
... Ingin Bertemu Papa...
Tanpa terasa, waktu berlalu dengan cepat. Siang dan malam silih berganti. Misteri dalam hidup tak pernah ada yang mengetahui. Long An si bocah genius, meski terlihat ceria. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya. Ia tetap saja ingin mengetahui seperti apa ayahnya. Apakah ia mirip ayahnya? Bagaimana wajah ayahnya? Semua pemikiran itu bercampur aduk dalam kepala Long An. Ia yang sudah berusia 10 tahun, belum mengetahui siapa ayahnya. Itu membuat Long An sedih. Long An menghela nafas dalam, sembari menatap sebuah gambar seorang pria yang belum ia selesaikan. Di saat Long An sedang menatap gambar tersebut. Si kembar datang mengejutkan An.
“Yo!” Teriak Meichan.
“Aha!! Sahut Chanmei.
“Kamu sedang apa?” Tanya Meichan penasaran sambil duduk di sisi kanan Long An.
“Sedang apa kamu?” Chanmei ikut bertanya dan duduk di sisi kiri Long An.
“Kalian lucu sekali. Bertanya begitu? Jika satunya bertanya, yang lain ikut bertanya.” Long An tak habis pikir dengan si kembar ini.
“Jadi, itu arti memiliki saudara kembar.” Lanjut Long An.
“Hei!!! Kita tidak kembar!!” Teriak Meichan dan Chanmei bersamaan.
“Hahaha!!!” Long An jadi tertawa lebar melihat tingkah sahabatnya itu.
Namun, sedetik kemudian keceriannya menghilang dari wajah imut Long An. Si kembar saling berpandangan. Tidak mengerti kenapa tiba-tiba An jadi pendiam.
“Ada apa?” Tanya Meichan dan Chanmei bersama.
Long An lantas menunjukkan sebuah gambar yang belum ia selesaikan. Kedua saudari kembar tersebut melihat gambar yang Long An buat.
“Sejujurnya, aku tidak pernah mengetahui siapa papaku. Mamaku tidak pernah menceritakan tentang papa. Setiap kali aku membahas tentang papa. Raut wajah mama, terlihat sedih. Jadi, aku tidak berani mengatakan apapun lagi. Aku berfikir, apakah papaku orang jahat? Hingga meninggalkan mama dan aku sendirian.” Long An berkata dengan nada sedih.
Meichan dan Chanmei saling berpandangan. Lantas menepuk bahu Long An.
“Jika papamu jahat, mari kita cari dia. Beri dia pelajaran.” Kata Meichan bersemangat.
“Itu benar, mari kita hajar bersama-sama.” Chanmei ikut mengompori.
“Hei teman-teman kalian begitu bar-bar. Tidak perlu sampai menghajar. Aku tidak masalah papaku orang yang seperti apa. Aku hanya ingin tahu siapa papaku.” Long An menyahut sambil tertawa lebar karena si kembar menurutnya lucu.
Sebelum Meichan dan Chanmei berkomentar lagi. Terdengar suara Nyonya Meri mendatangi ketiga anak tersebut.
“La…la… la….” Nyonya Meri bersenandung dengan riang.
“Rupanya kalian bertiga berkumpul di sini? Nah, ini ada susu kotak untuk kalian. Bersemangatlah! Supaya kalian memiliki stamina yang hebat. Berkat pertandingan antar sekolah kemarin. Nama AA School semakin melonjak. Apalagi, bintang utama kita. Karateka Genius telah membuat orang berdecak kagum. Aku sangat senang sekali.” Wajah Nyonya Meri terlihat bahagia. Ia menari ala balet dengan indah. Tetapi kenyataannya, tarian baletnya bisa merusak jiwa seseorang.
“Mama, ini bukan saatnya bergembira.” Kata Chanmei.
“Benar, mama jangan membuat suasana semakin suram.” Timpal Meichan.
__ADS_1
Seketika Nyonya Meri berhenti menari.
“Memangnya tarian mama seburuk itu?” Nyonya Meri bertanya dengan menampilkan wajah kesal.
“Apa ada masalah?” Tanya Nyonya Meri penasaran.
“Long An, ingin mencari papanya.” Jawab Meichan.
“Ya, An ingin mencari papanya.” Sahut Chanmei.
“Hah? Benarkah itu?” Tanya Nyonya Meri sambil menatap Long An.
An mengangguk yakin. Ia ingin sekali mengetahui siapa ayahnya. Long An tidak akan minta apa-apa pada ayahnya. Hanya ingin bertemu meski sekali saja. Ingin melihat bagaimana rupa ayah yang telah meneteskan darah ditubuhnya. Melihat Long An yang bersedih karena tidak mengetahui siapa ayahnya. Nyonya Meri segera duduk di samping Long An. Menggeser dua anaknya.
“Apakah mamamu, tidak mengatakan apapun tentang siapa ayahmu? Fotonya? Atau apapun?” Tanya Nyonya Meri.
Long An menggelengkan kepalanya. Namun, sedetik kemudian ia teringat sesuatu.
“Aha!! Dulu mamaku pernah mengatakan bahwa namaku artinya adalah Naga. Mama memberiku nama begitu karena ia pernah melihat tato Naga di lengan kiri seseorang. Jadi, aku menyimpulkan mama melihat tato Naga itu ada di lengan kiri papaku.” Jawab Long An dengan mata bersemangat.
“Lalu apalagi?” Tanya Nyonya Meri dan si kembar bersamaan.
“Ehmm… aku pernah menangis ingin mengetahui siapa papaku. Jadi, mama sedikit memberitahu. Bahwa papa, memiliki aroma yang khas. Bau parfum yang khas. Tetapi, mama tidak mengatakan bau parfum apa.”
