Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin

Anak Genius Untuk CEO Berhati Dingin
Bab 79


__ADS_3

...Rencana Menyingkirkan Irene...


           Di sebuah rumah pinggir kota.


“Tolong! Tolong!” teriak seorang wanita yang tak lain adalah Irene.



Irene berusaha meronta karena hendak dinodai oleh Liam. Liam terkekeh menyaksikan Irene yang tidak berdaya.



“Jangan melawan nikmati saja. Tidak akan ada yang tahu Ha Ha Ha!!!” Liam merasa di atas angin karena sudah barang tentu tidak akan ada yang akan menolong Irene.



“Dasar iblis!!! Jangan berani menyentuhku!”


Pih!


Irene meludah tepat mengenai wajah Liam. Liam menatap Irene dengan tatapan tajam. Ia mengusap bekas ludah Irene di wajahnya. Kemudian tanpa ampun menampar Irene.


Plak!


Plak!


Plak!


           Irene merasakan panas di kedua pipinya, karena mendapatkan tamparan bertubi-tubi dari Liam. Liam semakin beringas. Tanpa ampun, ia merobek pakaian Irene hingga terlihat sedikit bagian tubuhnya. Irene merasa sangat takut jika sampai tubuhnya dijamah oleh pria macam Liam. Liam kelihatan semakin beringas. Irene benar-benar tak berdaya karena kaki dan tangannya diikat. Air mata keluar membasahi pipi Irene. Di dalam hatinya, Irene berdoa semoga pria di hadapannya ini tak akan pernah menjamah tubuhnya. Irene semakin ketakutan. Ia terus meronta. Berusaha supaya Liam tidak menyentuh tubuhnya barang secuil pun. Liam berusaha menciumi Irene. Irene berteriak keras dan meminta tolong. Disaat Irene sedang terdesak. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahu Liam dan langsung menampar Liam dengan keras.


           Plak!


           Liam memegangi pipinya yang terasa panas. Matanya mendelik melihat siapa yang berani menamparnya. Irene yang ketakutan menatap ke arah siapa yang sudah menolongnya. Tepat di depan Liam, seseorang berdiri menatap dengan tatapan tajam.


           “Dasar bodoh! Aku tidak menyuruhmu menodainya!” teriak seseorang yang tak lain adalah Rosalind.


           Rosalind menatap Liam dengan tatapan tajam. Liam hanya menunduk dan tidak berani menatap Rosalind. Sedangkan Irene sedikit bisa bernafas lega karena bagaimanapun juga ia selamat dari hasrat Liam yang tak terbendung.


           “A… aku… hanya….” kata Liam lirih.

__ADS_1


           “Jangan bermain-main disaat seperti ini! Semua pria memang sama saja. Ketika melihat wanita lain yang polos dan naif. Mereka seperti Singa yang kelaparan.” Rosalind begitu marah melihat apa yang hendak Liam lakukan pada Irene.


           “Kenapa kamu semarah ini?!” tanya Liam yang tak ingin harga dirinya juga diinjak-injak.


           Rosalind mencengkeram tangan Liam dengan erat. Memberikan tatapan tajam.


           “Dengar, rencana kita selalu gagal karena kebodohanmu. Untuk kali ini, biarkan aku yang mengurusnya sendiri. Kamu awasi wanita ini saja. Apa kamu mengerti?!” tanya Rosalind dengan nada meninggi.


           Liam menatap Rosalind dengan tatapan kesal. Lantas menghempaskan tangan wanita itu. Kemudian, dia bergegas ke luar kamar. Meninggalkan Rosalind dan Irene berdua saja. Kini, giliran Rosalind yang menatap Irene. Ia melipat tangan di dada. Memandang Irene dengan tatapan mengejek.


           “Fiuuh, lihatlah dirimu sekarang. Wanita lemah dan tidak berdaya. Jika saja aku tadi tidak menghentikan Liam. Bisa saja kamu benar-benar akan menjadi wanita kotor.” kata Rosalind disertai tawa jahat.


           “Kenapa kamu melakukan ini padaku? Hah?! La… lalu bagaimana kondisi ibuku?” tanya Irene yang kembali teringat ibunya.


           Irene ingat, saat dia hendak diculik. Ibunya datang berusaha menyelamatkan. Namun terluka karena terkena pukulan Rosalind. Rosalind tersenyum sinis.


           “Sepertinya ibumu masih memiliki harapan untuk hidup. Tetapi, jika sampai dia membuka mata. Tentu saja aku tidak akan tinggal diam. Aku akan kembali mencabut nyawanya.”


           Irene yang mendengar perkataan Rosalind. Tak dapat lagi menahan emosinya.


           “Anak macam apa kamu?! Bahkan aku yang anak kandungnya tak pernah dapat merasakan kehangatan kasih sayang darinya. Tetapi… tetapi kamu mendapatkan semuanya. Lantas menyia-nyiakannya begitu saja?! aku rasa kamu bukanlah manusia. Kamu sama seperti Liam. Kalian adalah iblis!!” maki Irene dengan keras.


