Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Suasana Kerja


__ADS_3

Ivar membanting pintu ruang meeting dengan sekuat tenaga, Tomo yang berjalan di belakangnya hampir saja terkena bantingan pintu tidak terduga. Mengelus dadannya karena berhenti tepat sebelum pintu mengenai wajah tampannya.


Haryanto bingung di tatap semua orang, apa salah dirinya? Kenapa tiba-tiba CEO yang baru dia lihat wajahnya dengan jelas membawa Nindi yang sedang dia didik begitu saja? Apa yang terjadi? Monolognya dalam hati yang semakin membuatnya kebingungan.


Putra tersenyum melihat suasana meeting yang memacu adrenalin, baru kali ini ada CEO yang berlaku sesuka hatinya karena kesal wanita kesayanganya di caci maki. Tapi siapa yang tidak kesal, dirinya mungkin akan mendorong Haryanto keluar dari gedung lewat jendela jika semua terjadi pada dirinya.


“Kau kenapa malah tersenyum?” Heran Ken melihat wajah teman satu divisinya.


“Lihat wajah Nindi tidak?” Ken menggeleng.


“Untung saja bayinya tidak keluar dari perutnya karena terkejut dengan kelakuan Papahnya. Hahahha…..” Kembali tertawa membuat Melly melotot ke arah keduanya.


“Maaf Bu, agak lain teman saya ini memang Bu.” Jelas Ken membekap mulut Putra yang tidak bisa berhenti tertawa.


“Pak Haryanto ngomong-ngomong kemaren ada di mana?” Haryanto menyipitkan matanya, pertanyaan macam apa pikrinya.


“Aku kemaren….dinas di proyek cabang selama 2 hari, baru hari ini saya kembali karena ada meeting project baru. Kenapa Mel?” menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Haryanto menatap setiap wajah yang seperti sedang menertawakan dirinya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa perasaanku tidak enak begini?


“Pantas saja kau tidak tahu.” Jawab Melly membuat Haryanto semakin penasaran.


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Kau akan terkejut jika tahu apa yang sedang terjadi.” Melihat smirk menakutkan membuat Haryanto sedikit bergidik. “Sudah siap-siap saja Har.” Semakin kesal dan bingung.


Nindi memegang dadanya yang tersenggal, langkah kakinya kecil sehingga kesulitan menyamakan langkahnya dengan langkah kaki Ivar.


Ivar berhenti masih menggenggam tangan Nindi dengan kuat. Nindi bisa apa kalau suaminya sudah dalam keadaan seperti ini, diam adalah pilihan yang sangat tepat. Nindi bahkan tahu kemarahan macam apa ini. Tapi kesal karena Ivar kesal tidak pada tempatnya.


Nindi bergidik, tatapan matanya seolah merobek mata Nindi membuatnya menunduk pasrah. Suaminya benar-benar hilang kendali seperti dugaanya sebelum meeting dilaksankan.


Mana bisa dia melihat ku di caci maki seperti tadi. Padahal itu tidak ada apa-apanya dengan kemarahan atasannya yang sudah Nindi hadapi selama ini.


“Tarik nafas Abang, apa bisa bicara baik-baik sekarang?” Ivar bahkan marah saat dirinya memanggil Pak Ivar tempo hari.


Panggil Abang, atau tidak usah datang lagi aku PECAT.


“Kau….!!!! Bisa-bisanya kau memintaku menarik nafas di saat seperti ini. Mana bisa, sesak Nin.” Memukul dadanya sendiri. Jawabanya membuat Nindi ingin terbahak. Tahan Nin, nanti bisa semakin kacau.


“Nindi tahu Abang, tapi bagaimana bisa Abang bersikap seperti ini sebagai CEO? Tidak profesinal, ayo kita kembali, aku belum selesai presentasi.” Pintanya dengan lembut.


“Tidak mau, Abang tidak rela Nindi…..Pokonya pulang saja!” Sontak Nindi melotot tidak percaya, sejak kapan suaminya berubah menjadi bayi seperti ini.


