
... Ingin Menyatukan Ibu dan Anak...
Di sebuah rumah mungil milik Irene dan Long An, malam itu kelihatan hening dan tenang. Rumah yang dibeli Irene dengan hasil kerja kerasnya. Irene juga menggunakan sedikit uang yang diperoleh Long An dalam setiap turnamen yang Long An menangkan. Tetapi ia tak mau begitu saja menggunakan uang Long An secara cuma-cuma. Tetapi, akan Irene ganti sedikit demi sedikit. Di malam yang hening tersebut. Irene duduk termenung di kamarnya. Sembari menatap fotonya dahulu sewaktu masih bersama kedua orang tuanya. Irene menatap dengan sedih. Tanpa ia kehendaki air matanya menetes pada selembar foto tersebut. Bagaimanapun di satu sisi, hatinya juga rapuh jika harus berhadapan dengan kesedihan mengenai ibunya.
Long An yang belum tidur, diam-diam berjalan perlahan ke kamar ibunya. An melihat ibunya bersedih saat malam hari. Tidak hanya sekali. Bahkan beberapa kali Long An sering mengamati ibunya menangis. Menanggung kesedihannya sendirian. An juga ikut merasakan apa yang dirasakan ibunya. Luka dihati akibat dicampakkan oleh ibu kandungnya tentu sangat menyiksa Irene. Untuk beberapa saat lamanya, Irene menatap selembar foto kenangan bersama kedua orang tuanya. Hingga Irene kelelahan dan tertidur sembari memeluk foto tersebut.
Long An yang masih mengintip dari balik pintu. Mengetahui ibunya tertidur. Ia masuk ke kamar ibunya secara perlahan. Kemudian menatap dengan sedih ibunya yang mengalami banyak penderitaan. Pelan sekali, Long An membelai wajah ibunya. Menghapus air mata yang belum mengering dengan tangan mungilnya. Lantas An mengambil foto yang didekap oleh Irene. Menatap sejenak foto kenangan tersebut. Kemudian mengembalikan dalam dekapan ibunya.
Mama, sekarang kita sudah bersama papa. Terimakasih sudah mau bersama papa dan memahami kebahagiaan An. Kini, giliran An yang akan membahagiakan mama. Narasi Long An sembari menatap ibunya yang tertidur.
Keesokan harinya, saat Long An berada di sekolah. Ia terlihat serius berlatih karate. Alex hanya memandangi dengan tatapan kesal. Tempo hari, karena ulah Long An dia harus dipermalukan. Tetapi ia belum bisa membalasnya. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya.
“Apa kamu mau membalas anak itu?” tanya seseorang yang tak lain adalah Rosalind.
“Tentu saja tante. Aku ingin, anak itu dipermalukan dan merasakan rasa sedih. Sehingga dia tidak lagi bisa tertawa lebar.” jawab Alex dengan tatapan kebencian pada Long An.
Rosalind kemudian tersenyum dan berbisik di telinga Alex. Alex menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Senyum licik merekah dari wajah Si kecil Alex. Rosalind juga ikut tersenyum licik. Seusai Alex mendapatkan bisikan dari Rosalind. Ia bergegas mencari teman-temannya.
Kemudian, membisiki teman-temannya. Dua orang teman Alex diperintahkan untuk mencari Si kembar. Jangan sampai Si kembar bersama Long An. Teman Alex begitu patuh melaksanakan perintah Alex. Alex tersenyum menyeriangi.
“Kali ini, kamu tidak akan pernah bisa tertawa lebar.” kata Alex pada dirinya sendiri sembari tersenyum licik.
Disaat Long An berlatih karate. Tiba-tiba beberapa anak seusianya berdatangan. Sembari menatap Long An dan berkasak-kusuk. Menatap tidak suka pada Long An. An yang tadinya berkonsentrasi penuh berlatih. Tiba-tiba merasa terganggu dengan kedatangan anak-anak itu.
“Hei, teman-teman. Lihatlah anak yang katanya genius ini. Bukankah dia tidak punya ayah?” tanya salah satu orang.
“Benar, seorang anak yang tidak memiliki ayah. Namanya adalah anak haram.” sahut yang lain.
“Aku rasa ibunya juga bukan wanita baik-baik. Makanya melahirkan anak haram.” Timpal Alex yang tiba-tiba datang sembari melipat tangannya di dada. Senyumnya seolah mengejek Long An.
__ADS_1
Long An langsung menatap tajam pada Alex. An terima jika teman-teman menghinanya. Tetapi, tidak ada satupun yang boleh menghina atau menjelekkan ibunya. Ibunya bukan wanita seperti itu.
“Jaga bicaramu!” kata Long An dengan tatapan tajam.
“Kenapa aku harus menjaga bicaraku? Bukankah itu benar. Kamu tidak punya ayah. Itu artinya kamu disebut anak haram. Mamamu pasti bukan wanita baik-baik.” ejek Alex dengan senyum licik.
“Tutup mulutmu!” kata An keras. Ia merasa geram dengan perkataan Alex yang terus menghinanya.
