Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Perasaan


__ADS_3

Hanna sudah cantik dengan seragam sekolah yang membalut tubuhnya. Tugas yang sempat dia lupakan juga sudah selesai dengan gambar yang cukup mengesankan semua orang yang melihatnya. Dia punya bakat seni sejak masih sangat kecil.


“Hanna ayo cepat, Tante juga harus interview setelah mengantar Hanna ke sekolah.” Nindi sudah membawa semua keperluan yang sudah dia siapkan.


“Tante, Hanna ingin pipis.” Wajahnya menunjukkan jika dirinya sudah tidak bisa menhannya lagi.


“Ayo...” Nindi tersenyum pada gadis kecil yang menatapnya syahdu, Nindi dengan sabar menuntun Hanna ke toilet.


“Nin, apa tidak kita antar saja? Kamu gak telat memangnya?” Tawar Edel yang juga akan segera berangkat ke Butik. Ayman sendiri sudah pergi lebih awal karena ada meeting pagi. Nindi merasa segan terus merepotkan Edel.


“Masih ada waktu Kak. Lagi pula aku sudah merepotkan kalian sepanjang waktu.” Nindi tersenyum merasa sungkan.


“Kau ini seperti sama siapa saja.” Edel menepuk pundak Nindi memberinya semangat. “Ya sudah, pulang nanti tunggu Pak Bagas ya Han.” Hanna hanya mengangguk karena sibuk merapihkan bajunya yang berantakan. “Ingat jangan pulang dengan siapa pun selain Pak Bagas. Ingat Han!” Edel seperti Ibunya yang cerewet. Tapi Hanna sangat menyukainya.


Hanna memberikan pelukkan sebelum dirinya benar-benar berangkat. Sejak tinggal di rumah Ivar, Hanna terbiasa mengikuti kebiasaan keluarga Pamannya yang sangat romantis satu sama lain.


“Paman kemana tante?” Nindi hanya tersenyum, dirinya sendiri bingung dimana Ivar berada. “Paman bilang akan mengantarku ke sekolah hari ini. Tapi Paman malah pergi.” Hanna seolah sedang mengutarakan rasa kecewanya. Itu juga perasaan yang sedang Nindi rasakan.


“Paman mungkin sedang ada pekerjaan mendesak Han. Jadi harus pergi pagi-pagi sekali, lain kali pasti Paman akan mengantar Hanna.” Nindi menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya sama dengan Hanna. “Han, apa sekarang temamu yang bernama Gabby tidak pernah menganggumu?” Hanna menggeleng.


“Dia sekarang takut padaku, setiap dia akan mendekat aku selalu mengancamnya akan mengadukannya pada Paman.” Hanna tersenyum merasa lucu saat membayangkan wajah Gabby yang ketakutan.


“Benarkah?” Anggukan kepala yang penuh semangat.


“Paman memang sangat hebat.” Hanna mengacungkan dua ibu jarinya merasa bangga punya Paman hebat seperti Ivar.


“Apa Hanna sangat mencintai Paman?”


“Iya....Paman selalu menjaga Hanna dan Tante Nindi. Jadi Hanna sangat menyayangi Paman.” Ada senyum bahagia yang membuat hati Nindi nyaman melihatnya.


Beruntung Nindi tidak seorang diri menjaga Hanna, keluarga Ivar benar-benar melengkapi setiap figur keluarga yang Hanna butuhkan. Dia bahkan dapat limpahan kasih sayang dari setiap anggota keluarga Ivar yang mencintainya dengan tulus.


Tidak terasa Nindi dan Hanna sudah sampai di depan sekolah. Nindi mengantar Hanna sampai ke depan kelasnya. Hanna pasti sesekali butuh perhatian darinya meski hanya perhatian kecil. Meski tidak pernah mengeluh, Nindi tahu betul perasaan Hanna saat ini. Dirinya bahkan tumbuh seperti Hanna.


“Tante pergi ya Han. Semangat!!!!” Nindi menggoyangkan tanganya yang terkepal memberikan semangat.


Nindi segera meluncur ke perusahaan pertama yang mengundangnya untuk wawancara pukul 09.00 WIB. Nindi menghembuskan nafasnya berulang kali, mencoba menata hatinya yang saat ini sedang sendu agar tidak memperngaruhi performanya saat sedang melakukan wawancara.

