Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
(Bunga Mawar Putih)


__ADS_3

Ivar membawa Hanna, Nindi dan kedua sahabatnya ke restaurant yang sudah dia booking untuk perayaan kelulusan Nindi. Akhirnya setelah berjuang Nindi bisa menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dari perkiraan. Tidak sia-sia perjuangannya bergadang setiap malam mebuat Skripsi.


“Wah Restauranta keren bangat Var, kamu booking yah?” Ivar mengangguk bangga pada dirinya sendiri. Abrar menggeleng tidak percaya. Anak konglomerat memang berbeda, dia gampang sekali menghamburkan uangnya.


“Sayang tau Kak, buang-buang uang.” Celetuk Nindi bercanda.


“Uang saya tidak ada artinya dengan kebahagiaan kamu Nin.”


Cie…cie…


“Udah terima aja Nin. Kamu bikin Ivar menunggu kelamaan Nin.” Ezra meledek Ivar yang tersipu malu atas ucapannya sendiri.


“Kan aku baru saja lulus Kak Ezra.” Panggilannya sudah lebih akrab sekarang.


“Jangan memaksa Nindi, aku akan menunggunya sampai kapan pun.”


“Susah-sudah Hanna bisa-bisa tua sebelum umurnya.” Abrar menatap kasihan gadis kecil yang hanya memandang mereka tanpa bertanya apapun.


Seorang pelayan datang membawa makanan yang penuh di troli yang dia dorong. Senyum ramah menyapa semua pelanggan yang saat ini sudah siap menyantap makanan lezat. Tidak lama sang pemilik restaurant ikut keluar menyambut tamu yang membooking restaurantnya sore ini.


“Sore Tuan-Tuan dan Nona semua, oh ada adik kecil juga. Bagaimana? Apa makananya sesuai selera?”


“Enak” Jawab Ezra sambil menyuapkan potongan daging sapi ke mulutnya.


“Enak Cheff” Jawab Nindi dengan sopan.


Ivar dan Abra hanya tersenyum puas dengan makanan yang dihidangkan. Tidak salah Ivar membayar mahal untuk mengajak Nindi makan di sini.


Hanna menatap wajah laki-laki yang berdiri di depannya tanpa berkedip. Wajahnya mirip sekali dengan Cakra. Air matanya menetes tanpa sepengetahuan semua orang. Hanna mengusapnya sebelum benar-benar membanjiri pipinya.


Laki-laki yang Hanna lihat dengan tatapan sedih menyadarinya, dia bingung kenapa Hanna menatapnya penuh dengan kesedihan. Dia berjongkok di dekat Hanna.


“Aku mengingatkan mu pada seseorang?” Hanna mengangguk sambil menunduk. Tidak berani menatap mata laki-laki yang seperti Ayahnya. “Kenapa kamu terlihat sedih?” Tanyanya karena penasaran. Hanna menggeleng tidak ingin menjawab pertanyaannya.


“Maafkan adik saya Cheff.” Nindi memeluk Hanna, dia baru sadar Hanna sedang dilanda rindu. Dia pasti ingat Ayahnya saat menatap wajah Cheff yang mirip dengan Cakra.


Nindi kira hanya dirinya yang menyadarinya, ternyata Hanna juga merasakan apa yang Nindi rasakan. Ivar, Ezra dan Abrar hanya terdiam tidak paham dengan situasi yang canggung ini.


“Cheff, bukankan aku memesan ice cream coklat terlezat di sini?” Ivar mecoba mengalihkan perhatian Hanna yang terlihat sedih.


“Benar Tuan, Nona cantik pasti suka dengan Ice Cream yang sudah saya siapkan.” Hanna yang semula sedih tersenyum lebar. Anak-anak memang mudah sekali di rayu.


“Wah….. kita makan ice cream.” Teriak Nindi memeriahkan suasana.

__ADS_1


Akhirnya hati Hanna yang sedih disembuhkan rasa ice cream manis yang menghangatkan hati. Nindi sampai menyuapi Hanna karena dia hanya asik makan ice cream tanpa makanan lain.


Ivar mengantar dua sahabatnya pulang ke asrama, dua orang yang datang merantau dari luar kota dan menetap di rumah asrama kepolisian.


