Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Setelah Hujan Akan Ada Terang


__ADS_3

Nindi duduk di kursi tunggu menunggu kedatangan siapa saja yang bisa memberinya informasi. Banyak yang berlalu lalang namun tidak satupun yang mengenal Nindi, begitupun sebaliknya.


Perutnya terasa lapar, Nindi merogoh isi tasnya. Ada sepotong roti yang Nindi beli dalam perjalanan. Dia sekarang tidak bisa menahan lapar meski hanya sebentar. Perlahan Nindi menggigit roti lapis kesukaannya.


Ada petugas wanita yang merasa penasaran, sedang apa Nindi di sana. Perlahan mendekat dan duduk di sebelah Nindi.


“Makan Bu, maaf aku hanya membawa satu.” Wanita yang begitu ramah tersenyum pada Nindi.


“Makanlah, jangan hiraukan aku.” Nindi merasa sedang diperhatikan. “Apa kau sedang menunggu seseorang?” Nindi hendak mengangguk namun akhirnya menggeleng. “Siapa?”Wanita yang mendekati Nindi tahu betul Nindi sedang berbohong. Kini kepalanya tertunduk. Dirinya sendiri bingung siapa yang dia tunggu.


“Apa kedatanganku mengganggu?” Gelengan kepala Nindi terima sebagai jawaban. “Terimakasih banyak ya Bu.” Wanita yang mendekati Nindi mengulurkan tangan.


“Namaku Prita.”


“Saya Nindi, senang bisa mengenal Ibu Prita.”


“Kenapa kau terlihat sangat sedih? Siapa sebenarnya yang kau tunggu Nin?” Nindi tersenyum masam. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


“Suamiku...Ivar.” Prita tersenyum seketika. Dia ternyata istri dari Komandan pasukan khusus yang kini sedang melakukan misi rahasia.


“Kenapa menunggu di sini. Mari saya antarkan ke ruangan Komandan Ivar.” Nindi seperti tercubit hatinya, ternyata Ivar seorang Komandan.


“Apa jabatannya setinggi itu?” Prita mengangguk.


“Pantas saja aku seperti tidak asing. Komandan banyak menyimpan Foto Nindi di kantornya.” Pintu terbuka, Nindi seperti sedang memasuki kotak rahasia. Sekalipun Ivar tidak pernah mengajaknya ke sana. “Saya tinggal sebentar mengambil minuman.” Prita tau betul harus memberikan Nindi ruang menikmati setiap sudut ruangan kerja Ivar untuk melepas rindu.


Begitu banyak foto, ada beberapa potret dirinya yang Ivar ambil diam-diam. Foto Hanna dan Jason mendominasi. Dua malaikat pelipur lara yang kini juga menguatkan Nindi mengatasi segala situasi. Nafas Nindi mulai terasa berat, foto pernikahan yang mengingtakannya pada janji Ivar yang akan selalu menlindunginya dan berada di sisinya apapun yang terjadi.


Tidak terasa air mata membasahi wajah Nindi yang sedikit tirus. Dia banyak makan namun tubuhnya entah kenapa terlihat lebih kurus.


Nindi menahan diri agar tidak menangis terlalu berlebihan, kini dia harus menjaga nyawanya sendiri dan nyawa calon anaknya. Nindi hanya merasa pedih, belahan jiwanya begitu besar mencintainya. Nindi tau betul bagaimana Ivar mencintainya selama ini.


Tok...tok...tok..


“Apa aku boleh masuk?” Prita tersenyum melihat Nindi mengusap sisa air mata sambil tersenyum melihat kedatangannya.


“Maaf aku malah merasa emosional.”


“Tenang saja Nin, anggap saja aku temanmu.” Nindi tersenyum merasa sungkan, Prita baru saja dia kenal namun sudah terasa begitu hangat. “Aku tau betul perasaanmu.” Prita memeluk Nindi dengan hangat.


“Apa Abang akan baik-baik?” Prita tidak menjawab, tidak ada kepastian. “Aku sangat takut! Apa yang harus aku lakukan Bu!” Nindi terisak di pelukkan Prita. Jiwa raganya lemah jika menyangkut Ivar yang tak kunjung memberinya kabar.


