Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 40


__ADS_3

... Hadirnya Pemuja Rahasia...


Di sebuah rumah mungil, terlihat wanita muda sedang tersenyum ceria. Wajah cantiknya semakin terpancar. Berbalut dengan kebahagiaan yang ia rasakan. Irene, wanita muda yang dulunya selalu menderita perlahan hidupnya berubah menjadi bahagia. Semenjak kehadiran Long An. Anak genius yang selalu membuatnya bersyukur. Kini, ditambah dengan seorang pria dingin yang mulai mengetuk pintu hati Irene. Irene tidak lagi terlalu memikirkan, apakah Rava adalah ayah Long An atau bukan. Baginya, menjalani saja seperti aliran air. Jikalau memang benar Rava adalah ayah Long An. Setidaknya ia sudah mengetahui orang seperti apa yang pernah menanam benih padanya. Irene mungkin penasaran, kenapa waktu itu Rava bermalam dengannya. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah, Irene akan berterimakasih karena di malam itu dengan perantara Rava. Ia memiliki kebahagiaan yang tak terhingga seperti sekarang.


Irene ingin tenang menjalani kehidupannya. Ia tersenyum sambil menyemprot bunga matahari pemberian Rava. Wajahnya lagi-lagi dibuat memerah. Ketika mengingat kebersamaannya dengan Rava. Saat sedang berkemah menikmati malam dengan bulan dan bintang yang bersinar terang. Disaat Irene sedang asyik membangun impian. Tiba-tiba sebuah pelukan mengagetkannya.


“Mama…” panggil anak kecil yang tak lain si genius Long An.


Long An terlihat ceria sambil memeluk mamanya. Irene yang mengetahui itu Long An, segera membalas pelukan si anak penuh kasih sayang.


“Naga kecil mama. Kenapa hari ini begitu manja?” tanya Irene sambil membelai kepala anaknya.


“Hihi… karena An, merasa sangat bahagia. Rasanya dada An ingin meledak saking bahagianya.” jawab An sambil tertawa lebar.


“Kenapa begitu?”


“Berkat mama, aku bertemu Bu Meri, si kembar, Pak Marvin, Amao dan Papa.. ehm maksudku Paman rambut landak. Membuat hati Long An sangat bahagia sekali.”


Wajah Long An terlihat berseri-seri dengan pipi bulat bakpao kemerahan. Irene terseyum dan membelai wajah anak semata wayangnya tersebut.


“Mamalah yang berterimakasih padamu An. Berkat kehadiranmu, mama merasakan kebahagiaan. Mama bisa bertemu dengan Raja Karate dan….” Irene menghentikan ucapannya.


“Hemm?? dan???” tanya Long An penasaran.


Irene langsung kelihatan kikuk. Wajahnya memerah. Ia segera mengalihkan pembicaraan.


“Hmm… hmmm… bersiaplah. Mama sudah menyiapkan bekal untukmu dan juga untuk si kembar. Nyonya Meri akan segera menjemputmu.”


“Tetapi, mama belum menjawab pertanyaanku. Ayo, beritahu aku mama.” Ledek Long An.


Tin!


Suara klakson mobil menggema. Menghentikan pembicaraan Long An dan Irene. Long An masih menggoda mamanya. Namun, Irene hanya senyum-senyum dan mengantarkan Long An masuk ke mobil Nyonya Meri. Sebelum masuk mobil. Long An mencium tangan dan pipi ibunya.


“Terimakasih sudah menjemput Long An.” kata Irene pada Nyonya Meri.


“Jangan sungkan, sekarang ini kita adalah keluarga. Anak-anak, ayo kita berangkat.” ajak Nyonya Meri.


Kemudian mobil tersebut berjalan. Berlalu dari Irene yang melambaikan tangan.


Di dalam mobil, Long An segera bertanya pada Nyonya Meri.


“Bu Meri, apakah sudah dipersiapkan barangnya?” tanya An.


“Tenang saja, tempo hari ibu sudah menyimpan gelas bekas minum Tuan Ravindra. Ibu juga mengambil rambut dari baju kotornya secara diam-diam. Jadi, hari ini ibu akan membawanya ke Rumah Sakit. Agar secepatnya bisa dilakukan tes DNA.”


