
...Mencari Keberadaan Irene...
Long An, anak kecil genius yang sekarang harus terpisah dengan ibunya. Berusaha keras untuk tidak bersedih. Ia tidak boleh terbawa perasaan sedihnya sehingga mengaburkan pencarian masalah yang sebenarnya. Long An berada di rumahnya ditemani Nyonya Meri, Si kembar dan juga Amao.
“An, bagaimana perkembangan nenekmu?” tanya Nyonya Meri dan Si kembar bersamaan.
“Guk! Guk! Guk!” Amao menggonggong dan sepertinya ingin tahu seperti yang lain.
Long An mengelus leher dan kepala Amao sambil menjawab pertanyaan Nyonya Meri.
“Nenek, sudah melalui masa kritis. Tetapi karena hantaman yang sangat keras di bagian belakang kepala. Membuatnya koma dan membutuhkan waktu untuk bisa sadarkan diri. Kata Dokter, kemungkinan untuk sadar peluangnya sangat tipis. Tetapi tim Dokter akan berusaha keras.” jawab Long An dengan raut wajah penuh kesedihan.
Nyonya Meri dan Si kembar menepuk bahu Long An. Mereka ikut bersedih atas kejadian yang menimpa An.
“Kami akan membantumu. Apapun yang kamu butuhkan.” kata Nyonya Meri.
Si kembar juga mendukung dengan menganggukkan kepalanya.
“Terimakasih,” ucap Long A berusaha tersenyum.
“Guk! Guk!” Amao menjilati tangan Long An. Anjing itu jika bisa berbicara pasti akan mengatakan hal yang sama. Ingin membantu tuan muda kecilnya.
“Lalu bagaimana dengan papamu? Apa ia sudah mengetahui bahwa mamamu menghilang?” tanya Nyonya Meri.
Long An mengangguk.
“Papa sudah mengetahuinya. Meski papa terlihat dingin jika membicarakan mama. Ia sudah memerintahkan Pak Albert mencari tahu keberadaan mama. Siapa tahu, mama diam-diam pergi ke Amerika atau kemanapun. Papa meminta Pak Albert mencari penerbangan mana saja di hari itu yang kemungkinan mama naiki. Paman Dareen dan Nenek Heera juga akan membantu.”
“Mungkinkah hal ini ada kaitan dengan Si wanita penyihir Wakil Direktur?” tanya Nyonya Meri mencoba berpikir.
“Semua peluang itu ada. Tetapi, kita harus mencari buktinya. Jika tidak ada bukti nyata. Apa yang kita katakan hanyalah hipotesis atau dugaan semata. Aku juga sudah meminta Pak Albert mengabariku sebelum melaporkan apapun temuannya pada papa.”
“Wow, gaya bicaramu sudah seperti orang dewasa yang cerdas. Kenapa berbeda sekali dengan dua putri rambut kepang disampingku ini.” lirik Nyonya Meri dengan sinis pada anaknya.
Meichan dan Chanmei hanya bersiul seolah tak perduli. Lalu Chanmei melihat ada sebuah benda yang disandarkan pada dinding tak jauh dari tempat mereka duduk.
“An, apa itu? Bukankah itu benda yang kamu bawa barusan?” tanya Chanmei.
“Benda apa itu?” timpal Meichan.
Long An kembali teringat. Bahwa itu adalah hadiah yang Nyonya Kania ingin berikan pada Irene. Tetapi Nyonya Kania tidak bisa memberikannya sendiri. Malah menitipkan pada Long An untuk diberikan pada ibunya. Tetapi sebelum sempat Long An memberikannya. Ibunya malah menghilang.
“Aku juga tidak tahu. Tetapi dari bentuknya adalah….” jawab Long An sembari meraba benda yang ia sandarkan di dinding. An hendak membukanya.
__ADS_1
Nyonya Meri segera menghampiri, “apa tidak apa-apa membukanya? Bukankah ini untuk mamamu.”
