
Abrar mendengar percakapan Luna dan Nindi karena datang bersama Ivar, Ezra berjalan belakangan karena harus parkir mobil. Tempat parkir miliknya di pakai mobil Luna yang datang lebih dulu.
Ivar tersenyum menatap wajah ketakutan Luna dan Nindi. “Kenapa kalian sangat terkejut melihat ku.” Ivar memutuskan berpura-pura tidak mendengar percakapan keduanya. Terutama Luna, Ivar tidak mau Luna malu di depan banyak orang.
“Kak Ivar, ini Nindi sahabat ku.” Ivar tertawa terbahak mendengar Luna yang mengaku Nindi sahabatnya.
“Ah iya benar.” Nindi mencoba menyelamatkan Luna. Keduanya saling memeluk dengan wajah canggung.
“Sudah-sudah, kalian membuat ku sakit perut saja.”
“Nindi aku pulang yah, lain kali aku datang lagi.” Luna segera pergi meninggalkan rumah Nindi. Untung saja dia selamat kali ini.
Abrar masuk bersama Ezra setelah melihat Luna keluar dari rumah Nindi. “Apa kami sudah bisa masuk.”
“Iya, silahkan masuk Tuan.”
“Nona kenapa buru-buru sekali jalannya, hati-hati nanti jatuh Nona.”
“Kau ini banyak sekali bicara, diam atau aku adukan pada Ayah kau menyusahkan ku.” Abi terdiam mendengar ancaman Luna, sudah banyak yang di pecat karena Luna tidak nyaman.
Di dalam mobil Luna tidak bisa diam, dia terlihat gelisah karena kedatangannya ke rumah Nindi diketahui oleh Ivar. Pasti Ivar curiga kenapa dia ada di sana, dia tidak mungkin percaya Nindi adalah temannya. Apalagi selama ini Luna memang tidak punya banyak teman, Ayahnya terlalu menakutkan bagi orang lain.
“Non...”
“Bi, apa menurut mu Kak Ivar curiga kenapa aku bisa datang ke sana?” Bibi tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Abi hanya menggeleng. Diam saja, kata Pak Tua Dadang yang sudah kerja dengan keluarga majikannya puluhan tahun.
Menjawab akan memperkeruh suasana. “Kau tidak membantu sama sekali.”
Abi diam saja menyelamatkan nyawanya yang berharga. Melihat Luna marah sudah biasa, melihat Luna gelisah seperti sekarang membuat Abi sedikit merasa kasihan. Demi cinta apapun Luna lakukan.
“Nona, apa mau mampir ke cafe langganan Nona?” Abi mencoba mengalihkan pikiran Luna yang kacau.
“Boleh juga Bi, aku ingin minum coklat panas agar hatiku sedikit adem.” Abi membelokkan setirnya menuju cafe di ujung jalan dekat tempat tinggal majikannya. Suasana cafe sangat sejuk, pemandangan dengan lukisan bertebaran disana sini membuat tempatnya terlihat elegan. Cafe langganan Luna jika dirinya butuh minuman manis pelipur lara.
Abi selalu menemani Luna, awalnya Abi menolak karena merasa tidak pantas. Namun Luna memaksa dan tidak mau di dalam seorang diri. Sekarang Abi jadi sudah terbiasa duduk bersama dengan Luna di cafe langganannya.
“Wahhhh.....rasa coklatnya meresap dalam jiwa.” Teriakan Luna membuat beberapa orang tersenyum dalam diam.
“Nona, pelankan sedikit suara mu.”
“Biarkan saja, ini tidak seberapa memalukan dengan apa yang sudah aku lakukan. Ahhhhh.......!!!!!” Bukan mereda Luna malah semakin terlihat emosi.
Abi akhirnya menarik Luna keluar Cafe karena banyak orang-orang nakal yang bisa saja merekam kelakuan minus Luna. Apa jadinya kalau seorang Luna masuk berita dan viral, bisa jadi kacang rebus nasib seorang Abi.
“Kenapa kau kasar sekali, Abi!!!1 Aku belum menghabiskan coklat panas milik ku!” Teriak Luna memaki Abi.
