
...Saatnya Pembalasan...
Long An yang sudah disibukkan dengan seleksi atlet junior Nasional. Kini harus kembali fokus mencari keadilan untuk ibunya. An terlihat berpikir sejenak. Tidak lama kemudian, datanglah Ravindra. Memberitahu hasil temuannya.
“An, sepertinya papa menemukan sesuatu.” kata Ravindra.
Long An terlihat antusias. Ia menatap Ravindra dengan serius.
“Apa papa menemukan sesuatu? Terkait siapa yang meretas ruang kontrol dan menampilkan video mama?”
“Papa sudah meminta ahli IT untuk menganalisis video yang menampilkan gambar mamamu.”
“Lalu?”
“Menurut ahli IT tersebut, video ini baru-baru saja dibuat. Melihat hasil dari kamera yang digunakan adalah kamera dari model jaman sekarang ini.” jawab Ravindra.
“Jadi, menurut papa. Kemungkinan besar, mama masih hidup?” tanya Long An dengan mata berbinar.
Ravindra menatap anaknya tersebut dengan sejuta harapan.
“Papa rasa kemungkinan besar seperti itu.” jawab Ravindra.
Long An seketika berbinar ceria lalu memeluk ayahnya dengan harapan yang membuncah.
“Tetapi jika mama masih hidup. Kenapa tidak mencari kita?”
“Papa rasa, mamamu memiliki pertimbangan kenapa tidak langsung mencari kita. Papa juga ingat, sewaktu kamu masih bertanding. Papa memeriksa ruang kontrol. Ada seseorang mencurigakan yang sepertinya meretas komputer di ruang kontrol. Papa berusaha mengejarnya. Tetapi sayang sekali, orang itu sudah mempersiapkan pelarian.” jawab Rava.
Long An diam sejenak. Ia berusaha berpikir.
“Menurut papa siapa orang itu?”
“Entahlah, papa perlu menyelidikinya terlebih dahulu. Papa rasa orang itu juga berkaitan dengan mamamu.
“An juga merasa ada yang aneh mengenai bukti video dan percakapan yang sekarang beredar. Itu adalah bukti yang An dapatkan dan meminta Pak Ahen menyimpannya.”
Mendengar hal tersebut ayah dan anak itu saling berpandangan.
“Papa, mari kita selidiki ini bersama.” ajak Long An.
Rava mengangguk dan kemudian bergegas melakukan pencarian mengenai teka-teki tersebut.
*Di tempat lain*.
Rosalind terlihat marah. Ia berteriak keras dan membanting semua perabot rumah tangga yang ada di sekitarnya. Nafasnya terdengar memburu. Wajahnya merah padam karena amarah yang meluap.
“Mereka berani mempermainkanku seperti ini!” teriak Rosalind penuh amarah.
Tangannya terlihat mengepal hebat. Liam hanya bisa menggigit bibirnya. Menahan amarah yang ia rasakan. Semua rencana mereka hancur berantakan.
“Apa menurutmu ini ulah Irene? Bukankah ia yang berada di kapal itu dan tewas?” tanya Liam.
“Mengenai itu aku tidak tahu. Tetapi beradasarkan laporan anak buahku waktu itu. Kapal yang dinaiki Irene meledak. Bahkan ditemukan abu manusia di dalamnya. Termasuk benda milik Irene. Pasti ada seseorang yang ingin meneror kita.”
“Maksudmu seperti Ravindra dan bocah itu?” tanya Liam kembali.
“Bisa saja, keduanya pasti ingin membalas padaku.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Seluruh negeri telah mengetahui segala perbuatan kita. Kita bahkan ditetapkan sebagai buron. Tempat ini, aku rasa sudah tidak aman lagi. Apakah papamu tidak bisa membantu?” tanya Liam yang mulai cemas akan keselamatannya.
Rosalind hendak menjawab. Namun, telpnya tiba-tiba berbunyi. Ros buru-buru mengangkatnya.
__ADS_1
*Ros*… sapa sumber suara di seberang telp.
“Papa?!”
*Benar ini papa, apa kamu masih berada di rumah itu*? tanya ayah Rosalind.
