
...Misteri Dibalik Menghilangnya Irene...
Beberapa jam sebelum Irene menghilang.
Irene yang kembali terpuruk dengan kesendirian. Hanya bisa menatap fotonya ketika bersama Long An dan Ravindra dahulu. Sewaktu ketiganya berfoto bersama. Air matanya kembali menetes. Untuk kali ini, rasa sesak di dadanya kembali ia rasakan. Rasa sesak kali ini tak akan mudah begitu saja hilang. Irene terpaksa meninggalkan orang yang ia sayangi termasuk Long An dan Ravindra.
Hari ini adalah hari keberangkatannya ke Amerika. Demi melindungi semuanya. Irene memutuskan tidak berpamitan dengan Long An maupun Ravindra. Ia tidak akan sanggup melakukannya. Jadi, lebih baik Irene menghilang secara perlahan. Ia yakin Ravindra akan menjaga Long An dengan baik. Irene juga sudah berpesan pada Dareen dan nenek Heera untuk merahasiakan semuanya.
Irene mengedarkan pandangan ke rumah mungilnya. Rumah yang penuh tawa keceriaan Si kecil Long An, kini yang tersisa hanyalah kesunyian. Irene meraba liontin berbandul bunga Lotus pemberian Ravindra. Ia merasakan patah hati yang dalam. Sekalinya jatuh cinta. Namun, harus rela melepaskan semua. Setelah menyeka air matanya. Irene bergegas mengambil koper miliknya. Ia akan segera ke bandara. Irene lantas berjalan ke luar rumah. Sebelum pergi, Irene menatap dengan penuh kesedihan tempat tinggalnya yang penuh kenangan.
Tepat seusai Irene melangkah keluar. Tiba-tiba segerombolan pria mencegatnya. Irene kaget melihat beberapa orang pria menunggunya di luar rumah. Dilihat dari tampangnya, terlihat jelas mereka bukan orang baik-baik.
“Si… siapa kalian?” tanya Irene bersikap waspada.
Salah satu pria yang mengenakan jaket dan topi serba hitam hanya tersenyum menyeriangi. Lantas memerintahkan beberapa pria menangkap Irene.
“Mau apa kalian?!” teriak Irene mulai ketakutan.
Tangannya dicengkeram erat dua orang pria. Irene berusaha melawan dengan menginjak kaki salah satu pria. Membuat salah satu pria meringis kesakitan. Irene hendak berlari. Tetapi pria yang lain tidak tinggal diam dan menjambak rambutnya.
“Ahhh!” Irene merintih kesakitan karena rambutnya dijambak pria yang lain.
Irene berusaha meronta.
“Lepaskan aku! Lepaskan!” teriak Irene dengan keras.
Namun, salah satu pria segera membekap mulut Irene. Ia segera diseret dan dimasukkan ke dalam mobil. Tepat disaat Irene dimasukkan ke dalam mobil. Nyonya Kania datang ingin mengunjungi putrinya. Tanpa sengaja ia melihat adegan tersebut. Nyonya Kania kelihatan panik. Takut terjadi apa-apa dengan Irene. Disaat mobil yang membawa Irene melaju. Nyonya Kania berusaha mengikuti mobil itu dari belakang.
Nyonya Kania panik sehingga tidak dapat berpikir jernih untuk menghubungi polisi. Ia hanya berpikir membuntuti mobil itu dan menyelamatkan putrinya. Mobil yang membawa Irene melaju dengan kencang. Tepat belakang mobil yang membawa Irene, Nyonya Kania mengikuti dengan mengendarai mobilnya. Dari raut wajah Nyonya Kania terlihat penuh kekhawatiran.
“Rene, tunggu ibu. Ibu akan menyelamatkanmu.” kata Nyonya Kania sembari menginjak pedal gas mobilnya semakin kencang.
Nalurinya sebagai seorang ibu tentu tak dapat berbohong. Apalagi Nyonya Kania merasakan firasat yang buruk mengenai hal ini. Ia terus mengikuti ke mana mobil tersebut melaju. Mobil yang menculik Irene menyalip mobil lainnya dengan ugal-ugalan. Mobil itu bergoyang ke sana kemari tidak stabil. Sepertinya di dalam mobil itu, Irene memberikan perlawanan.