“Lain kali ajak kita lagi ya Var.” Permintaan Ezra yang tidak tau diri.


“Kau ini, jangan dengarkan. Cepat pergi Var, sebelum mulutnya semakin tidak jelas.” Nindi dan Hanna hanya tertawa melihat Ezra dan Abrar saling piting satu sama lain.


Akhirnya mereka sampai di kosan, Ivar memarkirkan mobilnya karena masih ingin berlama-lama memandang Nindi. Hanna sudah akrab dengan punggung Ivar, dia senang sekali saat Ivar jongkok menawarkan tumpangan untuk tubuhnya yang lelah.


Nindi membuka pintu dan terkejut saat mendapati ruang tamunya di penuhi bunga mawar putih yang tersusun rapi di setiap sudut rumah kecilnya. Siapa yang menarunya….


Tatapan matanya tertuju pada laki-laki yang berdiri di belakangnya dengan senyum terindahnya. “Bunga itu….” Ivar mengangguk.


Ivar menurunkan Hanna dari punggungnya. “Nindi, meski kau belum mengenal ku lama. Percayalah, aku akan menjadi laki-laki terbaik dalam hidup mu.” Tiba-tiba Ivar jongkok di hadapannya.


Hanna juga berpartisipasi sebagai pembawa cincin. Kapan mereka merencanakan semua ini. Nindi bingung, buka tidak mau menerima. Dia hanya ingin menjadikan Hanna prioritas hidupnya.


“Maukah kau menikah dengan ku?” Hanna yang tidak tahu apapun tersenyum begitu manis. Bagaimana nasibnya jika Nindi sudah memiliki suami.


“Tante, Paman bilang dia juga akan membawa ku bersamanya.” Tentu saja Ivar sudah mengajarkannya sebelum pertunjukkan dimulai. Ivar tahu, itu kebimbangan Nindi yang terbesar.


“Apa aku boleh memikirkannya dulu? Aku benar-benar terkejut.” Nindi masih tidak percaya dengan lamaran Ivar, dia tidak mengenalnya dengan baik.


“Iya, setelah kau siap aku akan mengenalkamu pada keluargaku.” Nindi mengangguk, hatinya benar-benar bimbang. Perasaannya bercampur aduk tidak terkendali.


***


Sudah dua minggu berlalu Ivar menghilang tanpa jejak, Nindi hari ini terpaksa membawa Hanna ke tempat kerjanya karena Bu Surtini pulang ke kampung halaman menjenguk Ibunya yang sedang sakit.


Ultimatum sudah Hanna dengar panjang lebar sebelum ikut dengan Nindi. Tentu saja dia hanya mengangguk men iyakan permintaan Tante Nindi.


“Ah…aku BT, kenapa Paman tidak pernah datang.” Rindu sudah mendera gadis kecil yang terbiasa di manja oleh Ivar.


“Kenapa cantik? Kok mukanya sedih?” Hanna tersenyum, ternyata Bos Tante Nindi mendengarnya.


“Tidak Ibu, Hanna hanya bicara sendiri saja.” Hanna mencoba tidak membuat masalah.


“Aku juga sedang BT, adik ku sudah lama tidak pulang-pulang, aku sangatttttt rindu padanya.” Hanna tersenyum melihat ekpresi Edel yang seperti gadis seusianya.


“Aku juga, Paman sudah sangat lama tidak datang menemui ku.” Edel tersenyum mendengar Hanna mencurahkan isi hatinya tanpa rasa malu.


“Aku seperti pernah melihat mu. Tapi dimana yah?” Berpikir keras tapi tidak menemukan jawaban dalam kepalanya. “Apa karena kau cantik? Jadi aku seperti pernah melihatmu?” Hanna hanya tersenyum tanpa tau harus menjawab apa.

__ADS_1


Semua karyawan sibuk termasuk Nindi, mereka sedang mengerjakan baju pesta artis papan atas yang akan melangsungkan pernihakan. Hanna menyibukkan diri dengan menggambar apapun di buku gambar yang dia bawa. Melihatnya Edel merasa terenyuh, gadis baik yang sama sekali tidak menyusahkan.


“Hanna.” Hanna sigap menghampiri Adel yang memanggilnya. “Ikut aku yuk, aku mau beli makanan lezat untuk kita semua.”


