
Nindi membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak keluar. Sesak sekali dadanya saat menyiapkan seragam Ivar pagi ini. Teringat bagaimana Ivar pergi ke tempat yang mengerikan dan membuat dirinya ketakutan padahal sedang hamil muda. Kesal sekali rasanya, tapi Suaminya bersikeras tetap ingin melanjutkan langkahnya.
Memaksanya untuk tidak kembali malah membuat Nindi merasa berdosa dan tidak dirinya lakukan. Meskipun sakit, dirinya tetap harus percaya Ivar nya akan baik-baik saja.
Air matanya menetes di seragam Ivar yang berwarna gelap. Nindi masih mencoba menetralka perasaanya yang kacau pagi ini.
Mendengar langkah kaki, Nindi segera masuk ke kamar mandi. Tidak mau di pergoki saat dirinya tengah menangis. Takut Ivar berat melangkah dan kembali mengurungkan niatnya.
"Mom mana ya Nak." Ivar bicara dengan Putra nya yang ada di gendongannya. Tertidur pulas merasa nyaman.
Tok...... tok.....tok....
"Nin, di dalam kamar mandi yah?"
"Iya Bang, Nindi sakit perut." Jawabnya dari dalam kamar mandi.
"Sakit perut yang bagaimana sayang? Perlu ke dokter kah?" Ucapnya penuh rasa khawatir.
"Tidak Abang. Cuma ingin Pup saja." Nindi menyalakan air agar Ivar paham.
"Ok, Abang kebawah lagi ya Nin. Jangan lama-lama sayang, yang lain sudah tunggu sarapan." Menempelkan telinga nya di daun pintu.
"Ok Bang, Nindi segera turun."
Mendengar nya Ivar lega, segera dirinya kembali bergabung dengan yang lain untuk sarapan. Ivar hanya ingin memastikan Nindi baik-baik saja. Pasalnya Nindi bilang hanya akan menyiapkan seragam saja, namun tidak juga kunjung turun menyusulnya.
Nindi segera keluar kamar mandi, memoles sedikit wajahnya agar tidak keliatan habis menangis. Sudah cukup kesedihan beberapa hari lalu. Dirinya kini mantap mendukung langkah suaminya.
Tersenyum di depan cermin meregangkan otot-otot wajahnya sebelum turun.
"Sini sayang, Abang sudah siapkan makanan Nindi. Cepat makan." Pinta nya lembut. Ivar mengecup puncak kepala istrinya yang baru saja duduk di sisi nya.
"Abang tidak makan?" Nindi menunduk takut Ivar menyadari sembab di matanya.
"Nanti, setelah Nindi sarapan." Nindi mengangguk saja setuju, gantian karena Baby tidak mau di taro di kasurnya. Dia betah sekali di gendongan.
"Sini, Mas sudah selesai. Hanna juga sudah rapih. Kalian makan lah degan tenang." Ivar paham sekali maksud Mas nya agar mereka berdua punya banyak waktu.
Kedepan dirinya akan sangat sibuk degan berbagai macam pekerjaan setelah kembali ke kesatuan.
__ADS_1
Melihat Nindi diam saja menikmati makananya. Ivar menikmati setiap detail keindahan yang ada di hadapanya. Mata belo, hidung mancung, bulu mata panjang yang alami, bibir yang sedikit tebal kesukaannya.
Yang dilihat salah tingkah, pipi nya merona dan jadi salah tingkah.
"Malu Abang. " Senyumnya menambah sempurna pemandangan yang Ivar lihat pagi ini.
"Kenapa sayang? Apa yang Nindi pikirkan?" Nindi menggeleng. Ivar menyisir rambut Nindi dengan jari-jarinya. "Nindi cantik sekali hari ini." Pujinya membuat Nindi tersenyum.
"Ihhhh.....sudah jangan liatin terus, Nindi malu."
"Kenapa malu, kan Abang yang lihat sayang. " Ivar mengecupi pipi istrinya yang merona. Gemas sekali, Ivar sampai di dorong tanga kecil Nindi agar berhenti.
"Abang makan cepat, nanti makanannya dingin."
"Terimakasih sayang, aku bangga sekali sudah dapat dukungan penuh. Abang berjanji akan selalu menjaga diri dengan baik. Abang juga akan jaga kalian dengan baik."
"Nindi percaya, sekarang Abang cepat makan. Nanti bisa telat di hari pertama Abang masuk." Tidak mau lagi membahas pekerjaan suaminya lebih jauh, masih belum bisa move on dari masa lalu yang sangat menakutkan.
Dadanya masih sesak jika di paksa memikirkan pekerjaan suaminya yang beresiko tinggi. Menjadi pasukan khusus membuat dirinya harus punya keberanian lebih besar.
Nindi bisa kehilangan Ivar kapan saja, mengingatnya Nindi segera menepis segala ketakutannya. Suami nya berjanji akan baik-baik saja.
Ivar memutuskan segera masuk ke kesatuan dan menyelidiki kecelakaan yang menimpa Ibu dan Kaka nya. Padahal dirinya diberi cuti satu tahun setelah misi besar yang berhasil dirinya selesaikan. Ivar ingin menguak dalang di balik kecelakaan segera.