Lantas Long An, maju dan langsung memukul Alex.
Plak!
Alex begitu marah. Ia langsung membalas memukul Long An. Namun, An dengan gesit menghindar ke sana kemari. Lantas memberikan pukulan balasan. Alhasil Alex terkena pukulan An. Teman-teman yang lain malah bersorak- sorai bukannya melerai. Menyoraki pertarungan Long An dan Alex. Suara gaduh tersebut di dengar oleh seorang wanita yang sengaja datang ke sekolah tersebut. Ia bergegas menghampiri.
“Alex!” panggil wanita itu dengan keras.
Alex menghentikan pertarungannya begitu juga dengan Long An yang wajahnya merah padam. An tidak pernah semarah ini. Ia marah karena ibunya dihina. Long An tentu saja tidak terima karena ibunya bukan seperti yang dituduhkan.
“Ne.. nek… nenek.” jawab Alex sambil menundukkan kepalanya.
Wanita yang dipanggil nenek tersebut ternyata adalah Nyonya Kania. Nyonya Kania menatap Alex dan Long An bergantian. Sedangkan An, menatap Alex dengan tajam dan mengepalkan tangannya. Setelah kedatangan Nyonya Kania. Anak-anak yang lain terdiam dan bubar dengan sendirinya. Lantas Nyonya Kania meminta Alex untuk ke UKS dan mengobati lukanya. Alex patuh pada nenek sambungnya tersebut.
Nyonya Kania lantas menatap Long An yang hanya menundukkan kepala. Kemudian melangkah perlahan pergi dari tempat itu. Nyonya Kania berinisiatif mengikuti ke mana Long An pergi. Hingga menuju taman belakang sekolah. An duduk di sebuah bangku taman. Duduk dengan raut wajah sedih. Nyonya Kania menghampiri dan berlutut di depan Long An. Mengelus tangan An yang lecet dan memberikannya plester.
“Nak, seorang karateka sepertimu harusnya menyediakan plester. Jadi, jika sewaktu-waktu terluka. Kamu bisa menutup menggunakan plester dengan cepat.” kata Nyonya Kania membuka pembicaraan dan duduk di samping An.
“Terimakasih Bu.” kata Long An santun.
Nyonya Kania tersenyum, “maafkan Alex, dia terlalu di manja oleh tantenya.”
__ADS_1
“An tidak pernah marah pada siapapun. Meski mereka menghina An. Tetapi An, tidak bisa membiarkan orang lain menghina dan menjelek-jelekkan mama.”
“Apa kamu sangat menyayangi mamamu?” tanya Nyonya Kania diiringi senyum hangat.
Long An mengangguk dengan pasti.
“An, sangat menyayangi mama. Saya rasa anda juga.” jawab An dengan senyum lebar.
Kini kemarahan An berangsur-angsur telah sirna. Ia kembali menjadi bocah yang hangat. Mendengar jawaban An, membuat Nyonya Kania tercekat. Ia hanya bisa tersenyum getir. An tersenyum dan menggenggam tangan Nyonya Kania. Membuat wanita yang meski usianya tak lagi muda namun tetap cantik tersebut langsung terpengarah.
“Aku adalah orang yang sangat berdosa. Tega meninggalkan mamamu sendirian. Aku tidak pantas di maafkan.” kata Nyonya Kania sembari menitikkan air mata.
Long An segera mengulurkan tangannya dan menghapus air mata Nyonya Kania. Membuat Nyonya Kania tercekat dengan perlakukan Long An.
“Mama, hanya merindukan anda.” kata Long An sembari melempar senyum.
Nyonya Kania menatap Long An dengan mata berkaca-kaca karena terharu. Terharu melihat Irene bisa membesarkan anaknya dengan baik. Sehingga tumbuh menjadi anak yang penyayang dan hangat pada siapapun.
“Apa lain waktu, anda mau berkunjung ke rumah?” tanya An dengan senyum sumringah.
“Ta… tapi???” Nyonya Kania merasa ragu.
“Mari memperbaiki hubungan anda dengan mama. Ini belum terlambat. An akan membantu.” jawab bocah karateka cilik itu diiringi senyum lebar.
Nyonya Kania lagi-lagi terpengarah dengan perkataan Long An. Ia tersenyum bahagia. Irene memiliki anak seperti Long An.
“Terimakasih, mulai sekarang An boleh memanggilku dengan sebutan nenek.” kata Nyonya Kania dengan senyum bahagia.
“Wooo!! Benarkah itu? Horeee An punya nenek lagi.” pekik Long An kegirangan.
__ADS_1
Lalu keduanya berpelukan dengan perasaan gembira. Hal tersebut tak luput disaksikan oleh Rosalind. Ia menatap dengan penuh kebencian.
Lihat saja nanti. Aku akan membuat siapapun yang menghalangi jalanku. Akan merasakan penderitaan. Kalian semua akan merasakan rasa sakit yang bahkan untuk tersenyumpun enggan. kata Rosalind dalam hati. Matanya menatap tajam penuh kebencian.