
...Dikejar Waktu...
Irene kali ini benar-benar dalam bahaya. Rava dipenuhi kemarahan ketika mengetahui fakta kejahatan Rosalind di masa lalu terhadap wanita yang ia cintai. Ravindra juga melihat beberapa bukti yang mengarah pada Rosalind. Bahwa Rosalind adalah dalang dibalik menghilangnya Irene. Rava bergegas menemui Rosalind di rumahnya. Wajah Ravindra merah padam. Ia tak lagi memperdulikan tatakrama. Ravindra masuk ke rumah Rosalind dan segera mencari wanita jahat itu.
“Rosalind!!!!” teriak Ravindra penuh amarah.
Rosalind yang sedang menikmati makanan. Tiba-tiba dicekik oleh Ravindra. Ia di dorong hingga terhimpit ke dinding. Rosalind meronta sembari memukul-mukul tangan Ravindra. Sedangkan Ravindra menatap dengan tatapan penuh amarah.
“Dasar wanita iblis!!! Aku tidak akan pernah memaafkan perbuatanmu pada calon istriku!” teriak Ravindra. Matanya melotot seolah hendak keluar.
“Le… lepaskan aku…” rintih Rosalind yang kesulitan bernafas.
“Katakan di mana Irene berada?!” teriak Ravindra begitu marah.
Tangan Rosalind berusaha melepaskan tangan Ravindra yang mencekik lehernya.
“Ma… mana aku tahu…” jawab Rosalind terbata.
“Arghttt!!!” teriak Ravindra kesal. Ia semakin mencekik Rosalind hingga wanita di hadapannya itu tersengal-sengal. Nafasnya hampir putus karena terkena cekikan Ravindra.
“Jangan berpura-pura bodoh! Aku sudah tahu semua kebusukanmu. Jadi, katakan di mana Irene berada!!!” lagi-lagi Rava berteriak. Suaranya dipenuhi kemarahan. Matanya melotot dengan tajam.
“Ti… ti.. tidak ada bukti. Ba… bahwa … aku… aku yang membuat… Irene meng… menghilang… uhuk… uhuk…” jawab Rosalind sembari terbatuk.
Ravindra hendak bertanya kembali. Namun, ponselnya berdering.
Long An
Nama yang tertera di layar ponselnya. Rava segera mengangkat telp dari anaknya tersebut. Melepaskan cekikannya di leher Rosalind. Rosalind hanya bisa terbatuk sambil mengelus lehernya.
Papa! Suara Long An terdengar di seberang telp.
“An, apa kamu menemukan sesuatu?” tanya Ravindra.
An, akan share lokasi pada papa. Segeralah datang. pinta Long An.
Kemudian telp keduanya berakhir. Seusai menutup telpnya. Ravindra menatap Rosalind dengan tajam.
“Aku akan memberimu pelajaran setimpal. Jika sampai Irene terluka. Camkan itu!” ancam Ravindra pada Rosalind.
Setelah mengatakan hal tersebut, Rava bergegas meninggalkan rumah Rosalind. Sesaat setelah kepergian Rava. Senyum licik tersungging dari sudut bibir Rosalind.
“Fiuuh, meskipun kamu melukaiku. Kamu tidak akan pernah menemukan Irene.” Rosalind terkekeh.
“Meski kamu memiliki bukti. Bukti itu hanyalah bukti tidak langsung. Tidak ada bukti nyata bahwa aku yang menculik Irene. Jadi, tidak ada yang perlu aku takutkan. Hanya membereskan satu orang lagi. Maka semua rencanaku berjalan sempurna hahahaha!!!” tawa Rosalind menggema di seluruh ruangan.
Di suatu tempat, pinggiran kota.
Long An dan Si kembar mengendarai motor skuter berwarna pink milik Nyonya Meri. Long An yang memegang stang kemudi. Sedangkan di belakangnya, Si kembar duduk sembari berpegangan erat. Long An berhasil melacak sebuah rumah kosong yang diduga tempat untuk menyembunyikan ibunya.
“Waaa!!!” teriak Si kembar bersamaan, karena baru pertama kalinya mereka naik motor skuter di bonceng sesama anak kecil.
“Pegangan!” teriak Long An sambil memutar gas motor skuternya lebih kencang.