"Untuk apa Bungan nya Nak?"
"Karena Paman kembali bekerja. Hanna minta Paman tetap sehat, jangan pulang terlalu lama." Pintar sekali Hanna merangkai kata-kata.
"Siap Bos. Paman berjanji."
"Hanna habis liat apa sayang?" Heran Nindi yang tidak biasa melihat Hanna semanis ini.
“Kita harus saling punya banyak cinta supaya keluarga kita tetap bahagia, benar kan Paman?” Cicit Hanna menggemaskan.
“Kenapa kesayangan Paman pagi ini manis sekali. Guru ajarkan Hanna bicara semanis ini kah?” Hanna menggeleng.
“Dari film yang Hanna tonton. Heheheh….” Terkekeh, dirinya mempraktekkan yang diirnya lihat dengan benar. Ternyata, Pamannya suka.
Pagi mereka di sambut suka cita dan penuh cinta kasih. Saling mengutarakan sayang dan cintanya tanpa ragu. Saling ingin menjaga dan memberikan yang terbaik demi kebahagiaan orang yang mereka sayangi.
__ADS_1
Pagi ini Edwin mengantar Putranya yang bersikeras kembali. Entah apa untungnya berada di sana, Ivar ingin mengejar alasan kenapa harus kehilangan orang-orang terkasihnya. Tidak rela, dirinya akan kejar sampai dapat.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, keduanya enggan bicara.
Kini mobil mereka berhenti di depan gerbang markas para anggota kesatuan berkumpul. Edwin menghela nafasnya berat.
“Sudah yakin kembali ke dalam sana?” Tanya Edwin lagi masih tidak rela melepaskan Ivar. Binar penuh kesedihan yang di pencarkan laki-laki kesayangan Ivar.
“Pah, Ivar sudah sangat mantap. Tolong jaga anak-anak dan Nindi, aku akan menjaga mereka dari jauh. Aku akan pastikan kalian semua selalu aman.”
"Sepertinya sudah tidak akan bisa di bujuk, padahal Papah masih tidak rela."- Edwin enggan menatap Putra nya, dia sedang menahan air mata.
"Ivar janji tidak akan ada lagi kesedihan. Percaya Ivar Pah. ku mohon." Ivar menepuk pundak kekar Edwin.
“Pergilah, buktikan kalau aku melepaskan Putra ku ke tempat yang tepat.” Tidak menatap Ivar, tidak kuat.
“Thanks Pah, aku tahu Papah sunguh-sungguh mengijinkan ku. Ivar akan buktikan keputusan Ivar tidak pernah salah.” Edwin mengangguk, akhirnya dirinya kalah dan harus melepsakan Ivar kembali.
“Turunlah, lihat sahabat mu sudah menunggu.” Edwin tersenyum melihat Ezra dan Abrar di depan pintu masuk.
Segera Edwin meluncur ke kantor menggantikan posisi kosong yang Ivar tinggalkan. Dirinya kini tengah membujuk Ayman agar berhenti dari pekerjaanya dan membantunya mengurus perusahaannya.
Ayman memang sangat mandiri, tidak mau mengandalkan orang tuanya dan memautuskan hidup dengan caranya. Dirinya berhasil, sejauh ini dia berhasil membanggakan.
Semua staff dan para karyawan sudah berdiri di lobby utama menyambut kembali kedatangan Edwin yang memang fakum setelah Ivar menggantikan posisinya. Meski jarang datang, karena perusahaan lebih banyak di kendalian Prabu, semua karyawan mengenalnya dengan baik.
Dan hari ini Prabu meminta semua staff menyambut kedatangan sahabatnya yang akhirnya mengalah dan mau memimpin perusahaan yang sudah mereka bangun sejak lama sampai berdiri sebesar ini dengan kokoh.
***
“Selamat datang kembali Var.” Abrar menyambut dengan suka cita.
“Aku suka sekali kau kembali, tapi aku sekarang entah kenapa malah kepikiran peri kecil dan Nindi. Apa mereka baik-baik saja kau kembali ke sini?” Ivar menyunggingkan senyumnya yang terpaksa.
“Nindi tentu saja dengan berat hati, Hanna malah pagi ini memberiku Bunga mawar. Manis sekali gadis kecilku.”
“Syukurlah kalau memang mereka menerima dengan lapang dada. Aku dan Ezra tau bagaimana Nindi menderita Var. kami hanya takut saja Nindi pura-pura memberikan mu ijin.”
"Meski pura-pura, Nindi harus menyimpannya. Aku benar-benar harus ada di sini, aku butuh bantuan kalian juga." Langkah Ivar mantap memasuki markas.
__ADS_1
"Kami menyelidiki kasusnya dan menemukan kebanjiran, tapi ku mohon bersantai sejenak di hari pertama masuk Var. Jangan sampai mencurigakan." Bisik Abrar di akhir kalimatnya.
Ivar paham dan sepertinya langkahnya harus lebih hati-hati.