Nyonya Kania yang melihat mobil di depannya tidak stabil. Mencari kesempatan yang tepat. Disaat mobil mereka melewati jalanan panjang yang sepi. Nyonya Kania menginjak pedal gasnya dengan kecepatan tinggi dan langsung menghadang tepat di depan mobil yang menculik Irene.
Cit!
Cit!
Tak ayal lagi, suara injakan pedal rem berdenyit keras memekakkan telinga. Mobil yang membawa Irene mengerem mendadak sehingga tabrakan dengan mobil Nyonya Kania yang menghadang dapat dihindari.
“Lepaskan aku!!!” teriak Irene berusaha melawan. Dua orang pria yang memegangi tubuh Irene di sisi kanan dan kiri tidak akan membiarkan Irene lepas begitu saja.
__ADS_1
“Hei, dasar bodoh! Kenapa malah berhenti?!” tanya salah satu pria yang memegangi Irene.
Salah satu teman yang menjadi sopir menunjuk ke arah depan.
“Ada yang menghalangi kita.” tunjuknya.
Semua yang berada di dalam mobil termasuk Irene segera menatap ke arah luar. Mereka melihat seorang wanita tengah menghadang.
“Ibu?!” panggil Irene terkaget. Tak menyangka sama sekali bahwa ibunya datang.
“Kalian, cepat lepaskan putriku! Jika tidak, aku akan menelepon polisi!” ancam Nyonya Kania.
Nyonya Kania menunjukkan ponselnya. Ia bersiap hendak menelepon polisi. Para pria yang ada di dalam mobil kelihatan panik. Irene segera menginjak kaki kedua pria yang duduk di sisi kiri kanannnya. Lantas memberikan pukulan di wajah mereka.
“Arghttt!” teriak kedua pria tersebut.
Sedangkan dua pria tersisa yang duduk di depan berusaha menghentikan Irene.
“Hei!” teriak keduanya.
Namun, Irene berhasil keluar dengan susah payah. Nyonya Kania melihat Irene yang keluar dari mobil.
“Rene!” panggil Nyonya Kania dengan nada cemas.
“Bu!” panggil Irene.
“Lepaskan putriku sekarang juga! Jika tidak aku akan memanggil polisi.” ancam Nyonya Kania tidak main-main.
Nyonya Kania memencet panggilan darurat. Namun, sebelum panggilan itu tersambung. Dari arah belakang tanpa ia duga seseorang datang dan memukul kepalanya dengan keras.
Brak!
Tepat dipenghung pukulan. Darah segar mengucur deras dari bagian kepala belakang Nyonya Kania. Irene yang melihat hal tersebut membelalakkan matanya.
“Ibu!!!!” panggilnya dengan nada cemas.
Air mata membasahi pipi Irene. Dia terus memanggil ibunya dengan perasaan khawatir. Nyonya Kania merasakan kepalanya berputar hebat. Perih dan sakit ia rasakan dari bagian belakang kepalanya. Ia menyentuh bagian belakang kepala, dengan tangan gemetaran Nyonya Kania melihat darah berwarna merah segar menempel di tangannya.
“Bu! Bu!” panggil Irene dengan tangis yang mulai pecah. Air matanya terus mengalir dengan deras.
Namun, ia tak bisa berlari untuk menolong ibunya. Tangannya di pegang erat oleh dua orang pria. Ia berusaha meronta namun sia-sia. Nyoanya Kania yang kesadarannya semakin samar. Menoleh ke arah belakang. Melihat siapa yang telah memukulnya. Saat Nyonya Kania membalikkan tubuhnya. Seseorang tengah berdiri sembari membawa kunci Inggris yang cukup besar. Samar-samar pandangan matanya mulai kabur. Sesaat sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Mata Nyonya Kania terbelalak. Ternyata yang memukulnya adalah Rosalind.
Rosalind sedang menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.
“Ros…Ros…” rintih Nyonya Kania perlahan. Kemudian, ia tumbang dan tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Bu! Ibu!” panggil Irene yang merasakan kesedihan luar biasa. Mengetahui ibunya terkapar tak berdaya dengan darah mengucur dari kepalanya.
Irene yang merasa takut terjadi apa-apa dengan ibunya. Tanpa banyak berkata lagi segera menggigit tangan laki-laki yang memeganginya.
“Arght!!!” Teriak Si pria kesakitan.
Irene segera berlari menghambur ke tempat ibunya yang sudah kehilangan kesadaran. Air mata membasahi pipi Irene.