__ADS_1


Nindi menyapa beberapa orang yang juga datang untuk wawancara hari ini. Ada 15 orang dari lulusan Tata Busana dari kampus-kampus yang berbeda. Semua pasti ingin punya kesempatan meniti karir di perusaahn mode terbesar di Asia ini. Meski Nindi tidak berharap banyak saat melihat kandidat lain, setidaknya dirinya sudah menyiapkan segala hal yang diperlukan dengan matang.


***


Luna duduk di samping Abi yang sedang menyetir kendaraan mengantranya kekampus. Dirinya yang terluka tidak bisa istirahat karena ternyata ada jadwal ujian yang di majukan lebih cepat dari seharusnya. Tentu saja Luna tidak mau ujian sendiri, kalau dilakukan bersama-sama bisa meminta bantuan saat dirinya tidak tau jawaban yang benar. Hal yang lumrah saat kuliah atau sekolah.


Matanya menatap keluar jendela melihat cafe kesukaannya. Hari ini dia tidak bisa jajan karena kartu saktinya di sita. Ingin marah tapi Abi sudah berbaik hati membela dirinya meski tidak bersalah.


Dalam hati kecil Luna, dia ingin sekali mengucapkan permintaan maaf. Tapi dia gengsi dan tidak tahu cara yang baik mengucapkannya. Alhasil Luna dan Abi dalam ketegangan. Keduanya saling menghindari tatapan yang bisa membuat suasana semakin canggung.


Perjalanan yang sunyi akhirnya bisa dilalui, mereka samai di tempat tujuan dengan selamat. Abi merasa sedikit heran karena Luna begitu pendiam hari ini. Pria kaku ini tidak bisa berkata-kata dan hanya penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apakah Luna marah? Malu? Atau perasaan apa yang sedang dia rasakan.


Abi sangat tidak nyaman, lebih baik mendengar omelannya daripada melihat Luna diam saja membuat dirinya mati kutu tidak bisa bersikap normal seperti biasanya.


“Sini Nona, saya bantu.” Abi menggendong Luna menuruni mobil. Kakinya semakin sakit dari sebelumnya. Abi dengan tulus memapahnya sampai ke kelasnya. Jantungnya berdebar kencang seolah akan melompat dari dadanya.


Kali ini Luna pasrah menerima pertolongan Abi, kakinya memang benar-benar sakit. Apalagi Dokter melarangnya banyak bergerak agar luka sepat kering dan membaik. Tapi tidak ada pilihan untuknya hari ini.


“May...may lihat Luna.” Dua sahabat yang melihat Luna berjalan pincang bahkan sampai harus dipapah oleh Abi pun lari menghampiri.


“Kakimu kenapa?” Tanya Maya penasaran. “Apa karena ini semalam kau tidak datang?” Luna mengangguk. Kau membuat khawatir saja. Ponselmu bahkan tidak bisa kami hubungi.” Maya mengomel.


“Kalian pasti sangat khawatir yah? Maaf yah May, Lan. Kemarin ponselku mati karena terlalu banyak panggilan masuk.” Abi menunduk, dia tahu kalimat terakhir tertuju untuk dirinya.


Kedua sahabat Luna yang merasa bersalah memeluk Luna. Mereka lega karena meski terluka Luna saat ini dalam keadaan baik-baik saja.


“Simpan nomormu Bi.” Maya menyodorkan ponselnya, mata Abi membulat karena merasa terkejut. “Kalau-kalau kejadian seperti kemarin menimpa Luna, aku bisa menghubungimu.” Tangan Maya sedikit gemetar mendapat tatapan se intens itu dari laki-laki yang dikaguminya. Luna berdiri di depan Abi dengan susah payah, menolak dengan lembut tangan Maya.


“Kau ini apa-apaan. Aku tidak akan mengulanginya. Aku kapok.” Maya mendengus kesal, padahal ini kesempatan emas untuk mendapatkan nomor ponsel Abi dengan mudah tanpa mempertaruhkan harga dirinya.


“Baiklah...” Menyerah.


“Ayo kita masuk.” Bulan memapah Luna menggantikan Abi.


Saat Maya menyodorkan ponsel pada Abi, tiba-tiba saja Luna merasa kesal. Apalagi selama ini Maya mengakui perasaannya yang mengagumi Abi. Dirinya tidak rela jika Abi diganggu gadis semanis Maya.


Luna menjerit dalam hati, menyesal dengan apa yang sudah dirinya lakukan. Biarkan saja Maya dan Abi menjalin hubungan, kenapa harus ada perasaan kesal melihat mereka berdua. Aku benar-benar sudah gila.