Horeeee…..


Teriak semua karyawan senang mendengar ada bonus makanan lezat untuk kerja keras mereka hari ini.


Seperti biasa Hanna tidak buru-buru menjawab, dia meminta jawaban lewat sorot matanya yang berharap diberikan ijin.


“Boleh sayang, tapi ingat jangan menyusahkan Ibu Edel ya sayang.” Hanna mengangguk penuh semangat. Semanjak Ivar tidak datang, dia tidak pernah keluar sekedar untuk membeli makanan seperti yang biasa dia lakukan bersama Paman kesayangannya.


Nindi tidak ada waktu, dia sibuk bekerja dan Hanna seorang diri menghabiskan hari-harinya ditemani Aisyah dan teman-teman lain. Meski dia hanya melihat anak-anak lain bermain sepeda dan mainan mahal lainnya yang tidak mampu dirinya beli.


Hanna tidak ingin meminta apapun selama Nindi ada untuknya, Hanna tidak ingin kehilangan Nindi. Umurnya memang masih kecil, tapi pikirannya sudah sangat dewasa semenjak dirinya tiba-tiba menjadi anak yatim piatu. Dia tidak mau lagi kehilangan orang yang dia sayangi.


Edel menggandeng tangan Hanna dengan erat, dia senang Hanna datang ke butiknya. Hanna sangat periang dan mudah sekali bergaul dengan orang yang baru dia temui. Anaknya pintar, sopan dan sangat ceria.


“Han, pilih apa yang Hanna mau.” Hanna berpikir sejenak.


“Hanna sudah punya mainan Bu di rumah.” Tolaknya dengan sopan.


“Pasti Tante Nindi melarang kamu menerima barang dari orang lain yah!” Ingin mengangguk tapi Hanna urungkan, hanya senyum yang akhirnya keluar dari bibirnya.


“Ini mainan terbaru….yang ini juga lucu. Ini juga.” Edel memeilih beberapa mainan bagus yang teman-temannya pasti iri melihatnya. “Ini bukan Hanna yang minta, tapi tante Edel yang membelikannya.” Edel menggandengnya ke kasir.


Drtttt….drtttt….drrttttt


Ponsel Edel bergetar tanpa suara. Wajahnya berbinar melihat siapa yang menghubunginya setelah sekian lama.


“Ivar. Kemana saja kau ini, apa tidak ada istirahat saat kau sedang bekerja? Kau tidak tau aku sangat rindu padamu?” Hanna yang mendengar nama tidak asing memperhatikan Edel dengan sangat seirus.


“Kau masih sama saja, suka sekali memarahi ku. Apa kau sehat?”


“Aku cukup sehat untuk memukulimu sampai babak belur.” Adel menangis haru karena Ivar kembali dengan selamat.


Setiap Ivar punya misi kenegaraan, semua orang menanti kedatanganya dengan penuh rasa khawatir. Dia bisa saja tidak kembali pada keluarganya. Tangan Edel sampai gemetar, begitu lega saat mendengar suara Ivar yang dalam kondisi baik-baik saja saat ini.


Hanna yang tidak tau apa-apa bingung harus berbuat apa, menenangkan rasanya tidak sopan. Tapi membiarkannya begitu saja sangat tidak nyaman untuk Hanna. Hanna memeluk Edel seperti yang dia lakukan saat ada temannya yang menangis.


“Terimakasih Hanna. Aku memang sangat butuh pelukkan saat ini.” Hanna tersenyum hangat pada Edel yang masih gemetaran.


Selesai belanja Hanna dan Edel kembali ke mobil dengan troli penuh belanjaan makanan enak. Semua makanan siap saji dari restaurant terkenal di negeri ini. Edel tidak lupa membelikan ice cream coklat kesukaannya seperti yang Hanna ceritakan padanya.

__ADS_1


Hanna menjuhkan ice cream yang dipegangnya, matanya tiba-tiba berlinan air mata membuat Edel mengikuti arah matanya. Edel sama terkejutnya, Ivar berdiri tersenyum di depan mobilnya yang terparkir.


Ada yang membuat Edel bingung, kenapa Hanna menangis melihat Ivar. Apa dia takut? Apa Ivar pernah menyakitinya? Apa yang sebenarnya terjadi?


__ADS_2