Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 38


__ADS_3

...Es yang Mencair...


Di hari sabtu pagi itu merupakan hari yang menyenangkan bagi Long An. Disaksikan langit yang biru muda dan terbentang luas tanpa batas. Cuacanya benar-benar cerah dan mendukung untuk berkemah. Long An sengaja merencanakan ini semua. Untuk membuat ibunya dan Ravindra semakin dekat. Long An merasa, hati mereka saling terkait. Meski keduanya hanya diam. Mereka mungkin tak tahu cara mengatakan perasaan dan ketertarikan. Ia juga akan mencari bukti secara langsung. Mengenai Ravindra benarkah ayahnya atau bukan. Dibantu Nyonya Meri dan Si kembar.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat. Bus itu pun sampai di sebuah padang rumput hijau yang luas dengan sungai kecil yang mengalir. Ada beberapa pengunjung lain yang sudah membangun tenda untuk berkemah. Triple Kancil terlihat berlonjak kegirangan. Nyonya Meri yang sudah lama tidak piknik langsung menari balet dengan riang.


Sedangkan Irene segera menurunkan beberapa barang bawaan. Ravindra hanya melipat tangan di dada dan bersandar di dinding bus. Irene yang melihat Ravindra hanya diam dan tidak membantu, menggerutu dengan kesal. Lalu, Irene mengambil sebuah tas dan melempar ke arah Rava.


“Woou!” Ravindra berteriak sambil memegangi tas yang dilemparkan padanya.


“Hei! Wanita aneh apa lagi sekarang?” tanya Ravindra terlihat kesal.


“Apa fungsimu sebagai pria di sini? Jika tidak membantu?” Irene bertanya balik.


Ravindra hanya bisa menahan kesal.


“Aku seorang pria sejati mengerti?!”


“Buktikan.” ledek Irene.


Ravindra segera memerintahkan Pak Albert untuk membawa semua barang-barang dan membangun tenda. Irene yang melihat sikap Ravindra kesal sendiri.


“Dasar, pria rambut landak.” ejek Irene dengan kesal. Ia lantas berjalan menyusul yang lain.


Mendengar perkataan Irene. Ravindra terlihat menatap dingin. Lantas menarik lengan Irene dan mendorongnya hingga tubuh Irene tersudut di dinding bus. Ravindra menatap Irene dengan dingin. Irene berusaha meronta agar Rava melepaskannya. Namun, Rava memegangi bahu Irene dengan erat.


“Jangan merusak imageku dengan memanggil begitu.” Rava menatap dengan tatapan dingin.


Irene tersenyum, “Memang seperti itu kenyataannya Tuan rambut landak.”


“Ka… kamu?!” Ravindra kesal dibuatnya.


Irene berusaha meronta agar Rava melepaskannya. Tetapi Rava terus menahan tubuh Irene. Sampai Irene habis kesabaran dan langsung menginjak kaki Rava dengan keras.


“Arght!!” Rava berusaha menahan sakit di kakinya. Ia menatap Irene dengan sangat kesal.


Sedangkan Irene tersenyum dan melenggang pergi begitu saja. Irene bukan wanita lemah seperti wanita lain. Meski ia dibesarkan di panti asuhan. Tetapi hidupnya sudah tertempa dengan kerasnya kehidupan. Ditemani penderitaan dan kemalangan. Jadi, hal itu secara alami membentuk pribadinya menjadi kuat dan tak mau ditindas begitu saja. Jika memang ia tak salah.


Triple Kancil dan Nyonya Meri yang melihat adegan antara Irene dan Rava hanya tertawa cekikikan. Alhasil yang mendirikan tenda adalah Pak Albert ditemani Nyonya Meri. Irene bertugas menyiapkan makanan. Sedangkan Rava hanya duduk santai menopang dagu layaknya seorang sultan. Ya memang dia sultan. Wajahnya masih diselimuti rasa kesal karena ulah Irene barusan.


“Paman! Ayo kita menangkap ikan.” tiba-tiba Long An menarik tangan Ravindra.


“Tidak mau.”


“Ayolah paman!” Long An terus menarik tangan Rava. Membawanyanya ke pinggir sungai.