“Aroma parfum yang khas?” Nyonya Meri bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sepertinya ia menyimpan ingatan yang sangat penting tentang itu.
“Parfum yang khas? Sepertinya ini sesuatu yang aku tahu.” Nyonya Meri bergumam pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa lama berfikir. Sampai Long An jenggotan. Si kembar ubanan, Nyonya Meri baru menyadari sesuatu.
“Aha!! Aku ingat sesuatu.” Pekiknya keras sambil menepuk tangannya.
“Apa itu?!!” Long An dan si kembar ikut berteriak keras. Mereka penasaran.
“Mengenai bau parfum yang khas itu….”
“Ya???” Tanya Long An dan si kembar mendekatkan wajah mereka ke wajah Nyonya Meri.
Ditabok! Ditabok!! Ditabok aja! Dering suara ringtone telp berbunyi dengan nada lagu seperti lagu direject. Lagu yang dinyanyikan Janeta Janet.
Gubrak!
Long An dan si kembar langsung bergelatakan. Mendengar ringtone Nyonya Meri adalah suaranya sendiri yang bernyanyi ala Janeta Janet. Namun liriknya diganti.
“Mama!!!” Pekik si kembar, karena ringtone mamanya kampungan. Masa memakai suaranya sendiri yang seperti gajah digencet.
__ADS_1
Nyonya Meri hanya nyengir kuda dan segera mengangkat telpnya.
“Ya Halo… Di sini dengan Assisten Meri yang siap melayani sampai anda ketagihan lagi.”
“Mama!!!” Teriak si kembar merasa malu melihat tingkah mamanya.
Tetapi Nyonya Meri tak perduli.
“Oh, Tuan Ravindra sudah datang? Baiklah, saya akan segera kembali ke kantor.” Nyonya Meri menjawab panggilan telpnya. Kemudian, panggilan telp tersebut berakhir.
“Anak-anak, kalian kembalilah belajar. Mama sedang ada urusan penting sekarang.” Ucap Nyonya Meri. Lalu ia bergegas kembali ke kantor.
“Tadi, Bu Meri mengatakan Tuan Ravindra? Apa paman rambut landak datang?” Long An bergumam sendiri.
“Paman rambut landak?” Tanya si kembar heran.
“Hehehe…” Long An hanya nyengir kuda. Ia akan menjelaskan pada si kembar kenapa sampai memanggil Ravindra, paman rambut landak.
Nyonya Meri yang bergegas menuju kantor segera masuk ke ruangan Direktur. Di sana, Ravindra duduk dengan gaya cool menanti kedatangan Nyonya Meri. Rava ditemani oleh Pak Albert selaku assistennya.
“Selamat siang Tuan Ravindra.” Sapa Nyonya Meri ramah.
“Aku tidak akan basa-basi lagi. Apa sudah kamu siapkan apa yang aku minta kemarin?” Tanya Ravindra dengan ekspresi dingin.
“Oh tentu saja. Tuan Ravindra jangan cemas. Tunggu sebentar, akan saya ambilkan.”
Setelah itu Nyonya Meri keluar ruangan. Ia mengambil sesuatu dari laci meja miliknya. Lantas secepat kilat, Nyonya Meri kembali ke ruangan Direktur.
“Ini yang anda minta, Tuan.” Nyonya Meri berkata sambil menyerahkan sebuah paperbag. Pak Albert yang menerima dan membuka isinya.
Rupanya isi dari paperbag tersebut adalah bekas botol sprei yang berisi asap pelumpuh otot.
“Jangan memberitahukan hal ini pada siapapun. Termasuk Wakil Direktur. Pastikan juga, tidak ada kejadian seperti kemarin terulang lagi. Aku tidak mau citra AA School menjadi buruk. Itu akan berimbas pada citra perusahaan Aksara Enterprise. Aku akan mencari orang yang seenaknya berbuat hal ini di AA School. Apa kamu mengerti?” Tanya Ravindra dengan nada tajam.
“Tenang saja Tuan. Saya sangat bisa dipercaya. Bibir saya tipis. Jadi tak akan bisa berbicara kemana-mana.” Nyonya Meri tersenyum renyah. Padahal bibir tipis menandakan orang yang banyak bicara.
“Satu hal lagi, awasi baik-baik bocah karateka itu. Jangan sampai kejadian itu menimpanya kembali.” Ravindra mengatakan dengan nada dingin. Tetapi dari sorot pancaran matanya, ia terlihat cemas jika kejadian itu menimpa Long An kembali.
“Tuan Ravindra, jangan cemaskan hal itu. Saya akan mengawasi Long An dengan mata lebar. Selebar daun kelor.” Jawab Nyonya Meri sedang ngelawak. Tetapi garing di mata Ravindra.
Setelah percakapan itu usai. Ravindra dan Pak Albert meninggalkan ruangan. Di antar oleh Nyonya Meri. Tanpa mereka ketahui, Long An dan si kembar menguping pembicaraan mereka lewat jendela.
“Jadi, ada orang jahat di AA School yang ingin mencelakaimu An.” Kata Meichan kesal.
“Siapa orang jahat itu? Sepertinya, kita harus bar-bar.” Timpal Chanmei.
__ADS_1
“Aku akan mencari tahu siapa orangnya. Tetapi aku tidak mau menggunakan kekerasan. Mari kita beri saja pelajaran. Pelajaran yang menyenangkan hihi….” Long An tertawa cekikikan. Disusul suara tawa Meichan dan Chanmei.
Rencana apakah yang akan dilakukan oleh ketiga anak tersebut? Untuk mencari tahu siapa dalang dibalik kejadian yang menimpa Long An?