“Baguslah, sekarang giliranku.”

__ADS_1


“Meichan, bantu aku.” kata Long An.


“Chanmei, berikan guntingnya.” perintah Meichan.


Chanmei segera memberikan gunting yang ia bawa. Menyerahkan pada saudarinya itu. Lantas Meichan menggunting sedikit rambut Long An. Kemudian memasukkannya ke dalam kantong plastik. Long An tidak hanya sengaja mengajak jalan-jalan supaya mamanya dekat dengan Ravindra. Tetapi dengan tujuan mengambil sample DNA Ravindra. Untuk dicocokkan dengan miliknya. Itu akan membuktikan kebenaran yang selama ini masih menjadi misteri.


“An, aku ingin bertanya.” kata Chanmei.


“Aku juga.” sahut Meichan.


“Katakanlah.”


“Bagaimana jika tes DNA ini membuktikan bahwa kemungkinan terburuk. Tuan Ravindra bukan papamu?” tanya si kembar bersamaan. Nyonya Meri yang mengemudi juga ikut penasaran.


Long An diam sejenak. Namun, itu tidak bertahan lama. Ia kemudian tersenyum lebar. Menunjukkan deretan giginya yang mungil dan rapi.


“Aku akan tetap bahagia. Tidak perduli, Paman rambut landak papaku atau bukan. Bagiku dan mama, Paman rambut landak membawa kebahagiaan tersendiri.”


“Luar biasa.” kata Si kembar dan Nyonya Meri bersamaan.


Di sisi lain, Irene mulai bersiap-siap berangkat kerja. Ia juga harus mengajar di sekolah TK. Saat Irene sedang bersiap-siap. Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi. Irene mengernyitkan keningnya. Siapa yang sepagi ini bertamu? Terlintas dipikiran Irene, bahwa yang datang adalah Ravindra.


“Apa pria rambut landak itu yang datang?” tanya Irene pada dirinya sendiri. Tampak binar keceriaan dari wajahnya.


Lantas Irene bergegas menuju pintu. Membuka dengan sejuta harapan bahagia.


“Rene, siapa yang kamu bicarakan? Ini aku, Dareen.”


Irene langsung terkaget. Ia menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala. Rupanya yang Irene duga salah, yang datang bukan Ravindra. Namun, pria itu adalah Dareen. Cucu nenek Heera yang selama ini membantunya.


“Da… Dareen?!” tanya Irene kaget, karena Dareen datang dengan tiba-tiba seperti ini.


“Surprise!!!” kata Dareen dengan memasang wajah ceria.


Irene benar-benar terkejut dengan kedatangan Dareen.


“Kamu pulang?”


“Ya, aku pulang karena merindukan nenek dan juga kalian berdua.”


“Kenapa tidak meneleponku dahulu. Aku bisa menjemputmu di bandara.”


“Aku ingin memberikan kejutan padamu dan juga Long An.” Dareen terlihat ceria.


“Long An pasti akan sangat senang. Mengetahui kamu datang. Tetapi, sekarang An sedang sekolah.”


“Tidak apa-apa. Aku tahu itu. Sebenarnya, aku ingin mengajakmu ke rumah nenek. Ada hal yang ingin aku bicarakan.” ucap Dareen dengan wajah berbinar.

__ADS_1


“Ah, jika begitu. Tunggulah sebentar. Aku akan menelepon ke tempat kerjaku dan meminta ijin tidak masuk.” kata Irene.


Setelah beberapa saat, keduanya sampai di rumah nenek Heera. Kedatangan Dareen langsung disambut Sang Nenek.


“Cucuku, astaga kamu semakin tampan.” puji nenek Heera sambil memeluk cucu semata wayangnya tersebut.


“Kamu pulang, tetapi bukannya menemui nenek dahulu. Malah pergi ke rumah Irene ckckck cucu nenek benar-benar sudah dewasa.” goda nenek Heera pada Dareen.


Membuat Dareen salah tingkah. Kenapa neneknya harus mengatakan hal tersebut dihadapan Irene. Irene hanya menatap Dareen dan mengernyitkan keningnya.


“Rene, kemarilah.”