“Ingat Nin, Setelah Hujan Akan Ada Terang! Kau harus tegar.” Prita menyelipkan rambut Nindi yang terurai berantakan. “Kau harus ingat bagaimana Ivar mencintaimu. Dia pasti akan memastikan dirinya kembali padamu dengan selamat. Kau harus percaya padanya.” Nindi mengangguk mencerna percakapannya.


Benar yang Prita katakan, harus tegar. Semua pasti akan kembali jika kita bisa bersabar dan menerima segala yang sudah digariskan. Tidak selamanya hari akan malam, dan tidak selamanya siang memenuhi peredaran bumi. Semua berjalan mengikuti alur yang sudah Tuhan gariskan.


Brukkk....


Suara pintu terbuka yang cukup keras membuat Prita dan Nindi terkejut. Ada dua sosok laki-laki yang Nindi kenal tersenyum padanya. Abrar dan Ezra memberi hormat pada Prita sebelum membuka mulutnya.


“Kalian masuk tanpa permisi, tidak sopan sekali Brar.” Gerutu Prita melihat dua laki-laki pembuat onar di timnya muncul.


“Siap Komandan, kami kira tidak ada Komandan.” Abrar dan Ezra terlihat tegang.


“Sudah-sudah, ada apa!” Tanya Prita sangat serius.


“Tidak ada Komandan, kami hanya mendengar berita ada wanita dengan ciri-ciri yang sangat mirip dengan istri Komandan Ivar datang.” Jelas Ezra dengan lantang.

__ADS_1


“Jadi kalian terlihat begitu antusias bukan ingin menemuiku!” Bentak prita mempermainkan perasaan dua anak buahnya yang masih dalam didikannya.


“Siap Komandan. Maaf kan perbuatan kami.” Nindi tertawa melihat lelucon siang ini. Prita ikut senang melihat senyum kembali terbit di wajah cantik Nindi.


“Kalian ini membuat malu saja, cepat ajak Nindi makan siang. Dia pasti kelaparan.”


“Siap Komandan.” Ezra segera meraih tangan Nindi.


“Komandan tidak ikut makan dengan kami?” Tawar Abrar dengan sopan.


“Tidak Brar, saya masih kenyang. Sarapan tadi pagi membuat perutku begah.” Tolak Prita agar Nindi merasa lebih leluasa. Lagi pula Prita punya pekerjaan yang harus dia urus segera.


“Ibu Prita, terimakasih banyak atas nasehat yang Ibu berikan. Saya harap Ibu mau membantu Abang agar bisa kembali dengan selamat.” Nindi senang masih ada Komandan sebaik Prita, dia bisa membantunya pasti.


“Hayyy...Nin, kau apa kabar? Kenapa datang kesini tanpa memberikan kabar?” Tanya Ezra sambil berjalan menuntunnya. “Apa benar aku akan punya adik bayi?” Nindi mengangguk. “Selamat Nin, kau harus menjaganya.” Nindi tertawa melihat wajah Ezra yang sangat lucu.


“Abrar, kau hebat bisa tidak tertawa saat bersamanya.” Abrar menoyor kepala Ezra kesal. Dia yang menyebabkan keributan setiap saat, dan dirinya selalu terseret arus bersamanya.


“Asal kau tau Nin, aku lebih banyak menangis saat bersama dengannya.” Ezra tidak menggubris dan tetap berjalan melenggangi depan Abrar bersama Nindi.


“Dasar kekanakan.” Umpat Abrar yang masih kesal.


Sesampainya di kantin Abrar menawarkan beberapa menu yang biasa Ivar makan. Nindi merasa seolah Ivar sedang hadir di sisinya. Lewat Ezra dan Abrar, Nindi tau apa saja kebiasannya saat sedang berada di markas besar.


Menceritakan bagaimana sifat Ivar yang kaku dan tidak bisa di ajak bercanda meski Ezra sangat ceria dan sangat suka melontarkan lawakan.


“Aku akan coba Soto Ayam. Sepertinya enak dan segar.” Nindi memutuskan makanan yang bisa dia coba dan sehat untuk kandungannya.