__ADS_1


“Lun, kau ini tidak peka sekali. Tadi aku hampir saja dapat nomor Abi.” Berteriak frustasi pada Luna setelah mereka berada dalam kelas.


“Maaf....aku tidak tahu May.” Pura-pura lugu. “Aku kira kau berbuat seperti itu karena khawatir padaku.” Luna berlagak tidak tahu yang sebenarnya.


“Tentu saja aku khawatir padamu. Tapi kan kamu tahu aku menganggumi Abi sejak aku melihatnya.” Wajahnya terlihat sangat sedih.


“Maaf May, aku benar-benar menyesal. Kalau aku tahu pasti aku tidak akan melakukannya.” Padahal jelas-jelas dirinya tahu.


“Kau ini, lain kali bantu aku agar aku dapat nomor Abi.” Luna mengangguk.


“Aku bisa memberikannya Cuma-Cuma. Apa kau mau?” Luna mengeluarkan ponselnya.


“Tidak, aku ingin dapat langsung dari Abi. Apa kata dunia kalau aku dapat dari majikannya.” Bulan dan Luna hanya tertawa melihat Maya yang kesal cintanya bertepuk sebelah tangan tapi masih berusaha membuat lelucon.


Abi membawa 3 cup coffe dari kantin dan mengantarkannya ke kelas. “Nona, aku membelinya di kantin. Ini rasa kesukaan yang Nona biasa minum. Saya juga membelikannya untuk Maya dan Bulan.”


“Terimakasih.” Ucap Bulan, kedua sahabatnya yang lain sedang terpesona dengan kebaikan dan ketampanan Abi.


“Saya menunggu di luar Nona. Telpon saya jika Nona butuh bantuan.” Luna mengangguk tanpa bisa berkata-kata lagi.


“sepertinya aku harus meminta Papahku merekrut Abi jadi bodyguardku.” Ucap Maya yang sedang menghayal punya pengawal setampan Abi.


“Kau ini terlalu banyak menghayal.” Bulan meledek sahabatnya yang terlalu banyak menginginkan Abi.


“Aku juga tidak akan melepaskanya..... Uhuk...uhukkkk...” Keceplosan. Kedua sahabatnya tercengang. Baru kali ini Luna bicara seolah Abi sangat berharga.


“Apa aku tidak salah dengar?” Maya penasaran. “Apa kau juga sekarang naksir Abi? Setelah Ivar tidak bisa kau miliki?” Maya kesal.


“Auwww...” Bulan menoyor kepala Maya yang ngawur. “Kau bicar seenaknya saja.” Bulan juga sebenarnya penasaran. Tapi kalimat Maya terlalu terus terang.


“Maksudku bukan seperti itu. Aku tidak akan melepaskan pegawai seperti Abi. Aku malas jika harus berganti-ganti lagi seperti dulu.” Luna mencoba menyelamatkan diri dari ucapannya. Luna memijat tenggorokannya yang terasa panas karena tersedak.


“Aku kira kau naksir Abi juga, kalau kau naksir Abi, aku tidak akan punya kesempatan.” Maya berkecil hati jika harus bersaing dengan sahabatnya sendiri.


Abi belum jauh saat ketiganya berdebat tentang perasaan mereka. Lega rasanya karena Luna tidak punya perasaan apapun pada dirinya. Biarkan dirinya seorang yang mengaggumi Luna tanpa sepengetahuannya.


Abi sangat tidak nyaman dengan perasaannya pada Luna selama ini. Tapi rasa cintanya tidak bisa Abi hapus. Semakin berusaha membuang perasaannya pada Luna, Abi malah akan semakin jatuh hati pada gadis yang saat ini dia jaga keselamatannya.

__ADS_1


Senyumnya seperti sihir yang memikat perasaan Abi. Biarkan mengurai dengan sendirinya. Toh saat Luna punya kekasih atau pasangan hidup nanti, Abi tidak akan pernah bisa mengutarakan perasaannya lagi. Abi akan berusaha mengubur setiap harapan untuk menjadikan Luna miliknya.


Dia merasa dirinya dan Luna bagaikan langit dan bumi yang jaraknya tidak bisa di ukur. Abi merasa tidak sepadan jika harus berdampingan dengan Luna. Akan begitu menyedihkan jika Luna punya pendamping hidup seperti dirinya yang tidak memiliki apapun yang bisa Luna banggakan. Abi yang begitu berkecil hati saat berhadapan dengan Luna dan perasaan cintanya.


__ADS_2