“Nona tunggu di sini sebentar.” Abi masuk kembali ke Cafe dan mengambil coklat milik Luna yang masih ada di atas meja tempatnya duduk tadi.
“Kenapa kau menarik aku keluar.”
__ADS_1
“Aku hanya menjalankan tugas ku melindungi Nona. Bagaimana jika ada orang yang merekam dan menyebarkan video Nona sedang marah-marah, apa Nona tidak malu?” Jawab Abi yang sedikit terbawa emosi.
Luna sedikit kagum, baru kali ini ada ajudan Ayahnya yang berani-beraninya mengatur dirinya. Tapi Luna suka, jadi tidak monoton hidupnya.
Luna diam saja di kursi belakang, diamnya Luna membuat Abi salah tingkah. Takut-takut sikapnya tadi di adukan pada sang Ayah. Biarkan saja, dia bisa beralibi demi kebaikan putri semata wayangnya.
Sesampainya di rumah Tuan Prabu sedang bersantai sore ditemani sang istri dan secangkir teh hijau hangat kesukaannya.
“Putri ku sudah pulang. Bagaimana?” Luna memeluk Ayahnya. Abi berdiri di depan Prabu dengan wajah yang penuh rasa was-was. Tangannya berkeringat banyak.
“Ayah jangan membiarkan Kak Ivar memilih Kak Nindi.” Suaranya sedikit memelas.
“Loh kok kamu malah minder setelah bertemu orangnya secara langsung.” Logat jawanya sangat kental, maklum orang Malang. “Siapa Nindi itu?” Menatap wajah putrinya yang dipenuhi kesedihan. “Ceritakan pada Ayah, siapa tau Ayah bisa kasih solusi.”
“Dia cantik, dan lagi dia sangat baik dan lembut. Aku kalah, tapi tenang. Aku masih lebih cantik dari Kak Nindi.”
“Terus kenapa kamu sedih?”
“Kak Nindi malah membela ku di depan Kak Ivar, padahal aku sudah memarahinya tadi.” Ayah dan Ibunya tersenyum tanpa sepengetahuan Luna.
“Makanya kalau sudah tidak ada harapan menyerah saja.”
“Ayah!!!” Luna berdiri bertolak pinggang. “Tidak ada kata menyerah dalam kamus ku. Kak Ivar milik ku TITIK!” Nindi melenggang setengah berlari.
Slamet-slamet, Nona lupa dengan kelakukan ku tadi.
Duh gusti, gak jadi selamat ini aku. Abi tersenyum penuh kesedihan di depan Tuannya. Tapi Prabu tidak bisa melewatkan kesempatannya mengerjai Abi.
“Berani sekali Abi memarahi Putri ku! Push Up 20 kali!”
“Kurang, push up 50 kali.” Teriak Luna yang masih berdiri di pintu masuk.
“Ok, Ayah discount jadi 25 kali.”
“Dasar Ayah!!!!.” Luna yang kesal masuk ke dalam rumah.
“Sudah Ayah, kau suka sekali mengerjai Luna. Nak Abi istirahat saja, kamu pasti sangat kewalahan menghadapi putri ku.” Nyonya memang sangat baik hati.
***
Ivar menyambangi rumah Prabu, sepertinya sudah lama dirinya tidak bersilaturakhim ke sana. Melihat Luna hatinya sedih, kenapa dia harus jatuh cinta padanya.
“Ivar.” Sapa Prabu yang baru saja turun dari kamarnya.
“Malam Paman.” Ivar menjabat tangan Prabu. Keduanya memang dekat karena bisnis yang terjalin sejak lama antara Prabu dan Edwin.
“Bagaimana kabar keluarga Nak?”
“Baik Paman.” Ivar menyodorkan buah tangan yang dibawanya. “Maaf aku tidak bawa apa-apa.”
__ADS_1
“Kau ini repot-repot seperti sama siapa saja. Luna!!!” Teriak Prabu memanggil putrinya yang mengintip dari atas. Luna berpesan pada Ayahnya, nanti panggil namanya, seolah-olah Luna belum tahu kedatangan Ivar.
“Ayah ini, kenapa kencang sekali. Kan pelan-pelan bisa.” Gerutu Luna yang kesal dikerjai ayahnya.