__ADS_1


Meski Rava terlihat malas. Ia tetap mengikuti Long An.


“Ayo paman! Kita tangkap ikan!” Long An kembali mengajak Rava masuk ke dalam sungai yang tidak terlalu dalam.


“Tuan Tampan, ayo! ayo! kita tangkap ikan.” Ajak Si kembar.


Meski Rava malas, ia mau tak mau menuruti para bocah tersebut. Long An sudah menyiapkan perangkap di ujung sungai menggunakan ranting-ranting. Untuk menghalangi ikannya berenang. Ia dan si kembar tinggal berlarian dan menghalau ikan-ikan dari arah lain.


“Ayo paman! kita tangkap ikan!” ajak Long An sambil berlarian di sungai menghalau ikan-ikan agar menuju jebakan.


Triple kancil terlihat riang sekali. Rava hanya melipat tangan di dada dan menatap malas dengan kegiatan kekanak-kanakan seperti ini.


“Anak-anak! tangkap ikan yang besar. Jangan biarkan Tuan rambut landak menang!” Irene memberi semangat pada Triple Kancil.


Rava yang mendengar perkataan Irene merasa kesal. Harga dirinya yang mengambil alih tubuhnya sekarang. Ia tak mau dipermalukan. Jadi, secepat kilat Rava berlarian ikut menghalau ikan-ikan tersebut. Irene yang menyaksikan Rava ikut menghalau ikan. Menyunggingkan sebuah senyum.


Setelah ikan-ikan yang dihalau mulai terjebak diperangkap yang dibuat oleh Long An. Long An segera mengambil jaring khusus penangkap ikan. Si kembar juga ikutan menangkap. Alhasil mereka mendapatkan ikan. Si kembar berhasil menangkap ikan dengan ukuran yang sama. Long An berhasil menangkap satu ikan yang cukup besar. Mereka bersorai kegirangan.


“Minggir! Sekarang giliranku. Aku yang akan menangkap ikan yang paling besar di sini.” kata Ravindra sambil mengobok-obok air.


Triple kancil tertawa melihat tingkah Ravindra.


“Paman rambut landak, pakai jaringnya.” ucap Long An sembari menyodorkan sebuah jaring.


Triple Kancil bersorak-sorai mendukung Rava. Sembari main air dengan gembira. Awalnya mereka bersemangat. Tetapi lama-lama Triple Kancil mulai kelelahan, karena Rava belum berhasil menangkap ikan. Jelas susah menangkap ikan di air mengandalkan tangan saja. Sudah pasti ikannya licin. Tetapi Rava bersikeras. Ia mau unggul dibandingkan Triple Kancil. Rava terus berusaha hingga tak terasa siang berganti dengan petang.


Semua orang sedang duduk menikmati api unggun sambil makan malam. Tetapi Rava masih sibuk menangkap ikan.


“Paman! berhentilah, makan dulu.” Teriak Long An. Tetapi diabaikan oleh Rava.


“Aku harus berhasil menangkap ikan.” Rava menyemangati dirinya sendiri.


Hingga beberapa saat lamanya Rava terus mencari. Semua orang sampai bosan dan akhirnya pergi tidur. Rava benar-benar masih berusaha keras. Hingga pada akhirnya ia berhasil menangkap ikan.


“Hei! lihatlah, aku berhasil menangkap ikan! Bukankah aku hebat?!” Teriak Rava bersemangat. Menyombongkan dirinya yang berhasil menangkap ikan.


Namun, Rava terkejut ketika di pinggir sungai tak ada orang. Kecuali Irene yang terlihat duduk santai sambil menikmati secangkir kopi panas.


“Di mana semua orang?” tanya Rava.


“Mereka pergi tidur, karena lelah melihatmu menangkap ikan.” Irene menjawab dengan santai sembari menyesap kopi panas.


Rava yang kesal langsung mengembalikan ikan ke dalam air. Ia bergegas naik kedaratan. Sia-sia perjuangannya, jika tidak ada yang melihat. Saat ia berjalan, Irene langsung menyodorkan segelas kopi pada Rava. Alhasil, keduanya duduk menikmati kopi panas. Ditemani gemerisik aliran sungai yang mengalir. Di langit, terlihat bintang dan rembulan tengah tersenyum menunjukkan kecantikan.


