Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 50


__ADS_3

... Hati Ravindra...


Di sebuah kamar yang nampak luas dan mewah dibalut dengan ornamen yang berkelas. Tampak seorang pria dengan tinggi badan sempurna sedang menatap ke luar jendela kamarnya. Pria dengan rambut berdiri tersebut sedang menatap cincin bermata bunga lotus. Ingatannya kembali melayang ke peristiwa 10 tahun yang lalu.



. *Ilustrasi cincin bermata bunga Lotus.


Flashback


Di malam kejadian itu, Ravindra mengendarai mobil hitam sport menuju villa milik keluarganya. Ravindra memang sedikit mabuk. Tetapi, kesadarannya masih cukup bagus. Ia menatap ke arah villa yang sangat mewah. Lantas berjalan perlahan dan masuk ke dalam. Tujuan Rava adalah kamar utama di villa tersebut. Dia datang, karena tidak ingin namanya tercemar. Hanya karena rumor yang tak berdasar. Mengatakan bahwa dirinya penyuka sesama jenis. Dia bersikap dingin pada wanita atau siapapun karena Rava telah kehilangan kepercayaan. Kepercayaan pada yang namanya kasih sayang. Jika ia tidak menyayangi, maka hatinya juga tidak akan terluka. Membekukan hatinya adalah jalan keluar terbaik untuk melindungi diri dari rasa sakit, kesepian maupun kesedihan.


Ravindra merasakan bagaimana sakitnya, jika menyayangi seseorang. Namun, ia tak mendapatkan balasannya. Perasaan sakit itu ia rasakan saat Rava masih kecil dan diabaikan oleh kedua orang tuanya. Rava hanya ingin perhatian dan kasih sayang mereka. Bukan melihat perselingkuhan ayah dan ibunya. Maka, semua hal itulah yang membuatnya dingin terhadap wanita dan semua orang.


Rosalind telah berhasil memprovokasi Ravindra. Supaya mau datang ke villa dan memintanya membuktikan bahwa ia adalah pria sejati. Bukan seperti rumor yang beredar. Alhasil, malam itu Ravindra ingin membuktikan pada Rosalind. Ia akan membuktikan bahwa dirinya pria sejati. Rava berjalan memasuki villa mewah milik keluarganya tersebut. Suasana di dalam villa begitu sepi. Rava dengan tatapan dingin menuju kamar utama. Dia yakin, Rosalind pasti menunggunya di sana.


Perlahan, Rava membuka jasnya. Jas itu tergeletak begitu saja di lantai. Dasi yang ia kenakan, dilepas begitu saja. Rava membuka sedikit kancing bajunya. Wine yang tadi dia minum membuat tubuhnya sedikit panas. Malam ini, Rava akan membuktikan dia memang pria sejati. Setelah berjalan beberapa saat. Rava sampai di depan pintu kamar utama. Ia langsung membuka pintu dengan perlahan. Namun, Rava melihat di dalam kamar begitu gelap. Lampunya tidak dinyalakan. Suasananya begitu hening. Cahaya lampu di luar ruangan hanya bisa masuk secara samar-samar. Menghasilkan cahaya yang temaram. Ravindra tak begitu bisa melihat.

__ADS_1


Rava terus masuk ke dalam dan berjalan perlahan. Setelah sedikit masuk. Ia melihat seseorang sedang berdiri. Rava menduga itu pasti Rosalind. Rava mendengar sedikit suara samar dari wanita yang dia pikir Rosalind. Ravindra ingin menyalakan lampu kamar. Tetapi ia melihat sosok yang ia anggap Rosalind berjalan ke arahnya sambil mengulurkan tangan. Rava berpikir, Rosalind mungkin sedang mabuk dan tak ingin menyalakan lampu. Ravindra sendiri tidak ingin berlama-lama di sana. Ia akan membuktikan dia adalah pria sejati. Setelah pembuktiannya selesai. Ia akan segera meninggalkan tempat itu.


Tepat disaat tangan wanita yang ia anggap sebagai Rosalind tersebut telulur. Rava segera meraih tangannya dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu. Ravindra sedikit tercekat. Bibir gadis yang ia anggap sebagai Rosalind begitu manis rasanya. Masih sangat ranum. Berci*uman dengan Rosalind membuat hatinya tiba-tiba merasa aneh. Perasaan yang tak pernah ia rasakan. Ravindra sedikit terkejut. Rosalind dahulu memang pernah menge*cup bibirnya. Namun, malam ini bibir Rosalind terasa berbeda. Malam ini, rasa bibir itu membuat hatinya menghangat dan lebih ingin merasakannya.


Perlahan, Ravindra memperdalam ciu*mannya di bibir gadis itu. Merasakan setiap lapisan kulit si gadis yang begitu halus. Merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Membuat Rava semakin memanas. Ia segera membaringkan gadis yang dianggap Rosalind itu di ranjang. Lantas ia membuka kancing bajunya secara perlahan. Menunjukkan lekuk tubuhnya yang berotot dengan perut sickpack yang seksi. Di tengah kegelapan itulah, Rava menyalurkan rasa panas ditubuhnya.


