Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 48


__ADS_3

... Arti Bunga Lotus...


Malam terlihat gelap. Cahaya bintang sedang tertutup awan kelabu. Malam itu, Irene terlihat berdiri di depan gerbang Aksara Park. Hari ini, Long An menginap di rumah Si Kembar. Jadi, Irene bisa jalan-jalan keluar mencari udara segar. Ia menatap cukup lama taman tersebut. Taman yang dibangun oleh perusahaan Aksara Enterprise. Taman yang tempo hari membuat kenangan yang tertanam dipikiran Irene. Irene ingat dengan baik, bagaimana saat ia tiba di sana. Lampu-lampu menyala dengan indah. Berpendar ke segala penjuru arah. Malam di mana, Irene yang selama ini tak pernah memikirkan mengenai cinta. Membuat hatinya bergetar ketika bersama Ravindra. Ravindra yang begitu dingin di mata Irene, entah kenapa malah membuatnya tertarik. Irene merasa, Rava adalah sosok pria baik yang kesepian. Rasa sepi membuat hati pria itu menjadi dingin.


Sejujurnya, Irene ingin lebih mengetahui kehidupan Ravindra yang sebenarnya. Kenapa bisa, Rava menjadi sosok pria yang dingin. Namun, disisi lain Irene merasa ragu untuk menerima hati Ravindra. Ia ingat betul kejadian 10 tahun yang lalu. Di mana, ia harus menelan pil pahit bunga lotusnya yang suci telah terenggut begitu saja oleh Ravindra. Naasnya hingga detik ini, Irene tak pernah mendengar jawaban pasti dari pria itu. Setelah kejadian malam itu, Rava tak pernah menghubungi Irene sama sekali atau memberikan penjelasan. Banyak hal berkecamuk dalam pikiran Irene. Sembari memikirkan banyak hal. Irene berjalan perlahan masuk ke Aksara Park.


Kali ini, di taman tersebut hanya ada lampu taman yang temaram. Berbeda jauh dengan saat dahulu Ravindra memberikan kejutan yang romantis pada Irene. Namun, kejutan yang Ravindra berikan rupanya tidaklah cukup untuk membuat hati Irene tergerak. Tergerak untuk menerima begitu saja. Irene hanya ingin mengetahui dari mulut Rava. Apakah benar, 10 tahun yang lalu Rava lah yang telah meniduri hingga membuat Irene hamil.


Irene terus berjalan hingga sampai di kolam yang dipenuhi bunga lotus berwarni-warni. Ada yang berwarna putih, merah maupun warna biru. Semuanya kelihatan sangat cantik. Bermekaran begitu indah. Irene mencoba untuk berjalan di atas air seperti tempo hari. Apakah masih bisa dilakukan? karena tempo hari seperti sulap bagi Irene. Kaki Irene berusaha menapak di atas permukaan air kolam tersebut. Perlahan tetapi pasti, kaki Irene menapak dipermukaan air dan… yap… kaki Irene berhasil berpijak di atas permukaan air. Wanita yang memiliki paras menawan tersebut tersenyum simpul. Rupanya sihirnya belum hilang.


Perlahan Irene melangkah menuju tengah kolam. Ia melihat bunga lotus berwarna merah. Mirip yang Ravindra berikan padanya tempo hari. Irene berjongkok dan memetik bunga lotus merah tersebut. Bunganya begitu cantik dengan warna yang memikat. Irene tersenyum dan teringat, bahwa tempo hari Ravindra juga memberikannya liontin berbandul bunga lotus. Namun, Irene belum bisa menerimanya. Ia masih menunggu jawaban Ravindra.



*Ilustrasi Bunga Lotus, di kolam.


Irene yang memegangi bunga lotus mengedarkan pandangan ke sekeliling kolam. Menikmati bunga lotus yang terlihat cantik. Bunga lotus-lotus itu juga mengingatkan dirinya tentang almarhum ayahnya yang juga menyukai bunga itu. Irene hendak berjalan ke arah lain. Namun sebelum kakinya melangkah, tiba-tiba sebuah suara menegurnya.