Rava duduk di samping Irene. Untuk sesaat mereka hanya diam. Namun, itu tak bertahan lama. Saat suara Irene memecah keheningan.

__ADS_1


“Terimakasih.” Kata Irene pendek.


“Tidak perlu berterimakasih.”


“Tetapi, tetap saja aku harus berterimakasih. Long An bisa tertawa riang seperti hari ini. Bagaimanapun juga, aku harus berterimakasih pada siapapun yang membuat putraku bahagia.”


Rava menatap Irene dengan dalam.


“Lalu bagaimana denganmu? kamu bahagia?”


Irene hanya tersenyum.


“Pertanyaanku tempo hari. Kenapa hatimu bisa sehangat itu?” tanya Rava dengan tatapan penuh arti pada Irene.


Irene menoleh dan menatap Rava.


“Aku tidak tahu. Hati yang hangat itu seperti apa. Tetapi ketika memiliki Long An, hatiku tak lagi merasa kesepian. Aku merasakan kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan. Di sini juga…” tunjuk Irene pada hatinya. Kemudian ia melanjutkan bicara.


“Di sini, ada almarhum ayahku. Setiap kenangan bersamanya membuat hatiku hangat.” Irene tersenyum lembut.


Ketika Irene mengingat kenangan bersama ayahnya. Meski di satu sisi hatinya merasa sedih. Tetapi kesedihan, tak akan mampu mengambil alih kehangatan sebuah kenangan bersama orang yang ia sayangi.


“Jadi begitu?”


Rava menatap Irene dengan tatapan penuh arti. Matanya yang dingin, kini berubah lebih sendu.


“Lalu, kenapa hatimu begitu dingin?” tanya Irene sembari menatap Rava.


Rava hanya menatap Irene dengan dalam. Dari pancaran matanya terlihat kesedihan. Tanpa Irene duga, Rava langsung bersandar di bahu Irene. Irene terkejut dengan sikap Rava. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Seperti ada yang menabuh berkali-kali. Irene berusaha menghindar. Namun, Rava segera memegangi tangan Irene.


“Tetaplah seperti ini. Jangan pergi kemanapun. Biarkan untuk beberapa saat aku merasakan kehangatan hatimu.” kata Rava lembut.


Irene mau tak mau membiarkan Rava bersandar di bahunya. Wajahnya terlihat memerah. Namun, Irene berusaha mengontrol dirinya.


“Kamu memiliki kenangan yang hangat dengan ayahmu. Tetapi sebaliknya, kenangan yang aku miliki menciptakan es di dalam hatiku. Membuat hatiku dingin dan membeku.” kata Rava, ada nada kesedihan dari tiap kalimat yang ia ucapkan.


“Kenapa kamu tidak mencairkan es dalam hatimu sendiri?” tanya Irene yang sedikit demi sedikit mulai mengerti kenapa Rava bisa sedingin itu.


“Aku tidak bisa melakukannya sendiri. Apakah kamu mau, mencairkan es dalam hatiku dan menghangatkannya? Tentu saja bersama si kecil Long An. Aku rasa, akan lengkap jika seperti itu. Jadi, bisakah aku merasakan kehangatan hatimu?” tanya Rava dengan tatapan dalam. Menatap Irene penuh arti.


Mendengar pertanyaan Rava. Irene begitu tercekat. Ia hanya bisa menatap ke arah Rava yang bersandar di bahunya. Mereka saling bertatapan dengan dalam. Ditemani suara degup jantung keduanya yang saling bertalu-talu.


Tanpa keduanya sadari. Long An mengintip dari balik tenda. Mengeluarkan sedikit kepalanya. Di susul Chanmei di atasnya. Kemudian, Meichan yang agak tinggi dibanding keduanya. Lantas yang terakhir adalah Nyonya Meri. Mereka berempat tersenyum dan merasakan keromantisan antara Irene dan Rava.


Papa, aku dan mama akan menghangatkan hatimu. kata Long An dengan senyum hangat.

__ADS_1


__ADS_2