Rava kemudian kembali mendaratkan bibirnya kembali. Merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan. Melampiaskan panas yang menjalar di tubuhnya. Malam itu, Rosalind seolah hanya diam dan pasrah menerima apapun yang dilakukan Ravindra padanya. Hingga entah berapa kali Ravindra melakukannya ia tak ingat. Dia hanya ingat sepanjang malam tersebut dirinya merasakan hal yang tak pernah ia rasakan. Makanya, berkali-kali ia menyalurkan gelora yang ada dalam dirinya. Hingga Ravindra lepas kontrol dan menanamkan benih murni ditubuh gadis yang ia kira Rosalind. Pikir Ravindra, jika memang Rosalind hamil. Dia akan bertanggung jawab. Malam ini, entah kenapa ada sesuatu yang membuat hati dan tubuhnya terasa hangat. Membuat tubuhnya sangat bergelora hebat.


Rava begitu asyik bermain dengan tubuh yang tak berdaya di atas ranjang tersebut. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki ia jelajahi. Hingga tak terasa waktu berdentang menjemput terang. Rava yang sudah menaiki puncak dunia. Merasa kelelahan dan tertidur di samping gadis yang masih ia anggap Rosalind. Nafasnya terdengar terengah-engah. Hingga rasa kantuk menggelayut di kedua matanya. Rava tertidur begitu nyaman. Kenyamanan yang belum pernah ia rasakan di usianya yang ke 22 tahun.


Tepat disaat Rava berdiri. Kakinya menginjak suatu benda. Ia heran benda apa yang ia injak. Rava mengambilnya. Melihat bahwa benda itu adalah sebuah cincin bermata bunga Lotus. Ia mengernyitkan kening. Rava mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Mencari sosok Rosalind. Namun, yang ia cari tak ada di tempat tidur atau di manapun. Di tempat tidur hanya ada bekas ceceran kemerahan yang sepertinya adalah noda darah dan bekas kekuningan. Sepertinya bekas itu adalah bekas semalam Rava bercocok tanam.


Di saat Rava sedang mencari keberadaan Rosalind. Terdengar suara ponselnya berdering. Nama yang tertera di layar ponselnya adalah nama Rosalind.


Pagi sayang, kamu di mana? Ehm maksudku kamu sudah bangun? Semalam aku merasakan hal yang luar biasa. Kamu begitu hebat sayang. Cerocos Rosalind.


“Apa kamu ketinggalan sesuatu?” tanya Rava.

__ADS_1


Ketinggalan apa? Aku tidak merasa ketinggalan apapun.


“Maksudku sebuah cincin?” tanya Ravindra kembali.


Cincin? Cincin apa?


“Cincin perak biasa dengan mata berbentuk bunga Lotus.”


Sayang, mungkin kamu salah. Aku tidak mungkin memakai cincin perak biasa seperti itu. Apalagi bermata bunga Lotus. Bukan seleraku. jawab Rosalind.


Mendengar jawaban Rosalind. Ravindra hanya diam dan menatap cincin bermata bunga Lotus tersebut dengan seksama. Ia mulai merasakan ada sesuatu yang janggal. Namun, Ravindra hanya diam saja. Dia hanya berpikir akan bertanggungjawab pada Rosalind. Jika Rosalind mengandung benih yang ia tanam semalam. Namun, selama berbulan-bulan lamanya. Rosalind hanya diam dan tak ada tanda-tanda kehamilan.


Suatu ketika, saat Rava berduaan bersama Rosalind. Rosalind pernah mengecup bibirnya dan ingin melakukan tanam benih bersama Rava. Namun, saat bibir Rosalind mendarat dibibir Ravindra. Rasa bibirnya berbeda dengan yang Ravindra rasakan malam itu. Bibir yang membawa kehangatan di hatinya. Disaat itu juga Rava menolak melakukan hal itu bersama Rosalind. Ada sesuatu yang berbeda antara Rosalind malam itu dengan Rosalind yang ia kenal. Seiring berjalannya waktu, Ravindra mulai disibukkan dengan pekerjaan. Hingga ia lupa dengan kejadian malam itu. Namun, ia tetap menyimpan cincin bermata bunga Lotus tersebut.


Semua tabir mulai terungkap. Jadi 10 tahun yang lalu. Ravindra mengira, gadis yang ia tiduri malam itu adalah Rosalind. Namun, perlahan Rava menyadarinya. Rava ingat bagaimana rasa bibir gadis 10 tahun yang lalu dengan rasa bibir Irene. Keduanya sama. Sama-sama memberikan kehangatan di hati Ravindra. Kehangatan yang tak pernah ia rasakan. Meski Rava memiliki ketakutan mempercayai orang lain ataupun memberikan cinta pada yang lainnya. Tidak untuk kali ini. Tidak untuk Irene. Wanita yang telah mencairkan kebekuan di hatinya. Wanita yang juga telah memberikannya seorang putra yang genius dan menghangatkan hati Ravindra.


Apa yang akan dilakukan Ravindra selanjutnya? Tunggu episode berikutnya…

__ADS_1


__ADS_2