Motor skuter tersebut melaju dengan kencang menuju sebuah tempat terpencil. Setelah mengendarai motor skuternya. Long An menyembunyikan motor tersebut di balik pepohonan. Mereka turun dengan perlahan. Terlebih dahulu Meichan dan Chanmei yang turun supaya bisa menjagang motornya. Sedangkan Long An turun belakangan. Tidak jauh dari tempat mereka, terdapat sebuah rumah yang jauh dari keramaian.
Long An dan Si kembar mengendap-endap. Mengamati rumah dan sekitarnya.
“An, apa kamu yakin ini tempatnya?” tanya Meichan.
“Benarkah ini tempat ibumu berada?” timpal Chanmei.
“Kita akan lihat.” jawab Long An sembari menerbangkan Drone miliknya.
Drone tersebut perlahan melayang – layang di udara melebihi tinggi pepohonan. Di tangan Long An sebuah pengendali yang disertai layar kamera memperlihatkan pemandangan rumah yang diduga tempat menyekap Irene dan keadaan sekitarnya dari atas. Long An berusaha fokus mengendalikan Drone tersebut. Supaya dapat memperlihatkan gambaran mengenai rumah itu. Ia juga harus berhati-hati agar tidak ketahuan.
Tepat di saat Drone itu membubung tinggi di angkasa. Beberapa orang pria terlihat ke luar dari dalam rumah itu. Tampaknya mereka bukan orang baik-baik. Tidak lama kemudian, sebuah mobil datang. Para pria tersebut menyambut seseorang yang keluar dari mobil. Namun, ia mengenakan tudung kepala. Jadi, wajahnya tidak begitu kelihatan.
__ADS_1
“An, jadi benar ini tempatnya?” tanya Si kembar bersamaan.
“Aku rasa juga begitu. Mobil yang barusan datang adalah mobil milik paman Liam.” jawab Long An dengan wajah serius.
“Menurut dugaanku benar. Wakil Direktur Rosalind dan Paman Liam bekerja sama untuk mencelakai mama. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi.” lanjut Long An.
“Apa kita akan bergerak sekarang?” tanya Chanmei.
Long An mengangguk. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan menyelamatkan ibunya.
“Tetapi, apa tidak sebaiknya kita menunggu papamu?” tanya Meichan.
“Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Waktu adalah hal yang sangat berharga. Apalagi menyelamatkan mamaku. Jika kalian takut, bersembunyi saja di sini.” Jawab Long An pada kedua sahabatnya tersebut.
Meichan dan Chanmei saling berpandangan. Sedetik kemudian mereka mengangguk.
“Kita adalah Triple Kancil. Sedangkan Triple Kancil adalah sahabat. Jadi sahabat tidak boleh saling meninggalkan dan berjuang bersama.” kata Si kembar bersamaan.
Long An yang mendengar perkataan Si kembar merasa terharu. Ia sangat bersyukur memiliki sahabat baik yang selalu siap sedia membantunya.
“Bersiaplah.” kata Long An.
“Hyaaa!!!” teriak ketiganya bersemangat.
Beberapa pria yang melihat kedatangan Long An dan Si kembar segera bersiaga. Sedangkan pria yang diduga Liam tersebut segera masuk ke dalam rumah. Long An segera menerjang ke arah kerumunan pria itu.
“Hyaa!!” Long An melompat dan memberikan tendangan menggunakan teknik Yoko Geri Kekome. Sebuah tendangan dengan kaki bagian samping (di sodok).
Brak!
Tendangan tersebut mengenai salah satu pria hingga terhuyung.
“Dasar bocah sialan!” teriak pria yang lain.
Beberapa pria segera mengeroyok Long An dan Si kembar. Mengepung anak kecil tersebut dengan membentuk lingkaran. Long An dan Si kembar berhimpitan. Mereka waspada melihat sekelilingnya. Jikalau ada serangan dari para pria yang berwajah sangar itu. Benar saja, tidak lama kemudian para pria tadi secara serempak menyerang Long An dan Si kembar.
“Meichan! Chanmei!” panggil Long An.