Luna duduk di sebelah Prabu dengan gayanya yang elegan. Wajahnya dipoles sedikit dengan bedak dan bibirnya dilapisi pelembab bibir. Senyum tersungging di wajah ayunya.
“Luna sudah semester berapa sekarang?”
“Baru Semester pertama.” Celetuk Prabu mencegat Luna yang baru saja mau membuka mulutnya. Ivar tersenyum melihat mata Luna yang membesar.
“Ternyata adik kecil ku sudah besar sekarang.” Giliran Prabu yang tersenyum meledek Luna.
“Kalian ini suka sekali membuat Luna marah.” Dwi meletakkan 4 gelas teh hangat buatannya. Meski kaya raya, Dwi terbiasa melakukan semuanya seorang diri dalam mengurus anak dan suaminya. Dia tidak mau memanjakan diri.
Maksudnya memberikan contoh pada putrinya yang selalu manja, tapi tidak ada efek. Luna tetap saja terbiasa dilayani. “Silahkan diminum Nak.”
“Terimakasih tante. Maaf Ivar jadi merepotkan.” Ivar dengan sopan meminum teh buatan Dwi yang hangat. Tidak panas, agar bisa segera dinikmati.
“Ngomong-ngomong ada apa Nak Ivar datang?” Tanya Prabu penasaran. “Tidak biasanya.”
“Tidak ada Paman, Ivar hanya ingin bertemu Luna. Tadi bertemu sebentar di rumah Nindi, sahabatnya Luna juga katanya.” Prabu dan Dwi tersenyum, ternyata itu alasan kenapa Luna sangat malu dan minder.
“Oh, Nindi yang katanya Nak Ivar suka?” Celetuk Prabu kesekian kalinya membuat Luna marah.
Meski marah, Luna tidak beranjak dan tetap memasang wajah ayunya. Tidak terhitung sudah berapa kali tangannya meremas paha Ayahnya merasa geram.
“Belum berjalan sejauh itu Paman. Aku baru mengenalnya. Aku sedang menangani kasus kecelakaan kakak nya Paman.” Prabu hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Ivar.
“Jadi Nindi itu adiknya Cakra?” Ivar mengangguk. “Ayah mu cerita pada Paman, dia juga ada kerjasama bisnis dengan kita. Tapi belum berjalan lama, sekarang ada di bawah kendali Antoni.”
“Paman mengenal Cakra?” Prabu menganggukkan kepalanya.
“Dia laki-laki baik pekerja keras. Dia menceritakan profilnya pada kami dan...yah...kami kagum. Dia benar-benar membangun semuanya seorang diri.”
Prabu ingat saat Cakra datang dengan bajunya yang basah kuyub terguyur hujan. Semangatnya membuat Prabu dan Edwin menyetujui proposal yang di ajukan Cakra pada mereka.
Tidak lama berselang, usahanya maju. Cakra memperpanjang kontrak kerjasama perusahaan namun sekarang ada Antoni sebagai partner bisnis Cakra.
“Ayah tidak pernah cerita banyak.”
“Ayah mu memang tidak banyak bicara, berbeda dengan suami ku Nak.” Celetuk Dwi menyindir suaminya yang cerewet.
“Bisa saja nyonya ini. Kau tentu tau ke arah mana aku bicara.”
“Saya paham Paman. Terimakasih banyak karena sudah mau membantu ku mencari arah.” Memang benar ada yang mencurigakan. Tapi pelaku kejahatan sangat teliti sampai tidak meninggalkan sedikitpun jejak.
Ivar berbincang-bincang sampai tengah malam, keluarga Prabu memang sangat dekat dengan keluarganya. Karena itu sulit untuk Ivar menerima Luna sebagai kekasihnya, dia tidak lebih dari adik perempuan baginya.
Prabu paham bagaimana perasaan Ivar, dirinya tentu tidak akan mau jika di jodohkan dengan wanita yang selama ini menjadi temannya. Meski tidak terlalu dekat karena Ivar sangat dingin, dia sering kali melindungi Luna seperti seorang Kakak. Sikap Ivar memang tidak terbuka seperti pria-pria lain yang berusaha mendekati Luna dengan segala kesempurnaan yang Luna miliki. Dia berbeda.
__ADS_1