Amao hanya menggaruk kepalanya. Long An mengelus kepala Amao penuh kasih sayang. Ia tersenyum dan menjawab pertanyaan Nyonya Meri.
“Aku rasa tidak apa-apa. Mama mungkin akan senang. Jika aku mewakili menerimanya.”
Tidak lama kemudian, dibantu Si kembar. Mereka membuka bungkusnya. Setelah beberapa saat membuka bungkusannya. Terlihat benda apa yang ingin diberikan Nyonya Kania pada Irene. Rupanya benda itu berupa busur, lengkap dengan anak panahnya.
“Wow, ini keren sekali!” pekik Si kembar bersamaan.
“Benar-benar busur dan panah dengan kualitas yang sangat bagus.” puji Nyonya Meri.
“Guk! Guk!” Amao ikut menggonggong.
Long An teringat dengan ucapan Nyonya Kania.
Flashback
“Kamu pasti sangat bahagia memiliki mama seperti Irene. Hal yang tidak pernah bisa nenek lakukan untuk ibumu. Seharusnya seorang ibu, mendampingi anaknya mewujudkan mimpi. Tetapi, nenek hanyalah seorang ibu yang sangat jahat. Ketika ibu lain mendukung mimpi anaknya. Nenek malah menghancurkan mimpi ibumu.” kata Nyonya Kania kelihatan sedih.
Long An menggenggam tangan neneknya.
“Tidak apa-apa, semua ibu di dunia ini juga pernah melakukan kesalahan pada anaknya. Mama tidak membenci nenek. Ia hanya ingin merasakan kasih sayang seorang ibu.” sahut Long An.
“Karena itulah, nenek ingin memberikan ibumu sebuah hadiah. Tetapi, nenek tidak berani memberikannya sendiri. Bisakah cucu nenek memberikannya?” tanya Nyonya Kania.
“Sekali ini saja. Nenek meminta bantuan pada cucu nenek yang menggemaskan ini.” pinta Nyonya Kania sembari mencubit pipi Long An.
“Baiklah nenek.” jawab Long An.
Nyonya Kania tersenyum bahagia. Lalu memberikan Long An sesuatu. An melihat neneknya memberikan sebuah flashdisk.
“Kenapa nenek memberiku ini?” tanya Long An heran.
“Bukalah jika ada waktu. Kamu akan mengetahuinya. Nenek harap, hal kecil ini. Bisa sedikit menebus kesalahan nenek.” jawab Nyonya Kania sambil tersenyum.
Flashback End
Long An teringat, tempo hari neneknya memberikan sebuah flashdisk. Ia segera mengambil dari dalam tasnya. Memasang di USB yang terhubung dengan ponselnya. Nyonya Meri dan yang lain kebingungan. Kenapa disaat seperti ini, Long An malah membuka ponselnya. Mereka mendekat ke arah Long An dan penasaran dengan apa yang anak itu lakukan. Setelah Long An menyambungkan flashdisk dengan ponselnya. Ia membuka isi flashdisk. Rupanya di dalamnya terdapat sebuah rekaman video. Long An mengernyitkan kening. Begitu juga dengan yang lain. Long An segera menekan tombol play dan memutar videonya.
Di dalam video.
Saat video itu diputar. Terlihat Nyonya Kania sedang memasang kamera diam-diam di sebuah kamar. Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka dan muncullah Rosalind. Nyonya Kania hanya berdehem dan bersikap tenang.
“Sedang apa di kamarku?” tanya Rosalind ketus pada Nyonya Kania.
__ADS_1
“Ros, maafkan mama. Mama tidak jujur mengenai Irene.”
Rosalind mendecih dan melipat tangan di dadanya.
