenting ini.
“Untuk apa kalian cemas? Akulah yang akan memenangkan pertandingan ini dan menjadi juaranya.” Tiba-tiba Alex muncul di belakang si kembar sambil memasang wajah sombong.
“Apa maksudmu?” Tanya Meichan.
Tetapi Alex tak memberi jawaban pasti dan berlalu dari si kembar. Meichan dan Chanmei saling berpandangan.
“Apa kamu tidak merasa aneh dengan perkataan si angkuh Alex?” Tanya Chanmei.
Meichan saling bertatapan dengan adik perempuannya tersebut. Sedetik kemudian, kedua bocah kembar itu berlari mencari keberadaan Long An. Di speaker kembali terdengar memanggil nama Long An. Para penonton juga sudah berteriak memanggil-manggil Karateka Genius dari Timur. Irene yang berada di bangku penonton mulai cemas. Ia bingung kenapa anaknya belum muncul juga. Irene yang tak tenang berinisiatif mencari Long An. Ia yang melihat Nyonya Meri segera menghampirinya.
“Di mana An?” Tanya Irene pada Nyonya Meri. Wajahnya kelihatan cemas.
“Aku juga tidak tahu. Ayo kita cari bersama.” Jawab Nyonya Meri. Kemudian bergegas mencari keberadaan Long An.
Di ruang VIP Tuan Marvin mulai cemas. Kenapa jagoan karatekanya tidak segera muncul. Jika Long An tidak segera datang ke arena. Ia akan dianggap mengundurkan diri. Tuan Marvin tidak mau itu terjadi. Kemudian, ia memanggil Pak Reno selaku assisten pribadinya untuk mencari tahu ada apa sebenarnya. Sedangkan Liam yang duduk tak jauh dari sana. Hanya memperhatikan dengan senyum jahatnya.
__ADS_1
“Ini akan menarik. Benar bukan saudaraku yang berhati dingin?” Tanya Liam sambil melihat ke arah Ravindra. Namun, saat Liam menoleh. Ia terkejut karena Ravindra sudah tidak ada di tempatnya.
Di sisi lain, si kembar menuju kamar mandi karena tadi Long An pamit ke sana. Sesampainya di kamar mandi mereka terkejut karena melihat banyak asap mengepul dari dalam kamar mandi. Kedua saudari kembar itu, langsung menggedor pintunya.
“An!! An!! Kamu di dalam?” Teriak dua saudari itu bersamaan. Namun, sama sekali tak ada jawaban.
Mereka panik, takut terjadi sesuatu pada Long An. Keduanya merasa aneh kenapa banyak asap keluar dari kamar mandi. Takutnya terjadi kebakaran atau apa yang entah mereka pun tak tahu.
“Aku akan memanggil mama.” Kata Chanmei hendak melangkah pergi.
Namun, buru-buru Meichan memegangi tangan Chanmei. Sambil menggelengkan kepalanya.
“Jangan! tidak ada waktu. Aku takut terjadi sesuatu pada Long An.” Kata Meichan dengan wajah panik.
“Lantas apa?” Tanya Chanmei kelihatan panik.
“Tidak ada pilihan lain.” Jawab Meichan. Ia menatap saudarinya.
Keduanya seolah memahami maksud satu sama lain. Mereka saling berpandangan. Tidak lama kemudian, keduanya menyiapkan kuda-kuda.
“Kita mulai 1… 2… 3! Hyaa!!!”
Bruak!
Terdengar suara pintu di dobrak oleh kekuatan jurus karate si kembar. Asap perlahan mulai keluar. Si kembar terbatuk-batuk.
“An!! An!!” Teriak keduanya.
Mereka mencari di tengah kepulan asap. Tidak lama setelah mereka masuk. Si kembar melihat Long An di wastafel sedang membenamkan kepalanya.
“An?!” Teriak mereka keras.
Di saat bersamaan suara teriakan keras itu. Di dengar oleh Nyonya Meri dan Irene yang kebetulan melintas di dekat sana. Keduanya saling berpandangan dan segera bergegas menuju sumber suara. Sesampainya di depan kamar mandi. Nyonya Meri dan Irene kelihatan panik karena melihat kepulan asap. Takutnya ada kebakaran. Nyonya Meri bergegas mengambil tabung pemadam darurat dan menyemprotkan ke segala ruangan kamar mandi. Sedangkan Irene bergegas masuk dengan wajah panik. Benar saja, ketika sudah berada di dalam. Irene melihat Long An terkulai di lantai. Ditemani si kembar yang juga ikut terbatuk-batuk.
“An!! An!! Long An!!” Teriak Irene panik. Ia memeluk putra kesayangannya tersebut.
Perlahan, Long An membuka matanya.
“Mama, An harus bertanding sekarang.” Long An berusaha berdiri.
Namun, Irene berusaha mencegahnya.
“An, jangan memaksakan dirimu anakku. Mama akan tetap bangga padamu. Lebih baik, kita ke rumah sakit sekarang.” Irene nampak sedih dan panik.
Long An menggelengkan kepalanya.
“Mama, aku adalah seorang karateka. Pantang bagi karateka untuk mundur sebelum berjuang.” Jawab Long An dengan sorot mata penuh semangat.
__ADS_1
Meski tubuhnya terasa lemas. An berusaha menguatkan dirinya. Bagaimana kelanjutannya? Apakah Long An akan tetap bertanding?