Irene mendekat dan langsung disambut pelukan hangat nenek Heera. Irene tersenyum dan membalas pelukan si nenek. Lantas mereka mengobrol di ruang tamu.


“Nenek sangat bahagia sekali. Cucuku pulang dan bertemu dengan cicit kecil yang menggemaskan. Sering-seringlah ajak Long An bermain ke sini.” kata nenek Heera sambil menatap Dareen dan Irene bergantian.


“Tentu saja nek. Aku akan sering mengajak Long An datang ke sini. An pasti sangat senang. Jika mendengar Dareen ada di sini.”


Nenek Heera tersenyum. Kemudian, ia melirik cucunya yang sedari tadi hanya diam dengan wajah tegang. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat tingkah cucunya tersebut.


“Rene, kamu dan Dareen sama-sama memiliki usia yang sudah matang. Benar bukan?”


“Maksud nenek?” tanya Irene merasa heran. Kenapa tiba-tiba nenek Heera bertanya seperti itu.


“Dareen cucuku, dia memang pandai dalam hal karate. Badannya bagus dan cukup tampan. Tetapi, sayangnya dia tidak memiliki cukup keberanian untuk mengatakan perasaannya.”


“Nenek, apa yang nenek katakan? Jangan sekarang? Jangan membuat Irene bingung.” Dareen berusaha menghentikan neneknya.


Irene terlihat semakin kebingungan. Tidak mengerti pembicaraan antara Dareen dan nenek Heera.


“Dareen, Irene adalah wanita yang cantik, baik, dan begitu penuh kasih sayang. Pasti banyak pria yang mendambakan cintanya. Kamu harus bergerak cepat. Jangan sampai terlambat mendapatkan wanita seperti Irene.”


Irene semakin tak mengerti dibuatnya. Lalu ia menatap ke arah Dareen seolah meminta penjelasan. Dareen yang ditatap Irene. Terlihat salah tingkah dan wajahnya memerah. Nenek Heera hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Melihat tingkah cucunya tersebut.


“Sebenarnya, sudah sejak lama. Dareen menceritakan ini padaku. Namun, dia pria pemalu yang tak berani mengatakan perasaannya. Dareen, sudah sejak lama memendam perasaan padamu. Bahkan jauh hari saat bertemu pertama kali denganmu. Dia sudah menaruh hati padamu.” kata Nenek Heera.


“A… apa?!” Irene benar-benar terkejut mendengar penjelasan dari nenek Heera. Tak menyangka jika Dareen memiliki perasaan padanya.


“Rene, aku tidak bermaksud membuatmu kebingungan. Hanya…. hanya… aku tidak tahu bagaimana cara mengatakan padamu. Ja… jadi aku meminta bantuan nenek.” Dareen yang menjawab pertanyaan Irene.


“Ta… tapi?” Irene sungguh terkejut mendengar hal tiba-tiba seperti ini.


“Rene… nenek mengerti. Kamu pasti terkejut dan kebingungan karena mendengar hal tiba-tiba seperti ini. Nenek hanya ingin mewakili cucu nenek untuk melamarmu. Apa kamu bersedia?”


Irene tak menjawab. Ia tak tahu harus berkata apa. Selama ini, Irene hanya menganggap Dareen sebagai sahabat ataupun saudara. Tak lebih daripada itu.


“Rene, aku tidak memaksamu menjawab sekarang. Pikirkanlah dengan tenang. Ini bukan untukmu saja. Tetapi untuk Long An juga. Jadi, pikirkanlah baik-baik. Aku dan nenek akan menunggumu dengan sabar.” sahut Dareen.

__ADS_1


Kini, Irene berjalan lunglai menuju rumahnya. Kenapa semua datang begitu tiba-tiba. Dareen hanya ia anggap sebagai sahabatnya saja. Namun, tiba-tiba datang dan melamarnya. Irene tak tahu harus menjawab apa. Disatu sisi, nenek Heera dan Dareen yang membantunya selama ini. Menjadi pelindungnya dikala penderitaan menenggelamkannya. Irene merasa berhutang budi pada keluarga nenek Heera. Namun, di sisi lainnya. Ia tak dapat berbohong. Bahwa hatinya … hatinya merasakan sesuatu pada Ravindra. Siapakah yang akan Irene pilih?


__ADS_2