Nindi memunggungi Ivar, ingin marah tapi gemas. Bagaimana bisa hal memalukan terjadi padanya, dia selalu maskulin di depan teman-temanya selama ini. Kenapa mendadak seperti ini sikapnya! Teriak dalam hati.


“Abang.” Lirihnya mencoba meredakan emosi Ivar. “Nindi ini karyawan, sama seperti yang lain di sini, wajar kalau kena teguran saat hasil kerjanya tidak memuaskan.” Mencoba menjelaskan posisinya jika di tempat kerja.

__ADS_1


“Apa! Tapi kan bisa dia bicara baik-baik tanpa harus marah-marah, Abang saja selama ini tidak pernah membentak Nindi, apalagi seperti tadi. Abang tidak rela, titik!” melipat kedua tangannya layaknya anak kecil yang ngambek.


“Benar apa yang Abang bilang, tapi bisa saja maksudnya baik Abang…su….” Terpotong.


“Tidak ada, mana bisa bicara dengan orang lain seperti itu. Tidak mau, Abang tidak rela TITIK! Sekarang pulang, tidak usah lagi datang ke kantor.” Menarik tangan Nindi.


“Tunggulah dulu, mana bisa Nindi pulang begitu saja, kan Nindi kerja loh Bang.” Kesalnya.


“Ini semua punyamu Nin, untuk apa bekerja. Cepat atau Abang akan caci maki balik laki-laki tadi.” Ivar bahkan tidak ingat namanya.


Gunar yang baru saja tiba heran, kenapa keduanya bersitegang di depan ruangan Meeting. Seharusnya sekarang mereka berdua ada di dalam.


“Pak Ivar, Nin.” Memcicingkan mata Heran. “Kenapa di luar sini, bukannya meeting sedang berlangsung?” Tanyanya mencoba mengulik.


“Gunar dengar yah, kau jika cari karyawan yang benar. Kenapa mempekerjakan orang yang bisanya hanya memarahi istriku. Kenapa dia tidak bisa bicara baik-baik pada istriku Gun.”


Oalah…..jadi gara-gara itu Ivar terlihat sangat kesal.


“Siapa Pak? Nanti saya coba kasih masukan.”


"Tidak tahu, tidak berminat juga untuk tahu."


"Baik Pak, saya akan coba mencari tahu."


“Kau masuk saja, selesaikan meetingnya. Aku hari ini tidak mood kerja. Aku mau menenangkan hati.” Memeluk Nindi di depan Gunar.


“Tapi aku belum selesai kerja.” Mendorong tubuhnya sedikit. “Abang tidak boleh membuat Nindi melakukan hal bodoh seperti yang Abang lakukan.” Nindi kesal karena terus diminta pulang meninggalkan pekerjaanya.


Ya Tuhan, Nindi…..kau bisa bicara dengan pilihan kosakata lain padahal. Memperkeruh keadaan saja.


“Bukan seperti itu Abang, kan aku ini bekerja. Aku punya tanggung jawab. Aku tidak bisa pulang begitu saja.” Nada selembut mungkin agar Ivar tidak kembali meledak.


“Gun, coba jelaskan padanya agar mengerti.”


Gunar menghela nafas. “Nin, sepertinya Pak Ivar belum terbiasa dengan suasana kerja kantor kita, bagaimana jika hari ini aku berikan kelonggaran. Hibur dulu suamimu sampai tenang. Jelaskan perlahan.” Pinta Gunar menengahi.


Dirinya beberapa kali kesal saat Haryanto dan pengawa lain memperlakukan Nindi dengan kasar, dia wanita yang lembut. Bicara saja membuat Gunar nyaman, Ivar pasti terbakar melihat Nindi di marahi. Dirinya sudah mengalaminya beberapa kali.


“Apa begitu lebih baik?” Gunar mengangguk. Lagi-lagi harus mengalah demi kenyamanan bersama. “Aku ambil dulu berkas-berkasku ya Bang. Semua masih ada di dalam.”


“Biarkan saja, nanti aku minta Ken atau Putra mengurusnya.” Dewasa sekali, batin Nindi.