“Jangan terlalu ke pinggir. Kamu akan jatuh jika berjalan ke pinggir. Lapisan kaca yang aku susun bersama Long An tempo hari tidak sampai ke pinggir. Jadi, perhatikan langkahmu.” tegur seseorang.


Orang itu muncul dari balik pohon dekat kolam. Orang yang menegur Irene mengenakan jas formal berwarna hitam. Sorot matanya sipit tajam. Parasnya terlihat tampan bak seorang pangeran. Menatap penuh arti pada wanita yang telah mencuri hatinya tersebut. Irene terkejut melihat siapa yang menegurnya. Orang yang menegur Irene tak lain adalah Ravindra Damariswara, Sang CEO Berhati Dingin.


“Ka.. kamu?!” Mata Irene terbelalak tak percaya.


Tanpa Irene perintah, jantungnya berdegup kencang saat melihat kehadiran Ravindra. Degupnya begitu cepat seperti ada yang memukul. Ada perasaan gembira dihati Irene. Ketika melihat Ravindra ada dihadapannya.


Ada apa denganku? Kenapa perasaanku sekacau ini? tanya Irene pada dirinya sendiri. Ia hanya bisa berucap dalam hatinya.


Ravindra berjalan perlahan menuju ke tempat Irene berada.


“Tu…tunggu, apa maksudmu tadi menyusun kaca bersama Long An?” tanya Irene kebingungan dengan ucapan Ravindra.



“Aku tidak tahu bagaimana cara mengutarakan perasaanku. Jadi, Long An membantuku menyusun ini semua.” Jawab Rava.



Irene sungguh tak percaya, anaknya juga ikut terlibat membuat kejutan untuknya. Rupanya trik untuk bisa berjalan di atas permukaan air adalah dengan menyusun lapisan kaca tebal di kolam tersebut. Itu semua adalah ide Long An yang memiliki kecerdasan melebihi anak seusianya.

__ADS_1



“Kenapa malam-malam kemari? Di mana Long An?” tanya Ravindra. Mata Ravindra memperhatikan sekelilingnya. Kali ini, Ravindra tak lagi memanggil Long An dengan sebutan bocah itu. Tetapi memanggil nama dengan benar.



“A… aku sedang mencari udara segar. Long An sedang menginap di rumah Si kembar.” jawab Irene sedikit terbata, karena merasa grogi dengan kehadiran Ravindra yang tiba-tiba.



“Ah… begitu rupanya.” kata Ravindra.



“La.. lalu kenapa kamu berada di sini?” tanya Irene yang masih belum bisa mengontrol perasaannya.



“Taman ini adalah taman milikku. Jadi, aku bebas ke sini kapanpun.” jawab Ravindra dengan nada sombong.




“Kebiasaan menyebut nama seseorang sembarangan juga masih melekat padamu.” balas Rava tak ingin kalah.



“Ka… sungguh pria menyebalkan.” gerutu Irene dengan muka sebal.



“Sebenarnya, aku sudah berada di sini sebelum kamu datang.” kata Rava sambil menatap Irene.



“Ja… jadi sejak tadi kamu memperhatikanku?” tanya Irene.


__ADS_1


Ravindra mengangguk dan memberikan tatapan penuh arti pada Irene. Ditatap seperti itu membuat Irene sedikit gelagapan. Namun, ia berusaha mengontrol perasaannya di depan Rava.



“Kata Long An, kamu sangat menyukai bunga lotus. Aku penasaran, kenapa kamu sangat menyukai bunga ini?” tanya Ravindra sembari menatap bunga yang dipegang oleh Irene.



Irene terdiam sejenak. Namun, tak bertahan lama.



“Dahulu sewaktu kecil. Aku sering jalan-jalan bersama mendiang ayahku. Beliau selalu mengajakku untuk melihat bunga lotus. Bunga lotus memiliki filosofi kehidupan yang sangat dalam. Jika kamu melihat, habitat bunga lotus ini. Bunga lotus hidup dan tumbuh di lingkungan kotor atau lumpur semacam ini. Bahkan bunga lotus bisa tumbuh di air yang kotor. Kita mengetahui dengan pasti, bahwa lingkungan yang kotor bisa menjadi sumber penyakit. Namun, di tempat yang kotor tersebut bunga lotus bisa tumbuh dengan sangat cantik. Keindahan alam yang tak pernah bisa kita bayangkan hidup di lingkungan kotor seperti ini. Hal tersebut bisa memiliki arti, jika lingkungan yang buruk tidaklah menjadi alasan membuat seseorang turut berperilaku buruk.” jawab Irene sembari menyunggingkan senyumnya yang memikat. Ketika mengingat kenangan bersama mendiang ayahnya.