Si kembar mengangguk dan dengan gerakan cepat. Memegangi kedua tangan Long An. Long An berpegangan erat pada tangan Si kembar. Lantas dengan gerakan cepat ia melompat sembari menendang para pria yang hendak menyerang. Si kembar memutar tubuh Long An yang melayang. Sedangkan Long An dengan gesit memberikan tendangan kakinya yang bertenaga.
“Hya! Hya! Hya!!” teriak Long An. Kakinya menendang ke sana kemari.
__ADS_1
Para pria yang mengelilingi mereka terhuyung karena terkena tendangan si bocah genius. Tetapi pria itu tak menyerah. Mereka kembali menyerang Long An. Sedangkan Si kembar harus menghadapi pria lainnya.
Long An dengan gesit menghindari serangan salah satu pria yang bertubuh kekar. Ia merundukkan kepala dan mundur ke belakang. Tetapi dari arah belakang, seorang pria dengan cepat hendak memukul Long An. Tetapi Meichan yang melihat serangan tersebut segera menggunakan tangkisan yang bernama Soto Ude Uke sebuah tangkisan tengah yang datangnya dari belakang telinga.
“Hya!!” teriak Meichan. Ia berhasil mematahkan serangan yang hendak mengenai Long An.
“Terimakasih.” kata Long An pada Meichan.
“Kita harus waspada.” kata Meichan.
Long An mengangguk. Ia harus tetap fokus jika ingin menyelamatkan ibunya. Di sisi lain, Chanmei juga berusaha keras menghadapi para pria yang lain. Long An mengerahkan segala kemampuannya. Ia melakukan tendangan memutar berkali-kali. Hingga beberapa pria roboh tak berdaya. Meichan dan Chanmei saling bekerja sama memukul atau menendang yang lain. Tak ayal para pria tersebut berjatuhan dengan sekujur tubuh babak belur. Para pria bertubuh kekar itu tak berdaya menghadapi Triple Kancil. Di tengah kekacauan tersebut. Seorang pria yang mengenakan tudung kepala sedang menyeret seseorang keluar dari rumah dan segera memasukkannya ke dalam mobil. Hal tersebut tak luput dari pengamatan Long An. Long An menduga orang tadi adalah Liam yang membawa ibunya.
“Meichan! Chanmei! Aku serahkan urusan di sini pada kalian. Papa pasti akan segera datang” kata Long An.
“Ta… tapi?!” tanya Si kembar yang berusaha mengikat gerombolan pria yang sudah tidak berdaya tadi.
Tetapi perkataan Si kembar tak diindahkan oleh Long An. Long An segera bergegas menaiki motor skuternya. Ia menarik gasnya dengan kencang dan mengejar mobil Liam.
“Long An!” teriak Meichan dan Chanmei bersamaan.
Tetapi sayangnya keburu Long An menjauh dengan menaiki motor skuternya. Meichan dan Chanmei berharap Long An baik-baik saja. Tidak lama kemudian beberapa mobil datang. Ravindra berlarian menghampiri Si kembar dengan membawa anak buahnya.
“Paman!” sambut Si kembar.
“Di mana Long An?” tanya Ravindra dengan cemas.
“Barusan Long An mengejar Paman Liam. Sepertinya ia membawa seseorang tadi. An menduga itu mamanya. Jadi, ia mengejarnya.” jawab Meichan.
Ravindra nampak khawatir. Tidak lama kemudian, Pak Albert keluar dari dalam rumah.
“Tuan, sepertinya memang benar. Rumah ini digunakan untuk menyekap Nyonya Irene. Saya menemukan ponsel miliknya.” lapor Pak Albert.
Ravindra segera mengambil ponsel tersebut. Memang benar adanya, ponsel itu milik Irene.
“Albert, amankan para pria itu dan jaga Si kembar. Aku akan menyusul Long An. Jika urusanmu selesai, maka kamu boleh menyusulku.” perintah Ravindra.
“Baik Tuan.”
Ravindra segera bergegas menaiki mobilnya. Meski dengan hati penuh kecemasan. Jauh dalam lubuk hatinya. Ia berharap Irene dan Long An akan baik-baik saja. Tidak lama berselang, mobil Ravindra melaju dengan kencang menembus jalanan. Ia berusaha menyelamatkan calon istri dan anaknya yang berada dalam bahaya.
__ADS_1