“Ya itu benar. Pa, cepat lakukan sesuatu. Aku ingin pergi dari sini. Kapan aku bisa pergi ke luar negeri?” tanya Rosalind.
*Situasinya semakin memburuk. Polisi sudah menyelidiki papa. Kejahatan yang kamu lakukan membuat hampir semua aset papa dibekukan. Saham perusahaan juga anjlok secara drastis. Apa kamu masih bersama pria tak berguna itu*?
Rosalind sedikit melirik ke arah Liam. Liam hanya menatap Rosalind. Tak tahu apa yang sedang dibicarakan antara Rosalind dan ayahnya.
*Papa hanya bisa menyelundupkanmu seorang saja. Biarkan pria tak berguna itu sendirian. Kamu bisa memanfaatkannya*.
Rosalind sepertinya memahami maksud perkataan ayahnya. Ia sedikit menjauh dari ruangan itu. Mendengarkan instruksi ayahnya. Supaya dia bisa keluar negeri secepat mungkin.
*Apa kamu mengerti maksud papa? Itu hal yang bisa papa lakukan untukmu. Pergerakan papa selalu di awasi baik oleh polisi maupun orang-orang Ravindra. Kita tidak bisa lagi saling menghubungi, karena situasinya sangat buruk*.
“Ya, aku mengerti.” jawab Rosalind. Kemudian mematikan telpnya.
Liam yang sudah menunggu Rosalind segera menghampirinya.
“Apa yang dikatakan papamu? Kenapa untuk bertelp saja harus menjauh dariku hah?!” tanya Liam merasa ada yang aneh dengan sikap Rosalind.
“Disaat seperti ini, jangan membuat masalah. Setidaknya buatlah dirimu berguna. Rencana kita semua gagal juga karena dirimu. Jadi, jangan buat masalah yang tidak perlu.”
Setelah mengatakan hal tersebut. Rosalind segera mengambil beberapa pakaian dan barang seperlunya. Memasukkan dalam koper. Liam yang menyaksikan hal tersebut langsung menegur Rosalind.
“Ada apa ini? jelaskan padaku? Kenapa kamu mengemasi barang-barangmu?”
Rosalind menatap tajam ke arah Liam.
“Jika tidak ingin tertangkap. Cepat kemasi barang-barangmu. Kita tidak ada waktu. Papa mengatakan akan mengusahan kita keluar dari tempat ini. Tetapi melalui pelabuhan.”
Liam yang mendengar hal tersebut segera mengemasi barang-barangnya. Mengikuti arahan Rosalind. Lantas mereka segera masuk ke dalam mobil. Keduanya segera meninggalkan tempat persembunyian tersebut. Rosalind bagian yang menyetir. Tujuan mereka saat ini adalah pelabuhan.
Setelah berkendara beberapa saat. Akhirnya mereka tiba di pelabuhan.
“Turunlah terlebih dahulu. Aku akan memarkir mobilnya.” kata Rosalind pada Liam.
Liam menurut dan segera turun dari mobil. Tepat seusai Liam turun dari mobil. Tanpa banyak berkata lagi. Rosalind segera menginjak pedal gas mobilnya sekencang mungkin. Liam kebingungan dengan apa yang Rosalind lakukan.
“Ros!!! Ros!!! Hei! Tunggu!!!” teriak Liam sembari berlarian mengejar mobil Rosalind.
Tetapi yang dipanggil seolah tak perduli dan semakin memacu kendaraannya dengan kencang. Liam yang berlarian mengejar Rosalind akhirnya berhenti sembari mengambil nafas perlahan.
__ADS_1
“Dasar wanita sialan!!!” teriak Liam penuh amarah.
Nafas Liam terdengar naik turun. Disaat Liam sedang mengatur nafasnya. Tiba-tiba dari arah belakang terlihat lampu yang menyala terang benderang dari sebuah mobil. Lampu tersebut menyorot ke arah Liam. Liam menoleh sembari menutupi mata dengan kedua tangannya karena silau terkena sorot lampu yang begitu benderang. Ia mengernyitkan keningnya. Menerka-nerka siapa gerangan yang datang. Tidak lama berselang keluarlah seorang pria berbadan tegap. Rambutnya berdiri layaknya duri landak. Pria itu menatap tajam ke arah Liam.