“Bu! Ibu! Sadarlah… tolong bertahanlah….” pinta Irene memelas. Tangisnya kembali berderai.
Irene memegangi kepala ibunya dan menyandarkan di dadanya.
“Bu, aku mohon bertahanlah….” Irene menangis sejadi-jadinya.
Mungkin di depan Nyonya Kania, Irene terlihat sangat membenci ibunya. Tetapi jauh di dalam hati. Ia sangat merindukan belaian kasih sayang ibunya. Tangis terus menetes dari kedua matanya. Nyonya Kania yang tadinya kehilangan kesadaran. Rupanya samar-samar membuka matanya. Mengucapkan beberapa patah kata dengan lirih.
“Ma… ma.. maafkan i… ibu… Rene.” kata Nyonya Kania begitu lirih. Tepat seusai ia mengucapkan kalimatnya. Nyonya Kania memejamkan mata dan tak bergerak sama sekali.
“Bu! Ibu!!!” tangis Irene terdengar menyayat hati.
Irene berusaha memanggil ibunya. Menggoyangkan tubuh ibunya agar sadar. Tetapi semuanya sia-sia. Nyonya Kania tidak bergerak sama sekali. Alih-alih menyelamatkan ibunya. Justru Irene sendiri dalam bahaya. Seseorang membekapnya dari belakang menggunakan sapu tangan yang dicampur obat bius. Irene berusaha meronta tapi semau tak berguna. Obat bius sudah ia hirup. Beberapa detik kemudian, kesadarannya pun menghilang. Irene memejamkan mata dan tak sadarkan diri. Orang yang telah membius Irene rupanya adalah Liam. Ia tertawa licik.
“Cepat bawa dia!” perintah Rosalind pada Liam dan anak buahnya.
Rosalind melihat sekelilingnya. Sepertinya aman dan tak ada saksi mata. Liam menatap Nyonya Kania.
“Bagaimana dengan mamamu?” tanya Liam.
“Biarkan saja, jika dia selamat. Itu akan membahayakan untuk kita.” jawab Rosalind tanpa merasa bersalah sama sekali.
Kemudian, mereka semua bergegas masuk mobil masing-masing dan meninggalkan tempat tersebut. Untungnya beberapa menit kemudian. Ada mobil yang melintas dan segera melarikan Nyonya Kania ke Rumah Sakit.
Flashback End
Kini, Irene yang telah diculik oleh Liam dan Rosalind sedang disekap disebuah rumah pinggir kota. Irene sedang tertidur karena obat bius. Tangan dan kakinya diikat dengan erat. Anak buah Liam sedang berjaga di luar. Sedangkan Liam berada di kamar bersama Irene. Liam menatap Irene dengan tatapan penuh arti. Kelelakiannya mulai bangkit karena melihat kecantikan Irene yang alami melebihi Rosalind. Dari situ, timbullah niat jahat. Liam ingin merasakan bagaimana mencicipi tubuh Irene.
Kemudian, perlahan membuka pakaiannya hingga menyisakan ****** *****. Lantas tanpa banyak berkata ia segera menindih Irene. Irene membuka matanya sedikit demi sedikit. Rupanya pengaruh obat bius sudah mulai menghilang. Irene yang membuka mata. Seketika terkejut melihat Liam sedang berada di atas tubuhnya. Memberi Irene tatapan liar. Liam yang sudah menggelora segera mencium Irene. Tetapi Irene menghindar dengan memalingkan wajahnya sembari meronta-ronta.
“Lepaskan aku dasar iblis!!!” teriak Irene keras.
“Haha!!! Ayolah jangan berpura-pura. Kamu akan menikmatinya. Biarkan aku merasakan kecantikanmu. Aku tidak ingin hanya Ravindra yang pernah merasakanmu. Berbagilah dengan ku khukhu!!!” kata Liam dengan tawa jahat. Ia hendak menodai Irene.
“Tolong! Lepaskan aku!!!” teriak Irene terus meronta.
Ada perasaan takut, jika sampai Liam menodainya. Irene tak ingin itu terjadi. Di sisi lain Liam terlihat beringas. Ia terkekeh melihat Irene tak berdaya. Liam tak sabar lagi untuk menyalurkan hasrat yang menggelora. Bagaimana nasib Irene?
__ADS_1