“Sedangkan aku sangat menyukai lotus, karena aku pernah hidup di lingkungan yang tak layak. Dibesarkan di panti asuhan. Hidup tanpa orang tua. Tak bisa memiliki pakaian yang bagus. Hidup serba kekurangan. Dipandang rendah oleh orang lain. Jadi, orang-orang memandangku seperti lumpur yang kotor. Namun, meski aku hidup dilingkungan seperti itu. Aku bersyukur pada diriku. Aku tak lantas lebih buruk dari manusia sepertiku yang hidup di lingkungan yang sama. Aku ingin hidup seperti bunga lotus.” lagi-lagi Irene tersenyum.


Senyumnya jarang terlihat. Tetapi, ketika Irene sudah memperlihatkan senyumnya yang memikat. Membuat siapapun yang melihat akan terpikat. Termasuk Ravindra Damariswara yang memang sudah terjerat.


Ravindra terpengarah mendengar jawaban Irene. Ia merasa perkataan Irene sangat menohok dirinya. Rava yang dibesarkan di lingkungan yang serba ada dan memiliki segalanya. Malah memilih menjadi manusia yang dingin dan tak perduli pada yang lain. Berbeda dengan Irene yang dibesarkan di panti asuhan dan serba kekurangan. Tetapi, Irene memilih hidup berbeda. Ia memiliki kebaikan hati. Perduli pada sesama dan memiliki kasih sayang dalam hatinya. Ravindra menyadari sekarang, kenapa Irene bisa memiliki hati yang begitu hangat. Begitu juga dengan si kecil Long An. Anak itu tumbuh menjadi anak yang hebat dan memiliki hati yang hangat karena dibesarkan seorang ibu seperti Irene.



Perlahan, Ravindra mendekat pada Irene. Menatap wanita yang ada dihadapannya tersebut tanpa berkedip. Jantung Rava tak pernah berdegup sekencang ini. Ia yang dingin terhadap wanita. Untuk pertama kali dalam hidupnya, rasa dingin itu mencair. Senyuman Irene yang memikat seolah menjerat hatinya untuk semakin dekat. Saat jarak keduanya sudah dekat, Rava menggenggam tangan Irene. Membuat gadis itu terkejut. Jarak Rava benar-benar sangat dekat dengannya. Lagi… lagi… dan lagi… jantung Irene berdegup dengan kencang.



Tanpa Irene menduga apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba Rava mendaratkan bibirnya dibibir Irene. Mencium Irene dengan perlahan. Menyalurkan perasaannya pada wanita yang telah mencuri hatinya tersebut. Disisi lain, Irene benar-benar terkejut tiba-tiba Rava menci\*umnya seperti ini. Mata Irene terbelalak dan bunga lotus yang ia pegang terjatuh perlahan. Degup jantung Irene semakin berdetak dengan cepat. Ia hanya merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir Ravindra.



I… *ini… rasa bibir ini… sama dengan rasa bibir 10 tahun yang lalu. Bibir seseorang yang telah memetik bunga lotus yang murni*. kata Irene dalam hatinya.



Irene hanya bisa berdiri mematung. Tubuhnya seolah berhenti untuk bergerak. Irene hanya bisa merasakan bibir Ravindra menci\*um bibirnya.


__ADS_1


Di langit, terlihat cahaya bintang tak lagi malu-malu. Cahayanya yang terang berpendar menyingkap pekatnya malam. Memberikan warna-warni indah. Bunga lotus di kolam tersebut terlihat memancarkan cahaya yang begitu menawan. Menjadi saksi ikatan hati dua orang yang menyatu.


__ADS_2