“Ok, aku akan pesankan. Tunggu di sini sebentar.” Abrar segera lari menghampiri kedai soto langganannya.


“Apa yang membawamu kemari.” Tanya Abrar di sela-sela suapan makanan yang masuk ke mulutnya. Ezra mencubit kaki Abrar agar sadar dengan perbuatannya. Bukannya sadar dia malah melotot memaki Ezra dalam hati.


“Tidak apa Za, aku rindu. Tidak ada tempat lain yang bisa aku tuju.” Nindi tersenyum namun tidak dengan matanya. “Aku merasa lebih baik sekarang.”


“Benarkah?” Nindi mengangguk. “Jika ingin datang ke sini lagi bilang saja, aku atau Ezra akan menjemput mu Nin. Jangan berjalan sendirian.”


“Aduh..aduh...kau ini perhatian sekali.” Ledek Ezra melihat sahabatnya yang kaku bersikap manis.


“Aku juga butuh berjalan Kak Abrar.”


Abrar melotot seperti Ivar. Nindi sampai terkejut melihatnya. “Kau tidak bisa menurut saja apa kataku. Jangan membantah Nin.”


Selesai makan Abrar dan Ezra mengantarkan Nindi kembali ke rumah. Raut wajahnya sudah lebih cerah dari sebelumnya. Meski tidak banyak yang bisa Nindi lakukan, melihat kenangan yang Ivar tinggalkan cukup mengobati rasa rindunya yang menggunung. Senyum kini bisa Nindi torehkan dengan indah.


"Sudah sampai Nyonya." Ezra mengulurkan tangannya membantu Nindi turun dari mobil.


"Terimakasih banyak bantuannya. Sering-seringlah mampir, Hanna sering menanyakan kalian." Abrar hanya mengangguk masih setia duduk di kursi memegangi setir mobil. Sementara Ezra menuntun Nindi masuk ke dalam rumah.


"Paman....." Hanna lari ke pelukan Ezra penuh kegembiraan.


"Aduh.....aduh....Tante nya tidak kelihatan. Hanya Paman yang dapat pelukan!" Nindi bertolak pinggang heran.


"Tante ini lah, jangan merajuk. Kan Hanna setiap hari kasih Tante pelukan." Balas Hanna yang merasa di pojokan.


"Kau bisa saja membalas. Cepat peluk!" Hanna tersenyum degan wajah polos nya.


"Hehehehe....." Memeluk Nindi dengan erat.

__ADS_1


"Paman langsung pulang yah Han. Ada yang Paman harus kerjakan." Wajah Hanna langsung mengkerut.


"Kenapa buru-buru sekali!" Memasang wajah sedihnya. "Kan kita belum main." Nindi lupa ingin berjongkok di depan Hanna. Ezra langsung saja menarik tubuh Nindi sampai dia sedikit terkejut karena tarikan tangan Ezra.


"Jangan duduk seperti itu. Kau ini." Ternyata Ezra bisa marah juga. Kenapa semua orang begitu over protektif. Nindi hanya menggeleng kepala merasa heran tapi juga senang.


"Tidak masalah Za, asalkan tidak terlalu menekan perutku." Memberikan alasan yang masuk akal. Laki-laki memang cenderung berlebihan.


"Jangan macam-macam. Tante Nindi harus lebih hati-hati." Pesan Ezra tidak mengindahkan alasan Nindi. Ternyata banyak yang menjaganya.


"Iya....iya.." Jawab Nindi agar perkelahian tidak berlanjut.


Ezra berjongkok di depan Hanna, membelai lembut puncak kepala gadis kecil yang menggemaskan. "Hanna kapan libur?" Tidak ada jawaban, mukanya masih masam. "Bilang Tante Nindi, kalau Hanna libur cepat hubungi Paman Ezra.


Paman akan segera datang membawa Ice Cream kesukaan Hanna." Hanna mengangkat kepalanya yang tertunduk.


"Benar....!" Ezra mengangguk. "Yeayyyy...." Hanna bersorak gembira. "Ingat ya Paman. Jangan berbohong." Ezra kembali mengangguk dengan senyum lebar memenuhi wajahnya.