Mendengarnya Ivar langsung menarik Nindi berjalan dengan cepat, ubun-ubunnya sudah mau meledak rasanya.


Krreekkkk….


Semua mata tertuju pada sosok laki-laki yang baru saja memasuki ruangan meeting. Gunar sangat popular di kalangan karyawati, dia dikagumi karena sikapnya yang selalu berwibawa dan tutur katanya yang sedikit namun mengena pada inti permasalahan. Sontak ketegangan mulai melebur.

__ADS_1


“Mari lanjutkan meetingnya, saya yang akan pimpin.” Gunar duduk di kursi pengamat menggantikan posisi Ivar.


“Pak….dimana Pak Ivar?” Bisik Tomo yang berdiri di samping Gunar.


“Dia bilang ingin memenangkan diri.” Jawabnya berbisik juga. “Ivar ngambek.” Bibirnya menorehkan senyum.


"Har, mati lah kau. Pak Ivar tidak lagi masuk ke ruangan meeting. Bersiap Har.....hahahaha." Ledek Melly yang senang Haryanto akan kena mental kali ini.


"Kalian kenapa tidak ada yang buka suara, ada apa sebenarnya?" Tanyanya pada karyawan lain yang berdiri di sampingnya.


Mereka memilih diam daripada Haryanto menjadikannya pelampiasan. Laki-laki yang suka sekali menggunakan suara lantangnya saat mengoreksi kesalahan pekerjaan bawahannya.


"Ayo lanjutkan." Perintah Gunar yang melihat semuanya masih berdiam di tempatnya.


"Pak Gun, saya masih belum paham apa yang terjadi, aku melakukan pekerjaan seperti biasanya." Haryanto yang berkeringat dingin membuka mulutnya penasaran.


"Apa yang kau lakukan?"


"Bekerja!" Yang lain menahan tawa takut melihat mata Haryanto.


"Tomo yang anak bau kencur juga tau kau sedang bekerja pak Har. Maksudku apa yang kau lakukan pada Nindi?"


"Mengoreksi hasil pekerjanya Pak, seperti biasa." Apa yang salah pikirnya.


"Kau pasti seperti biasa mencaci setiap hasil yang tidak sesuai dengan harapanmu kan?" Mengusap peluh di keningnya.


"Memang aku sepertinya sudah terbiasa seperti itu Pak."


"Mati lah kau Har. Sudah cepat lanjutkan, ingat kesalahanmu Har." Gunar tidak menjawab rasa penasaran Haryanto sama dengan yang lainnya.


Siapa Nindi, kan dia hanya karyawan baru divisi yang di bawah kepemimpinan Melly bukan? Ada apa sebenarnya. Batinnya masih bergulat tidak paham.


Haryanto tidak fokus sepanjang meeting berjalan.


"Akhirnya selesai juga. Aku hampir saja pingsan karena Nindi." Mariska duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Menyeruput kopi susu kesukaanya.


"Benar, aku saja sangat terkejut tadi. Kak Ivar sangat keren." Cindy tidak kalah senang.


"Kalian pasti lelah, aku belikan kalian makan siang." Ken meletakkan tentengan dan duduk di sebelah Mariska.


"Kak Ken terbaik ...... terima kasih makanannya." Ucap Cindy girang.


"Kemana yang lain?" Tanyanya.


"Bu Melly sama pak Gunar tadi, kalau Kak Putra ke toilet, dia sakit perut katanya. Dua sejoli itu jangan kau tanya, aku tidak tahu."


"Ya sudah, kita makan saja bertiga. Maunya berdua tapi...." Menatap Cindy tidak tega.

__ADS_1


"Yahhh.....jangan gitu Kak Ken. Aku tidak punya teman, Kak Nindi sulit di gapai sekarang." Ucapnya sedih.


"Hahahaha, Ken hanya bercanda Cin. Sudah makan ayo." Mariska melotot. Ken hanya tertawa, dia memang suka sekali bercanda. Suka membuat suasana menjadi ramai


__ADS_2