“Akhirnya, aku menemukanmu. Dasar manusia sialan!” teriak pria tersebut yang tak lain adalah Ravindra Damariswara.
Mata Liam terbelalak tak percaya. Ravindra berada di hadapannya saat ini. Tangannya mengepal erat.
*Wanita sialan itu. Jadi dia telah menjebakku dan menjadikanku mangsa*. kata Liam dalam hati. Merasa terperdaya oleh kelicikan Rosalind yang menjadikannya mangsa.
“Katakan di mana wanita iblis itu?! aku akan membuat hidupnya menderita melebihi apa yang pernah ia lakukan pada Irene. Katakan di mana dia?!!!” teriak Ravindra dipenuhi amarah.
“Ha-Ha-Ha!!! Jika saja aku mengetahuinya. Aku juga pasti akan meremukkan tubuhnya.” seru Liam dipenuhi amarah.
“Jangan katakan, Rosalind juga menjadikanmu tamengnya? Sungguh kasihan sekali nasibmu. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu.” kata Ravindra.
Liam tahu betul bagaimana sifat Ravindra. Ia tidak akan melepaskan dirinya begitu saja. Tanpa banyak berkata Liam hendak melarikan diri. Namun, tiba-tiba dari berbagai tempat. Beberapa mobil berdatangan. Banyak pria turun dari mobil tersebut dan mengepung Liam. Orang-orang itu adalah anak buah Ravindra. Tatapan mata Rava terlihat tajam. Tangannya mengepal dan siap meremukkan tulang Liam hingga hancur berkeping-keping. Sedangkan Liam kelihatan cemas. Bagaimanapun juga ia harus lolos dari lubang jarum ini.
Di sisi lain Rosalind yang mengendari mobilnya menjauh dari pelabuhan terlihat tersenyum licik.
“Selamat tinggal Liam Damariswara. Pria tidak berguna Ha-Ha-Ha!!!” tawa Rosalind terdengar keras. Ia sengaja meninggalkan Liam di sana untuk dijadikan mangsa Ravindra. Sehingga fokus dan perhatian Rava hanya akan tertuju di tempat itu. Mengira dirinya bersama dengan Liam.
Kini Rosalind melenggang pergi. Inilah caranya supaya bisa meloloskan diri dengan menjadikan Liam sebagai pengalih perhatian. Disaat Rosalind sedang tertawa bahagia. Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan dan menghadangnya. Tak terelakkan lagi suara decitan rem mobil saling beradu.
*Cit*!!!
Rosalind mengerem tepat waktu. Ia kelihatan kesal karena ada mobil yang menghadangnya. Ros kelihatan kesal dan segera keluar dari mobil.
“Hei, dasar bodoh! Cepat keluar!” teriak Rosalind begitu kesal.
Seusai Rosalind mengatakan hal tersebut. Dari bangku belakang mobil. Terlihat seseorang keluar. Rambutnya berwarna hitam dan tergerai panjang. Rosalind melihat dengan seksama siapa orang yang keluar tersebut. Sedetik kemudian, mata Rosalind melotot dan tak percaya dengan penglihatannya.
“Ti… tidak mungkin…. ka… kamu?!” pekik Rosalind.
Seseorang yang menghadang mobil Rosalind tak lain adalah Irene Maxzella. Ia menatap tajam ke arah Rosalind.
“Ka.. kamu?! Irene Maxzella?! Bukankah kamu sudah mati?!”
Irene menatap dengan tatapan tajam.
“Tidak ada yang tidak mungkin. Jika Tuhan sudah berkehendak. Maka mulai detik ini. Bersiaplah menerima pembalasanku Rosalind Birgita.”
Suara Irene terdengar dingin. Sorot matanya tajam layaknya pisau yang bersiap menghujam dan mencabik-cabik Rosalind. Rosalind kelihatan gemetar. Kakinya mundur selangkah. Ia sungguh tak percaya bahwa Irene masih hidup.
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
__ADS_1