           Plak!


           Rosalind memegangi dagu Irene, “aku tidak perduli. Siapapun yang menghalangi jalanku. Aku tidak akan segan menyingkirkannya.” Rosalind langsung menghempaskan wajah Irene dengan kasar.


           “Ravindra dan Long An, tidak akan membiarkan tindakanmu yang semena-mena seperti ini.”


           “Oh? Begitukah? Apakah kamu lupa? Ravindra percaya bahwa kamu telah mengkhianatinya. Sedangkan bocah itu? hanyalah anak kecil yang pandai bela diri. Tidak lebih dari itu.” ejek Rosalind.


           “Kamu tidak akan pernah tahu. Tindakan apa yang bisa dilakukan seseorang saat kamu meremehkan mereka.” Irene menatap dengan tajam.


           “Terserah apa yang kamu katakan. Aku tidak perduli… Ha Ha Ha!” Rosalind tertawa begitu keras.


           “Aku sudah menepati janjiku. Untuk melakukan sesuai perintahmu. Tetapi, kenapa kamu masih melakukan hal ini?! dan bahkan berani menyakiti ibuku?”


           “Kita sudah lama saling mengenal. Tentu kamu mengetahui. Aku wanita yang seperti apa. Sebelum aku menghancurkanmu hingga menjadi debu. Aku tidak akan berhenti Ha Ha Ha!!!” tawa Rosalind menggema di seluruh ruangan.


           “Long An dan Ravindra akan menemukanku. Mereka pasti menyadari ada keanehan saat aku menghilang.” balas Irene.

__ADS_1


           “Ha Ha Ha!! Percayai apa yang ingin kamu percaya. Tetapi, aku sudah menyiapkan rencana untukmu. Aku dan Liam akan menyelundupkanmu ke luar negeri. Menjualmu dengan harga yang tinggi. Di sana kamu akan dijadikan budak pemu*as lelaki. Aku berencana mengembalikanmu ke tempat asalmu. Menjadi lumpur yang kotor.” Rosalind tertawa menyeriangi.


           “Dasar Wanita iblis!!! Lepaskan aku!!!” teriak Irene.


Irene tak menyangka Rosalind membencinya sampai seperti ini. Ia juga tak mengira. Rosalind berbuat jauh hingga begini. Ia berharap Long An maupun Ravindra menyadari rencana busuk Rosalind.



Di atap gedung Aksara Enterprise. Ravindra sedang berbicara dengan ayahnya.



“Aku sudah mendengar semuanya. Bahwa Irene berhubungan gelap dengan Liam.” kata Tuan Marvin.



“Aku tidak ingin membicarakan mengenai hal ini.” Ravindra menjawab dengan dingin.



“Menurut pengamatan ayah. Irene bukan wanita seperti itu. Tetapi, semua terserah padamu. Selama ini, aku menjadi ayah yang gagal. Sebagai kepala rumah tangga ayah tidak bisa menjaga keharmonisan keluarga. Menjaga ibumu yang ayah cintai hingga dia memilih meninggal bersama kekasihnya. Ayah juga tidak bisa menyatukanmu dengan Liam. Sehingga keluarga kita tercerai berai seperti ini. Tetapi, saat ayah melihat kehadiran Long An dan Irene di rumah. Rumah kita yang selama bertahun-tahun terasa dingin. Seolah menemukan kehangatan. Maafkan ayah karena tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian.” kata Tuan Marvin.



Ravindra terpengarah mendengar perkataan ayahnya. Selama ini, ayahnya tidak pernah mengucapkan permintaan maaf sekalipun. Hal ini membuat hati Ravindra bergetar.



“Ikutilah kata hatimu. Ayah yakin, kamu tahu betul wanita seperti apa yang kamu cintai. Terkadang mata bisa menipu. Tetapi tidak dengan hati.” nasihat Tuan Marvin sembari menepuk pundak Ravindra. Kemudian berjalan meninggalkan Rava sendirian.



Inilah kali pertama Ravindra mendengar ayahnya mengatakan sesuatu yang membuat hatinya bergetar. Mungkin inilah yang ia tunggu selama bertahun-tahun. Ayahnya melihat dirinya sebagai anaknya. Menepuk pundaknya penuh kasih sayang. Tanpa ia sadari, mata Ravindra berkaca-kaca. Rava menyentuh dadanya. Ia tak lagi merasakan sesak maupun rasa sakit di hatinya. Ada sedikit kelegaan yang ia rasakan.



Tidak lama kemudian, pandangan mata Ravindra berubah menjadi tajam. Ia menatap pemandangan nan jauh di depannya.


__ADS_1


Benar kata ayah. Mata bisa menipu, tetapi tidak dengan hati. Aku akan mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya. kata Ravindra pada dirinya sendiri.


__ADS_2