Sorak Sorai Hanna masih memenuhi ruangan. Semua jadi ikut tertawa dan gembira melihat Hanna begitu girang.


"Peluk Paman sayang." Pinta Ayman yang gemas melihat Hanna. "Apa sih yang buat Hanna sangat bahagia? Hmmmm...." Hanna merubah wajahnya dengan sangat manis. Ayman sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium pipinya yang kian membulat.


Cerita Hanna mulai, begitu antusias sampai Nindi beberapa kali meggelengkan kepala dan menepuk jidatnya karena Hanna menambahkan bumbu-bumbu agar ceritanya semakin menarik. Memang anak yang luar biasa hayalanya.


"Nin, kapan jadwal kontrol kandungan?" Tanya Edwin yang selalu siaga menggantikan peran Ivar. Nindi terlihat menghitung.


"Aku hampir saja lupa, ternyata hari ini." Nindi menyesal terlalu larut sampai lupa waktu.


"Tidak masalah. Cepat berkemas, Papah antar yah." Nindi segera beranjak mengganti pakaiannya.


Edwin juga sebenarnya tidak ingat, namun Dokter menghubunginya karena Edwin tidak kunjung datang ke Rumah Sakit. Untung saja Dokter berinisiatif menelpon, jika tidak akan kena caci maki dari Edwin karena tidak mengingatkannya.


Sesampainya di Rumah Sakit Edwin dan Ellie segera memasuki ruangan Dokter Nindi. Cukup lama menunggu sampai sudah lewat jam praktek.


"Mukamu jangan masam begitu." Tegur Edwin padahal Dokter bersikap normal dan wajar.


"Kau ini ada-ada saja, lihat senyum di wajahnya, kau masih saja tidak tau diri." Omel Ellie pada Edwin yang kekanakan.


"Hehehehe..... Aku hanya bercanda." Nindi sudah tidak heran lagi.


Sejak kepergian Ivar, Edwin sering membuat lelucon meski hasilnya malah menakutkan. Mungkin itu caranya menghibur Nindi agar tidak cemas. Candaannya lebih seperti ancaman, wajahnya menakutkan bahkan saat membuat lelucon.


Dokter melakukan pemeriksaan dengan teliti, senyum menghiasi wajah Dokter yang masih terlihat tampan meski sudah berusia.


Edwin merupakan pemilik saham yang cukup besar meski bukan pemilik saham terbesar di Rumah Sakit tersebut, perannya cukup besar dalam kemajuan Rumah Sakit sampai keberadaannya diperhitungkan sebagai Rumah Sakit terbaik di Jakarta. Tidak ada yang tidak mengenalnya, semua begitu menghormati Edwin dengan segala macam prestasi yang dia torehkan. Sayang sekali Putra semata wayangnya memilih jalan berbeda dengan dirinya.


"Bagaimana Dok...cucuku sehat." Tanya Edwin tidak sabaran.


"Tuan ini.....sabarlah dulu." Kini Dokter yang berbalik menggerutu. "Kandungan Nindi sehat, semua aman." Dokter menulis resep obat di kertas dan menyerahkannya kepada Suster agar mengurusnya.


"Apa ada yang perlu Nindi lakukan? Misalnya yoga hamil atau semacamnya." Tanya Ellie.


"Itu sangat bagus, tapi jangan lakukan terlalu berlebihan. Atau aku kenalkan pada temanku saja, dia tau betul segala macam bentuk yoga."


"Boleh Dok, kirim kontaknya padaku." Nindi kembali merasa terharu menerima semua kebaikan hari ini. Semua orang begitu bekerja keras untuk dirinya dan calon buah hatinya.


Semua berjuang untuk dirinya dan calon buah hatinya. Nindi juga harus berjuang, demi dirinya dan demi semua orang yang begitu besar cinta kasihnya. Semangat yang begitu besar membara dalam jiwa Nindi, tidak ada lagi alasan dirinya berkecil hati. Tidak ada alasan untuk setiap air mata yang Nindi tumpahkan, kini dirinya bertekad menjadi bahagia bersama semua orang-orang selalu hadir dengan penuh cinta kasih.

__ADS_1


__ADS_2