“Aku sangat membencimu. Aku sudah menganggapmu sebagai ibu kandungku sendiri. Tetapi, ketika aku mengetahui kamu adalah ibu kandung dari wanita yang sangat aku benci. Perasaanku telah berubah. Aku jadi membencimu. Kenapa diantara ribuan orang. Kamu harus menjadi ibu dari wanita itu hah?!!!” teriak Rosalind keras. Dari nadanya terdengar penuh amarah.
“Mama juga tidak menyangka ada kejadian seperti ini. Mama minta maaf untuk itu. Tetapi, apakah Irene adalah wanita yang sangat kamu benci semenjak SMA itu? saingan beratmu untuk menjadi atlet panahan?” tanya Nyonya Kania.
“Jika benar, memangnya kenapa?” tanya Rosalind.
Tubuh Nyonya Kania seketika bergetar hebat. Ia menutup mulutnya.
“Ji…jika begitu, gadis yang pernah kamu dorong dari tangga beberapa tahun yang lalu adalah… adalah Irene?!” tanya Nyonya Kania membelalakkan matanya tak percaya.
Rosalind tersenyum licik.
“Itu benar sekali. Saat itu, aku mengadu padamu dan tragisnya kamu mendukung tindakanku dengan menutup mulut. Membiarkan Irene di rawat di klinik biasa. Sehingga perawatan bahunya yang cedera tidak mendapatkan pengobatan yang maksimal. Irene juga bodoh dan menjadi wanita naif yang merelakan mimpinya untuk orang lain. Dia mengatakan, dia diam bukan karena takut. Tetapi, ia tidak ingin merusak mimpi gadis lain. Benar-benar wanita bodoh bukan? Hahahah!!!” Rosalind tertawa penuh kesombongan.
Plak!
Nyonya Kania langsung menampar wajah Rosalind dengan keras. Rosalind hanya meringis kesakitan. Menatap Kania penuh amarah.
“A… aku…. Telah menghancukan mimpi putriku sendiri dan memilih putri orang lain untuk aku wujudkan mimpinya. Aku sungguh ibu yang sangat jahat hu….hu….hu…” Nyonya Kania menangis sembari merasakan tubuhnya bergetar hebat. Merasakan sedih yang menghujam hatinya.
Rosalind hanya mendecih. Ia masih berlagak sombong sembari menatap ibunya.
“Selama ini aku telah salah. Ibu sambung tetaplah ibu sambung. Tidak akan pernah bisa menjadi ibu kandung.” kata Rosalind dengan wajah merah padam. Tepat saat itulah rekamanpun berakhir.
Long An yang melihat rekaman video tersebut mengepalkan tangannya dengan erat. Tak menyangka ibunya melalui hal yang berat di masa mudanya. Ibunya yang tak pernah mengeluh di depan Long An, ternyata melalui penderitaan seperti ini. Nyonya Meri dan Si kembar hanya bisa memeluk Long An. An hanya bisa menahan emosinya.
“Apa kalian masih menyimpan rekaman Alex yang di kamar mandi sekolah waktu itu?” tanya An dengan wajah serius.
“Ya, kami masih menyimpannya dengan baik.” jawab Si kembar yakin.
“Setelah ini apa yang akan kita lakukan?” tanya Nyonya Meri.
“Mulai sekarang, misi kita akan lebih berat. Target yang kita hadapi adalah Si penyihir wanita.” jawab Long An dengan tatapan mata tajam.
Long An sedang mengumpulkan semua bukti atas tindakan buruk Rosalind. Ia akan terus mencari bukti lain. Apakah Rosalind memiliki keterkaitan dengan hilangnya Irene.
Di Aksara Enterprise.
Ravindra sedang mengalami kesulitan, karena para investor mulai menarik diri dari pengembangan didirikannya Wisma untuk para atlet. Semua ini adalah imbas dari putusnya pertunangan Ravindra dan Rosalind. Rosalind sepertinya mempengaruhi para investor untuk menarik diri berinvestasi. Ravindra mengalami masalah yang bertubi-tubi. Langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya?
__ADS_1